Truyen3h.Co

MY FUTURE SON |JenoKarina|✅

6

nanayyyg_

Semua akal sehat rasanya sudah menghilang di otak Kinara. Otaknya terus berputar mengingat perkataan Jojo kemarin hari, dimana anak itu berkata di masa depan Jevan dan Kinara akan pergi selamanya.

Iya memang dia paham bahwa setiap kehidupan manusia pasti akan berakhir, tapi... Untuk yang satu ini rasanya ia tak tega mendengar anak itu berucap seperti kemarin. "Apa bener?" Tanya nya seorang diri.

Kinara menggelengkan kepalanya cepat, membangkitkan tubuhnya segera. "Tapi Jojo kemarin sampai nangis gak berani cerita, apa bener yang dibilang Jojo?"

"YA TUHAN LAMA-LAMA GUE BISA GILA!"

"Ini kalau gue cerita ke orang, pasti udah dikatain gak waras. Hadeuh hidup gue rasanya candaan banget, sial."

"Hidup Lo ngeluh Mulu, kapan bersyukur nya?" Suara Jevan yang tiba-tiba datang berdiri di depan pintu kamar Kinar. "Sejak kapan Lo di situ?!"

"Sejak Lo gak waras."

"Ck. Sana-sana, Anak anjing dilarang masuk ke kamar gw,"

Jevan berdecak, padahal seingatnya dulu kalau Jevano masuk ke kamar Kinara pasti akan selalu diizinkan, tapi beda lagi dengan sekarang. "Gue kangen liat kamar Lo."

"Gue nya bosan liat muka Lo Jev." Tanpa mendengar kan penuturan Kinara, lelaki itu berjalan ke arah kasur, merebahkan tubuhnya di atas sana. "IH GUE USIR KOK MALAH MASUK?!"

"Jevan pergi?! Gue gak terima tamu!"

"Berisik,"

Kinar berdecak mengambil satu tangan Jevano untuk ditariknya. Penuh tenaga ia menarik tangan lelaki itu tapi tak ada pergerakan sedikit pun dari Jevan. Kinara melupakan bahwa tubuh Jevan kini tak sekurus dulu, tubuh Jevan sudah berubah menjadi tubuh lelaki yang bahkan penuh dengan otot.

Greppp

BRAK

sial. tubuh Kinar terjatuh tepat diatas tubuh Jevano.

 Layaknya di film drama romantis kini nafas mereka saling bertemu, jarak diantara mereka sudan benar-benar dekat. 

Deg deg deg

"Kinar..." Yang namanya dipanggil hanya mengerutkan alis kebingungan. "A-apa?"

"Lo cantik."

Deg deg deg

Takikardia di Jantung Kinar semakin terasa, nafasnya tersengal, sembari menelan salivanya gugup menatap kosong ucapan Jevano. Ya Tuhan Kinar harap dia gak mati muda karena serangan jantung ini.

"Tapi jelek,"

Sontak Kinar membangkitkan tubuhnya dari atas tubuh Jevano, dia memukul keras bahu lelaki bermata sipit itu. "Apasih Lo gak jelas?! Keluar dari kamar gue!"

Jevano ikut bangkit berdiri menyamakan tubuhnya sejajar dengan gadis itu. Dia tertawa menampilkan mata bulan sabitnya "hahaha makannya jangan kegeeran dulu." Gadis itu membulatkan matanya, hatinya kini acak-acakan dibuat Jevano, Kinar benci Jevan!

"Jevano!!! Pergi !" Bukannya pergi Jevano semakin tertawa melihat wajah merah Kinar.

"Lo marah-marah terus sih,"

"Bodo! Pergi sana! Hush hush anak anjing keluar gih," Kinar mendorong tubuh Jevan untuk keluar dari kamarnya.

"Bentar-bentar, gue mau ngomong sama Lo." Kinara melepaskan tangannya yang tadi digunakan untuk mendorong Jevan. "ngomong apa?!" Balasnya sarkah.

"Sekarang hari Minggu,"

"Ya terus?"

"Tadi gue liat Haikal ajak Somi jalan ke taman, Jemian ajak pacarnya Nira jalan ke mall, Rendi ajak ceweknya Naya ke masjid Istiqlal,"

"Wih keren juga Rendi, ngedate nya di masjid,"

"Edisi insyaf itu," Kinara merasa aneh dengan tingkah Jevan saat ini. "Yaudah maksud Lo apa ngomong kaya gitu? Don't beat arround the bush, just to the point."

"Okay. Gue mau Lo jam 10 udah siap pakai baju rapih."

"H-ha? Mau ngapain."

"Jalan." Tunggu- otak Kinara sedang berproses memahami semua tutur kata Jevan yang terlalu to the point. "Gamau!"

"Harus mau!"

"Gamau!"

"Harus mau!"

"Nono gamau!"

"Harus mau Nanar...!" Jevan terdiam sejenak memikirkan alasan yang bisa membuat Kinar tertarik untuk ikut ajakannya. "Itu permintaan Jojo, Lo gak mau jalan sama dia?" Ujarnya berusaha memasang wajah melas untuk meyakinkan Kinar.

"Jahat banget sih Lo, kalau sampai nolak permintaan anak Lo sendiri."

"Ih apaansih! Gue bukan emaknya ya Jev,"

"Iya-iya terserah lo, Lo mau ikut gak nih? Ini Jojo yang minta,"

Kinar mengingat wajah Jojo sesaat "seriusan?" Jevano mengangguk "yaudah gue ikut, ter-pak-sa!" Lelaki itu tersenyum lebar mengusak rambut Kinara.

"Jam 10 gw kesini lagi, nanti kita jemput Jojo di rumah pohon," Kinara mengangguk setuju dengan Jevan,  kemudian kembali mendorong bahu Jevan untuk keluar dari kamarnya. "Gausah dandan lama-lama, muka Lo udah jelek nanti tambah jelek."

"Bacot Jevano!"


Mereka berdua berjalan menyusuri pepohonan menuju ke rumah Pohon. Seingat Kinar tadi Jojo sedang tidur, jadi Jevan sama Kinar masih bisa pulang sebentar. Semenjak Jojo datang... kini Kinar jadi lebih banyak bertemu Jevan, mulai dari pagi hari datang ke rumah pohon untuk bertemu Jojo, Siang hari makan bersama sampai sore, kembali ke rumah masing-masing, sampai di malam hari mereka harus kembali lagi ke rumah pohon.

Jujur lumayan susah bagi mereka berdua untuk menyesuaikan diri dengan keberadaan Jojo. Jika bisa dilihat, mereka bisa mengatur waktu untuk mengurus Jojo jika di hari libur, namun bagaimana dengan hari-hari sekolah nanti?

"Jev,"

"Hm?"

"Gakjadi."

"Mau ngomong apa?" Tanya Jevan yang paham benar ada sesuatu yang ingin Kinar katakan kepadanya. "Besok kan hari sekolah, gimana cara kita ngurus Jojo? Gw gak tega tinggalin dia terus-menerus disini, dia juga pasti bosen."

"Kalau di taro di rumah lo gimana?" Ujar Jevano enteng, sontak Kinar langsung memukul bahunya sedikit keras.

"Gila ya Lo. Nanti kalau bunda nanya ini anak siapa gue mau jawab apa?!" Tanya Kinar penuh emosi.

"Ya Jawab aja anak Lo."

"Enteng bener ya lo kalau lagi ngomong."

"Yang besok, kita pikirin besok aja, sekarang lupain." Itulah Jevano, dia selalu mengambil jalan termudah walaupun pada akhirnya tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk esok hari.

"Ck. Serah lo!" Jawab Kinara.  

Saat mereka berdua masuk kedalam rumah pohon, mereka langsung disungguhi dengan senyum lebar Jojo. "Halo papah mamah!" Anak itu berlari menghampiri Jevano, sontak Jevano membuat tubuh Jojo berada dalam gendongannya.

"Pah, Jojo bosan banget dari tadi," ujarnya cemberut kepada  Jevano.

"Jojo papah mau ajak kamu jalan-jalan mau gak?" Mata anak itu sontak berbinar.

"Beneran papah? Mamah juga ikut kan?"

"Aku bukan mamah kamu..." Koreksi Kinar. Jevano langsung berdecak menatap Kinara tajam "bisa gak sih, buat anak kecil bahagia sebentaran." Ujar Jevano mencubit pipi Kinara.

"Ish! Sakit taoooo!"

Jojo tertawa melihat tingkah kedua orang remaja di depannya. "Jojo udah siap?" Jojo mengangguk antusias. "Let's go Papah Mamah!" 

Mereka bertiga semangat unruk mengahabiskan waktu liburnya bersama. Bersyukur juga dengan Jevano yang tadi sempat meminjam mobil milik papinya, jadi mereka bisa pergi bertiga tanpa harus naik motor jahanam milik lelaki itu.

Mereka memasuki mobil bersamaan "Kok Lo duduk dibelakang?" Tanya Jevano kepada Kinara bingung. "Ya kan gue temenin Jojo,"

"Terus gua jadi supir?" Kinara tersenyum lebar, sembari menampilkan jari jempolnya. "semangat ya bapak supir!" Ujar Kinara.

"Semangat Papah!" Jevano mendenguskan nafasnya berat. Kenapa semuanya malah tak sesuai ekspektasi yang sudah ia rencanakan sebelumnya?

Selama perjalanan mereka suara tawa terus mengiringi, Jojo bercerita banyak mengenai dunia di masa depan kepada Kinara dan juga Jevano. "Jadi mah... Di masa depan itu ada sebuah alat transportasi seperti ini, tapi dia tidak berjalan,  dengan roda, mereka beterbangan di awan, ah itu mah seperti hewan yang ada disana." Unjuk Jojo kepada burung-burung yang terbang di langit.

"Jadi maksud kamu nanti dimasa depan akan ada mobil terbang?" Jojo mengangguk. "iya mah, ada yang besar dan ada juga yang kecil." Mata Kinara berbinar mendengarkan cerita dari Jojo.

"Ayo ceritain lagi ke aku,"

"Hm... Apa ya mah," Jojo berpikir sejenak, mencari topik yang cukup menarik menurut nya. "Coba Jo kamu ceritain awal kakek buat mesin waktu, sampai kamu bisa datang kesini." Balas Jevano yang masih fokus menyetir.

"Kalau itu... Masih terlalu sulit untuk Jojo jelaskan pah, tapi Jojo janji akan jelaskan ke papah lebih banyak nanti... Maaf papah," Kinara mengelus rambut Jojo dengan lembut, dia sangat suka dengan tutur kata dan juga sikap Jojo yang sangat sopan. "Jojo kamu kenapa ganteng banget sih," Tanya Kinara

Jojo tersenyum lebar. "Iyamah, kan aku mirip papah!" Jevano terkekeh mendengar perkataan Jojo. "Berarti papah ganteng kan Jo?" Tanya lelaki itu.

"Iya papah ganteng, iya kan mah?"

"H-ha? Eh? Hmm... Enggak ah, kamu doang yang ganteng. Papah kamu mah hue, dia jelek banget, beda jauh sama kamu Jo..." Jojo tertawa mendengar Kinara.

"Papah... Mamah cantik ya?" Tanya anak itu tanpa pikir panjang. Sekarang justru Jevano yang terkunci kelu.

Perlahan ia menelan salivanya dan membuka suara. "Iya mamah kamu cantik," seisi dunia seakan berhenti membuat jantung Kinar juga ikut berhenti, semua tolong yakinkan kepana Kinara bahwa yang ia dengar bukan lah sebuah kesalahan?

"Mamah dengarkan kata papah? Jojo sangat setuju dengan papah, mamah itu wanita yang sangat cantik didunia." Kinara memalingkan wajahnya dari kedua lelaki itu, ia hanya ingin menyembunyikan rona kemerahan di wajahnya saat ini.

Mobil berhenti di sebuah tempat parkiran, mereka bertiga bergandengan tangan dengan posisi Jojo berada di tengah, ini terlihat layaknya simulasi keluarga kecil bagi Kinara.

Mata Kinara dan Jojo berbinar melihat banyaknya wahan permainan yang ada di tempat ini. "Jojo, mau main apa?" Tanya Kinara mengelus rambut anak itu.

"Mau itu mah," Kinara membelalakan matanya melihat mainan yang diunjuk Jojo. "J-jangan yang itu ya, bahaya, kita main yang lain aja." Mendengar suara gugup Kinar membuat Jevan tertawa.

"Lo takut?" Tanya lelaki itu enteng. "I-ih enggak ya! Bahaya tau buat anak kecil. Masa iya baru Dateng udah main roller coaster, main yang lain dulu aja,"

Jevano tertawa mengejek Kinar yang takut. "Cih... Alasan, gua tau Lo takut Nar..."

Dughk

"Aw..." Rintih Jevano yang mendapat satu pukulan di bahunya. "nyebelin Lo!"
Kinara memegang erat tangan Jojo, menyamakan tubuhnya dengan anak itu. "Jojo dengerin kakak Kinar ya,"

"Kok kakak?" Bingung Jojo

"Kamu kalau panggil aku kakak aja ya," Jojo menggelengkan kepalanya. "Jojo gak mau mamah..."

"Tapi kan, aku buk...."

"Kinar..." Peringat Jevano "Jevano..." Jevano menggelengkan kepalanya, dia mengambil satu tangan Kinara, menatap gadis itu dalam-dalam. "Kinar..."

"Hm?"

Jevano mengalihkan tangannya menuju kedua bahu gadis di depannya "Udah ya, biarin dulu Jojo ngelakuin apa yang dia mau, cuma sebentar Nar... Apa Lo masih gak yakin sama Jojo?"

Kinara mengangguk "Iya lah Jev, emang Lo percaya?"

"Gua percaya Kinar. Gua percaya, dengan ucapana Jojo, dengan cerita dia, dan juga bukti yang ada, Lo masih gak terima kalau Jojo anak Lo dimasa depan?"

"Gak gitu Jev!"

"Yaudah, Lo tenang sekarang. Kita datang ketempat ini untuk Jojo, Lo ingat yang dia bilang terakhir kali? Dia ada disini cuma untuk satu bulan, setidaknya kita bisa bantu semua yang terbaik untuk dia..."

"Jev..."

"Please Kinara... I really happy when Jojo call you  'mama' , and he call me papa, don't you feel the same like me?" Kinara membeku sesaat, mencari sebuah kebohongan Dimata lelaki itu, yang pada akhirnya tak dapat ia temukan.

"Mama... papa... Jojo mau main sama kalian," ujar Jojo menghampiri kedua remaja itu.

Jevano tersenyum, Jojo juga ikut tersenyum. Kinara sadar bahwa tawa dan senyum kedua lelaki itu memanglah sangat sama, sama indahnya. "Jojo main apa hm? Ayo papa antar." Jevano menggandeng tangan mungil Jojo.

"Itu papa... Yang seperti kereta."

"Boleh, tapi kamu naik yang wahana mini ya?" Jojo nampak kecewa dengan ucapan Jevano. "kenapa begitu papa?"

"Karena tinggi Jojo belum cukup, nanti kalau Jojo udah tinggi seperti papa, Jojo baru boleh main itu." Jevano diam membeku menatap Kinara yang tiba-tiba ikut dalam pembicaraan. "Tapi mah..."

"Jojo... Jojo anak yang baik kan?" Jojo mengangguk. "Disana ada paraturannya sayang, dimana anak yang tingginya kurang dari 120 sentimeter gak boleh naik wahana itu, kalau Jojo benar anak yang baik, Jojo harus taati peraturan nya."

"Begitu ya mah?" Kinara mengangguk mengelus rambut Jojo. "Yaudah let's go kita cari wahana yang lain!" Semangat Kinara menggenggam tangan Jojo.

"Let's go Mama!!!"

"Lho kok papa diem?" Tanya Kinara berushaa menggoda Jevano yang masih membeku. "Papa? Ayo kita main wahana," sambung Jojo lucu.

"Eh? I-iya... Ayo..." Jojo menautkan tangan kanan dan juga kirinya kepada Jevano dan Kinara.

Jojo bersyukur kepada Tuhan yang sudah membuatnya bahagia pada hari ini, karena Nya Jojo bisa tersenyum bersama mama dan papa, bisa bermain kembali seperti dulu...

"Terimakasih Tuhan... Jojo bahagia sekali, nanti kalau kita bertemu Jojo mau kasih bunga ke Tuhan, sebagai hadiah karena membuat Jojo sebahagia ini..." Ucap Jojo lelaki kecil dengan segala kepolosan nya.

Hari ini semuanya dijalani dengan senyuman oleh mereka bertiga yang nampak seperti keluarga kecil. Tak terasa dua jam sudah mereka lewati untuk memainkan beberapa wahana seru bersama. Mulai dari mobil-mobilan, rumah hantu, tembak-tembakan, bahkan sempat ada tragedi pemaksaan agar Kinara berani ikut untuk naik wahana Kora-kora.

Keadaan Kinara sih masih aman, bisa diingat dengan sangat jelas  sebelumnya Kinara takut setengah mati untuk naik Kora-kora, tapi ternyata hal itu cukup menyenangkan juga, malah kini disisi lain Jevano lah yang ketakutan setengah mati .

Jevano duduk dibangku, dengan kakinya yang masih bergetar ketakutan dengan wahana tadi. Rasanya Kinara mau ketawa keras banget liat wajah Jevano sekarang, tapi kasian juga sih kalau dipikir-pikir. "Hahaha dasar cupu. Tadi aja maksa gua naik Kora-kora, tapi sendirinya malah takut." Cibir Kinara di depan Jevan.

"Papa... Ayo minum air dulu, biar papa tenang," Ujar Jojo menyodorkan sebuah botol air mineral. "Jojo gemes banget sih, kok tadi kamu gak takut naik Kora-kora?" Tanya Kinara.

"Rasa bahagia Jojo bahkan lebih besar daripada rasa takut mah, Jojo senang banget bisa main ke tempat ini sama kalian!" Tuturnya penuh semangat.

Kinara dan Jevano menatap mata Jojo dalam-dalam, memikirkan apa yang sebenarnya terjadi di masa depan? Sehingga Jojo harus datang ke tahun ini? "Jojo se-senang itu ya jalan sama mama papa?" Kinara mengelus pipi kemerahan milik Jojo.

"Iya mama papa, aku senang banget."

"Permisi..." Ujar seorang lelaki berbaju putih dengan topi di kepalanya. "iya? Ada apa?" Tanya Jevano sopan.

"Maaf sebelumnya menganggu... Perkenalkan saya Joni fotografer yang ada disini,"

"Iya kenapa ya mas?"

"Saya mau minta tolong, dari tadi saya lihat kalian bertiga nampak seperti keluarga kecil yang lucu, apalagi jika lihat lebih dekat seperti ini rasanya semakin wah, visual kalian seperti memang ditakdirkan untuk menjadi manusia tampan dan cantik."

Jevano berdecak menatap sang fotografer "Jadi mau minta tolong apa?"

"Boleh saya foto kalian bertiga?" Tanya Joni tersenyum. "Kalau boleh, juga nanti sekalian menggunakan beberapa kostum lucu, tenang ini gak bayar kok, saya hanya minta tolong kalian..."

Kinara tersenyum. "Wah boleh banget, bisa kok bisa."

"Gua gak mau." Balas Jevano membuat Kinara jengkep seketika. "Jev, cuma foto sebentar elah,"

"Jojo mau ikut foto sama mama gak? Kan nanti bagus Jo kita jadi punya kenang-kenangan." Ajak  Kinar menyamakan tinggi tubuhnya dengan anak kecil itu. "Jojo mau banget mama, tapi papa juga harus ikut ya?"

Sontak Kinar menyenggol bahu Jevano, memberikan kode. "Yaudah... Ikut." Kinara dan Jojo tersenyum bahagia. "Ayo Papa mama kita foto bareng!"

"Jev ... Ayo," ajak Kinara, kemudian beralih menarik tangan Jevano sekuat tenaga. "Liat tuh anak Lo bahagia banget diajak foto, masa Lo gak mau?"

"Iya-iya mama Kinar... Papa Nono nurut nih..." Jevano mencubit kedua pipi Kinara gemas. "JEVANO! SAKIT!"

"Ih papa mama lama banget, ayo kita foto!"

"Eh iya, yaampun anak Lo gak sabaran banget Jev,"

"Anak Lo juga."





Keluarga Visual😎

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co