runaway - act i.
asap kecil mengepul dari secangkir teh chamomile di tangan nami malam itu.
dengan sedikit tak berselera, ia mengembuskan napas kasar sebelum menyesap tehnya sedikit demi sedikit.
entah apa yang membuat teh favoritnya terasa begitu pahit hari ini.
ia memutuskan untuk mengakhiri sesi minum tehnya untuk mencari udara segar di balkon.
ruangan yang luas itu terasa sangat sesak.
namun, cangkir tehnya baru saja mendarat di atas meja ketika terdengar ketukan keras di pintu.
tanpa berniat menjawab, gadis berusia dua puluh satu tahun itu bangkit dan pergi menuju balkon.
selama beberapa menit, ruangan itu dipenuhi keheningan kala ketukan di pintu berhenti.
sampai akhirnya, pengetuk di balik pintu menyampaikan pesan yang harus ia sampaikan kepada sang penghuni kamar.
"tuan putri, para pangeran kerajaan jeruma telah tiba."
ah.
informasi itu membuat mulutnya terasa pahit.
tidak adakah cara untuk menghindari pertemuan ini?
sekali lagi, sosok di balik pintu—yang ia duga adalah salah satu pengawal ayahnya—mengetuk pintu dengan cukup keras.
"tuan putri—"
hanya saja, sang putri telah lebih dulu menjawab dengan tegas.
"aku akan keluar saat aku mau."
.
.
.
nami menahan diri untuk tidak menguap di tengah acara makan malam itu.
di hari lain, ia pasti sudah berada di tempat tidurnya yang nyaman—siap untuk beristirahat.
gadis itu berjengit kaget ketika sang ayah mengetuk lututnya di bawah meja makan sebanyak dua kali.
detik itu juga, nami menyadari bahwa raja judge dari kerajaan jeruma sedang memperkenalkan empat putranya yang duduk tepat di seberangnya.
"pangeran ichiji, pangeran niji, pangeran yonji." pria paruh baya itu memandangi putra-putranya satu per satu sebelum memusatkan perhatian pada sosok pirang yang sedang menyantap makan malamnya dalam diam. "dan pangeran sanji."
"putri sulung kami sedang mengandung anak pertamanya. itu sebabnya ia tidak bisa melakukan perjalanan jauh," tambah sang raja sebelum menyesap minuman di gelasnya.
mendengar itu, ayah nami—yang tak lain adalah raja beckman dari kerajaan goa—tersenyum tulus.
"sekali lagi, kami berbahagia atas pernikahan putri reiju dan pangeran katakuri dari kerajaan horu keki. kami berharap putri selalu bahagia dan sehat."
beberapa perbincangan kemudian, raja judge akhirnya menyampaikan maksud kedatangan mereka berlima dari utara.
"sesuai ramalan, putri nami akan menikah dengan putra ketiga kerajaan jeruma, pangeran sanji."
nami tak percaya ayahnya yang terkenal arif dan cerdas bisa dengan mudah mempercayai gulungan kertas tua yang dikirim kerajaan jeruma satu bulan lalu.
ia menyerahkan putri satu-satunya untuk memenuhi ramalan para tetua jeruma yang telah lama tiada.
sebuah ramalan yang kebenarannya bahkan tidak dapat dipastikan.
"pangeran bermahkotakan emas dan putri seindah swastamita."
nami hampir mendengus tak percaya ketika menyadari bahwa ramalan itu mengacu pada warna rambut di kepala mereka.
seorang pangeran bermahkotakan emas akan menikahi seorang putri seindah swastamita dari kerajaan jauh di timur.
dari rahimnya akan lahir seorang pemimpin yang memimpin dunia menuju kemahsyuran.
nami terkekeh sinis di dalam hati.
ramalan konyol macam apa itu?
di sisi lain, raja beckman tampak bergumam penuh pengertian.
"malam ini, rombongan kerajaan jeruma akan bermalam sebelum kembali ke utara bersama putri nami untuk mempersiapkan pernikahan."
untuk pertama kali dalam hidupnya, nami berharap ia bisa melarikan diri dari rumah tempat ia dibesarkan dan melakukan apa pun untuk menghindari pernikahan dengan jeruma.
namun, tidak ada yang bisa ia lakukan selain minum dari gelasnya untuk menenangkan diri dan tidak membuat kekacauan di tengah acara makan malam kedua kerajaan.
segera setelah raja beckman menyampaikan pesan penutupnya malam itu, ia memerintahkan kelima pengawal yang berjaga di ruang makan untuk mengawal rombongan kerajaan jeruma ke tempat peristirahatan mereka.
"antarkan raja dan para pangeran ke kamar mereka masing-masing."
tanpa berlama-lama, lima pria dari kerajaan jeruma itu bangkit—siap untuk bertolak ke kamar yang dimaksud.
raja beckman dan nami segera bangkit setelahnya.
sebagai salam perpisahan malam itu, sang putri dengan tenang membungkuk singkat sebelum pergi tanpa menoleh ke belakang.
.
.
.
nami berjalan melewati lorong panjang nan gelap menuju kamarnya dengan langkah besar.
sang putri terus berjalan tanpa memperhatikan sekelilingnya sampai-sampai tanpa sengaja menabrak seseorang yang berjalan dari arah berlawanan.
tabrakan yang cukup keras membuatnya hampir kehilangan keseimbangan. namun, sebuah tangan besar dengan sigap menahan tubuhnya agar tetap tegak.
di bawah cahaya redup, nami berusaha keras mengenali sosok yang menopang tubuhnya itu.
sayangnya, wajah itu bukanlah wajah yang familiar untuknya. ia berasumsi bahwa lelaki tersebut adalah pengawal dari kerajaan jeruma.
"mohon maaf atas kecerobohan hamba, tuan putri. silakan lanjutkan perjalanan anda," ucapnya dengan tenang sebelum berlalu dari hadapan sang putri kerajaan goa.
.
.
.
sesampai di kamar, nami langsung duduk di depan meja rias untuk membersihkan riasan wajahnya sebelum tidur.
kemudian, ia menarik simpul di bagian belakang untuk melepaskan diri dari gaun ketat yang membalut tubuhnya.
tepat ketika simpul itu terlepas, secarik kertas jatuh ke lantai.
sang putri tidak menyadarinya sampai ia berganti pakaian dan melihat secarik kertas menguning tergeletak tepat di tempat ia melepas gaun sebelumnya.
ia membungkuk untuk mengambil kertas itu dan tanpa diduga, menemukan dua kata yang segera membuatnya merasa tidak nyaman.
keturunan jeruma.
nami mengerutkan kening.
apa maksudnya?
selama beberapa menit, sang putri tetap pada posisinya untuk mengingat kapan kiranya ia mendapatkan kertas tersebut.
namun, hasilnya nihil.
tidak ada seorang pun yang cukup dekat untuk menyelipkan kertas itu di simpul gaun yang ia kenakan.
kecuali,
pengawal dengan bekas luka di bawah mata kirinya.
pengawal yang ditabraknya dalam perjalanan menuju kamar.
setelah memikirkan berbagai kemungkinan dan skenario di benaknya, nami sampai pada kesimpulan bahwa sang pengawal kemungkinan besar menyelipkan kertas ini ketika secara tidak sengaja menabraknya di lorong.
sayangnya, skenario itu kembali membuatnya memikirkan kemungkinan lain.
apakah ia sengaja menabraknya untuk menyampaikan pesan ini padanya?
.
.
.
pagi itu, nami dikejutkan oleh ketukan keras di pintunya.
setelah mengenakan jubah tidurnya, ia berjalan menuju pintu dan membukanya—hanya untuk dikejutkan lagi dengan kehadiran sang pengawal dengan bekas luka di bawah mata kirinya.
dengan ratusan bahkan ribuan teka-teki di kepalanya, nami ingin menanyakan maksud dari kertas yang ia temukan tadi malam.
namun, segala sesuatu yang memenuhi pikiran sang putri mendadak lenyap tak bersisa ketika sang pengawal tersenyum.
manis sekali.
dengan senyuman itu, ia menyampaikan maksudnya.
"pangeran sanji ingin bertemu dengan tuan putri di taman."
.
.
.
"pangeran."
pangeran sanji sontak menoleh kala mendengar suara lembut yang menyapanya dari arah belakang.
tanpa disadari, maniknya berkilat senang melihat kedatangan sang putri kerajaan goa yang akan segera menjadi pendampingnya.
"silakan duduk, putri," balasnya sambil memberi isyarat agar nami mengambil tempat di sampingnya.
setelah nami duduk dengan nyaman di kursi taman—tepat di sebelahnya, sanji mulai menyampaikan maksudnya meminta kehadiran sang putri pagi-pagi sekali.
"siang ini, kita akan bertolak ke utara. untuk itu, putri akan mendapatkan pengawal pribadi dari kerajaan jeruma." sanji memandang satu per satu pengawal yang berbaris rapi di depan mereka. "apakah ada seseorang yang putri inginkan sebagai pengawal?"
tanpa pikir panjang, nami menoleh ke belakang—membuat sanji mengikuti arah pandangnya.
dengan tegas, ia menunjuk pengawal yang sebelumnya mendampinginya ke taman. "aku tidak ingin pengawal lain. yang aku inginkan hanyalah dia."
"baik, jika itu yang putri inginkan," balas sanji cepat.
ia melihat bagaimana pengawal pribadinya itu membungkuk hormat.
"mulai hari ini sampai hari pernikahan kami, kau akan mengabdikan diri sebagai pengawal pribadi putri nami."
———&———
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co