14. A regret
She saved everyone, but couldn't save herself. - Roses and Sunshines.
***
"Hei, berhentilah menangis..." Soojung menepuk punggung Suzy yang sedang menangis memeluknya. Gadis itu sedang berusaha menenangkan adik kembar dari sahabatnya itu yang menangis sejak lima menit yang lalu. Isak tangis itu tidak mau berhenti meskipun air mata sudah tidak mengalir lagi. "Berhenti menangis..." Ulang Soojung kembali.
Choi Minho, menatap punggung yang masih bergetar itu dengan tangan terkepal. Sosok Suzy yang lebih 'manusiawi' tentu saja mau tak mau membuat semua yang dekat dengan Ellen merasa asing dan juga entah mengapa suara tangis itu terdengar begitu memilukan ditelinga Minho dan Soojung.
"Apa aku harus memberi Myungsoo pelajaran?" Pertanyaan Minho barusan langsung membuat dua gadis didepannya menjawab bersamaan.
"Tentu saja!"
"Jangan!"
Suzy mengurai pelukannya, kedua mata seperti bulan sabit itu nampak menyedihkan karena sembap. Suzy menjalankan tangannya untuk mengusap sisa air mata yang membasahi kedua pipinya pelan. Dengan suara serak nya, gadis itu kembali berbicara, "Jangan lakukan apapun padanya."
"Tapi dia telah menciummu sembarangan!" Soojung menyentak dengan suara sedikit lebih tinggi dari sebelumnya. Kedua matanya menatap Suzy dengan pandangan tidak percaya karena apa yang diucapkan gadis itu barusan.
"Dan dia telah mencium kau sebagai Ellen, Suzy." Tambah Minho. Sedikit tidak terima karena Suzy malah menyuruhnya melepaskan orang itu begitu saja. Sedangkan, dirinya tahu gosip apa yang akan tersebar besok. Bisa saja orang-orang mengira dia dan Ellen-nya sudah berakhir oleh sebab itulah dia tidak melakukan apapun kepada Myungsoo.
Suzy menghela napas, "Ini akan menjadi masalah yang panjang kalau sampai pihak universitas tahu. Ellen, Kau dan laki-laki itu bisa saja terkena hukuman." Jelasnya.
Tentu saja, berkelahi di wilayah Universitas ataupun di luar Universitas akan terkena sanksi tegas jika sampai pihak Universitas mengetahui nya. Mau tak mau Minho menyetujui hal itu, begitupun dengan Soojung. Bahkan, dalam kondisi seperti ini, Suzy masih bisa memikirkan hal yang tepat sehingga tidak akan menimbulkan masalah untuk siapapun.
"Seandainya aku menyusulmu ke kelas, kau tidak mungkin berakhir di cium oleh Kim Myungsoo." Soojung mengeluh. Mulai menyesali pilihannya untuk menunggu Suzy di kantin daripada menyusul gadis itu dikelas bahasa inggrisnya. Alasan yang mendasar adalah karena Soojung malas bertemu--atau melihat laki-laki bernama Kai.
Minho juga tampak mengusap wajahnya sesaat sebelum berkata, "Aku juga. Seandainya aku tidak menelpon Ellen. Atau setidaknya, aku menyusulmu dulu baru menelpon Ellen..."
"Sudahlah... Tidak pa-pa." Suzy tersenyum, mencoba mengatakan kalau dia benar-benar tidak masalah karena dua orang itu tidak menyusulnya. Walaupun jauh didalam hatinya, menyesali kejadiaan di koridor tadi.
"Omong-omong, mengapa si Kim itu sampai berani menciummu didepan banyak orang, Suzy?" Soojung bertanya. Dia nampak antusias karena dia pun sama sekali tidak menyangka Kim Myungsoo akan senekat itu. Ditambah, laki-laki itu tahu kalau Suzy bukanlah Ellen.
Suzy menatap bergantian keempat manik mata milik Soojung dan Minho dengan menggigit bibir bawahnya. Kedua sahabatnya di Seoul ini tentu saja penasaran, karena tidak mungkin Kim Myungsoo asal menciumnya didepan umum seperti tadi itu. Ia menghela napas, "Aku melihat Myungsoo dan Jiyeon berciuman."
Soojung membelakakan matanya, "Jiyeon-- Park Jiyeon? Gadis menel itu? Anggota kelompok pirang?"
Suzy tidak tahu nama panjang Jiyeon itu siapa, namun dia mengangguk saat Soojung menyebutkan nama kelompok pirang. "Umm... Aku tidak sengaja melihatnya, kau tahu--gadis pirang itu tiba-tiba datang dengan teman-temannya dan..." Suzy menggigit bibir bawahnya. Dirinya merasa tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Bayangan Myungsoo berciuman dengan gadis lain mau tak mau kembali menyulutkan emosinya. Bukan karena apa, tapi laki-laki itu bahkan baru saja mengatakan kalau dia menyukai Suzy. Dan tadi... Myungsoo malah mencium gadis lain. Oh my god, sulit di percaya!
"Oh tuhan, katakan dengan jelas kenapa dia malah menciummu? Aku tidak mengerti..." Soojung mengernyitkan dahi nya.
"Sudahlah, aku tidak ingin--"
"Tapi aku ingin membahas itu, Suzy. Katakan!" Soojung menyela dengan sedikit memaksa.
"Jangan bilang ini bukan ciuman pertamamu dengan Myungsoo?!" Minho menyelidik.
Mulut Suzy yang hampir terbuka tiba-tiba terkatup rapat kembali dengan mata yang terasa hampir akan keluar dari tempatnya. Bagaimana bisa Minho menebak seperti itu?
Pandangannya lalu beradu dengan mata Soojung yang menyipit, "Oh tuhan! jangan katakan iya?"
Suzy semakin menggigit bibir bawahnya. Kedua tangannya saling meremas, kebiasaannya jika sedang dalam situasi gugup dan tidak bisa dikendalikan.
"Oh my god!" Soojung mendesah frustasi. Kedua tangannya bergerak memijat pelipisnya sambil menatap Suzy dengan heran, "Kami kan sudah bilang untuk menjauh darinya, Suzy. Ellen bisa gila jika sampai tahu ini."
Suzy menunduk, menatapi kesepuluh jemarinya, "Dia bilang jika aku menurut untuk menjadi kekasihnya maka dia akan menjamin rahasia Ellen tentang pertukaran kami akan aman hingga akhir."
"Whoaa, dia benar-benar licik. Lalu, dia menciummu?"
Suzy mengangguk.
Minho menatap Suzy dengan raut wajah tak enak. Karena kekasihnya lah Suzy harus berakhir seperti ini. Lelaki itu tahu kalau Suzy belum memiliki kekasih di New York--menurut cerita Ellen. Dan sekarang, dia harus merelakan ciuman pertamanya untuk orang yang tidak dicintainya. Walaupun dia laki-laki, namun dia memiliki sepupu seperti Soojung dan juga kekasih seperti Ellen yang tentu saja--sebagai gadis normal pada umumnya, mereka selalu bercerita tentang ciuman pertama mereka dengan orang yang dicintai. Ellen tentu saja tentang ciuman pertamanya dengan Minho, sedangkan Soojung dengan mantan kekasihnya, Kim Jongin atau sering dipanggil dengan sebutan Kai.
"Tunggu, jadi tadi dia menciummu setelah dia berciuman dengan Jiyeon? Karena apa?"
"Karena dia berusaha menjelaskan padaku kalau dia tidak mencium gadis itu."
"Lalu?"
"Aku bilang aku tidak peduli--kau tahu dia menimbulkan masalah dengan mengumpulkan massa disekitar kami, dan aku tidak menyukai pandangan orang-orang yang menyorot kepadaku, Soojung." Suzy menghela napasnya. "Lalu, aku bilang kalau tidak ada yang berbeda antara dia atau gadis itu yang mencium duluan karena aku tidak peduli. Dan saat aku hendak pergi meninggalkan koridor, Myungsoo... Menciumku. Didepan seluruh mahasiswa yang tetap menyangka kalau aku Ellen." Suzy kembali mengingat suara-suara yang terdengar ditelinganya saat tadi, lantas membuatnya ngeri. Seumur hidupnya, dia tidak pernah berada dalam posisi seperti tadi. Menjadi spotlight.
Dan tadi itu sungguh membuatnya tak nyaman.
***
"Hei, dude!" Kai menepuk bahu Myungsoo yang sedang fokus menghisap batangan rokok dengan kaki bersila duduk di gazeboo belakang rumahnya dengan posisi membelakangi Kai. Sepasang mata tajam Myungsoo menatap kearah kolam ikan yang riak. "Aku dan Max membawakan chiken wings dan soju." Kai menggoyangkan kedua tangannya yang memegang kantung plastik dengan merek toko ayam terkenal di Seoul. Kemudian, Kai mengambil tempat di sebelah kanan Myungsoo, sedangkan Max mengambil tempat di sebelah kiri Myungsoo.
Pasca insiden tamparan tadi siang, Myungsoo sulit di hubungi. Bahkan, ketika kerumunan itu sudah bubar sahabat mereka itu langsung melesat melajukan mobilnya ntah kemana. Dikatakan entah kemana karena ketika Kai mencoba menghubungi asisten rumah tangga di rumah Myungsoo, mereka mengatakan kalau tuan muda nya itu belum kembali dan akan memberitahu Kai jika tuan mudanya telah kembali ke rumah. Sedangkan menghubungi nomor ponsel laki-laki itu juga tidak akan diangkat.
Kai dan Max melirik pada asbak di atas gazeboo yang sudah penuh dengan puntung dan abu rokok, lalu keduanya saling menatap. Saling memberi kode agar salah satu dari mereka ada yang berbicara duluan untuk mencairkan suasana. Max menghela napas, "Dude, kau tahu sayap ayam ini sangat cocok dengan soju kan? Ayo kita makan seperti babi!" Serunya. Max dengan cepat mengambil batangan rokok yang masih berada di tangan Myungsoo kemudian mematikannya. Membuat Myungsoo mengernyit tidak suka kearahnya, namun lelaki itu tetap menerima segelas soju yang diberikan Kai padanya.
Myungsoo menelan soju itu dalam sekali teguk. Membiarkan cairan bening itu mengalir ke tenggorokannya. Kedua kelopak matanya tertutup, seolah menikmati dinginnya soju yang membasahi tenggorokannya itu dengan suka cita. Kai dan Max melakukan hal yang sama.
Kemudian kedua sahabat Myungsoo itu mengambil satu sayap ayam dan memakannya. Sedangkan Myungsoo mengisi kembali gelasnya dengan soju hingga penuh. Dan kembali menandaskannya dalam satu tegukan.
Kai berdeham, "Max dan Aku sudah menyuruh seluruh mahasiswa yang merekam kejadian tadi untuk menghapus video ataupun foto itu."
Myungsoo mengangguk dua kali.
"Dude, seharusnya kau tidak mencium Ellen." Kai tidak bisa menahan dirinya untuk mengomentari kejadian tadi. "Aku tahu kau tidak mampu menahan hasratmu, tapi itu di kampus. Hell, kau dan Ellen bisa berada dalam masalah jika sampai video itu menyebar ke pihak yayasan."
Max menyetujui, "Kalau aku jadi Ellen, mungkin saja aku bukan hanya menamparmu, dude."
Myungsoo menoleh kesal, "Yya!"
Max tersenyum lebar, "Aku akan memasukkanmu kedalam peti. Whoaa... Untung saja si tukang robot itu tidak membunuhmu karena kau nekat begitu."
"Dia tidak akan mencari masalah di Universitas. Citra nya sebagai tukang robot jenius akan rusak seiring dengan tangannya yang melayang kearah Myungsoo." Kai tersenyum miring.
"Dia bukan Ellen."
Kai dan Max menoleh bingung, "Apa maksudmu?"
"Yang kucium tadi," Myungsoo menghela napas, "Gadis itu bukan Ellen. Tetapi, dia adalah adik kembarnya Ellen."
Sontak kedua sahabat Myungsoo itu melongo. Sebuah fakta yang baru saja mereka dengar ini lebih seperti drama malam yang di tonton Ibu mereka setiap malam hari. Kai menggeser tubuhnya menghadap Myungsoo, "Kau serius? Bagaimana kau tahu dia bukan Ellen?"
"Panjang ceritanya, Kai. Tapi aku bisa memastikan dia bukan Ellen."
"Siapa namanya?" Max bersuara.
"Suzy."
"Daebak! Pantas saja aku heran kenapa dia berteman dengan gadis berkawat gigi itu dan juga dia menangis." Kai mengingat kejadian waktu itu saat Mrs. Lee memarahi gadis itu karena tidak mengerjakan essay.
Myungsoo kembali membawa gelas berisikan soju itu ke mulutnya, lalu menegaknya. "Menurut kalian, apa yang aku lakukan tadi salah?"
Kai dan Max mengangguk bersamaan.
"Kenapa kau mencium Ell--Maksudku Suzy?" Max bertanya.
Dia merupakan salah satu orang selain Kai yang mengenal Myungsoo dengan amat baik. Sahabatnya itu tidak pernah lepas kendali seperti tadi. Bahkan, walaupun mereka sering mengadakan pesta. Myungsoo tidak pernah mencium sembarang orang. Kecuali, gadis itu memiliki hubungan dengannya. Dan tadi itu... Itu diluar kebiasaan Myungsoo.
"Keunyang." Myungsoo mengedikkan bahu nya, "Dia tidak mau mendengarkan penjelasanku kalau aku tidak mencium si pirang itu. Aku kesal dan akhirnya aku menunjukkan padanya maksud dari kalimat "aku yang mencium seseorang" bukan "seseorang yang menciumku" , kalian mengerti kan maksudku?"
Keduanya mengangguk. Kemudian Kai menimpali, "Tetap saja yang kau lakukan itu salah. Diluar dia adalah Suzy dan bukan Ellen. Anak-anak tahu kalau dia itu Ellen, Myung."
Myungsoo mendesah menyesal, "Suzy pasti sedang menangis dirumahnya."
Kai mengangguk, "Dan Soojung pasti ingin membunuhmu sekarang juga."
"Aku setuju denganmu, Kai." Max menjawab.
***
Dont forget to leave a vote and comment. Thx
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co