Truyen3h.Co

runaway

runaway - act ii.

fikawashere

di tengah kesunyian, nami yang duduk di tepi tempat tidur perlahan berbaring.

ia menghela napas lega kala tubuhnya merasakan empuknya kasur.

perjalanan menuju kerajaan jeruma memakan waktu sekitar lima jam.

ia terjebak bersama orang-orang dari kerajaan tiran yang tidak ia kenal dan tidak ingin ia kenal lebih jauh. nami bisa bilang itu adalah lima jam paling membosankan dalam hidupnya.

manik indahnya menatap langit-langit tinggi kamar yang akan ia tempati sampai hari pernikahan tiba. namun, pikiran sang putri melayang jauh ke beberapa menit terakhir dalam pelukan ayahnya sebelum bertolak ke utara.

"bertahanlah, nak. ayah akan selalu berada di belakangmu sampai saatnya tiba."

nami memejamkan mata dan membiarkan kalimat terakhir yang diucapkan raja kerajaan goa sebagai ayahnya terngiang-ngiang di telinganya.

bertahanlah?

ayah akan selalu berada di belakangmu sampai saatnya tiba?

adakah yang disembunyikan darinya mengenai pernikahan ini?

sejenak ia mencoba memilah segala kemungkinan yang datang silih berganti di benaknya.

tidak lama kemudian, sang putri membuka matanya lagi dan merogoh bagian depan gaun putihnya—mengeluarkan sesuatu yang memenuhi kepalanya sejak tadi malam.

ia melihat secarik kertas yang telah menguning itu dengan saksama.

apakah ini berhubungan dengan kertas yang diterimanya malam sebelumnya?

nami hendak bangun dari tidurnya ketika ia tiba-tiba dikejutkan oleh ketukan keras di pintu.

alhasil, pemilik surai oranye itu terjatuh kembali ke tempat tidur dan secara refleks mengepalkan tangan untuk menyembunyikan kertas kecilnya.

"tuan putri, baginda raja meminta kehadiran anda untuk makan malam bersama."

ah.

suara itu.

benar.

pengawal misterius itu telah ditugaskan sebagai pengawal pribadinya sampai hari pernikahan tiba.

nami akan memaksimalkan waktu yang dimilikinya untuk mencari tahu kebenaran di balik pernikahan ini.

juga, secarik kertas yang kemungkinan besar berasal dari sang pengawal.

.

.

.

"pernikahan akan dilangsungkan satu bulan dari sekarang. persiapkan diri kalian dengan baik sampai hari itu tiba."

nami mendengus pelan sebelum meletakkan sisirnya di atas meja rias.

satu bulan.

bisakah ia mengungkap semuanya dalam satu bulan?

perlahan, ia meraih liontin dari kalung yang ia kenakan di lehernya dan membukanya.

ia menatap lekat potret sosok paruh baya yang tersenyum hangat ke arahnya.

"ayah." tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sendu. "tidak ada hal yang lebih kuinginkan selain kembali ke pelukanmu."

.

.

.

nami menghabiskan lima hari pertamanya menyibukkan diri dengan buku di perpustakaan jeruma.

sanji sesekali meminta izin untuk bergabung di sana.

sang putri jelas berharap mereka dapat mendiskusikan satu atau dua hal bersama-sama—seperti yang selalu ia lakukan dengan ayahnya.

namun, yang dilakukan sang pangeran hanyalah duduk diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. ia bahkan tidak menyentuh satu buku pun.

pangeran ketiga kerajaan jeruma itu tampak menikmati keheningan lebih dari apa pun.

dalam lima hari terakhir, nami memperhatikan bagaimana sanji memasang ekspresi kaku kala berdampingan dengan raja dan ketiga saudaranya.

hanya saja, apa yang ia lihat sekarang adalah sesuatu yang jauh berbeda.

ia melihat bagaimana sanji menikmati waktunya dengan tenang—tanpa raut waspada di wajahnya.

mencoba peruntungannya, nami berdeham pelan.

"pangeran."

sanji, yang sedang memandangi arah langit malam dari jendela perpustakaan, sontak menoleh. "ya, putri?"

sang putri menutup buku yang sedang dibacanya untuk memusatkan seluruh perhatian pada lawan bicaranya.

"bisakah pangeran menceritakan sedikit tentang silsilah keluarga kerajaan jeruma? dalam lima hari terakhir, aku mencari buku yang mencatat silsilah keluarga kerajaan. namun, aku tidak bisa menemukan apa pun."

dalam sekejap mata, ekspresi tenang di wajah sang pangeran perlahan sirna dan digantikan oleh raut waspada yang selalu ia tunjukkan di depan keluarga kerajaan.

apa ini?

dengan tenang, sanji menatap nami sebelum mulai berbicara. "maaf, putri. hal mengenai silsilah keluarga kerajaan adalah sesuatu yang di luar pengetahuan kami para pangeran. putri mungkin harus bertanya kepada pejabat kerajaan mengenai hal ini untuk mendapatkan jawaban yang tepat."

mendengar itu, tanpa sadar nami menggigit bagian dalam pipinya.

apa?

tidak peduli seberapa keras ia memikirkannya, mustahil bagi keturunan kerajaan untuk mengabaikan silsilah keluarga kerajaan.

nami bahkan diharuskan menghafalnya sejak usia enam tahun.

bagaimana mungkin mereka yang akan mewarisi takhta tidak memiliki pengetahuan apa pun tentang silsilah keluarga kerajaan?

sambil mengepalkan tangan di bawah meja, gadis itu mencoba meminta penjelasan lebih lanjut.

"pangeran—"

namun,

"hari sudah larut. sebaiknya putri segera beristirahat. selamat malam."

sanji segera menyelanya sebelum bangkit dari tempat duduknya dan pergi—meninggalkan sejuta pertanyaan di benak sang putri.

ada apa dengan keluarga ini?

yang tidak ia sadari adalah bagaimana pengawalnya tidak bergerak satu inci pun dari sudut ruangan, mengamati semua yang terjadi dalam diam.

.

.

.

di hari ketujuh, nami memutuskan untuk menghabiskan paginya dengan berjemur di tepi kolam renang.

membaca terlalu banyak buku untuk menemukan sesuatu yang berhubungan dengan keturunan jeruma membuatnya sedikit lelah. oleh karena itu, ia pikir ia membutuhkan sedikit sinar matahari.

dengan kedua kakinya di bawah air, sang putri mendongak untuk merasakan sinar matahari di atas kepalanya.

ia bertahan dalam posisi itu selama beberapa menit sebelum memutuskan untuk bangkit karena matahari semakin terik.

namun, sang putri kehilangan keseimbangan ketika mulai berjalan dengan kakinya yang basah.

semuanya terjadi dengan cepat begitu nami jatuh ke kolam renang.

dan itu adalah hal terburuk yang bisa terjadi kepadanya.

suara cipratan air yang keras membuat pengawal yang membelakangi nami sontak berbalik dan mendapati sang putri bergerak gelisah di dalam air.

dengan sigap, ia melepas sepatu dan kaus kakinya sebelum melompat ke kolam renang dan membawa nami ke tepian.

setelah menuntun sang putri untuk duduk di kursi panjang dekat kolam renang, ia kembali berjongkok di tepian untuk mengambil salah satu lencananya yang jatuh ke air.

dalam beberapa detik itu, nami tanpa sengaja melihat tumit sang pengawal dengan jelas.

manik indahnya melebar.

tidak mungkin.

tanda itu—

"tuan putri, apakah anda baik-baik saja?" tanya lelaki itu setelah memasang kembali lencananya.

namun, sang putri hanya menunduk dalam-dalam sambil mengedipkan matanya beberapa kali.

tidak adanya jawaban dari putri kerajaan goa itu membuat sang pengawal terpaksa mengambil keputusan sepihak.

"izinkan hamba untuk mengantar tuan putri kembali ke kamar."

.

.

.

kata mereka, tembok istana bisa berbicara.

dari sanalah kabar calon istri pangeran ketiga terjatuh ke kolam renang tersebar dengan cepat.

dalam sekejap, sanji sudah berada di kamar sang putri untuk memeriksa kondisinya.

ia menghampiri nami di tempat tidurnya dan bersimpuh di sampingnya. "putri, apakah kau baik-baik saja?"

nami, yang sedang bersandar di kepala tempat tidur dengan selimut menutupi kakinya, hanya tersenyum singkat.

"ya, pangeran. itu karena kecerobohanku. tidak ada yang serius."

melihat itu, sang pangeran tampak menghela napas lega dan segera bangkit.

namun, netra sang putri lebih cepat menangkap lebam samar di sudut bibirnya.

"putri, tolong—"

"pangeran." nami segera memotongnya sebelum ia bisa menyampaikan maksudnya. "lebam di sudut bibirmu tampak baru. apakah kau terlibat perkelahian baru-baru ini?"

sedikit terkejut, sanji hanya tersenyum sekilas sebelum menirukan jawaban sang putri. "ah ... itu karena kecerobohanku. tidak ada yang serius."

namun, hal itu membuat nami semakin curiga.

"benarkah itu, pangeran?"

lagi-lagi, sang pangeran hanya tersenyum tipis. "ya, putri. tolong jaga dirimu baik-baik."

ia kemudian mengangguk singkat sebagai tanda undur dirinya.

"ingat, sanji. gadis itu tidak boleh mati sebelum tujuan kita tercapai."

.

.

.

malam tiba dengan cepat.

namun, waktu seolah melambat bagi sang putri yang menghabiskan sepanjang hari memikirkan sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.

di tumit sang pengawal.

malam itu, ia memutuskan untuk mengakhiri monolognya selama beberapa jam terakhir.

"pengawal!" serunya tanpa pikir panjang.

tak lama kemudian, terdengar ketukan singkat di pintu sebelum pintu terbuka dan menampilkan sosok pengawal pribadinya.

sambil menarik napas dalam-dalam, nami membetulkan jubah tidurnya yang sedikit turun di bahunya.

"masuk dan kunci pintunya."

perintah itu jelas mengejutkan sang pengawal.

keraguan di wajahnya membuat nami kembali berbicara dengan tegas. "aku tidak akan mengulangi perintahku dua kali."

tanpa banyak bicara, lelaki itu memasuki kamar sebelum mengunci pintu di belakangnya.

"kemarilah," ajak nami ketika melihatnya menghabiskan satu menit penuh hanya berdiri di depan pintu.

setelah terdiam dalam keraguan, ia akhirnya melangkah menuju tempat tidur—di mana sang putri sedang duduk bersandar di kepala tempat tidur.

"sebutkan namamu," ujar nami begitu sang pemilik surai kelam berdiri tepat di depan kaki tempat tidur.

dengan sikap siap, lelaki itu akhirnya memperkenalkan dirinya. "luffy."

"luffy?"

nami tersenyum miring sebelum menatap tajam sosok dengan bekas luka di bawah mata kirinya itu. "atau monkey d. luffy?"

ia bisa melihat bagaimana manik obsidian itu berkilat panik, tapi dengan cepat menjadi tenang.

"mohon maaf, tuan putri. hamba tidak mengerti—"

namun, nami mempertahankan senyumnya.

"apa yang dilakukan putra pemimpin pemberontakan di istana?"

mendengar itu, luffy langsung mengambil posisi berlutut dengan satu kaki dan menunduk dalam-dalam.

"tuan putri, hamba pantas untuk mati."

———&———

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co