Our Destiny || BXB [𝐒𝐥𝐨𝐰 𝐔𝐩𝐝𝐚𝐭𝐞]
6. Api
5 tahun kembali berlalu. Dan dalam 5 tahun terakhir Shaoyou benar-benar ditemani kegelisahan yang tak kunjung pergi.
Sudah ia perhatikan, selama kurang lebih 5 tahun ini, ia selalu secara tidak sengaja berpapasan dengan Huayong. Dan terjadi minimal 2 kali dalam satu bulan!
Karena belum ingin kembali, Shaoyou biasanya memalingkan wajahnya atau pergi dari tempat itu.
Ia khawatir kalau sebenarnya selama bertahun-tahun ini kehidupan mereka(Shaoyou dan Huasheng) memang sudah diketahui sejak awal.
"Apa aku harus pindah lagi? Tapi di sini Huasheng begitu senang karena punya banyak teman, terutama Lele," gumam Shaoyou bermonolog. Ia menatap ke luar jendela yang menampilkan langit sore yang indah.
Kriett
Pintu kamarnya terbuka perlahan, namun Shaoyou tak menyadarinya.
"Ayah.." Huasheng menatap dingin ayahnya yang lagi-lagi melamun tanpa mau bercerita apapun padanya.
Shaoyou tersentak ketika mendengar langkah kaki di belakangnya.
"Ah, Peanut—"
"Jangan bicara apapun jika kau hanya akan mengeluarkan basa-basi yang memuakkan, Ayah," sela Huasheng sebelum ayahnya menyelesaikan kata-katanya. Wajahnya yang mengeras kian menunduk.
Dan tanpa mengatakan apapun lagi, dia pergi keluar dari kamar sang ayah, meninggalkan Shaoyou yang menatap sendu pada pintu kamarnya yang kini tertutup.
"Huasheng.."
***
"Kau bertengkar dengan ayahmu lagi?" Lele akhirnya bertanya setelah sekian lama memandangi wajah tertekuk Huasheng.
Keduanya kini sedang duduk di lantai, bersandar pada ranjang di kamar Lele.
"Jangan bahas hal itu, menyebalkan." Huasheng masih memejamkan matanya, mencoba meredakan emosinya yang tadi muncul ketika melihat ayahnya.
Lele menghela napas. "Kau seharusnya tidak marah pada ayahmu—"
"Dan kau seharusnya tidak membahasnya lagi ketika aku bilang jangan!" Emosi Huasheng muncul lagi, ia membuka matanya, menatap Lele dengan mata merahnya.
Namun tak lama setelah itu, wajah marah Huasheng perlahan luntur, tergantikan dengan wajah lelah dengan air mata yang perlahan mengalir.
"Kubilang jangan bahas ini lagi, Le. Aku tidak ingin mengingatnya, tatapan kosong Ayah, senyuman lelahnya, dan ekspresi sedihnya tiap kali ia melamun, aku membenci itu semua! AKU MEMBENCINYA!" Tangisan Huasheng pecah saat itu juga, terdengar menyakitkan bagi Lele.
Lele dengan sigap langsung mendekap tubuh bergetar Huasheng. Dengan lembut ia usap punggungnya.
"Kau tidak membenci Paman Shaoyou, Sheng. Kau hanya khawatir padanya," bisik Lele hati-hati.
Huasheng melepaskan dirinya dari dekapan hangat yang diberikan Lele.
"Kami tidak pernah benar-benar bertengkar, Le, tidak pernah. Aku yang marah dan terkadang bersikap kasar pada Ayah, dia tidak pernah membalasku dengan kemarahan ataupun kekerasan."
Lele hanya diam, membiarkan Huasheng mengeluarkan hal yang mengganggu pikirannya.
"Aku benci pada diriku yang tidak bisa berbuat apa-apa, Le—"
Cup
Huasheng yang masih sedikit terisak, menatap terkejut Lele yang baru saja mengecup hidungnya.
"Bilang begitu lagi, dan aku akan menggigit hidungmu."
Cklek
"Anak-anak?"
Qing masuk ke kamar, ada sepiring camilan di tangan kanannya.
Melihat Huasheng yang sepertinya sedang terisak dan Lele yang menatap padanya dengan tatapan minta tolong, Qing segera menghampiri lalu duduk di depan mereka.
Qing meletakkan piring itu di lantai.
"Ada apa denganmu, A Sheng?" tanya Qing menatap khawatir sambil memegang bahunya.
"Bibi.." Huasheng langsung beranjak memeluk Qing.
Terlihat kekanakan untuk anak yang sebentar lagi berumur 10 tahun? Memang, namun ia hanya bersikap seperti itu ketika dengan keluarga Gao.
Di depan ayahnya, dia selalu menjaga agar terlihat kuat.
"Shhtt, semuanya akan baik-baik saja, mau bercerita hm?"
Karena tak mendapat balasan, Qing hanya tersenyum mengerti.
"Aku akan membuatkan teh." Qing dengan lembut melepas pelukan itu, Alpha cantik itu keluar dari kamar.
"Le, boleh aku menginap di sini malam ini?" tanya Huasheng sambil meletakkan kepalanya di sisi ranjang.
Belum sempat Lele menjawab, suara Gaotu membuat keduanya langsung berlari keluar.
"A QING, TEMPAT TINGGAL SHAOYOU TERBAKAR! TOLONG TELFON SIAPAPUN UNTUK MEMBANTU!" Gaotu berlari dengan tergesa, kekhawatiran menguasainya seiribg dengan berbagai firasat buruk yang menghampiri.
Saat pulang dari toko tadi, Gaotu melihat gedung tempat Shaoyou tinggal terbakar. Walaupun tadi sudah banyak orang yang mencoba memadamkan air, Gaotu yang tak bisa berpikir jernih langsung saja berlari pulang dan mencari Qing.
Qing dan dua anak di rumah itu segera menghampiri Gaotu. Dimana Shen Wenlang? Dia akan berkunjung tiap ada hari libur karena Gaotu tidak ingin tinggal dengannya ataupun membiarkannya tinggal di rumahnya. (Terlalu banyak "—nya" kah? Kalau tidak paham tolong dipahami sendiri, hehe)
Semuanya menghampiri dengan wajah terkejut luar biasa.
"Paman Gao, apa maksudmu?" tanya Huasheng pelan nyaris berbisik.
-TeBeCe-
Wah, kenapa tuh sampe bisa terbakar? 👀
Aku mau minta maaf karena kemarin ngasih syarat buat update dan maaf juga kalau ga sesuai ekspektasi kalian 😓
Dan aku mau bilangg
Jangan vote karena terpaksa ya~! Kalian mau baca aja aku udah seneng kok ^^
Lopyu oll
Silahkan tinggalkan jejak 👣
𖥸
Our Destiny
.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co