• ━━━ # 𝐸𝓂𝒾𝓁𝓎 〰︎ || 𝖢𝗈𝗋𝗍𝗂𝗌's 𝟨𝗍𝗁 𝖬𝖾mber
The Unexpected Trainee.
Kepindahan Emily ke Shanghai membawanya ke lembaran baru di Shanghai American School. Dengan postur tubuh yang tinggi, Emily sering kali dikira siswi SMP, padahal ia masih di sekolah dasar.
"Mama, I feel like a giant here," keluhnya suatu kali. Emily tetap menjadi sosok yang sangat disiplin ia membatasi penggunaan ponsel agar tidak kecanduan media sosial. Hari-harinya diisi dengan jadwal yang luar biasa padat Ballet, Taekwondo, modeling, les musik, vokal, hingga dance.
Memasuki kelas 4, ia bahkan menambah kesibukannya dengan bergabung di klub teater dan bulu tangkis. Kesibukan yang menggila ini membuat Emily jarang bisa membalas pesan Alana dengan cepat.
"Sorry, Ana! I just finished my theater practice," atau "Ana, I'll call you in 5 hours, okay? Aku ada latihan bulu tangkis," menjadi pesan-pesan singkat yang sering diterima Alana.
Alana sendiri, di seberang sana, merasa termotivasi sekaligus sedikit minder. Melihat Emily yang seolah bisa menaklukkan dunia, Alana mulai memacu dirinya sendiri agar merasa setara. Ia tak ingin tertinggal jauh, meski ia memilih untuk memendam perasaan minder itu rapat-rapat agar tidak membebani Emily.
Suatu malam, saat Emily akhirnya free, ia memulai video call dengan wajah yang tampak lelah namun senang. Alana yang baru saja selesai mengerjakan tugas pun langsung mengangkat nya.
"Mimi! You finally called! Aku baru aja mau tidur," seru Alana. Emily tertawa kecil di layar, sambil menyandarkan kepalanya ke meja belajar.
"I know, I know. I'm super busy today. Tapi aku kangen mau cerita. Look at this photos, tadi aku habis grading piano dan aku capek banget karena harus nunduk terus pas foto bareng tim ballet. I hate being this tall, Ana!"
Alana terkekeh melihat wajah cemberut Emily di layar ponselnya. "Mimi, being tall is a blessing! Kamu kelihatan kayak model profesional tahu!" Emily menghela napas panjang.
"Tapi capek, Ana. I really hope suatu saat ada orang yang tingginya melebihi aku biar aku nggak perlu nunduk terus. It hurts my neck." Alana hanya bisa memberikan semangat.
"Sabar ya, Mimi. Eh, kemarin aku juga ikut lomba cooking loh!"
"REALLY?!"
Rutinitas mereka menjadi sangat sederhana. Mereka sering berbagi layar untuk menonton film horor bersama, yang biasanya berakhir dengan Alana berteriak dan Emily yang menertawakannya. Tak jarang mereka mengerjakan tugas sekolah bersama lewat video call sampai salah satu dari mereka tertidur di depan kamera.
Sebelum tidur, mereka selalu saling mengirim foto kegiatan hari itu. "Ini aku pas latihan vokal tadi," tulis Emily di bawah foto dirinya yang sedang memegang mikrofon dengan ekspresi serius.
Waktu berlalu dengan cepat hingga mereka akhirnya lulus SD. Dalam lima tahun di China, Emily menjadi sosok yang semakin bersinar. Ia memenangkan lebih dari 20 penghargaan mulai dari juara balet tingkat kota, Top Model cilik di Fashion Week lokal, hingga lulus ujian tingkat musik dengan predikat terbaik.
Di bidang bela diri, ia menyabet medali emas Taekwondo, sementara otak jeniusnya tetap membawanya menjuarai berbagai Olimpiade Matematika dan kompetisi robotika. "Mimi, you're literally a superstar now," puji Alana lewat pesan singkat saat melihat berita kemenangan Emily.
Meskipun prestasi Emily menumpuk hingga setinggi gunung, baginya yang paling spesial tetaplah momen sederhana di layar ponsel saat ia bisa menatap wajah Alana. "Prestasi ini nggak ada artinya kalau aku nggak bisa cerita ke kamu, Ana," ucap Emily tulus dalam salah satu sesi deep talk malam mereka.
Alana tersenyum, menyadari bahwa meski jarak Shanghai dan tempatnya tinggal sangat jauh, dan meski Emily kini menjadi kebanggaan banyak orang, Emily tetaplah Mimi-nya yang suka mengeluh soal tinggi badan dan merindukan kebersamaan mereka.
Memasuki tahun 2020, tepatnya saat duduk di bangku kelas 6 semester satu di Shanghai American School, Emily mengambil keputusan besar yang akan mengubah arah hidupnya.
Diam-diam, ia mendaftarkan diri dalam audisi global secara online untuk menjadi trainee di Big Hit Entertainment. Awalnya, ia sempat melirik SM Entertainment yang terkenal sebagai rumah bagi para idol visual legendaris, namun jiwa kompetitifnya justru menolak untuk masuk ke SM Entertainment.
Emily memilih Big Hit karena merasa tertantang oleh sejarah agensi tersebut yang terkenal sangat selektif dan memiliki rumor trauma dalam mendebutkan girl group setelah kegagalan masa lalu. Dengan pemikiran realistis, Emily mengirimkan video bakatnya sambil membatin, "I bet they will reject me. Iseng aja, lagian nggak mungkin juga agensi seketat itu bakal nerima trainee cewek di masa-masa sekarang."
Namun, takdir selalu punya cara sendiri untuk mengejutkan seorang Emily Kirana. Pertengahan tahun 2020, tepat setelah ia menyelesaikan kelulusan SD-nya di Shanghai, Mama masuk ke kamarnya dengan wajah yang sulit diartikan sambil memegang sebuah iPad.
"Xiǎo Tiānshǐ, look at this email. It's from South Korea... Big Hit Entertainment," ujar Mamanya dengan nada tidak percaya.
Emily yang sedang membaca buku langsung menegakkan tubuhnya, matanya membulat sempurna saat membaca baris demi baris surat resmi tersebut. video audisinya yang menampilkan kemampuan vokal berpadu dengan tarian balet dan taekwondo (aku gak tahu apakah bisa di gabung gerakan ballet dan taekwondo.. tapi yaa, kita pakai aja lah ya) yang presisi justru membuat para produser di Seoul terpukau.
Surat itu menyatakan bahwa Emily lolos tahap awal dan secara resmi diundang ke Korea Selatan untuk mengikuti seleksi lanjutan secara langsung di gedung agensi sebelum benar-benar menandatangani kontrak sebagai trainee.
Sayangnya, tahun 2020 bukanlah tahun yang biasa karena dunia sedang dihantam oleh pandemi global COVID-19 yang sangat parah. Batasan wilayah ditutup, karantina ketat diberlakukan di mana-mana, dan penerbangan internasional menjadi hal yang sangat langka sekaligus berisiko tinggi.
"Ma, is this real? Tapi sekarang kan lagi pandemi... everything is locked down," bisik Emily, ia merasa bimbang di antara peluang emas yang mustahil dan realita dunia yang sedang kacau. Mamanya menghela napas panjang, menatap putrinya yang kini sudah tumbuh tinggi dengan bakat yang meluap-luap.
"Ini kesempatan sekali seumur hidup, Mimi. Kalau kamu benar-benar siap menghadapi karantina belasan hari dan protokol kesehatan yang ketat di bandara nanti, Mama will arrange everything for you. We will go to South Korea together."
Emily menghela nafas, "Okay Mama."
Malam harinya, Emily langsung menekan tombol video call ke nomor Alana. Begitu layar terhubung, wajah Alana langsung muncul dengan tepung yang masih menempel pada wajahnya.
"Mimi! Oh my God, akhirnya kamu telepon! Tahu nggak, aku baru aja mau nge-chat kamu buat pamer kalau aku habis buat cookies baru, tapi- eh, tunggu. Why do you look so pale? Kamu sakit ya, Mi?" tanya Alana berondong-bondong, langsung menyadari ekspresi Emily yang tidak biasa.
Emily menarik napas dalam-dalam, menatap layar laptopnya dengan intens. "Ana, sit down please. I'm serious right now. Jangan teriak ya, janji?" ucap Emily dengan nada super serius dan sok misterius yang membuat Alana ingin tertawa., tapi tidak di pungkiri Alana langsung duduk di meja makan.
"Ih, stop makai nada kayak gitu deh! What happened? Ada masalah di Shanghai? Tell me now, Mimi!" balas Alana.
"Aku... lolos audisi Big Hit Entertainment, Ana. Global audition yang iseng aku ikutin semester lalu di kelas 6, hehe.." bisik Emily akhirnya. Layar sempat hening selama tiga detik sebelum Alana langsung berteriak histeris.
"WHAT?! ARE YOU KIDDING ME?! BIG HIT? Agensinya BTS?! Oh my God, Mimi! Is this real?! Kamu bakal jadi adeknya BTS?! Dan- HEI! APA MAKSUD MU DENGAN HEHE?! KAMU HAK CERITA SAMA AKU?!"
Emily langsung menutup telinganya karena suara cempreng Alana memenuhi kamarnya. "Sshhh! Ana, lower your voice! Kan aku udah bilang jangan teriak! Iya, ini beneran. Aku dapat surat resmi dari BIg Hit sore tadi dan mereka undang aku ke Seoul buat seleksi final. Hehe... Maaf ya, aku kira aku gak akan masuk loh? Jadinya aku gak cerita deh ke Ana,"
Alana langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya berkaca-kaca karena kombinasi antara rasa bangga dan syok yang luar biasa. "Mimi, I knew it! Otak jenius, visual oke, kamu juga serba bisa, bahkan kayaknya benerin sesuatu yang rusam juga bisa!"
"Eum... Ana... Itu berlebihan gak sih?"
"Diam, sekarang kan lagi pandemi parah banget, Mi? Everything is locked down. Terus gimana kamu ke Koreanya?" tanya Alana, raut wajahnya berubah cemas dalam sekejap.
Emily tersenyum tipis, merasakan kehangatan yang sama dari perhatian sahabatnya sejak dulu. "Itu dia, Ana. Big Hit bakal sponsorin visa khusus buat aku dan Mama. Begitu sampai di Incheon, kami harus langsung karantina ketat 14 hari di fasilitas mereka sebelum bisa ikut audisi final. It's going to be very hard, tapi Mama udah izinin aku buat berangkat."
Alana menghela napas panjang, menatap Emily dengan binar mata penuh dukungan yang tulus. "Wow... agensinya niat banget sampai sponsorin visa di tengah pandemi. It means you are highly valued there, Mimi! Walaupun aku bakal kangen banget dan sedih karena kita makin jauh, tapi you must go! Clean the stage up and show them who Emily Kirana is! I'm so, so proud of you, my superstar!"
"AKU AKAN JADI PENGGEMAR NOMER SATU KAMU!!"
Mengingat situasi pandemi COVID-19 yang sedang berada di puncaknya pada pertengahan tahun 2020, perjalanan internasional langsung ke Seoul tentu saja mustahil dilakukan. Di dalam surat resmi lanjutan tersebut, BigHit menjelaskan bahwa karena situasi pandemi yang sedang parah, audisi tatap muka di Seoul ditiadakan demi keselamatan bersama.
Sebagai gantinya, Emily diminta mengikuti seleksi tahap kedua secara langsung via aplikasi video conference privat minggu depan. Mereka memberikan lembar instruksi lengkap beserta jadwal waktu standar Korea (KST) melalui E-mail agar Emily bisa bersiap.
Emily menghela napas panjang, merasa lega sekaligus membuat dirinya tegang, ia memang tidak perlu terbang ke Korea dalam waktu dekat, tapi harus bernyanyi dan menari langsung di depan para juri lewat layar laptop terasa sepuluh kali lebih mengintimidasi daripada tampil di atas panggung sungguhan.
Bayangin waktu Emily dance dan nyanyi, secara tiba-tiba sinyal nya error, dan berakhir Emily di diskualifikasi, oh noo...
Dua minggu setelah audisi virtual yang menegangkan itu berlalu, syukurnya semuanya lancar. Tidak ada kendala apapun saat audisi virtual di laksanakan, dan sebuah kejutan besar kembali datang ke kotak masuk surelnya.
Penampilan impresif Emily di depan kamera Zoom membuat pihak manajemen BigHit yakin bahwa anak perempuan berusia dua belas tahun ini adalah aset berharga yang tidak boleh dilepaskan begitu saja. Agensi memutuskan untuk menerbitkan kontrak trainee awal untuknya.
Mengingat ketatnya penutupan jalur penerbangan global, BigHit mengambil langkah ekstrem dengan mensponsori visa khusus bagi Emily dan ibunya agar bisa masuk ke Korea Selatan di tengah pembatasan pandemi yang sangat ketat.
Namun, kebijakan agensi dan regulasi pemerintah setempat sangat tegas. Emily diperbolehkan berangkat ke Seoul, namun setibanya di Bandara Incheon, ia tidak langsung dibawa ke gedung agensi. Sesuai dengan hukum protokol kesehatan pemerintah Korea Selatan tahun 2020, Emily dan Mamanya langsung dijemput oleh staf agensi yang mengenakan APD lengkap, lalu dikawal menuju fasilitas karantina khusus yang telah disediakan oleh BigHit selama 14 hari penuh.
Di dalam kamar hotel karantina yang sunyi itulah Emily harus menghabiskan dua minggunya untuk berlatih mandiri, melakukan panggilan video dengan pelatih vokal, dan setiap hari dipantau oleh aplikasi pelacak suhu tubuh resmi dari pemerintah Korea, sambil memantapkan mentalnya menunggu hari audisi finalnya tiba.
Setelah 14 hari terkurung di kamar karantina yang membosankan, Emily akhirnya dinyatakan negatif COVID-19 dan diizinkan menginjakkan kaki di gedung BigHit Entertainment untuk audisi finalnya.
Sambil memegang map dokumen di dadanya, Emily berjalan cepat menyusuri koridor agensi yang bernuansa modern minimalis. Karena terlalu fokus membaca nomor ruangan di kertasnya, ia tidak menyadari ada seseorang yang berjalan berlawanan arah.
BRUK!
"Ah, sorry! Aku nggak sengaja, benar-benar ceroboh," ucap Emily refleks dalam bahasa Inggris sambil mundur selangkah. Namun, begitu ia mendongak untuk melihat orang yang ditabraknya, Emily langsung mematung. Di depannya berdiri seorang anak laki-laki yang tingginya hampir setara dengan dirinya.
Emily harus mengerjapkan mata beberapa kali, merasa tidak percaya akhirnya menemukan anak seumurannya yang membuat ia tidak perlu menunduk. Anak laki-laki itu sama kagetnya.
Dia menatap Emily dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan ekspresi gugup sekaligus bingung. 'Kok ada perempuan yang tingginya segini di koridor BigHit?' batinnya heran. Karena rasa keponya sudah di ubun-ubun, dia langsung berdeham dan memberanikan diri menyapa duluan.
"Ah, it's okay," jawabnya dengan aksen bahasa Inggris yang cukup fasih. "By the way, namaku Martin Edwards. Aku berdarah Korea-Kanada, dan umurku 12 tahun. I just graduated from elementary school recently."
Emily membulat sejenak, lalu senyum humble-nya langsung mengembang. Ia mengulurkan tangannya dengan ramah. "Seriously? Annyeong, Martin. Aku Emily Kirana Fēiyán. Aku berdarah Rusia-China dan baru banget sampai di Korea setelah karantina. Dan tebak apa? Umur kita sama! I'm 12 too, and just graduated from school in Shanghai."
Mendengar hal itu, mata Martin langsung berbinar. Rasa gugupnya menguap begitu saja. "Wow, daebak! Kita seumuran? Tapi kamu tinggi banget untuk ukuran anak cewek, I thought you were a middle schooler!" puji Martin jujur.
Sebagai anak yang suka musik, Martin langsung bersemangat. "Kamu ke sini mau audisi juga ya? Aku suka banget nge-rap dan bikin instrumen musik, what about you Kamu di BigHit mau ngapain?"
Emily terkekeh melihat antusiasme Martin yang begitu cepat akrab. "Aku bisa main semua alat musik. Kapan-kapan kita akan bermain musik bersama, tapi di sini aku terdaftar untuk jalur dance dan vokal. Actually, aku harus buru-buru sekarang, Martin. Aku dicari para juri untuk seleksi final di ruangan nomor 15, and I'm almost late!"
Menyadari waktu yang mendesak, Emily memberikan senyum meminta maaf yang tulus. "I'm really sorry, Martin, kita nggak bisa ngobrol lebih lama lagi sekarang. Next time kalau kita ketemu lagi, kita harus ngobrol banyak soal musik, oke?" Emily melangkah maju, menepuk pundak Martin dengan akrab, lalu memberikan salam perpisahan khas Korea yang sering ia lihat di drama korea.
"Hwating (semangat) buat kita!"
Emily kemudian berlari kecil meninggalkan Martin yang masih berdiri di koridor, menatap punggung gadis tinggi itu dengan senyuman kagum.
"Yah, aku harap kita bisa bertemu lagi, Emily."
Heum... Niatku mau sekalian double up hari ini untuk yang Documentary "What We Want" EP 1... Tapi aku nya belum selesai nulis, hehehe, jadi kemungkinan itu di up empat hari lagi, atau enggak yaa.. satu minggu lagi :3
Jangan lupa Vote dan coment yaaa!!
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co