runaway - act ix 🔞
contains: mild sexual content.
tags: lots of kisses, body worship, loss of virginity, implied unprotected vaginal sex.
———
pintu terkunci rapat.
sang putri dan kesatrianya duduk berdampingan di tepi tempat tidur.
umumnya, gelar kehormatan kesatria hanya diberikan raja kepada prajurit atas jasanya di medan perang.
namun, nami yakin raja judge tidak dalam kondisi yang cukup sehat untuk menganugerahkan gelar tersebut kepada luffy—yang telah berjasa menyelamatkan nyawa puluhan prajuritnya.
ya, pengawal pribadinya itu baru kembali ke istana setelah memeriksa satu per satu tubuh yang tergeletak di sekitarnya. ia berhasil kembali dengan sejumlah prajurit yang masih bisa diselamatkan.
luffy pun dengan cepat mengambil alih peran kepala prajurit yang mati setelah melindungi raja dari serangan musuh.
nami bahkan tidak percaya sang putra pemimpin pemberontakan bertindak sejauh itu untuk menyelamatkan pasukan yang akan segera menjadi musuhnya.
"lima tahun bersama membuat ikatan persahabatan berkembang dengan sendirinya."
jawaban itu membuat sang putri tersenyum tipis.
sebelum menjaga sanji selama empat tahun, luffy memang menghabiskan tahun pertamanya sebagai prajurit biasa.
ia menangkup wajah luffy sebelum mengusap bekas luka di pelipisnya. "ya, itu memang tidak bisa dicegah. tapi bukankah ikatan seperti itu akan memengaruhimu ketika harus berbalik di kemudian hari?"
sambil balas tersenyum, lelaki kelahiran mei itu memindahkan tangan kanan nami ke atas pahanya dan meremasnya dengan lembut.
"jangan khawatir, putri. aku selalu bertindak sesuai peran yang dibutuhkan. aku adalah teman selama aku berada di pihak yang sama. sebaliknya, aku tidak akan ragu menjadi lawan ketika saatnya tiba."
mendengar itu, nami hanya bisa termenung.
ketika saatnya tiba, ya?
tanpa sadar, ia menjauhkan tangan kirinya dari wajah luffy dan menunduk.
lalu,
kapan saat itu tiba?
"pernikahanku akan dilangsungkan dua belas hari lagi."
manik indahnya memperhatikan ibu jari luffy mengusap buku jarinya dengan penuh kasih sebelum bergumam lirih.
"akankah matahari terbit di jeruma hari itu?"
dan tiba-tiba saja, ruangan menjadi sunyi.
luffy berhenti mengusap buku jarinya.
satu detik.
dua detik.
tiga detik.
tidak ada jawaban.
di tengah keheningan, hanya napas berat luffy yang terdengar.
kala itulah nami menyadari bahwa ia menanyakan sesuatu yang mungkin tabu untuk dibicarakan.
ia hendak meminta maaf ketika sang kesatria, tanpa diduga, mengangkat dagunya dengan jari telunjuknya.
"semuanya akan terjadi dalam sembilan hari. tepatnya pada hari raja beckman seharusnya datang untuk mempersiapkan pernikahan," bisiknya pelan.
eh?
sebelum nami sempat memproses informasi tersebut, luffy melanjutkan kalimatnya tanpa ragu—seolah itu adalah sesuatu yang bisa dibicarakan dengan bebas.
"saat kekacauan terjadi dan semua orang sibuk menyelamatkan diri, raja beckman akan segera membawamu pergi dari sini."
senyum manis yang terukir di bibirnya seolah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"tidak ada yang perlu dikhawatirkan. semuanya akan segera berakhir dan kau akan kembali ke rumahmu."
tentu saja.
pulang ke rumah adalah sesuatu yang selalu nami harapkan dalam setiap doanya.
namun,
"bagaimana denganmu?" balasnya tanpa pikir panjang.
sang putri menatap manik gelap luffy dalam-dalam, mencoba menemukan jawaban yang ia inginkan. "akankah kau pergi bersama kami?"
pertanyaan itu jelas mengejutkan sang kesatria. hanya saja, ia dengan terampil mempertahankan senyum di wajahnya.
"tentu. aku akan menyusulmu segera setelah semuanya berakhir."
ah.
kata-kata itu terdengar begitu tulus.
nami ingin mempercayainya.
hanya saja, ada sesuatu yang terus terlintas di benaknya.
bagaimana jika ia tidak pernah kembali?
bagaimana jika maut benar-benar menjemputnya kali ini?
bagaimana?
bagaimana?
bagai—
"—putri?"
nami tersentak ketika luffy menepuk tangan kirinya dengan lembut, membawanya kembali ke dunia nyata.
gurat-gurat kekhawatiran terukir jelas di wajah tampan sang kesatria.
"apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"
tanpa membuang waktu, nami segera meraih kedua tangan yang sebelumnya memegang tangannya itu.
"bisakah kau berjanji sekali lagi dan menepati janji itu?"
meski tidak tahu janji apa yang dimaksud sang putri, luffy mengangguk tegas. "aku akan selalu menepati janjiku padamu, putri."
ketegasan yang dibalut kehangatan itu membuat mata nami terasa panas.
"kembalilah dengan selamat sekali lagi." dengan mata berkaca-kaca, putri kerajaan goa itu tersenyum manis kepada sang pemilik manik sekelam langit malam. "tidak ada yang lebih kuinginkan di dunia ini selain menghabiskan sisa hidupku bersamamu."
untuk pertama kali dalam hidupnya, luffy merasakan jantungnya berhenti berdetak selama beberapa detik sebelum mulai berdetak tak terkendali.
bukan "aku mencintaimu," tapi "aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu."
untuk berpikir bahwa ia ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan seorang prajurit rendahan,
apa yang telah ia lakukan hingga pantas mendapatkan cinta sang putri?
tentu saja, luffy ingin melakukan itu.
menghabiskan sisa hidupnya bersama sang putri yang menyirami tanah tandus di hatinya, memberinya harapan untuk kembali dengan selamat dari setiap pertumpahan darah.
ialah perempuan yang membuatnya berani mencinta.
namun,
"aku punya pedang untuk melindungimu." manik kelamnya bertemu dengan manik indah nami yang menatapnya penuh kerinduan. "tapi aku tidak punya mahkota untuk memilikimu."
kalimat yang sarat akan kerendahan diri itu membuat sang putri tanpa sadar menarik napas dalam-dalam.
tatapan matanya yang lembut berubah tajam.
luffy jelas tidak siap ketika putri kerajaan goa itu dengan agresif menarik tiara di kepalanya dan mencengkeramnya tepat di depan wajahnya.
"kalau begitu, biarkan aku menghancurkan mahkota ini. apa gunanya mahkota yang hanya menjadi pembatas antara kau dan aku?"
melihat beberapa helai rambut yang jatuh membingkai wajah cantik nami dan buku-buku jarinya yang memutih, lelaki bersurai hitam itu hanya bisa menelan ludah.
tak ada setitik pun keraguan di manik indah sang putri.
dan sudut bibir sang kesatria perlahan terangkat membentuk senyum tipis.
ia mengambil tiara dari tangan kanan nami dan meletakkannya di pangkuan gadis itu.
"putri, ketahuilah." jari-jarinya dengan cekatan menyelipkan helaian rambut yang jatuh di sisi wajah nami ke belakang telinganya. "aku ingin bersamamu lebih dari apa pun di dunia ini. tapi aku hanya bayangan yang ditugaskan untuk menjagamu hingga matahari terbit."
setelah memastikan tidak ada sehelai rambut pun yang menghalangi pandangan sang putri, luffy dengan lembut membelai pipi kirinya—seolah-olah itu adalah benda paling rapuh yang pernah disentuhnya.
"jika kau memilih untuk bersamaku, aku tidak hanya akan menodai adat istiadat yang ada ... aku juga akan menghancurkan kepercayaan yang ayahmu berikan padaku."
sambil menggelengkan kepalanya pelan, nami menyentuh tangan luffy yang masih setia membelai pipinya. "kau tidak pernah menghancurkan apa pun, luffy. kaulah yang menjaga semuanya tetap utuh. hidupku dan kehormatanku. kau hanya menjagaku, lebih baik dari siapa pun yang pernah berdiri di sisiku."
perlahan, ia menurunkan tangan luffy dari pipinya dan menggenggam tangan besar itu dengan kedua tangannya.
"biarkan sejarah menuliskanku sebagai putri yang jatuh dari langit untuk hidup di bumi yang kau pijak."
matanya tidak pernah lepas dari sepasang manik kelam sang kesatria.
"aku tak ingin ditulis dalam kemegahan tanpa kau di sisiku. cinta ini adalah kehormatan sejati bagiku."
sekali lagi, luffy bertanya dengan nada rendah.
"dan jika kau kehilangan segalanya karena aku?"
dan sang putri mengangkat sudut bibirnya membentuk senyum manis tanpa ragu.
"maka biarlah aku kehilangan segalanya. karena bersamamu, aku menemukan diriku."
kalimat itu seakan mengangkat semua beban yang dipikul luffy di pundaknya.
ia tidak sendiri.
ia tidak pernah sendiri.
gadis ini, putri kerajaan goa ini, menginginkan hal yang sama.
mereka menginginkan selamanya dalam dekapan satu sama lain.
oleh karena itu, dengan hati yang membara, luffy membawa nami ke dalam satu pelukan hangat.
"aku berjanji."
dengan dagu bersandar di bahu kokoh sang kesatria, nami mengusap punggungnya dengan penuh kasih.
punggung itu,
punggung yang akan selalu menjadi tempatnya bersandar.
"aku akan kembali dengan selamat dan kita akan menghabiskan sisa hidup kita bersama," ucap luffy sebelum memberikan kecupan singkat di sisi kepala nami.
keduanya berpelukan dalam diam selama beberapa menit, menikmati kehadiran satu sama lain.
hingga akhirnya, nami menarik diri untuk menatap sosok tampan itu dengan binar di matanya yang tak pernah pudar.
suasana di peraduan sang putri berubah perlahan, dari tenang menjadi nyala yang tak tertahankan, ketika sang kesatria dengan keberanian yang tak biasa menyatukan bibir mereka.
sentuhannya tidak tergesa-gesa, tapi mengandung kerinduan yang lama terpendam dan keberanian yang baru lahir dari hasrat.
tanpa sepatah kata pun, mereka saling mencari, saling memagut dalam diam yang penuh gemuruh.
bibir menyatu, lidah menari, dan napas bertaut dalam ritme yang tidak lagi mengenal aturan.
tangan menjelajah perlahan, seolah membaca satu sama lain dengan jari-jari mereka.
gaun sutra seputih salju meluncur dari bahu nami seperti air hangat, melingkar lembut di pergelangan kakinya sebelum jatuh ke lantai marmer yang dingin.
suaranya nyaris tak terdengar.
namun, bagi luffy, dentingan lembut kain itu terdengar lebih nyaring daripada lonceng perang.
ia menyaksikan tubuh sang putri terbebas dari lapisan-lapisan yang melindunginya. tidak hanya dari panas matahari dan dingin angin malam, tetapi juga dari tatapan buas setiap pria yang mengaguminya—termasuk dirinya sendiri.
kulitnya pucat bagaikan cahaya bulan yang mengintip malu-malu melalui jendela, bergetar lembut di ruangan yang sunyi.
di bawah cahaya temaram, luffy tak bisa berpaling. napasnya memburu pelan, seolah paru-parunya takut merusak keheningan.
ia mendekat, perlahan, dan matanya menelusuri lekuk tubuh nami bukan hanya dengan nafsu, tetapi dengan rasa gentar—seakan keindahan itu terlalu agung untuk disentuh.
bibirnya terbuka, tetapi tidak ada kata-kata yang cukup.
hanya satu bisikan lembut yang keluar.
"kau lebih dari apa yang berani kubayangkan."
jari-jarinya mengangkat helaian rambut yang jatuh di bahu sang putri, menyisirnya ke belakang telinganya dengan kelembutan yang tidak pernah ditunjukkannya di medan perang.
"bagaimana mungkin dunia tidak tunduk padamu?"
nami menatapnya. matanya bersinar bukan karena cahaya bulan, tetapi karena keberanian dan keyakinan baru yang tumbuh dari dalam dirinya.
dengan gerakan pelan tapi pasti, ia mengangkat tangan dan menyentuh dada luffy yang masih terbungkus kain.
jari-jarinya yang ramping bekerja tanpa ragu, membuka ikat pinggangnya dan menyingkirkan lapisan-lapisan yang merupakan bagian dari wibawanya sebagai seorang prajurit.
satu per satu, pakaian itu jatuh ke lantai, bergabung dengan gaun yang masih terhampar dingin di bawah kaki mereka.
nami tidak mengatakan apa-apa, tetapi matanya berbicara tentang keinginan dan keyakinan untuk menikmati malam dalam kehangatan satu sama lain.
dan ketika akhirnya luffy berdiri setelanjang kebenaran di hadapannya, ia tidak gentar.
ia hanya mengulurkan tangan, menuntunnya lebih dekat.
ketika tubuh mereka bertemu, kehangatan mengalir. lembut dan menyengat, seperti sungai yang perlahan melahap batu.
kulit menyentuh kulit—tanpa jarak, tanpa jeda. dan luffy yang terbiasa menghadapi kematian dengan tenang, kini gemetar di bawah kelembutan yang belum pernah dikenalnya.
nami menyambutnya dengan sepenuh hati.
ia membuka dirinya bukan hanya tubuh, tetapi juga jiwa—dalam pelukan yang lebih jujur daripada kata-kata apa pun.
gerakan pertama terasa seperti embusan napas panjang yang telah ditahan lama.
perlahan, luffy menembus dunia yang belum pernah dimasuki siapa pun sebelumnya.
di antara cengkeraman lembut, kelopak mata yang tertutup rapat, dan tarikan napas tertahan, sesuatu yang suci pecah dalam diam.
tidak ada darah.
tidak ada jeritan.
hanya satu denyut yang lembut—seperti buah ceri yang akhirnya jatuh dari tangkainya.
mereka menyesuaikan ritme satu sama lain. bergerak lambat, hampir seperti tarian tanpa musik.
napas beradu dan gerakan mengalir seperti ombak yang tahu persis ke mana harus kembali.
nami memeluk punggung luffy erat-erat, seolah menjadikannya jangkar ketika dunia perlahan runtuh.
di antara ciuman yang dalam, desahan merdu, dan tatapan yang tak teralihkan, sebuah kenyataan merayap diam-diam ke dalam ruangan.
malam ini, sang putri tidak hanya memberikan tubuhnya.
ia memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga dan tidak akan pernah bisa diambil kembali.
.
.
.
"jika kau mempunyai kesempatan untuk berbicara dengan rembulan, apa yang akan kau katakan padanya?"
luffy tersenyum.
manik kelamnya menatap langit-langit tinggi kamar istana yang remang, tak ubahnya langit malam tanpa bintang. kosong, sunyi, tetapi menyimpan banyak hal yang tak terucap.
"tidak ada," jawabnya pelan.
mendengar itu, nami menoleh. matanya meneliti wajah sang kesatria dengan penuh tanda tanya, seolah kata-katanya belum sempat menyentuh logikanya.
luffy memejamkan matanya sejenak, menarik napas panjang sebelum senyum kecil kembali muncul di sudut bibirnya.
senyum itu tidak hanya hangat, tetapi juga menyimpan kenangan yang telah lama tak tersentuh.
"sang rembulan pasti bosan mendengar semua ceritaku sejak malam itu."
kenapa?
pertanyaan itu tidak keluar dari bibir nami, tetapi matanya menjerit dengan rasa ingin tahu.
setelah membiarkan keheningan menguasai ruangan itu sejenak, luffy berguling ke kiri. ia menyelipkan beberapa helai rambut yang menutupi sisi wajah nami ke belakang telinganya. gerakannya lembut, hampir seperti doa.
"jika kau memiliki kesempatan untuk berbicara dengan rembulan, aku harap kau tidak terkejut ketika ia menyebut namamu," katanya sambil menatap wajah sang putri yang bercahaya oleh sisa peluh dan rasa.
jari-jarinya menyeka butiran keringat dari dahi nami. sentuhannya penuh dengan perasaan. ia menatap mata indah itu, dalam dan tenang, lalu melanjutkan.
"karena aku menceritakan padanya tentangmu setiap malam."
nami terdiam.
kata-kata itu begitu manis.
wajahnya merona perlahan, seperti kelopak bunga sakura pertama yang mekar di awal musim semi.
ia menarik selimut tipis lebih dekat ke dadanya, menyembunyikan tubuhnya yang masih hangat. bukan karena kedinginan, tetapi karena getaran lembut di hatinya.
namun, senyumnya segera memudar—digantikan oleh kedalaman lain di balik matanya.
ada sesuatu yang ingin ia keluarkan.
"jika aku bisa bicara dengan rembulan, aku akan bertanya ... mengapa ia tetap diam ketika ibuku tenggelam," katanya lirih, menatap langit-langit.
luffy terdiam.
ekspresinya berubah, dari tenang menjadi penuh kekhawatiran.
nami melanjutkan. napas dan suaranya tertahan oleh kenangan.
"aku masih kecil ketika kami melakukan perjalanan melalui sungai besar di utara goa. perahu kecil kami terombang-ambing oleh angin. aku jatuh ... dan aku tidak bisa berenang."
mata luffy mulai menatapnya lebih dalam. seluruh tubuhnya tampak condong ke arah nami, meskipun ia tetap diam—memberi ruang bagi kisah yang mengalir perlahan.
"ibuku sakit. ia bahkan hampir tidak bisa berdiri. tapi dia melompat ... tanpa pikir panjang."
suara nami bergetar sejenak. ia menelan ludah, berusaha menjaga suaranya tetap tenang.
"ia menyelamatkanku. ia menarikku ke darat. tapi air itu terlalu dalam. terlalu dingin. terlalu ... kejam."
luffy menunduk sedikit, memperhatikan jari-jari nami yang kini mencengkeram ujung selimut dengan erat.
"tiga bulan setelah itu, ia wafat. ayah dan dokter istana mengatakan itu karena penyakitnya. tapi aku tahu ... air itu yang merenggut sisanya."
napasnya mulai tersendat.
"sejak hari itu, aku tidak pernah bisa menatap air dalam dengan tenang. bahkan mandi saja membuatku gelisah."
kini, nami menatap lurus ke arah luffy. tatapan mereka bertemu dalam keheningan yang jauh lebih berat dari sebelumnya.
"itulah sebabnya aku sangat bersyukur kau menyelamatkanku hari itu. kau melompat ke kolam renang seperti yang dilakukan ibuku dulu. tanpa ragu. tanpa takut."
ia berhenti, lalu menarik napas dalam-dalam. kalimat berikutnya nyaris tak terdengar.
"dan ketika aku melihatmu dalam air ... kau mengingatkanku pada ibuku. itu menakutkan karena aku takut jika harus kehilangan lagi."
luffy tersenyum tipis. tangannya menggenggam tangan nami, menuntunnya untuk menyentuh dadanya yang berdegup kencang. "aku di sini. aku hidup. dan selama aku bernapas, kau tidak akan pernah sendirian lagi."
nami menundukkan kepalanya. air mata yang ditahannya akhirnya mengalir dalam diam.
tidak ada rasa malu.
hanya kelegaan.
mereka tidak berkata apa-apa selama beberapa detik.
namun, dalam keheningan itu, cinta tumbuh dalam bentuk yang tidak bisa diungkapkan.
lewat genggaman.
lewat luka yang dibagi.
lewat napas yang beradu.
"luffy." nami berucap tiba-tiba. suaranya lirih, tapi tegas. "bawa aku jauh dari sini."
"ke tempat di mana tak seorang pun bisa menemukan kita."
luffy memandangnya, lama. dalam tatapan itu, ada rasa bersalah, tetapi juga keberanian.
ia menimbang dunia yang akan ditinggalkannya demi dunia kecil yang baru saja mereka ciptakan.
"bahkan jika kita harus hidup dalam pelarian karena aku adalah putra pemimpin pemberontakan?" ujarnya perlahan, hampir seperti bisikan—takut akan jawabannya.
namun, nami menjawab tanpa ragu.
"bahkan jika kita harus hidup dalam pelarian karena kau adalah putra pemimpin pemberontakan."
ia memegang tangannya erat, seolah-olah mengikat jiwanya pada pria di depannya. "monkey d. luffy."
"aku akan pergi ke medan perang jika itu berarti aku bisa bersamamu lebih lama lagi."
matanya menyala. bukan karena takut, tetapi karena cinta yang telah tumbuh dalam kesunyian.
"aku akan hidup dan mati bersamamu."
luffy menatapnya. dan untuk sesaat, dunia seakan berhenti berputar.
ia meraih dagu nami dengan sentuhan penuh kasih. mereka saling menatap hanya sedetik sebelum bibir mereka bertemu lagi dalam ciuman yang tak sekadar hangat, tapi membara dengan janji yang tak akan pernah bisa ditarik kembali.
panasnya ciuman itu membuat nami merasa seolah seluruh oksigen di paru-parunya ditarik keluar dengan paksa.
namun, ia tidak ingin bernapas—tidak, jika itu berarti harus melepaskan rasa yang kini membanjiri jiwanya.
ketika mereka berpisah, hanya tersisa napas tipis di antara mereka.
"kita akan bertolak dari sini tepat setelah matahari terbit di jeruma," bisik luffy.
suaranya hampir tidak lebih dari desir angin di balik jendela yang setengah terbuka.
nami menatapnya. bukan dengan rasa takut, tetapi dengan keyakinan baru.
dalam pelukannya, ia tidak lagi merasa seperti seorang putri.
ia merasa utuh.
ia merasa hidup.
ia merasa bebas.
di luar, bulan masih tergantung—menyimpan rahasia malam itu dalam keheningan.
dan untuk pertama kalinya, nami tidak lagi sendiri dalam doanya kepada langit.
———&———
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co