Truyen3h.Co

Spring Blooming #1

3. It Started

authoriya

Note #01: Aku biasanya menggunakan Heels merah setiap hari senin (kau bebas memakai yang mana saja). Ah, karena saat kau membaca note pertama ini adalah hari senin which means hari yang biasanya dipakai orang untuk mengeluh karena weekend mereka berakhir, tapi aku tidak. Untuk memukau setiap pasang mata yang melihatku, aku selalu mempergunakan skirt yang berbeda setiap hari, kecuali selasa. Jangan membuatku malu, Suzy - Ellen.

Suzy menarik selembar sticker note yang diberikan Ellen padanya. Kemudian membuangnya ketempat sampah setelah selesai membaca tulisan pada sticker note tersebut. Gadis itu sudah dalam balutan jubah mandi dengan rambutnya yang tergelung handuk, ia mendengus.

"Sebenarnya dia menyuruhku menggantikan kuliahnya atau apa..." Gerutu Suzy. Tangannya bergerak mengambil ponsel diatas meja rias saat benda persegi itu berdering. Dilihatnya nama Ellen di layar, Suzy mengangkatnya dan layar ponsel itu seketika berubah dipenuhi oleh wajah Ellen setengah sadar, "Leen, kau mabuk?!" Kedua mata Suzy sukses membulat kaget melihat pemandangan di layar ponselnya. Dengan rambut acak-acakan dengan mata yang setengah terpejam.

"Tidak... Aku tidak mabuk." Ucap Ellen disana sambil menggeleng-gelengkan kepalanya supaya meyakinkan saudaranya itu kalau ia sama sekali masih sadar. Walaupun dalam kenyataannya sama sekali tidak.

Suzy mendesah, "Kau harus mengkontrol dirimu ketika di New York, Leen. Jangan sampai menyusahkan Bibi Merry, Mila dan juga Ayah."

Ellen memutar bola matanya, "Aku hanya mencoba menikmati fasilitas yang diberi tua bangka itu, Suzy. Hargailah kerja keras dia dengan cara menghabiskan uangnya."

"Kumohon jangan lakukan hal aneh disana, Leen." Suzy mengernyitkan keningnya, "Jangan berada dalam masalah disana, fokuslah dengan trainee mu."

Ellen menyipitkan kedua matanya, "Kau berani memerintah kakakmu?"

"Bukan seperti itu..." Suzy kembali mendesah, "Baiklah, lupakan saja. Sudah ya? Aku harus berganti pakaian. Jadwal kuliahmu hari ini dari jam sembilan, kan?"

Baru saja gadis itu hendak menekan ikon bewarna merah, suara Ellen kembali terdengar dengan larangannya. Suzy bertanya, "Apalagi?"

"Aku melakukan facetime karena aku ingin memilihkan baju apa yang harus kau gunakan hari ini sebagai Ellen."

"What?!"

"Ayo kita menuju walkin closet." Ucap Ellen santai. Suzy menipiskan bibirnya, menahan kekesalannya. Suzy yakin, Ellen pasti begitu memerdulikan penampilannya di mata orang-orang sampai-sampai wanita itu rela melakukan facetime padahal disana sudah larut malam.

Sebelum mengikuti ucapan Ellen dan menuju ke walkin closet, Suzy berbicara sungguh-sungguh kepada saudara kembarnya itu, "Ini pertama dan terakhir kalinya kau mengatur pakaian yang harus kukenakan, Leen. Percayakan saja padaku seperti aku memercayakan kau menggantikanku disana, Deal?"

"Deal."

***

Suzy menarik nafas sekali lagi sebelum membuka pintu mobilnya dan keluar dari dalam sana. Gadis itu masih kesal karena perdebatannya dengan Ellen tadi di telepon. Pasalnya, Ellen terus saja memaksa Suzy mengenakan skirt bewarna merah maroon yang memamerkan hampir seluruh kaki jenjangnya, belum lagi blouse yang sebagian besar ada di lemari Ellen semuanya nampak 'asing' bagi Suzy. Sebagian besar pakaiannya di New York adalah celana jeans dan blouse kebesaran. Berbanding terbalik dengan apa yang dimiliki Ellen di lemari pakaiannya. Suzy yakin, semua warna yang ada di dunia ini ada semua didalam lemari itu. Dan, semua nya itu sungguh bukan 'pakaian' nya.

Tangannya bergerak menarik skirt kebawah, berharap semoga saja rok itu sedikit memanjang. Walaupun ia tahu jika yang dilakukannya itu adalah hal yang sia-sia. Lalu, gadis itu menjalankan tungkai jenjangnya masuk kedalam gedung universitas.

***

"Dude, Itu Ellen." Jongin menepuk bahu Myungsoo agar lelaki itu mengikuti arah pandangnya. Kedua lelaki bersahabat itu sedang duduk bersantai bersama beberapa mahasiswa lain nya di kursi yang berada tak jauh dari gedung parkir dengan asap rokok yang mengepul hadir ditengah-tengah mereka.

Myungsoo, menghentikan aktifitas nya memainkan game di ponsel dan menoleh kearah yang ditunjuk sahabatnya. Matanya langsung menemukan satu wanita yang terlihat sedikit tidak nyaman dengan pakaian yang dikenakannya.

"Ellen sedikit berbeda..." Gumam Jongin saat melihat rambut panjang yang biasanya bewarna coklat itu kini berubah menjadi hitam.

"Aku setuju." Ucap seseorang lain disana yang merupakan teman kedua orang itu juga. "Dia terlihat seperti ikon cinta pertama dengan rambut hitam panjang dan riasan wajahnya yang tidak semencolok biasanya."

Myungsoo mengernyit memandang dalam-dalam gadis yang sekarang sudah berjalan keluar dari gedung parkir itu. Gadis cantik yang dilihatnya ini, sama seperti gadis yang dilihatnya saat di bandara. Wajahnya sama dengan Ellen, namun rambut dan sorot mata mereka yang membedakan. Myungsoo bangkit dari duduknya.

"Kemana?" Tanya Jongin.

Myungsoo tersenyum simpul, kemudian bergumam, "Aku ingin memastikan sesuatu. Beritahu jika Pak Lee sudah hadir!"

Kemudian dengan setengah berlari, Myungsoo meninggalkan segerombolan temannya yang kini menatapnya dengan pandangan heran.

"Myungsoo benar-benar bermuka tebal, padahal Ellen sudah menolaknya berkali-kali." Ucap salah satu diantara gerombolan itu. Dan mendapatkan anggukan setuju dari yang lainnya.

***

"Suzy?"

Kedua tungkai jenjang milik Suzy langsung berhenti saat mendengar satu panggilan yang berasal dari belakangnya. "Ya?" Responnya secara spontan, dengan kepala menoleh kebelakang mencari tahu siapa yang memanggil namanya.

Seringaian di wajah Myungsoo yang dilihatnya langsung membuat deru jantung gadis itu tak karuan. Lelaki itu... Lelaki yang sama dengan yang tak sengaja di tabraknya kemarin! Dia anak universitas ini juga? Oh my god... Kau pasti sudah gila, Suzy. Hardik gadis batinnya.

Pantas saja lelaki didepan nya ini bertingkah aneh kemarin sampai menanyai siapa namanya segala, dan ia dengan bodohnya memberitahu laki-laki ini nama asli nya. Tamat sudah kau, Suzy!

"Ternyata benar itu kau."

Suzy menelan saliva nya dengan susah payah. Memikirkan apapun hal yang bisa meyakinkan laki-laki didepannya ini kalau dia menegur orang yang salah. Kemudian, satu ingatannya mengingat kalau Ellen seorang bitchy.

Suzy menarik nafas tak kentara, kemudian memasang ekspresi dingin, "Kau memanggilku apa barusan?"

Myungsoo menaikkan kedua alisnya, "Suzy."

"Yya, apa matamu cukup bermasalah sampai salah mengenali gadis secantikku, heh?" Ucap Suzy dengan nada meremehkan.

Good, Suzy! Gadis batinnya bersorak riang karena tidak menyangka bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu.

Myungsoo tersenyum miring, "Oh, ayolah Suzy..."

"Aku Ellen. Kau gila ya?" Dengan menatap kesal lelaki didepannya. Suzy memalingkan kembali wajahnya, lalu melanjutkan perjalanannya menuju loker dengan terus berharap agar Soojung ataupun Minho cepat-cepat menampakkan batang hidungnya.

Myungsoo menatap punggung itu dengan kernyitan didahinya. Dirinya yakin seribu persen jika itu bukan Ellen. Tetapi, bagaimana agar wanita yang berpura-pura sebagai Ellen itu mengakui kalau dia bukan Ellen... Fikirnya. Kemudian lelaki itu ikut melangkahkan kakinya mengikuti gadis didepannya berjalan.

***

Suzy mencari-cari loker nomor 30 yang dikatakan Ellen adalah lokernya. Begitu banyak loker berjejer dan memiliki nomor urut yang random membuatnya kesulitan mencari yang mana lokernya. "Seharusnya Ellen menjelaskan dimana letak lokernya berada." Gerutu Suzy sambil membaca nomor-nomor pada loker yang dilewatinya.

"Ini lokermu." Ucap seseorang dari belakang Suzy, kemudian ia merasakan orang itu melintas melewatinya dan berhenti pada salah satu loker yang letaknya paling ujung. Kedua mata tajam itu menatap Suzy dengan pandangan menilai.

Suzy menggerutu, sebenarnya siapa lelaki ini? Kenapa dia mengikuti Ellen terus hah?

Kakinya berjalan hingga berjajar dengan lelaki bermata tajam yang berdiri didepan loker bernomor 30. Milik Ellen.

"Excuse me? Aku ingin mengambil buku."

Myungsoo mengangguk-angguk, "Silahkan." Ucapnya namun tubuh itu sama sekali tidak menyingkir.

Suzy mendengus, "Tubuhmu menghalangi."

"Ups." Myungsoo tersenyum miring, lalu menggeser sedikit tubuhnya sampai gadis didepannya bisa mengambil barang apapun yang ada didalam loker itu.

Dengan kesal Suzy melangkah mendekat, kemudian membuka loker itu menggunakan kode yang sudah diberitahu Ellen kepadanya. Dan, pada saat pintu loker itu terbuka kedua matanya lantas membulat tak percaya. Inilah yang sering diceritakan Ellen dalam surat-suratnya...

Mata bulatnya mengamati setumpuk surat berdominasi kertas warna biru dan merah muda, beberapa tumpuk coklat memenuhi loker milik Ellen. Ternyata Ellen tidak membual soal ini...

"Jika kau menjadi kekasihku, aku akan menjamin loker ini akan bersih dari sampah-sampah ini."

Suzy mencoba mengabaikan suara itu dengan mengambil buku yang diperlukannya di bagian bawah tumpukan hadiah-hadiah itu. Kemudian setelah mendapatkannya, gadis itu langsung menutup lokernya dengan keras. Tanpa menoleh sedikitpun kearah lelaki yang berada didekatnya, Suzy segera melangkah menjauh dari sana.

"Bae Suzy!"

Suzy mengabaikan. Kakinya tetap melangkah lurus kedepan, gadis itu bisa bersyukur karena keadaan sekitar yang sepi sehingga tidak ada yang mencuri dengar ucapan laki-laki aneh yang terus saja memanggil namanya itu. Suzy merapatkan pegangan buku-buku ditangannya dan langkahnya semakin dipercepat, namun dengan sekelebat tiba-tiba saja pergelangan tangan kanannya sudah berada dalam genggaman orang lain.

Suzy menoleh kaget. "Apa yang kau mau?!" Bentaknya.

"Katakan kalau kau Suzy."

Suzy menipiskan bibirnya, "Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Menyingkirlah!"

Myungsoo menatap tajam hingga Suzy bisa merasakan kedua manik mata lelaki itu menghujam matanya, "Baiklah," ucapnya. Kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mendial nomor seseorang. Tangannya lalu menunjukan layar ponselnya itu kedepan wajah Suzy. "Kita lihat, apakah nomor yang kuhubungi ini adalah nomor yang sama dengan ponsel yang kaupegang. Atau, akan ada orang lain yang akan mengangkatnya."

Suzy membasahi bibirnya, tamat sudah riwayatnya jika Ellen sampai mengangkat panggilan itu. Namun, saudaranya itu sedang dalam keadaan mabuk dan pasti masih tertidur nyaman di ranjangnya.

Suzy menghitung dengan degup jantung yang begitu cepat...

Satu... dua... Semoga saja nomor Ellen tidak bisa di hubungi... Tiga... Em--

Tubuhnya berjengit kaget saat ponsel yang dipegangnya berbunyi tepat pada saat panggilan telepon itu terhubung. Dengan cepat dilihatnya layar ponsel itu dan nama Minho lah yang muncul disana.

"Kenapa kau terus saja mengganggu kekasihku, Myungsoo?" Kedua orang itu lantas menoleh kesumber suara. Dan mendapati lelaki jangkung yang kini berjalan kearah mereka, "Jangan mengganggu Ellen lagi. Atau--"

"Atau?" Myungsoo bertanya dengan nada mengejek. "Atau kau akan membuat robot penjaga untuk Ellen?"

Suzy membelalakan kedua matanya saat mendengar nama yang disebut Minho barusan. Myungsoo... Apakah lelaki ini yang dikatakan Ellen selalu mengganggu saudaranya itu? Oh my god, dan dia sudah membuat kesalahan fatal kemarin! Bodoh! Suzy menepuk pelan kepalanya.

"Jangan menggerutu dan mengutuk dirimu karena kesalahanmu kemarin, girl." Ucap Myungsoo. Itu adalah ucapan yang ditunjukan lelaki itu untuk gadis yang kini memukul-pukul pelan kepalanya sendiri. Myungsoo menyeringai, Tampaknya Suzy sudah mendengar namanya dari Ellen. Dengan gaya santainya, Myungsoo kembali bersuara, "Apa yang kau fikirkan benar, Aku Myungsoo. Kim Myungsoo. Senang berkenalan denganmu, Suzy. Ah, apa aku harus memanggilmu, Ellen?" Myungsoo tersenyum,
Kemudian melangkahkan kakinya menjauh dengan memberikan tatapan mengejek kearah Minho sebelumnya.

***
Tbc-

Hahaha sorry kalo ada typo sikit-sikit. Aku udah ngantuk ga sempet ediiit. Good night!

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co