• ━━━ # 𝐸𝓂𝒾𝓁𝓎 〰︎ || 𝖢𝗈𝗋𝗍𝗂𝗌's 𝟨𝗍𝗁 𝖬𝖾mber
Emily's New Ambition.
Besok paginya di sekolah, Emily langsung menarik Alana ke sudut perpustakaan yang paling sepi. Dengan wajah yang jauh lebih cerah dari biasanya, Emily menceritakan semua kejadian semalam.
Alana cuma bisa melongo. Dia bahkan sampai lupa menutup mulutnya saking kagetnya. "Wait, wait... seriously?" Ana akhirnya bersuara setelah beberapa detik terbengong.
"Unbelievable! Jadi selama ini kamu sama mama kamu diem-dieman karena sama-sama salah paham?" Emily mengangguk pelan sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga.
"Yeah... I felt so stupid, Ana. Aku kira selama ini Mama termenung karena di tinggal Papa, ternyata Mama termenung karea ngiranya aku yang benci sama dia."
Alana menyandarkan punggungnya ke rak buku, menarik napas panjang. "Tuh kan, Mimi! What did I tell you? Itulah alasannya kenapa komunikasi itu penting banget! Misunderstanding can be so dangerous."
Alana menatap Emily dengan bangga, lalu menepuk-nepuk bahu sahabatnya itu. "Heum! Untungnya kemarin Mimi ngelakuin apa yang Mimi janjikan. Kalau Mimi gak ngelakuin, mungkin salah pahamnya makin lama dan makin parah. I'm so proud of you, Mimi! Kamu hebat banget!"
Emily tersenyum kecil, kali ini senyumnya benar-benar sampai ke mata. "Thank you, Ana. Kalau bukan karena nasehat kamu, mungkin aku sama mama masih bakal diem-diem an aja di rumah."
Alana tersenyum. "Tapi beneran deh, sekarang karena urusan rumah udah clear, kamu harus fokus ke olimpiade. Mama kamu udah semangat gitu, jangan sampai kamu bikin dia kecewa, oke?"
"I know, I know. Aku bakal usaha semaksimal mungkin," jawab Emily mantap.
"Sip! That's my girl!" seru Alana semangat, meskipun langsung ditegur petugas perpustakaan karena suaranya terlalu cempreng. "Ups, sorry..." bisiknya sambil menutup mulut, yang membuat Emily tertawa pelan.
Waktu terasa berjalan begitu lambat setelah pengerjaan soal olimpiade yang menguras seluruh energi mental Emily. Hari-hari Emily habiskan dengan jalan-jalan di sekitar hotel yang ia tempati.
Terkadang dia dan Alana akan berada di suatu taman dan saling tukar cerita, membaca buku, atau menyemil makanan.
Malam Closing Ceremony & Awarding Night itu berlangsung sangat megah dengan sorotan lampu panggung yang menyilaukan.
Kamera dari stasiun televisi nasional dan internasional berjejer di barisan tengah, menyiarkan acara ini secara langsung. Emily duduk di barisan depan bersama para finalis dari berbagai negara, sementara Mama dan Ana memberikan dukungan penuh dari kursi penonton.
Suasana mendadak hening saat lampu utama meredup dan layar raksasa di panggung menyala. Pembawa acara melangkah ke tengah dengan jas yang rapi, memegang sebuah amplop emas.
"And now, the moment we have all been waiting for. The top honor for the Primary 1 Category," suara pembawa acara menggema, membuat jantung Emily berdegup kencang hingga terasa ke ujung jari.
Layar di belakang menampilkan bendera negara dan foto Emily. Pembawa acara membacakan narasi resmi dengan penuh rasa bangga.
"Congratulations to Emily Kirana Fēiyán for achieving the Gold Medal (First Place) in the World International Mathematical Olympiad (WIMO) 2015. Your brilliance as a young prodigy has brought pride to your school and community. The future of mathematics shines brighter with you!"
Tepuk tangan riuh langsung pecah. Lampu sorot langsung mengarah tepat ke tempat duduk Emily. Di layar televisi yang menyiarkan secara live, wajah Emily yang tampak tenang namun sedikit terkejut muncul di layar lebar.
Emily berdiri, melangkah dengan anggun menuju panggung. Di bawah sorotan kamera, ia menerima piala kristal dan medali emas yang berkilauan. Sambil menjabat tangan dewan juri, Emily sempat melirik ke arah Mama yang sedang menghapus air mata bahagianya sambil tetap berusaha merekam momen itu dengan ponselnya.
She finally made her Mama proud.
Pagi itu, koridor sekolah terasa jauh lebih bising dari biasanya. Begitu Emily masuk, suasana mendadak riuh.
Teman-teman yang biasanya hanya menyapa sekadarnya kini berkerumun, memberikan tepuk tangan, hingga berteriak heboh mengucapkan selamat atas kemenangan besarnya di WIMO. Guru-guru pun tak ketinggalan memberikan senyum bangga dan jabat tangan hangat saat berpapasan dengannya.
"Mimi! You're literally everywhere!" Alana langsung menyodorkan ponselnya ke depan wajah Emily. Di media sosial, nama Emily memang tengah menjadi perbincangan hangat.
Banyak orang yang memuji kecerdasannya sebagai prodigy dari Rusia, namun di antara ribuan pujian itu, terselip komentar-komentar pedas yang menuduhnya curang atau mendapatkan bocoran soal karena nilainya yang dianggap tidak masuk akal untuk anak seusianya.
Emily hanya melirik sekilas layar ponsel Alana tanpa menghentikan langkahnya. Ia tidak terlihat marah atau sakit hati. Reaksinya yang sangat datar membuat Ana kebingungan.
"Mimi, aren't you mad? Mereka membuat opini yang jelek tentang kamu, lho! That's so mean!" Emily hanya mengangkat bahu pelan, wajahnya hanya menampilkan senyum tipis.
Bagi Emily, semua kebisingan ini, baik pujian maupun makian, hanyalah bagian dari skenario yang sudah ia duga.
"Biarkan saja, Ana. People will always talk, right?" jawab Emily santai sambil meletakkan tasnya di kursi.
Ia tahu persis bahwa pembuktian sesungguhnya bukan lewat adu mulut di media sosial, melainkan lewat hasil-hasil besar lainnya yang sudah ia siapkan di masa depan.
Alana menghela napas panjang, matanya masih sibuk menggeser layar ponsel yang penuh dengan komentar netizen. "Mimi, aku beneran heran deh. How can you stay so chill?" tanyanya gemas.
"Kalau aku yang dituduh curang, mungkin aku sudah nangis atau balas pakai akun lain. I mean, look at this! Ada yang bilang kamu pakai earpiece pas ujian. That's totally insane, right?"
Emily yang sedang asyik mencoret buku catatannya hanya menoleh sekilas lalu tersenyum tipis. "Ana, take a breath. Kenapa malah kamu yang lebih repot daripada aku?" ujarnya sambil menutup buku yang ia baca.
"Biarin aja mereka mau bilang apa. It's a waste of energy kalau diladenin, lagian mereka nggak tahu apa-apa soal prosesnya."
Alana memutar bola matanya namun akhirnya ikut tertawa melihat ketenangan sahabatnya itu. "Ya sih, you're right. Mereka cuma iri karena otak mereka nggak se-ajaib kamu. Tapi tetap ya, kalau ada yang berani ngomong langsung di depan muka kamu, biar aku yang maju paling depan! I'll be your fierce bodyguard."
Melihat Alana yang masih sesekali melirik ponsel seolah benda itu musuh bebuyutan, Emily segera menggeser ponsel itu menjauh. "Ana, stop it already. Kamu bakalan sakit kepala kalau baca itu terus," tegur Emily lembut.
"Daripada sibuk sama orang yang bahkan nggak kenal kita, mending fokus ke hal yang lebih penting. Contohnya... Eum... Our stomach?"
Sebelum Alana sempat protes lagi, Emily cepat-cepat membelokkan topik pembicaraan. "Eh, by the way, aku dengar dari Mama kamu, katanya kamu baru belajar buat cookies choco chips ya? Mama bilang rasanya enak banget sampai Papa kamu habiskan choco chips sendirian. Is that true?" Mendengar itu, ekspresi Alana langsung berubah malu-malu tapi bangga,
"Actually, it's not that perfect yet, Mi, tapi Papa emang suka banget." Emily tersenyum sukses mengalihkan perhatian sahabatnya.
"Nah, karena kamu sudah jadi koki hebat dan bodyguard pribadiku, how about a treat? Ayo ke kantin, kamu boleh pesan apa saja, anggap perayaan kecil biar kamu nggak marah-marah lagi."
Mata Alana langsung berbinar, "Serius? Anything? Oke, aku mau croissant cokelat dan jus jeruk besar! But promise me, jangan baca komentar sampah itu lagi ya."
Emily memberikan jari kelingking ke Alana "I promise for today, gak tahu untuk kedepannya 😋."
"IS😡H!!"
Malam itu, suasana di ruang tengah terasa jauh lebih hangat. Setelah segala kesibukan olimpiade yang menguras energi, Emily akhirnya bisa menikmati quality time bersama Mama.
Mereka duduk bersandar di sofa empuk dengan selimut besar yang menutupi kaki keduanya, ditemani dua cangkir cokelat hangat yang uapnya masih mengepul tipis. Televisi di hadapan mereka menyiarkan saluran berita internasional yang sedang merangkum tren musik dunia tahun 2015.
Tiba-tiba, layar televisi menampilkan potongan video musik yang sangat amat memukau. Tujuh pria dengan kostum profesi yang berbeda-beda tampak menari dengan kecepatan luar biasa namun tetap sinkron sempurna.
Di bagian bawah layar muncul tulisan besar BTS (Bangtan Sonyeondan) - DOPE. Emily yang biasanya lebih tertarik dengan berita, mendadak terpaku melihat visual dan performa yang begitu kuat di layar.
"Ma, look at them. That's very cool," gumam Emily sambil menunjuk ke arah TV.
"Gayanya musik mereka beda banget sama penyanyi yang biasa muncul di radio tv ini. Siapa mereka?"
Mama ikut memperhatikan layar sejenak, lalu menyesap cokelatnya. "Iya ya, energinya luar biasa. Tapi jujur, Mama nggak tahu... eum.. Bities.. ?" tanya Mama dengan ekspresi polos yang membuat Emily hampir tersedak cokelatnya.
Emily tertawa kecil mendengar jawaban Mamanya. "Namanya BTS, Ma. Tadi penyiar bilang mereka lagi trending banget karena koreografinya yang susah. Tapi mereka bilang kalau BTS itu K-Pop. Actually, what is K-Pop? Is it just about the music?"
Mama tersenyum, kali ini dengan tatapan yang lebih mengerti. "Oh, kalau K-Pop, Mama tahu. Itu singkatan dari Korean Pop. Tapi itu bukan cuma soal musik aja, Sayang. Itu adalah industri besar dari Korea Selatan yang menggabungkan musik, tarian, dan visual. Para penyanyinya, yang mereka sebut 'Idol', berlatih bertahun-tahun sejak kecil untuk bisa tampil sehebat itu. Mereka itu paket lengkap, dari cara berpakaian sampai cara mereka menghibur di panggung. It's a whole culture now, bahkan sampai masuk TV internasional seperti sekarang."
Emily mengangguk-angguk, matanya kembali menatap layar TV yang kini sudah berganti berita lain. "Berlatih dari kecil buat jadi sempurna di panggung... the level of dedication is insane. Ternyata sama-sama berat ya Ma, kayak perjuangan aku belajar buat olimpiade matematika kemarin. Sama-sama butuh fokus dan latihan berulang-ulang sampai nggak ada celah buat salah."
Setelah terdiam sejenak, ia berujar mantap, "Ma, aku mau jadi idol."
Mama hampir tersedak cokelatnya, "Wait, Xiǎo Tiānshǐ (malaikat kecil) are you for real, ? Kamu serius mau menjalani masa trainee bertahun-tahun yang berat itu?"
Emily mengangguk cepat dengan mata berbinar. Mama menghela napas panjang, "Terus kegiatan kamu gimana? Jadwal kamu itu udah padat banget, Sayang... Kamu ada Ballet, modeling, musik, les Mandarin, belum lagi berenang, taekwondo, dan baru aja selesai olimpiade kemarin. Kapan kamu istirahatnya?"
Emily menjawab tenang, "Ma, kompetisi matematika kemarin kan cuma satu kali ujian dan udah beres, aku nggak ada jadwal lomba lagi. Lagian aku ada hari Sabtu dan Minggu yang nggak terlalu padat, aku bisa selipin latihan dance atau vocal di salah satu hari itu."
Mama akhirnya setuju tapi minta Emily fokus dulu sama latihan yang sudah ada. "Kalau semua lancar, nanti kita cari tempat latihan dance dan vocal untuk kamu. Deal?" Emily langsung memeluk Mamanya erat.
"Deal, Ma! Thank you!"
Di taman sekolah saat jam istirahat, Alana duduk dengan semangat sambil memegang ponselnya, tidak sabar ingin membagikan obsesi barunya.
"Mimi, aku lagi suka banget sama grup K-Pop! Mereka beneran keren banget! Kamu pasti suka!, seru Alana heboh.
Emily yang sedang menikmati angin sepoi-sepoi menoleh penasaran, "Siapa Ana?"
Alana langsung menunjukkan layar ponselnya dengan binar mata yang cerah, "BTS! Mereka keren banget, Mi! Aku bahkan rutin lihat channel mereka loh, semuanya seru-seru!"
Menyadari mereka ternyata mengidolakan boy band yang sama, Emily tersenyum tipis sebelum akhirnya memutuskan untuk jujur. "Sebenarnya, aku juga suka mereka, Na. Dan... eumm.. aku berencana mau jadi idol K-Pop juga nanti." Mendengar itu, Alana langsung berdiri dan mengguncang-guncangkan badan Emily dengan heboh.
"Apa?! Are you serious?!" Emily yang badannya terombang-ambing langsung protes, "Eh eh eh! Ana! Stop! Pusing tahu!"
Setelah Alana berhenti mengguncang badannya, ekspresi gadis itu berubah menjadi sangat cemas. "Mimi, kamu itu udah sangat sibuk buat ukuran anak seumuran kita. Jadwal kamu tuh udah full banget! Masa kamu mau nambah lagi?!" ujar Alana dengan nada khawatir.
Ia menatap Emily dalam-dalam, takut jika sahabatnya itu bakal stres berat sampai kesehatannya drop.
"Aku nggak mau ya kamu sakit terus kita jadi jarang ketemu. I don't want you to get sick or collapse gara-gara kamu kecapekan latihan."
Emily hanya tersenyum tipis melihat kekhawatiran sahabatnya, lalu ia menjulurkan tangan untuk meng-poke pelan jidat Alana.
"Ana, kamu kan tahu sendiri, aku kalau nggak ada kerjaan malah fokus main HP terus. And that's not good for me either," jelas Emily lembut.
Ia tidak ingin terjebak dalam kebiasaan buruk yang hanya dihabiskan di depan layar. "Makanya kalau ada kegiatan aku justru enjoy dan senang. I don't take it as a beban, jadi nggak bakal bikin aku stres atau drop, kok."
Meski sudah dijelaskan, Alana tetap saja yapping panjang lebar "Tapi kan Mimi, dance itu beda sama jadwal latihan kamu! Eh? Sama aja sih kayak renang, ballet, dan taekwondo..." Alana terdiam sebentar, baru tersadar kalau semua latihan yang dilakukan Emily selama ini memang sudah sangat ekstrem.
Emily yang melihat ekspresi bengong sahabatnya itu langsung terkekeh kecil, "Boleh kan? Kan aku udah pernah melatih badan ku dengan latihan-latihan itu."
Mendengar itu, Alana langsung kembali sadar dan lanjut mengomel lagi. "No, no, no! It's still different!! Kamu bakal keringetan, lompat-lompat, terus kalau pelatihnya galak gimana? Belum lagi kalau kamu kurang tidur terus imun kamu turun, nanti kalau kamu tipes gimana? Nanti siapa yang nemenin aku ke kantin? You have to think about your health first, Mimi! Nanti kalau kamu pingsan waktu latihan gimana?!"
Alana terus berbicara tanpa napas sampai Emily harus memegang bahunya supaya diam. "Ana, look at me. Aku sekarang sehat-sehat aja kan? Aku janji bakal jaga diri."
Alana akhirnya menghela napas panjang dan menyerah karena keras kepalanya Emily. "Ya sudah, aku dukung semua keputusan kamu. But, don't forget to tell your Mom! Biar nggak ada salah paham nanti!"
Emily tertawa geli mendengar peringatan Alana yang sudah seperti ibunya sendiri, lalu ia mengangguk mantap. "Iya, iya, tenang aja, aku sudah bilang ke Mama kok."
Alana yang mulai merasa lega akhirnya tersenyum lebar. "Oke! Kalau gitu aku janji bakalan sering bawain kamu lunch box yang banyak. So you'll have enough energy and stay healthy selama latihan nanti!"
"HAHAHAH! Okay Captain!"
"Apasih? Freak."
Alana pergi meninggalkan Emily sendirian, "LOH? ANAAAA!"
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co