7
Hari Senin bisa disebut hari yang paling menyebalkan bagi semua pelajar, dimana rasanya perjalanan dari hari Senin menuju hari Sabtu sangatlah lama, semuanya berjalan penuh dengan kesibukan, layaknya Kinara yang kini tengah sibuk dengan tumpukan tugasnya.
"Astaga, sial banget sih baru pulang jam segini, jadi kayanya gua harus bergadang kerjain tugas. " Gerutunya kelelahan setelah menghabiskan waktu libur bersama Jevano dan juga Jojo.
"Oh iya?! Jojo gimana besok? Gua sekolah Jevano juga sekolah, gak mungkin banget kalau gua tinggal sendirian, kasian juga dia bosen di rumah pohonm
Nono tetangga sebelah
Today 09.30Pm
[Jev..].
[Masih dirumah pohon?]
[Iya masih]
[Gua plg setelah Jojo tidur]
[Sorry gw gak bisa kesana,
tugas numpuk banget]
[Iya gapapa
Kerjain aja yang bener]
[Btw besok gimana?]
[Apanya?]
[Jojo?]
[Iya Jojo kenapa?]
[Ish, kita kan besok sekolah[
[Terus gimana sama Jojo?
Kasian kalau kita tinggal terus]
[Bawa ke sekolah]
[Gila Lo?!]
[Waras]
[Ish serius]
[Udah Lo kerjain aja tugas Lo dulu
Urusan besok gampang]
[Kebiasaan ]
[Santai ]
[Yaudah gw kerjain tugas ]
[Hm]
[Kalau udah selesai lgsg tidur]
[Iya]
[Nar]
[Ya?]
[Have a nice dream...]
[Kesurupan Lo?]
[Aman kok, cuma kemasukan
Jin penunggu rumah pohon]
[BRRR serem]
[Dah ah mau kerjain tugas
Bye]
[Bye( .◜‿◝ )]
Setengah mati Kinara berusaha menenangkan dirinya, "Tenang Kinar-tenang Kinar..." Dia berteriak layaknya orang kesurupan. "Gak tau ah! Sebel gue sama Lo No! Hati gue udah roll depan roll belakang gara-gara Lo."
"Bisa-bisanya Lo ngucapin kata-kata yang buat hati gua terjungkal semudah itu. 'i really happy when Jojo call you mama, and call me papa,' Sialan buaya darat! Jevano buaya buaya buaya!"
"Bunda adek kesurupan..." Ujar Theo yang tiba-tiba ada di depan pintu kamar Kinar.
"Abang apaansih?!"
"Lo serem banget anjir, ngomong sendiri sampe lompat-lompatan gitu. Curiga Lo kemasukan jump pocong " Kinara bergedik menaikkan alisnya.
"Apaan jump pocong?"
"Yaitu pocong lompat, pake bahasa Inggris dikitlah biar si pocong kelasnya naik dikit, jadi kelas elite"
"Gak jelas anak Pak Suho, pergi Lo, ganggu aja mau kerjain tugas."
"Halah, kerjain tugas apanya. "
Kinara bergerak mendekat kearah pintu, menutup pintu itu sehingga Mendo tubuh Theo keluar kamar. "Jangan ganggu adek! Yang ganggu pantatnya bisulan!"
"BRRR serem, pantat gua mulus seperti bayi" Ujar Theo merinding.
"Bayi Dugong."
"Btw, Jevano tadi ngirimin Lo makanan, gua taruh di dapur, nanti ambil tuh. Oh iya jangan lupa kalau udah jadian kasih gw peje ya!"
"Abang gak jelas! Ditembak aja enggak gimana mau jadian." Ujar Kinara. "Yaudah nanti gua suruh Jevano nembak dulu dah," sambung Theo dari luar kamar.
"Abang... Cukup jangan jadi tambah gila,"
"Halah malu-malu tapi mau. Tunggu aja Si Jevano bilang 'Allahuma lakasumtu wabika amantu, kapan aku dapat restu jadi menantu idaman ibumu' " Sialan, Kinara jadi baper sendiri sama candaan abangnya Theo.
"Abang pergi! Sebelum gw doain pantat Lo bisulan!"
"Ck. Iya-iya elah. Semangat bergelut dengan tugas adek ku terbangsat!"
"Abang!!!"
-My Future Son-
Pagi-pagi buta Jevano sama Kinara sudah pergi dengan seragam sekolah nya menuju rumah pohon. Jantung Kinara udah gak bisa tenang lagi, rasanya keluar pagi-pagi buta secara diam-diam itu kaya orang yang takut ketauan maling.
"Jevano, seriusan nih si Jojo mau bawa kesekolahan?" Jevano berdecak, lantaran Kinara sudah menanyakan hal tersebut berulang sepuluh kali.
"Kinara Lo bisa diem gak? ikutin aja cara gua." Kinara mengangguk, gak ada pilihan lain lagi selain ikutin cara sesat Jevano. Mereka datang kerumah pohon membangunkan Jojo, mempersiapkan Jojo untuk ikut datang kesekolah.
"Mama Papa, kita mau kemana pagi-pagi seperti ini?" Tanya Jojo penasaran, lantaran dia harus rela mandi dengan air dingin di pagi hari.
"Jojo ikut papa mama kesekolah ya," Ujar Jevano mengelus rambut sang anak, Jojo tersenyum mengangguk. "iya papa, Jojo ikut." Wajahnya cerah, senyuman terus tergambar di wajah Jojo.
Mereka bertiga memulai aksinya, Kinara memasangkan Hoodie milik Jevano untuk menutupi tubuh Jojo, menggandeng tangan anak itu menuju dimana Jevano menaruh sepeda motornya. "boti nih kita?" Tanya Kinara tak yakin.
"Udah santai, dulu juga pernah boti."
Kinara mengangguk, Jojo duduk dibagian depan bersama Jevano, sedangkan Kinara diboncengan belakangan sambil memegang erat baju lelaki itu. "Pelan-pelan Jev, kasian Jojo di depan."
"Iya, kasian juga nanti kalau gua ngebut, badan Lo pasti terbang Nar."
"Anj— Lo kira badan gua kertas."
Jevano menggelengkan kepalanya. "Triplek sih lebih tepatnya."
"Jevano sial—"
"Ada anak kecil. Kalau punya mulut dijaga," peringat Jevano sebelum Kinara berhasil mengeluarkan kata kasarnya.
Mereka bertiga pergi kesekolah yang lumayan jauh dari rumah. Kinara bersyukur banget sekolahnya masih sepi, mengingat sekarang masih jam setengah enam pagi, "Trus Jojo gimana?" Bingung Kinar. "Lo kalau buat rencana yang jelas dong Jev, gua bingung sama Lo, khawatir juga sama Jojo.."
"Lo bisa diem gak?" Kinara menggerutu sebal. Jevano selalu seperti ini, menyebalkan. "Ayo jagoan papa, kita tinggalin mama yang bawel." Jevano mengambil tangan Jojo lembut.
Jojo tersenyum mengangguk dengan ucapan Jevano. "Papa dan Mama kalau lagi marahan lucu sekali," celetuk Jojo dengan senyum bulan sabitnya. "Papa kamu tuh Jo, dia yang nyebelin,"
Mereka bertiga berjalan sembunyi-sembunyi layaknnya seorang pencuri yang tak ingin keberadaanya diketahui, Jevan memimpin arah jalan mereka, "Jojo sini di belakang papa jalannya."
"I-iya pap-"
Brakk
"Arghh... Sakit..." Rintih Jojo saat terjatuh. "Mama sakit huaaa!!!"
"Eh-eh gimana nih Jev," Kinara panik tak tau apa yang harus ia lakukan. "Jojo... Jangan nangis dulu ya, ssttt kita lagi jalanin misi jadi gak boleh sampe ada yang tau keberadaan kita." Ujarnya pura-pura.
"Huaaa tapi sakit sekali mamah," Jevano menghampiri Jojo, membawa badan kecil Jojo kedalam gendongan nya. "Jojo lihat papa," ujarnya Jevano.
Jojo terdiam menatap wajah dingin sang papa "Papa marah sama Jojo?" Tanya Jojo lucu "Papa tapi kaki Jojo sangat sakit, tadi ada batu kecil disana pah." Ujarnya membela diri.
Jevano mengusak rambut anak itu, ia tersenyum. "Papa gak marah, Jojo itu kan anak yang kuat, Jojo boleh nangis, tapi jangan terlalu berlebihan, nanti kalau Jojo nangis lukanya akan tambah sakit."
"Iya Jo, masa kamu kalah sama batu kecil doang, Jojo senyum dong sekarang, mama mau liat senyum Jojo." Jojo mengangguk tersenyum. "Jojo gak boleh kalah sama batu kecil ya mah?"
"Iya sayang gak boleh, Jojo anak yang kuat kaya papa" Kinara tersenyum mengelus pipi Jojo lembut.
Dalam sesaat Jevano terdiam, melihat interaksi ibu dan anak yang sangat lucu baginya, Kinara memanglah gadis biasa, tapi pada saat-saat seperti ini justru Jevano terkagum dengan jiwa keibuan Kinara, 'Kinara Lo cantik tapi jelek'.
"Kalau begitu Jojo gak akan nangis lagi mama," Jevano dan Kinara tersenyum memandang Jojo yang nampak lucu dengan wajah kemerahan, dan sedikit air mata yang masih membasahi pipinya.
"Gemesh banget, anak siapa sih kamu?" Tanya Kinara memainkan pipi anaknya. "Aku anak Papa Jevano yang kuat."
"Lho Jevano doang nih?"
Jevano mendekatkan tubuhnya dengan Jojo, membisikan sesuatu dikuping bocah kecilnya. "Kata papa, Jojo juga anak mama Kinara yang cantik tapi jelek." Ujarnya lucu.
Kinara membelalakan matanya. "Yak! Jevano!" Jevano dan Jojo tertawa. Ah sudah hati Kinara melebur, meleleh, dan menghanyut seketika melihat senyuman mereka berdua, semuanya perhatian, Kinara membutuhkan tabung oksigen untuk bernafas dengan tenang.
"Mama cantik, papa ganteng, Jojo sayang kalian."
Cup
Kinara mencium pipi kemerahan Jojo. "Mama juga sayang Jojo." Gadis itu menunjuk kearah pipinya sendiri, berharap mendapat balasan cium dari Jojo. "Aku juga mau dong,"
Jojo tersenyum, menggerakkan tangannya.
Cup
Akhirnya terbalaskan, Jojo mendorong kepala Jevano, membuat bibir lelaki itu terjatuh pada pipi sang gadis didepannya.
Waktu diseluruh dunia seakan berhenti begitu saja, Kinara dan Jevano menahan nafas dalam beberapa detik, mereka masih tak bisa menerima situasi yang terjadi. Disisi lain anak lelaki itu justru tersenyum menepuk kedua tangannya. "Yey, mama you got a kiss from papa,"
Kinara menjauhkan dirinya. Berusaha bernafas senormal mungkin. "Ekhemm..."
"Ekhem... A-ayo ikutin gua, keburu ada yang liat kita," Kinara mengangguk canggung mengiyakan ucapan Jevano.
Kedua remaja itu berjalan beriringan dengan Jojo yang masih berada digendongan Jevano. Langkah Jevano menuntun mereka ke arah warung belakang sekolah milik Bu Ayu. "Mau Lo titipin disini Jev?" Tanya Kinar.
"Iya. Disini juga ada anaknya Bu ayu masih 5 tahun, jadi Jojo bisa main, kalau di rumah pohon dia pasti bosen. Gimana Lo setuju gak?" Kinara mengangguk untuk yang kesekian kalinya. "Iya setuju."
"Permisi, Bu ayu..." Panggil Kinara.
"Eh neng Kinar, Kenapa neng kesini?"
"A-anu Bu... "
Jevano menbuang nafasnya kasar. "Ini Bu, saya sama Kinara mau minta tolong boleh?" Bu ayu mengangguk. "Boleh sialhkan,"
"Ini Bu, saya mau titip adek saya... Iya adek." Ujar Kinara nampak gugup. "Lho tumbenan dibawa kesekolah neng.
"Iya Bu, keluarganya Kinara lagi pergi, jadi kasian kalau ditinggal sendiri." Sambung Jevano. "Tolong titip sebentar ya Bu,"
"Iya, sama ibu mah santai aja. Ini nama nya siapa? Kasep pisan, mukanya mirip sama Jepan inimah."
"Namanya Jojo Bu, kalau gak salah ibu juga punya anak kecil kan ya? Kebetulan nih Bu sekalian biar mereka bisa main bareng." Bu Ayu setuju dengan ucapan Kinara.
"Iya bener neng, yaudah Jojo anak kasep, ayo masuk dulu, di dalem ada anak ibu namanya Cika, yuk nanti ibu kenalin." Ujarnya mengelus rambut Jojo.
"Jojo disini dulu ya sayang? Nanti aku sama Jevano balik lagi kok, janji." Kinara menautkan jari kelingking diantara mereka.
"Ini Jojo, Papa kasih uang, boleh beli sesuatu di warung Bu ayu," Jojo tersenyum cerah. "terimakasih papa!"
"Ha? Papa?"
"E-eh anu Bu... Ini si Jojo emang kebiasaan panggil Jevano sama Kinara mama papa ehe." Kinara menjawab gugup.
"Owhh paham-paham. Tapi kalian berdua kalau dilihat-lihat Cocok juga sih, neng geulis, Jepan nya kasep." Kinara dan Jevano sontak bertatapan aneh.
"Ekhem... Yaudah Bu, saya sama Kinar mau masuk kelas dulu, titip Jojo ya Bu."
Bu ayu mengangguk. "iya, tenang aja kalau disini mah."
Jevano dan Kinara tersenyum. "makasih Bu sebelumnya."
"Iya sama-sama,"
Kinara dan Jevano kembali ke kelas, rasa canggung entah kenapa terus datang didalam diri mereka berdua, apalagi mengingat kejadian tak disengaja tadi. "Nar..." Panggil Jevano.
"Iya Jev?"
"Gak jadi."
"Gak jelas "
Seakan tak seperti biasanya, kini setiap langkah mereka berdua membuat banyak pendangan seakan tercuri kepada mereka berdua. Seisi sekolah bahkan kaget mengetahui seorang Jevano datang bersama Kinara yang bahkan tak terlalu terkenal dilingkungan sekolah.
Kinara risih mendapat tatapan aneh dari mereka semua. "Gue baru tau ternyata Jevano sukanya yang modelannya kaya Kinara." Bisik seorang anak.
Kinara menghentikan langkahnya, dia mengepalkan kedua tangannya keras. "gak usah di dengerin Nar." Jevano meraih tangan Kinar, menarik nya menuju kelas. "Ck. Lepasin tangan gue!" Kesal Kinara menarik tangan nya keras.
"Nar ..."
"Ck. Gue gak mau nanti malah berurusan sama ratusan fans Lo No." Kinara menghembuskan nafasnya. "Cukup kita jaga jarak, udah buat gue lega. "
"Emang kita udah gak cukup jauh nar?" Tanya Jevano yang membuat Kianra menaikkan alisnya. "Lo sadar gak sih? Semenjak masuk SMA jarak kita bahkan semakin jauh, gak kaya dulu."
"Gue sadar no. Tapi emang itu yang terbaik."
"Maksud Lo apa? Menurut Lo baik kalau gua kehilangan teman masa kecil gua? Menurut Lo baik kalau kita selalu jaga jarak kaya gini?"
"Gak gitu Jevano! Lo gak ngerti posisi gue."
"Ya Lo juga gak ngerti posisi gua Nar." Mereka berdua mendenguskan nafas kasar. Berjalan dengan berlawanan arah menuju kelas masing-masing.
Kinara mau marah, kenapa semudah ini emosi dia dimainkan oleh Jevano, kenapa semudah ini dia bahagia lalu jatuh dalam waktu yang cepat. "Lo gak paham posisi gue No, gue yang bahkan selalu dapat tatapan sinis dari semua penggemar gila lo, gue yang sering dilabrak cewek-cewek karena dikira pelakor, cewe gajelas, centil dan lainnya. Omongan mereka terlalu sakit untuk gue dengar No... Please gue capek, toh jaga jarak kaya gini pasti bisa menjauhkan gue dari berbagai masalah kan?"
"Gue cuma cewek biasa yang gak berhak untuk ada disamping sang cowok sempurna kebanggan sekolah, kita jauh beda no, secara gak sadar jarak kita bahkan udah jauh dari dulu, Lo itu langit, sedangkan gue lapisan tanah dibumi, kita jauh berbeda no." Gumamnya seorang diri.
Jojo tersenyum bahagia memperhatikan cerianya Cika bermain sebuah kelereng. "Jojo kenapa diam? Sekarang kamu sudah paham cara main nya?" Jojo menganggukan kepalanya.
"Iya aku sekarang paham Cika."
"Aku bingung Jojo, kamu kan anak laki-laki tapi kenapa tidak tahu permainan ini." Anak itu malah menggarukan kepalanya kebingungan. "Yaudah ayo kita main, ini aku kasih kelereng ke kamu."
"Terimakasih Cika, aku sudah paham cara mainnya, aku pintar jadi mudah paham."
"Apa iya? Kalau gitu ayo kita buktiin siapa yang paling jago!" Ujar Cika tersenyum menantang Jojo. "Iya ayo kita main!"
Mereka berdua main dengan tawa yang begitu ceria, berlari, mengumpat, melompat semuanya sangat menyenangkan, Jojo bahagia, di masa depan seingatnya ia tak memiliki seorang teman, ia tak pernah merasakan rasanya main seperti ini, bermain sebahagia dan sebebas ini. "Makasih Cika,"
"Untuk apa Jojo?"
"Aku baru kali ini punya teman, " Cika tersenyum lucu ke arah Jojo. "Iya Jojo, aku akan jadi teman kamu untuk seterusnya, tapi Jojo harus janji tidak boleh pergi jauh dari Cika." bocah laki-laki itu terdiam sesaat, dia tidak bisa.
Jojo menggelengkan kepalanya. " Maaf, Aku gak akan buat janji yang gak bisa aku tepati Cika, nanti akan ada waktunya, disaat aku harus pergi,"
"Pergi kemana Jojo?" Bingung Cika. "Kembali ke masa depan,"
"Maksudnya?"
"Sulit untuk aku jelaskan, tapi apa kamu mau jadi teman ku saat aku masih ada tahun ini?"
"Iya aku mau, kita harus buat kenangan yang indah, aku mau kamu selalu ingat aku bahkan saat kamu sudah pergi nanti." Jojo tersenyum, rasanya semua bagian tubuhnya diisi oleh indahnya kupu-kupu.
"Cika," panggil seorang yang tiba-tiba datang.
"Aa' Haekal!" Gadis kecil itu berlari menghampiri seorang lelaki yang tubuhnya lebih dari dirinya. "Cika ngapain di taman? Lho? Itu siapa?"
"Itu teman baru Cika A', namanya Jojo."
"Kok mukanya kaya mirip seseorang ya?" Haekal menggelengkan kepalanya. "Halah mikir apa sih gua, yaudah ayo Cika sama Jojo balik ke warung, tadi dicariin Bu Ayu."
Haekal berjalan menuntun kedua anak kecil itu, "Jojo kok bisa ada disini? Mama nya kemana?"
"Mama nya Jojo titip Jojo di warung ibu, nanti mereka balik lagi," balas Cika dibalas anggukan Haekal. "Ibu!!! Tadi Cika main kelereng sama Jojo." Bu Ayu tersenyum.
"Iya nak iya, Cika sama Jojo makan dulu yuk, ibu tadi bikinin kalian nasi goreng." Cika mengangguk, menarik tangan Jojo untuk ikut duduk dibangku bersamanya. "Aa' Haekal duduknya disana aja, Cika sama Jojo mau duduk disini."
"Hadeuh anak kecil, iya-iya, Aa' pindah." Haekal duduk berhadapan dengan kedua anak kecil yang tengah sibuk memakan nasi goreng bersama. "Jojo kok mukanya kaya gak asing ya?" Gumam Haekal.
"Muka kamu mirip seseorang Jo,"
"Muka Jojo cuma mirip Papa..." Balas Jojo.
"Tapi rasanya gak asing, kayanya ada lagi deh yang mirip sama kamu, tapi siapa ya?"
"Jojo!!!" Panggil seorang gadis bersurai panjang yang tiba-tiba datang menghampiri.
"Mama Kinar!!!" Teriak Jojo memanggil Kinara.
"Ha?" Bingung Haekal. "Kinar? Mama?"
"Jojo aku beliin kamu su..."
"Papa! Tadi Jojo main sama Cika pa!"
Haekal menaikkan alisnya, membesarkan bola matanya kaget, jiwanya benar-benar terkejut, situasi aneh apa lagi yang ia lihat kali ini? "Ha?! Jevano? Papa?"
"Iya anjing! Mukanya Jojo mirip muka Lo!"
Cika
Haekal
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co