Truyen3h.Co

runaway

runaway - epilog

fikawashere

langit di ufuk timur masih kelabu kala seekor merpati putih hinggap di ambang jendela kamar pribadi sanji.

sayapnya basah oleh embun pagi dan di cakarnya tergantung sebuah gulungan kecil yang diikat dengan pita hitam—warna yang tidak pernah digunakan dalam korespondensi istana.

sanji mengulurkan tangan perlahan, dengan hati-hati melepaskan simpulnya dan membiarkan burung pembawa surat itu terbang menjauh sebelum membaca isinya.

surat ditulis dengan tinta hitam dan dengan tulisan tangan yang tidak dikenalinya. kata-katanya lembut, tetapi setiap baris mengandung api yang tak terlihat.

ia membaca sampai akhir.

napasnya terhenti di satu atau dua titik dan rahangnya mengeras kala ia menyelesaikan kalimat terakhir.

tidak ada nama pengirim.

tetapi ia tahu.

ia berjalan ke perapian kecil di sudut ruangan. dengan tenang, ia menyalakan api, lalu memegang surat itu sejenak—seolah-olah ingin menyerap kekuatannya.

tanpa sepatah kata pun, ia menatap nyala api yang perlahan membakar kertas itu.

api menyebar dengan cepat. surat itu melengkung, terbakar habis dalam hitungan detik. yang tersisa hanyalah abu—dan tekad.

sanji memejamkan mata sejenak, lalu berbalik.

tangannya mencengkeram gagang pedang pusaka yang tergantung di dinding.

untuk pertama kalinya, bukan sebagai pewaris, tetapi sebagai buronan yang harus bertahan hidup.

ia menarik napas dalam-dalam.

"jika ini awalnya, aku akan memastikan ... aku melihat akhirnya."

.

.

.

usopp berlari secepat yang ia bisa melalui lorong-lorong istana yang megah. napasnya terengah-engah dan matanya dipenuhi kekhawatiran.

tangan kanannya menggenggam erat surat yang baru saja diterimanya dari seekor merpati putih. surat itu dicap dengan stempel merah—tanda yang tidak boleh diabaikan.

dengan langkah tergesa-gesa, usopp akhirnya tiba di depan pintu kamar pribadi raja beckman. ia mengangkat tangan dan mengetuk pintu dengan penuh rasa hormat. suaranya sedikit bergetar.

"yang mulia, ada surat dari mdl."

dari balik pintu, raja beckman menjawab dengan tenang sekaligus tegas. "masuklah, usopp."

usopp membuka pintu perlahan dan masuk.

raja beckman duduk di tepi tempat tidurnya. wajahnya yang biasanya tenang kini menunjukkan sedikit rasa ingin tahu.

pengawal bersurai kelam itu melangkah mendekat dan menyerahkan surat dengan kedua tangan, seolah memberikan mandat yang sangat penting.

raja beckman mengambil surat itu dan melihat stempel merah yang khas di atasnya.

dengan hati-hati, ia membuka segelnya dan matanya mulai menelusuri baris demi baris tulisan di dalamnya.

ekspresinya perlahan berubah dari penasaran menjadi serius.

.

.

.

tiga hari telah berlalu sejak nami mengirim surat kepada ayahnya. setiap saat terasa lambat, dan setiap detik dipenuhi dengan harapan.

di sore hari yang mulai gelap, dengan cahaya jingga hangat menyinari kamarnya, langkah kaki yang sudah sangat dikenalnya terdengar di depan pintu. luffy, pengawal pribadi sekaligus kekasihnya, muncul sambil membawa gulungan surat yang telah lama dinanti.

"nami, ini balasan dari ayahmu. aku membawanya secepat mungkin," katanya lembut sambil menyerahkan surat itu.

nami mengangguk pelan. hatinya berdebar tak sabar.

dengan tangan gemetar, ia membuka segel dan perlahan membentangkan kertas berisi tulisan rapi itu.

mata indahnya mulai menelusuri kata demi kata yang tertulis tegas—namun penuh kehangatan.

nami menunduk. air matanya jatuh perlahan.

bukan karena sedih, melainkan karena rasa lega yang mendalam.

luffy menggenggam tangannya erat, memberi kehangatan di tengah haru yang mereka rasakan.

matahari hampir tenggelam di balik cakrawala, memancarkan cahaya hangat seakan mengiringi awal baru yang penuh harapan bagi mereka berdua.

———&———

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co