Truyen3h.Co

Spring Blooming #1

15. Welcome back, Ellen

authoriya

I won't cry for you, my masscara is too expensive - Ellen

---

"My Bae, i miiiissss youuu!" Soojung berseru dengan riang saat melihat Ellen dengan jaket suede menggantung di bahu.

Kedua tangan Soojung merentang dengan senang saat Ellen sudah berjalan mendekat kearah mereka dengan langkah elegan. Kedua tangan Ellen ikut terentang, langkah kakinya kian mendekat dan ketika yang dituju sudah sampai jangkauannya. Ellen memeluknya dengan erat.

"Aku merindukanmu, sayang!" Ellen melingkarkan kedua tangannya di leher Minho dengan erat. Menyalurkan kerinduannya kepada sang kekasih, lalu menciumnya.

"Sialan. Kau lebih memilih memeluk Choi Minho duluan daripada memelukku atau Suzy?" Soojung berdecak kesal. Kedua tangannya yang sempat terentang itu langsung di turunkannya dengan cepat.

Ellen sedikit menjauh dari sang kekasih, menoleh dengan alis terangkat kearah Soojung, "He is my love, Jung."

"And i'm your bestfriend, right?"

Ellen mengangguk, "You know the answer, Bitch."

"Bahasamu, sayang." Minho menyela.

Ellen kembali menatap sang kekasih dengan raut wajah senang, lalu kembali menciumnya. "Sorry," ucapnya.

Suzy mengedipkan mata dua kali ketika melihat siaran langsung didepannya. Gadis itu tidak habis fikir mengapa Ellen dengan sembarang mencium Minho di airport seperti sekarang. Tatapannya masih tertuju pada Ellen, saat kembarannya itu menolehkan kepalanya sehingga pandangan mereka beradu. Ellen berjalan mendekat kearah Suzy dengan kerutan di dahinya, lalu memeluk sang adik dengan erat, "Kau tidak pa-pa?"

Alih-alih memarahinya dengan kata-kata kasar, Ellen malah menanyakan pertanyaan yang tidak masuk akal. Suzy mengangguk dalam pelukan itu, "I'm fine, Leen."

Ellen tersenyum. Gadis itu mundur dua langkah untuk memberikan jarak antara dia dan sang adik, kedua mata Ellen masih menatap sang adik dengan pandangan yang sama sekali bukan dirinya. Membuat Soojung tidak bisa menahan dirinya untuk berkomentar, "Berhenti memberikan tatapan seperti itu, Bae. Seperti bukan kau saja."

Ellen tersenyum mendengarnya, "Aku tetap best-bitch mu, Jung. Kau takut sekali aku berubah menjadi kalem dan lebih manusiawi."

Soojung mengedikkan bahunya, "Tentu saja! Aku tidak siap bergabung dengan kelompok pirang." Gadis itu terkekeh.

Mendengar nama kelompok pirang disebut-sebut membuat Ellen tersenyum miring, "Mereka masih mengikuti gaya kita?"

"Tentu saja."

Ellen mendengus, "Mau sampai kapanpun, Myungsoo dan Kai dan Max tidak akan menoleh kepada mereka. Yah, walaupun salah dua diantara mereka sudah memiliki bibir yang tidak perawan karena kelicikan anggota kelompok pirang itu." Ellen menolehkan kepalanya kembali menatap Suzy dan menyadari ekspresi sang adik yang berubah, "Aku akan menjamin Kim Myungsoo tidak akan menyentuhmu lagi, Suzy. Tenanglah." Ujarnya.

***

Myungsoo berjalan bolak-balik dengan gusar. Fokus kedua matanya terus tertuju pada gedung parkir, menunggu mobil yang di maksudnya sampai datang. Dia mendesah, sudah berapa kali sejak tadi Myungsoo menghela napas nya. Namun, mobil yang dimaksudnya belum juga menampakan body nya.

"Oy, Kim Myungsoo! Berhentilah mondar-mandir. Kepalaku pusing mengikutimu." Kai mendesah dengan tangan kanannya yang mengurut kening.

Myungsoo kembali menghela napas, kakinya yang sejak tadi terus bergerak itu berhenti. Tubuhnya menghadap kearah Kai sambil bertanya, "Kai, kenapa kau tidak hubungi Soojung, uh?"

"Buat apa?"

"Tanyakan mereka dimana, biasanya jam segini mobil Suzy sudah terparkir disana." Myungsoo menunjuk kesatu tempat kosong yang biasanya digunakan Suzy untuk memarkir mobilnya.

Kai geleng-geleng, "Daebak! Sampai tempat parkir-nya saja kau hafal. Wow!"

Myungsoo berdecak, "Sudahlah, hubungi saja Soojung."

Kedua bahu Kai langsung melengos, "Kau tahu mantanku itu tidak mengangkat panggilanku sejak kami putus, brother." Kai memandangi sepatunya sesaat, kemudian mendongak, "Kenapa tidak kau saja yang menelpon Suzy, eh?"

"Dia tidak mengangkat panggilanku." Ucap Myungsoo dengan membawa tangannya mengacak-acak rambut.

Myungsoo kembali memusatkan pandangannya pada gedung parkir di sebelah timur dari tempatnya berdiri dengan fokus. Beberapa mobil dan motor hilir berganti masuk kedalam parkiran itu selama lima menit terlewatkan. Myungsoo mendesah pikirannya langsung mengarah pada kemungkinan tak terduga, bisa saja mereka tidak berangkat kuliah karena pemateri yang tidak hadir. Pada saat ia hendak mengajak Kai pergi dari tempat mereka mengamati gedung itu, sebuah mobil yang sangat di hapalnya tiba-tiba memasuki area gedung dan berhenti pada tempat biasa mobil itu terparkir.

"Assa." Myungsoo berseru. Melesat dari tempatnya berdiri mendekat kearah mobil putih itu dengan mengajak Kai sebelumnya.

Kedua laki-laki itu berjalan dengan terburu-buru kearah mobil yang masih terparkir tanpa ada tanda-tanda si pengemudi akan keluar. Myungsoo berdiri tepat di sisi pintu kemudi, kemudian membawa tangannya terulur dan membuka pintu kemudi itu dengan cepat.

Pandangan mereka bertemu. Menampilkan keterkejutan dari kedua pasang manik mata yang saling memandang itu. Bahkan, Myungsoo sampai mundur satu langkah ketika menyadari seseorang yang ditunggu nya itu bukanlah si pengemudi mobil. Mata tajamnya kemudian bergerak melirik kebagian kursi penumpang dibelakang, berharap orang yang dicarinya berada disana, namun kosong. Dalam sepersekian detik yang terlewatkan, kedua pandangan mata mereka kembali beradu, Myungsoo menghela napas dengan pandangan bingung nya,

"Dimana Suzy?"

***

Ellen sedang membenarkan tatanan rambutnya ketika menyadari seseorang yang amat di bencinya bersama teman lelaki itu berlari kearah mobilnya.

"Jung, sedang apa mereka berlari kearah mobilku?" Ucap Ellen tanpa menoleh.

Soojung, mengalihkan pandangan matanya dari ponsel dan ikut menatap dua laki-laki yang sedang berlari kearah sini dengan cepat itu. Keningnya mengernyit, Soojung berdecak, "Merusak moodku pagi-pagi saja karena harus melihat wajah Kai!"

Ellen tersenyum miring, "Sepertinya si bodoh itu mau mencari adikku." Katanya dengan nada meremehkan, kemudian jemari lentiknya menekan tombol unlock disisi pintu agar laki-laki yang tengah menatap kearah dalam itu bisa membuka pintunya.

Benar saja, tiga detik berselang Myungsoo langsung membuka pintu kemudi mobil Ellen. Dan membuat pandangan mereka bertemu. Ellen menatap dengan pandangan sinis yang dibaluti keterkejutan di kedua matanya. Mengimbangi apa yang dilakukan Myungsoo padanya. Keduanya saling tatap hingga suara Myungsoo menginterupsi,

"Dimana Suzy?"

Ellen tersenyum miring. "Let's go, Jung." Ellen mengajak Soojung untuk turun dari dalam mobilnya. Diambilnya tas jinjing dari jok belakang. Kemudian, dengan gerakan elegan, Ellen turun dari mobil, menutup pintunya. Midi skirt  dengan blouse sabrina berwarna putih melekat pas di tubuhnya, menampilkan kaki jenjang yang dibalut dengan sepatu heels berwarna merah marun. Ellen melirik lelaki yang masih berdiri mengamatinya dengan senyuman artifisial, lalu berjalan bersisian dengan sahabatnya kearah luar gedung.

Myungsoo tersadar, dengan cepat menyusul dua gadis cantik itu kedepan, "Dimana Suzy?" Tanyanya lagi.

Ellen masih tidak menjawab. Gadis itu kemudian mengambil ponsel dari dalam tas jinjingnya dan menelpon seseorang. "Oh, sayang. Aku dan Jung sudah di Universitas. Kau dimana? Oke, baiklah." Lalu kembali meletakkan ponselnya kedalam tas.

Myungsoo menghela napas pelan, dia tetap mencoba bertanya baik-baik karena informasi dari mulut gadis cantik dan seksi di sebelahnya ini begitu penting untuknya. Ditekannya emosi yang hampir meluap itu, lalu kembali bertanya, "Ellen, Dimana Suzy?"

Ellen berhenti melangkah. Sontak, ketiganya pu ikut menghentikan langkahnya. Jemarinya membawa sejumput rambutnya kebelakang, lalu menoleh kearah Myungsoo, "New York."

"Apa?!"

Ellen menatap Myungsoo dengan pandangan kesalnya, kemudian kembali berujar, "Kau menjadi tuli ya?"

"Kau bohong kan?"

"Terserah kau saja." Ellen memutar bola matanya jengah. Kemudian mengapit lengan Soojung untuk melangkah pergi dari sana. Sebelumnya Ellen kembali menoleh, ditatapnya Myungsoo dengan pandangan marah, "Jangan sembarangan mencium Suzy di Universitas. Kau merusak nama baikku dan kekasihku, Myungsoo. Aku tidak akan membiarkan kejadian kemarin terulang lagi!" Tukasnya. Kemudian melanjutkan langkahnya.

Soojung, mengikuti. Sebelumnya, dia sempat melirik Kai melalui ekor matanya dengan tatapan tajam yang tidak di tutup-tutupi nya.

***

"Wow, Ellen kembali?" Max berbisik kepada Myungsoo. Kedua matanya fokus memandang kepada dua gadis yang sedang berdiri membelakangi mereka.

Dèja vu.

Saat pertama kali ke kantin ketika menjadi Ellen, Suzy juga mengenakan rok yang sama dengan yang dipakai Ellen sekarang. Pun dengan sepatu yang dikenakannya. Dan posisinya. Hanya saja, rambut mereka dan makeup yang dikenakan oleh keduanya yang membuat berbeda. Myungsoo mendesah, menatap punggung itu dengan kedua tangan berada dikepala. Kemudian mengangguk, menanggapi pertanyaan Max tadi.

"Baru rasanya kemarin aku menemukan sebuah fakta, sekarang yang asli sudah ada didepanku lagi." Max berdecak kagum. Kedua matanya kembali memerhatikan dua gadis itu, "Aura mereka memang berbeda, ya." Lanjutnya. Menyadari kalau diperhatikan lebih jelas, kedua saudara kembar itu memang memiliki aura yang berbeda. Meskipun sama-sama cantik, namun jelas Suzy lebih terasa damai.

Selanjutnya, mereka mendengar suara Ellen yang memanggil seseorang yang juga sedang berjalan dengan membawa menu pesanannya.

"Hei, lelaki berkacamata!" Ellen berkata pada satu laki-laki dengan pakaian kemeja kebesaran yang dimasukkan kedalam celana dasar berwarna hitam. Laki-laki itu menoleh, menatap Ellen dengan pandangan mata berbinar. Lalu berjalan mendekat.

"A-ada apa?" Tanya laki-laki itu gugup.

Soojung mendengus, "Princess Ellen dan Aku lapar." Ucapnya. Memberi sebuah kode yang langsung dipahami dengan laki-laki berkacamata itu.

Dia mengangguk, "Kalian mau apa untuk makan siang? Akan aku pesankan."

Ellen dan Soojung saling pandang dengan ekspresi senang. "Aku ingin..." Belum sempat Ellen melanjutkan kata-katanya, Soojung lebih dulu menyambar. "Dua Jjangmyeon!"

"Hei, aku tidak makan mie!" Ucap Ellen dengan kedua mata menyipit.

"Bae, Kau bilang tadi terserah aku?" Soojung berdecak. "Kau tidak asyik!"

"Jung, aku bisa kena masalah jika timbanganku naik. Mengerti?" Ellen memutar bola matanya. Kemudian menoleh kearah laki-laki berkacamata yang sedang menatapnya, "Satu jjangmyeon untuk sahabatku. Dan aku--"

"Salad dengan sedikit mayonnaisse."

Ellen menoleh dan otomatis tersenyum saat melihat Minho dibelakangnya. Tangannya langsung bergerak memeluk laki-laki itu dengan erat. "My love!"

"Jadi mereka belum putus?"

"Kenapa Choi Minho membiarkan Myungsoo mencium Ellen?"

"Minho benar-benar pria idaman!"

"Dasar wanita licik!"

"Hihihi."

Ellen langsung menatap ke sumber suara yang mengatainya licik itu. Tungkainya lalu berjalan mendekat ke kelompok pirang yang sedang duduk melingkar pada satu meja. Soojung mengikuti.

"Tamat sudah." Minho bergumam. Lalu, menoleh kearah laki-laki berkacamata yang tadi dan menyuruhnya untuk pergi, "Sudah, nanti aku saja yang pesankan makanan kekasihku dan Soojung. Kau kembalilah ketempatmu." Ucapnya. Kemudian menyusul Ellen dan Soojung yang sudah berdiri didepan kelompok gadis-gadis berambut pirang.

Ellen menatap dengan pandangan penuh kebencian kearah satu orang yang merupakan ketua kelompok pirang itu, tangannya lantas menarik rambut si gadis pirang itu dengan keras, "Siapa yang kau maksud licik itu, hah?!"

Semua orang yang berada disana langsung terkesiap. Pemandangan yang sudah lama tidak dilihatnya kini kembali terjadi. Membuat mereka fokus mengamati apa yang terjadi, beberapa hendak merekam kejadian itu namun tidak jadi karena Minho menatap tajam setiap mahasiswa yang mencoba merekam Ellen-nya.

Jiyeon tersenyum congkak, "Kau, siapa lagi?"

Jawaban Jiyeon tak pelak membuat Ellen kembali menarik rambut si gadis pirang itu. Jiyeon mengaduh, "Hei, sakit! Jauhkan tangan kotormu dari rambutku!" Ucapnya sambil mencoba melepaskan jemari Ellen yang mencengkram rambutnya.

Teman-teman pirang-nya itu lantas mencoba menyentuh Ellen, namun dengan cepat Soojung menghentikan itu. "Kalian tidak pantas menyentuh Bae Ellen, bitch. Memenangkan perlombaan modeling di Universitas aja tidak bisa." Soojung tertawa sinis. Lalu, kembali berucap yang ditunjukkan kepada Ellen, "Stop it, Bae. Just remember that a queen don't compete with hoes."

Kedua mata Ellen menatap tajam satu per satu gadis di depannya itu sebelum menyingkirkan tangannya dari rambut Jiyeon. Ellen membersihkan tangannya menggunakan cairan antiseptic yang diambilnya dari dalam tas jinjingnya barusan.

"Jangan berani-berani mengejekku kalau kau belum bisa melampaui aku." Ucapnya, kemudian melenggang pergi menjauhi kelompok pirang yang kini menatap kedua sahabat itu dengan raut kesal mereka.

Kai berdecak disebelah Myungsoo, "Mantanku hidup dengan baik bersama sahabatnya."

Max menyetujui, "Aku kadang merindukan tontonan gratis seperti ini. Ellen and Soojung are the real bitch." Mendengar itu, Kai langsung menoleh dengan ekspresi tajam kearah Max. Membuat Max langsung meralat ucapannya sambil menyeringai, "Maksudku adalah Beautiful, Intellegent, Charming and Hot."

Kai mendengus. Kemudian menatap Myungsoo yang tiba-tiba bangkit dari kursinya, "Kemana?"

"Mencari udara." Jawab Myungsoo dengan asal. Lalu melangkah pergi meninggalkan kantin.

***

Helloooowww. Apakabar? Haha semoga suka yaa. Aku lg sibuk ntn wise prise life (klo ga salah tulis) jd agak mager ngetik cerita. Happy reading babieeesss

So proud with my brain. Ngetik cerita ini cuma 3 jem-an ! Whooo 😂 bacanya cuma 5menit:( haha
Ttp aja yaa pliss ksh komentar dan vote kalian utk mendukung aku *elah gaya lo gembel, dikira lomba miss universe kali ah* mwiiw dah ah. Byeee

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co