• ━━━ # 𝐸𝓂𝒾𝓁𝓎 〰︎ || 𝖢𝗈𝗋𝗍𝗂𝗌's 𝟨𝗍𝗁 𝖬𝖾mber
Mimi & Ana.
Semester satu telah berlalu, dan kini Emily serta Alana memasuki semester dua. Siang itu, kantin sekolah sangat padat, membuat mereka harus rela berpindah dari meja favorit karena sudah ditempati siswa lain.
Namun, Emily tiba-tiba dipanggil ke ruang guru untuk urusan mendadak, meninggalkan Alana sendirian menjaga meja mereka yang terletak di pojok. Baru beberapa menit Emily pergi, tiga siswi kelas 5 menghampiri meja Alana dengan tatapan yang sangat tidak bersahabat.
"Heh, kamu yang namanya Alana, kan? Yang sok asik teriak-teriak di pinggir lapangan kemarin?" tanya salah satu kakak kelas yang memakai bando merah dengan nada sinis. Alana yang sedang menyesap jus jeruknya mengernyit bingung, mencoba tetap tenang.
"Iya, Kak. Ada apa ya? Kemarin kan memang ada lomba antar kelas, ya wajar dong aku kasih semangat buat teman-teman kelas aku," jawab Alana mencoba membela diri dengan sopan.
Namun, jawaban Alana justru memancing tawa mengejek dari mereka. "Halah, nggak usah sok polos! Kamu sengaja kan caper ke cowok-cowok kelas 1? Terutama ke cowok ku yang lagi tanding kemarin? Dasar kecentilan!" tuduh kakak kelas itu lagi sambil melipat tangan di dada.
Alana mulai merasa terpojok tapi dia tidak mau kalah begitu saja. "Wait, Kak, itu fitnah banget. I was just cheering for my team! Nggak ada niatan buat caper apalagi sama pacar Kakak yang aku sendiri nggak tahu yang mana!" seru Alana tegas.
"Alah! Masih kecil udah berani jawab ya!" bentak siswi lainnya yang badannya lebih besar. Perdebatan semakin panas, Alana terus membantah bahwa tindakannya murni bentuk sportifitas, namun ketiga kakak kelas itu tetap menutup telinga. "Kamu itu cuma anak kelas 4 yang baru naik daun karena temenan sama si 'anak jenius' itu, jangan berlagak deh!" provokasi mereka yang membuat Alana mulai merasa sesak karena emosi.
Puncaknya, karena merasa tidak puas dengan jawaban Alana, siswi berbando merah itu kehilangan kesabaran. Dia mendorong pundak Alana dengan sangat keras. Alana yang tidak siap kehilangan keseimbangan, tubuhnya terjerembab ke belakang hingga punggungnya menghantam sudut tajam meja kantin dengan suara benturan yang keras.
"AAAKHHH!" Alana menjerit kesakitan, ia langsung meringkuk di lantai sambil memegangi punggungnya yang berdenyut hebat.
Melihat Alana menangis sesenggukan dan tidak bisa bangun, ketiga pembuli itu mendadak pucat dan panik. Mereka berniat menyelinap pergi sebelum guru datang, namun langkah mereka terhenti seketika karena sosok Emily sudah berdiri tepat di belakang mereka.
Wajah Emily terlihat sangat horor, matanya yang biasa tenang kini memancarkan kilat amarah yang sangat pekat. Tanpa aba-aba, Emily menerobos paksa kerumunan itu dengan bahunya, hingga salah satu pembuli yang menghalangi jalannya tersungkur jatuh ke belakang.
"Ana! Oh my God, Ana! Are you okay?" Emily langsung berlutut, suaranya gemetar melihat sahabatnya menangis sejadi-jadinya. Emily menyentuh bahu Alana dengan sangat hati-hati, memastikan tidak ada tulang yang patah.
"Mimi... hiks... sakit banget, Mi... Punggung aku..." rintih Alana di sela tangisnya. Emily membantu Alana bersandar pada kakinya,
"Tell me everything, Ana. Apa yang mereka lakuin? Kenapa mereka berani nyentuh kamu?!" tuntut Emily dengan nada yang sangat protektif.
Dengan suara terbata-bata, Alana menceritakan kejadian tadi, tentang tuduhan caper dan bagaimana ia didorong hanya karena menyemangati teman sekelasnya saat lomba. "Aku nggak tahu kalau pacar kakak itu salah satu pemainnya, Mi... Aku cuma kasih semangat..." tangis Alana pecah lagi.
Mendengar itu, Emily berdiri perlahan, ia membalikkan badan dan menatap tajam ketiga kakak kelas yang masih mematung di sana.
"So, you guys are the ones who did this? Physically attacking a junior just because of your own insecurity?" suara Emily terdengar sangat berat dan menekan.
"Listen to me, you pathetic bullies. Kalau sampai Ana luka parah, I will make sure you guys get expelled! Beraninya main fisik cuma karena urusan cowok kurus itu? That is so cheap!" Emily melangkah maju, membuat mereka mundur teratur karena takut melihat tatapan "anak ajaib" yang kini tampak seperti singa betina yang mengamuk.
"So, you guys did this just because of a boy? Are you kidding me?" Emily memulai dengan nada suara yang rendah namun menusuk.
"Kakak ini sebenarnya kelas berapa sih? I mean, look at your face. Dandanan kakak itu menor banget, it doesn't suit you at all. Kelihatan dekil tahu nggak? Kalau emang udah kebelet dewasa dan ngebet banget pengen urusan sama cowok, mending nggak usah sekolah deh. Langsung nikah aja sana kalau emang Kakak sesayang itu! sampai rela belain cowok yang gak naik kelas daripada upgrade diri sendiri!?" sindir Emily bertubi-tubi.
Melihat kakak kelas itu hendak membalas, Emily langsung memotong dengan tatapan yang semakin tajam. "Udah jelek, kelakuan minus lagi. You guys are so pathetic and cheap. Benar-benar nggak tahu malu!"
"Sekarang, pergi kalian! sebelum aku laporin ini ke kepala sekolah dan aku bikin kalian malu satu sekolahan karena kelakuan norak kalian!" teriak Emily. Mendengar ancaman itu, ketiga pembuli tersebut langsung lari terbirit-birit karena nyali mereka sudah menciut.
Mantap sayang😘
Emily segera berjongkok kembali dan merangkul Alana dengan lembut. "Sshh, udah, Ana. Jangan nangis lagi ya. I'm here. Cowok-cowok itu nggak ada yang sebanding sama air mata kamu, apalagi dibandingin sama kakak kelas dekil tadi."
Alana menyeka air matanya, sedikit tertawa mendengar ejekan Emily. "Makasih, Mimi..."
Emily tersenyum tipis sambil membantu
Alana berdiri. "Ayo ke UKS, aku nggak mau punggung kamu kenapa-kenapa. Lean on me, okay?"
Bel pulang sekolah berbunyi, namun Alana tidak langsung lari ke gerbang seperti biasanya. Di depan lobi, Emily menggenggam tangan Alana erat, teringat cerita Alana saat di UKS tadi, sedangkan Emily harus kembali ke kelas.
Suster penjaga sempat memberitahu bahwa Mama Alana ingin menjemput saat jam pelajaran masih berlangsung karena khawatir, tapi Alana menolak keras. "No, Suster! Bilang ke Mama jemput pas pulang aja. Aku nggak mau pulang duluan dan ninggalin Mimi sendirian di kelas," rengek Alana saat itu, lebih memilih menahan nyeri punggung daripada berpisah lebih awal dengan sahabatnya.
Kembali ke masa kini, Emily menatap Alana dengan raut cemas. "Ana, harusnya tadi kamu nggak perlu nolak jemputan awal. You should've gone home earlier supaya bisa langsung diobati dokter. Kalau punggung kamu makin parah terus harus stay di rumah sakit, aku bakal sedih banget dan sendirian di sini," ucap Emily lembut.
Alana langsung mengerucutkan bibirnya, memasang wajah cemberut yang khas. "Ih, Mimi! Stop being so dramatic! Pokoknya kita berdua nggak boleh ninggalin satu sama lain, kita harus bareng terus no matter what!" seru Alana mantap, tepat sebelum sebuah mobil mewah berhenti di depan mereka.
Pintu mobil terbuka dan Mama Alana langsung turun dengan wajah panik, "Sayang!" teriaknya sambil menghambur memeluk Alana. Beliau memeriksa tubuh anaknya secara bruntal memutar bahu Alana hingga Alana meringis pusing. "Aduh, Mama! Stop it, I'm dizzy!" keluh Alana.
Emily yang melihat itu langsung menengahi, "Tante, tadi ada sedikit memar di tengah punggungnya, tapi sudah dikasih obat sama suster UKS kok." Mendengar itu, Mama Alana menghela napas lega lalu tiba-tiba menarik Emily ke dalam pelukan hangat.
"Emily, thank you so much ya sudah jagain Ana walaupun dia ini agak nyusahin dan manja." Alana langsung protes, "Ih! Mama! Aku nggak nyusahin ya!" yang disambut tawa kecil oleh Emily.
"Emily, mau tante antar pulang sekalian nggak? It's on the way," tawar Mama Alana ramah. Emily menggeleng sopan, "Nggak usah, Tante, my Mom is already on her way buat jemput aku."
Mama Alana mengangguk paham, lalu mengelus rambut Emily. "Ya sudah, kalau nanti mau main ke rumah boleh banget ya, tante malah senang. Biar Ana ada teman dan nggak cuma diem di kamar terus." Alana langsung menyahut dengan wajah kesal, "Bohong itu, Mi! Aku diem di kamar satu jam aja langsung disuruh turun buat bantu-bantu. Don't believe her!"
Mama Alana hanya tertawa renyah sambil mencium puncak kepala anaknya, lalu pamit untuk pulang duluan meninggalkan Emily yang masih melambai di pinggir jalan.
Sesampainya di rumah, suasana makan malam keluarga Emily terasa hangat. Meski tradisi Tiongkok kuno biasanya melarang makan sambil berbicara, Mama Emily tidak peduli dengan aturan kaku itu.
"If we don't talk while eating, it feels so lonely, kan kita keluarga," Ucap Mamanya dulu.
Di tengah obrolan santai itu, Mama tiba-tiba memberikan kabar yang mengejutkan. "Xiǎo Tiānshǐ, listen. After you finish your 1st grade semester 2, kita berdua bakal berangkat ke Shanghai. We're going to my hometown."
Emily hampir tersedak, matanya membulat sempurna. "Wait, what? Ke China? Tapi Ma, aku nggak mau ninggalin Ana sendirian! Kasihan dia kalau aku pergi, she needs me!" protes Emily dengan nada tinggi.
Mamanya tersenyum menenangkan, "Tenang aja, we won't be there for long, cuma sebentar kok." Namun, Emily terdiam dan hanya menatap piringnya dengan sanksi.
Ia tahu persis tabiat Mamanya, kata sebentar dalam urusan bisnis biasanya berarti perjalanan panjang yang tidak pasti kapan kembali. Perasaan sesak mulai merayapi hati Emily, membayangkan bagaimana reaksi Alana jika tahu mereka akan terpisah jarak ribuan mil.
H-1 sebelum keberangkatan, Emily akhirnya memberanikan diri memberi tahu Alana di taman sekolah. Alana yang tadinya sedang asyik makan es krim langsung mematung, lalu rentetan pertanyaan keluar seperti peluru.
"Kenapa mendadak? Kenapa harus China? Berapa lama di sana? Kamu bakal balik lagi ke sini kan, Mimi?"
Emily mencoba menarik napas panjang, "Mama ada urusan bisnis di sana, Ana. I really don't know when we will come back."
Alana yang panik langsung memberikan usul nekat, "Kenapa kamu nggak tinggal di rumahku aja? I can cook choco chip cookies for you every day! Kamu nggak perlu ikut ke China!"
Emily menggeleng sedih, "Aku nggak bisa jauh dari Mama, Ana. She only has me dan aku juga cuman punya Mama,"
Mendengar itu, Alana langsung memeluk Emily erat-erat sambil terisak, "Janji ya, tetap ngabarin aku! Jangan sampai nggak ngabarin, aku harus tahu kamu ngapain aja di sana!"
Suasana haru itu mendadak pecah karena Alana mulai menangis kencang hingga bajunya Emily basah kuyup. Masalahnya, mereka sedang di tengah taman yang ramai anak kelas lain.
Emily yang panik melihat o
Anak-anak dari kelas lain mulai menoleh langsung berusaha merayu, "Ana, please stop crying! Mau beli apa? Es krim lagi? Atau makanan bini Thea? Aku beliin apa aja asal kamu berhenti nangis!"
Alana menyahut sesenggukan, "Nggak mau apa-apa... I just want Mimi!" Emily menghela napas pasrah dan memeluk Alana lebih erat, bukan cuma karena sayang, tapi niat utamanya supaya suara tangisan Alana yang membahana itu teredam dan tidak jadi tontonan satu sekolah.
Di hari H keberangkatan, keluarga Alana datang ke rumah Emily untuk kunjungan terakhir dan juga membantu memindahkan barang-barang yang mau mereka bawa.
Di dalam kamar, Alana membantu Emily memasukkan barang-barang ke koper sambil sesekali mengusap air mata.
Tadi Mama Alana sempat bercerita sambil tertawa kecil kepada Mama Emily bahwa tadi di perjalanan Alana menangis sejadi-jadinya karena tidak rela berpisah. Karena malu Alana lari dan memeluk Emily erat, Emily minta izin ke Mama nya dan Mama Alana, mau mengajak Alana ke kamarnya. Setelah di boleh in mereka berdua pergi ke kamar.
Melihat sahabatnya masih sesenggukan di atas karpet setelah beres berkemas, Alana tiba-tiba berdiri dan lari keluar kamar. Emily sempat berteriak memanggilnya, namun ia mengira Alana mungkin butuh waktu bicara berdua dengan Mamanya, jadi Emily hanya berbaring lesu di lantai.
Tak lama kemudian, Alana kembali dengan dua tas belanja besar berisi boneka puma, baju, dan berbagai aksesoris. "Ini biar kamu selalu ingat sama aku di China nanti!" seru Alana.
Ia juga merogoh kantong roknya dan mengeluarkan sebuah gelang buatan tangan. "Sebenarnya ini buat surprise pas kita beda kelas nanti, tapi karena kamu pergi jauh, aku kebut nyelesaiinnya semalam."
Emily sangat tersentuh hingga matanya berkaca-kaca, "Ana, thank you so much. This is beautiful."
Emily lalu teringat sesuatu, ia lari keluar kamar dan kembali membawa sebuah buku scrapbook. "Ini kenangan aku selama di Rusia dan cerita kita dari awal ketemu. Now, you have to continue this journey in this book. Tapi ingat, jangan dibaca sekarang! Bacanya pas aku udah di pesawat, oke?"
Tiga jam kemudian, pesawat yang membawa Emily lepas landas. Alana dan Mamanya berdiri di bandara, menatap langit dengan perasaan campur aduk.
Mama Alana berjongkok dan menghapus air mata putrinya, "Princess boleh nangis, tapi jangan lama-lama. Nanti matanya bengkak nggak bisa balik normal, lho. Kamu mau diketawain Emily?"
Alana justru makin terisak, "Nggak apa-apa diketawain Mimi, asal Miminya ada di sini sama aku!" Mama Alana tersenyum getir, merasa salah bicara, lalu memeluk Alana erat. "Emily titip sesuatu kan? Kalau dititipin, berarti barang itu berharga banget buat dia. It means she trusts you."
Mama Alana kemudian bertanya apa lagi pesan Emily, dan Alana menjawab bahwa ia harus menuliskan semua perjalanan dan harapannya di scrapbook itu. "Nah, itu artinya kamu nggak boleh nangis terus. Masa isi scrapbook-nya cuma bekas air mata kamu? Kalau Emily marah gimana?"
Alana merengek, "Mimi nggak akan marah sama aku!" Mama Alana terkekeh, "Masa? Mama ingat lho dulu Emily pernah marah tiga hari karena kamu nangis terus pas nggak sengaja mecahin foto keluarganya." Mengingat kejadian itu, Alana langsung terdiam dan menghentikan tangisnya.
Sambil sesenggukan, ia mendongak dengan semangat baru, "Oke, aku nggak akan nangis lagi! Aku bakal tulis perjalanan hebatku biar Mimi terkesan pas baca nanti!" Mama Alana tersenyum lega dan mencium pucuk kepala putrinya yang menggemaskan itu.
Kalian suka kah cerita yang kayak gini? Apakah ada yang terasa tidak nyaman saat membacanya? Kalau ada kritikan silahkan yaaa, aku menerima semua kritikan. Makasih juga yang sudah membaca dan vote cerita ini :3
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co