4. The Allergy
Note #02 : Jangan gunakan skirt di hari selasa. Mr. Song akan membunuhmu jika kau melakukannya. - Ellen
***
Kantin di Seoul University nampak seperti Namdaemun Market dengan keramaian yang hampir menyerupai. Suara-suara candaan lebih mengarah pada ejekan dan beberapa suara anak-anak yang sedang memesan makan siang mereka terdengar di sepenjuru ruang kantin dua tingkat itu. Jam menunjukkan pukul satu siang ketika asap rokok sedang mengepul membentuk angka nol di depan wajah Myungsoo. Kedua mata tajamnya memerhatikan dengan enggan sekeliling kantin di lantai dua. Bukan pilihan yang bagus memilih kantin sebagai tempat menghilangkan stress karena Lee Jung Wook-pemateri di kelas Ethics and Moral Education-yang seperti menanam dendam kepada Myungsoo dan dua orang temannya. Terlebih terhadap lelaki bermarga Kim itu. Jung Wook bahkan selalu saja menjadikan Myungsoo atas contoh-contoh kurangnya pendidikan Etika dan Moral pada Mahasiswa-mahasiswanya. Jung Wook berharap jika jam kuliah Ethics and Moral Education seharusnya ada disetiap hari agar mahasiswanya--lebih merujuk pada Myungsoo--di universitas ini bisa lebih baik lagi. Tidak bisa disalahkan kenapa lelaki tua itu begitu membenci Myungsoo dan kroninya itu walaupun ketiga orang itu memiliki otak yang cukup cerdas di kelasnya, bahkan di kelas-kelas pemateri lainnya. Alasan lelaki tua itu cukup mendasar karena Myungsoo, Jongin dan Max tidak pernah menuruti aturannya untuk memakai setelan rapih dan lebih memilih menggunakan celana levis super dekil milik ketiga mahasiswa nya itu.
Myungsoo kembali menghisap batangan rokok ditangannya lalu menghembuskan asapnya membentuk bulat lagi saat Jongin yang duduk di kursi di sebelahnya bersuara dengan mengeluh. "Aku heran kenapa mantan kekasihku bisa semakin terlihat cantik saat hubungan kami sudah berakhir."
Myungsoo melirik lelaki di sebelahnya melalui ekor matanya, lalu mengikuti arah pandang Jongin. Dan disanalah dia menemukan dua gadis cantik menyembulkan tubuhnya dari balik tangga yang menghubungkan antara lantai satu dan dua. Kedua gadis itu nampaknya sedang memilih-pilih menu makan siang mereka, terlihat dari cara keduanya yang berdiri sambil menggerakkan kepala dan tubuh mereka. Myungsoo kembali menghembuskan asap rokoknya dengan kedua mata tetap fokus pada dua gadis yang hanya berjarak beberapa meter dengan tempatnya duduk itu. Jika diperjelas, mungkin hanya pada seorang gadis dari dua gadis yang berdiri disana.
"Aku dapat ide!" Jongin menjentikkan jari, kemudian kepalanya menoleh kearah Myungsoo, "Bagaimana kalau kau meminta Ellen agar gadis itu mau mendekatkan kembali Soojung denganku?"
"Dude, bagaimana bisa kau meminta Myungsoo bicara dengan Ellen disaat gadis itu akan menelan hidup-hidup jika melihatnya berkeliaran, heh?" Kali ini suara milik Max yang terdengar seperti menahan tawa.
Myungsoo terkekeh, "Sial!" Tangannya melemparkan batangan rokok yang dipegangnya lalu mengilasnya dengan sepatu hingga mati.
"Omong-omong, dimana si tukang robot itu? Biasanya dia selalu menjadi bayangan Ellen." Max mengernyitkan keningnya saat melihat keabsenan Minho.
"Mungkin sedang melakukan facetime."
Ucapan Myungsoo lantas membuat kedua sahabatnya itu menoleh bingung, "Maksudmu?"
Myungsoo tersenyum kecil dengan mata yang masih tertuju pada sosok Ellen. "Tidak."
***
"Ellen, kau ingin pesan apa untuk makan siang mu?" Soojung bertanya tanpa menoleh kepada Suzy.
Keadaan kantin yang begitu ramai hingga membuat antrean yang lumayan panjang meski hanya untuk sekadar outlet Jjangmyeon, bibimbap, Gwail Saelraedeu-atau biasa disebut salad buah- dan Omurice. Kantin yang terdapat dua bagian yaitu bagian atas dan bawah itu memiliki ciri perbedaan yang lumayan signifikan. Jika pada lantai dasar kita akan menemukan menu catering nan sehat dan tentu saja, bebas asap rokok, tetapi pada lantai dua suasana yang lebih cozy akan terlihat. Dimana, beberapa mahasiswa yang tidak menyukai makanan catering bisa mencari menu mereka disini yang disediakan di outlet-outlet. Dan nyatanya, suasana di lantai dua ini memang lebih ramai dibanding area bawah.
Suzy mengipaskan tangannya didepan hidung saat mencium bau asap rokok. Kepalanya pusing melihat antrean panjang hanya untuk makan siang. "Bisa memberi saran?" Tanyanya. Dia sendiri bingung harus memakan apa karena semua menu makanan disini begitu asing baginya. Kecuali, omurice. Sedangkan pada outlet tersebut tidak ada gambar yang ikut menjelaskan apa yang dijual disana.
Soojung tersenyum kemudian berbicara agak merendah, "Ellen biasanya memesan salad buah untuk makan siangnya. So boring!" Ucap Soojung sambil memutar bola matanya malas. "Aku sangat ingin memakan Jjangmyeon bersama sahabatku! Kau mau kan?"
Suzy mengernyitkan keningnya. Dia memang bisa berbicara dan menulis Hangul, tetapi untuk tipe-tipe makanan khas korea tentu saja Suzy sangat awam karena sejak kecil dirinya selalu di masaki Bibi Merry makanan western. Suzy berfikir, jika dia bertanya apa itu jjangmyeon bisa saja mereka yang berdiri dibelakangnya akan kaget dan curiga kepadanya. Gadis itu lantas mengigit bibirnya lalu mengangguk, "Baiklah, aku mau."
Soojung tersenyum senang. Sepanjang waktu berurusan dengan Ellen yang keras kepala, bertemu dengan Suzy merupakan suatu hal yang menyenangkan. Dia bisa dengan senang hati menyampaikan pendapat tanpa perlu adu mulut dengan sahabatnya. "Oke tunggu, aku akan panggilkan orang itu dulu."
Suzy menaikan kedua alisnya sambil memandang Soojung yang menoleh-nolehkan kepala seperti mencari seseorang. Dan senyuman dibibir gadis itu terbit saat mendapatkan apa yang dicarinya. Tangannya bergerak memanggil, "Joo Ah... Lee Joo Ah!"
Suzy mengikuti arah pandang Soojung dan menemukan satu sosok laki-laki dengan kacamata tebal menoleh kearah mereka. Kedua mata yang dibingkai itu menatap dengan pandangan takut-takut kearah mereka dan Suzy bisa merasakannya.
"Kemari!" Panggil Soojung.
Seseorang bernama Joo Ah itu segera datang menghampiri mereka. Suzy mengenali tampilan Joo Ah sebagai nerd yang ada di universitasnya, yang waktu itu dia bayangkan jika kekasih Ellen adalah orang berpenampilan semacam ini, namun ternyata bayangannya itu salah besar. Joo Ah melirik kearah Suzy dengan tatapan... Cinta?
Tunggu, apa Suzy tidak salah lihat?
"Ada apa, Soojung?" Tanya lelaki itu ketika sudah mengalihkan pandangannya.
"Princess Ellen dan sahabatnya sedang lapar, tetapi kaki kami sakit jika harus mengantri untuk mendapatkan menu makan siang. Jadi, Kau tahu kan apa yang harus kaulakukan, Joo Ah?" Soojung berbicara dengan beraegyeo. Ucapannya yang manis namun mengandung racun disetiap kata-kata.
Joo Ah mengangguk, "Aku akan mendapatkannya untuk kalian. Apa yang kalian inginkan?"
Soojung tersenyum lebar, "Dua porsi Jjangmyeon dan susu kotak rasa strawberry untukku dan kau pasti tau kan rasa apa yang disukai Ellen?"
Lelaki itu kembali mengangguk dan tak lama tubuhnya berjalan ikut mengantri didepan outlet.
Suzy mengedipkan matanya dua kali. Pemandangan didepannya tadi benar-benar membuatnya terkejut bukan main. Untuk gadis seumuran Suzy dan memiliki kehidupan biasa-biasa saja di kampusnya, apa yang dilakukan Soojung pada lelaki berkacamata tebal itu benar-benar seperti di dalam film. Soojung menoleh kearah Suzy kemudian berbisik pelan, "Well, welcome to our life, Suzy."
***
Suzy menghembuskan nafasnya dengan pasrah saat melihat mangkuk Jjangmyeon didepannya. Seharusnya tadi ia bertanya terlebih dahulu sebelum mengiyakan ajakan Soojung memesan mie kacang hitam ini.
"Ikuti caraku mengaduk jjangmyeon ini." Ucap Soojung sambil mengaduk jjangmyeon miliknya. Kepalanya mendongak ketika selesai mengaduk dan mendapati milik Suzy masih utuh seperti saat pesanan itu datang. "Kau tidak mengaduknya? Kenapa? Kau juga diet?"
Suzy menggeleng pelan, "Aku Alergi kacang-kacangan."
"What?" Soojung membelalakan matanya. "Kenapa kau tidak bilang?"
"Aku tidak tahu jika Jjangmyeon adalah mie dengan selai kacang hitam."
"Oh tuhan! hampir saja macan itu mengigitku jika kau sampai masuk ke rumah sakit karena alergimu. Maafkan aku, Suzy."
Suzy meringis. Sedikit tidak enak karena Soojung berbicara seperti itu kepadanya, lagipula ini sama sekali bukan salah gadis itu. "Don't feel hard, Soojung. Aku yang salah."
Soojung mencebik. "Aku akan memanggil si kutubuku itu lagi supaya dia memesankan makanan baru untukmu."
"Ti-tidak! Tidak usah, aku tidak ingin merepotkan orang lain." Suzy mengeluh. Selama dia hidup di bumi ini, memang Suzy sebisa mungkin berusaha untuk tidak membuat orang-orang disekitarnya repot karena dirinya.
"Tidak pa-pa, kutubuku itu malah senang jika melakukan hal untuk seorang Bae Ellen." Kikik Soojung. Kemudian matanya menyusuri satu persatu oranh-orang di lantai dua. Ketika ia kembali menemukan Lee Joo Ah, suara Soojung hendak memanggil laki-laki itu kembali namun tertahan saat melihat seseorang menaruh satu nampan berisi menu makanan catering di lantai bawah.
"Makanlah." Ucap Myungsoo setelah menaruh nampan didepan meja Suzy. Suzy mendongak, memandang laki-laki itu dengan tatapan bingung sekaligus terpana. Melihat tatapan yang diberikan Suzy padanya, membuat Myungsoo sedikit salah tingkah. Ia berdeham sekali, lalu berbicara dengan nada menyindir, "Temanmu ini bahkan tidak tahu jika kau memiliki alergi kacang."
Soojung mendesis, "Shut your fucking mouth up!"
Myungsoo menaikkan alisnya, lelaki itu tersenyum miring dengan gaya menjengkelkan kemudian melangkah pergi tanpa meladeni perkataan Soojung barusan.
Soojung menggerutu. "Lelaki itu dan temannya sama saja membuatku emosi!" Tangannya bergerak menyumpitkan mie kedalam mulutnya. Kemudian menatap Suzy, "Jika kau bertemu dengannya lagi dan aku sedang tidak disampingmu, kau harus melakukan sama seperti yang kulakukan tadi. Oke?"
Suzy menatap nampan di meja itu sesaat, lalu mendongak dan bergumam mengiyakan, "Mm... Aku akan mengingat nya."
***
"Oi, Minho!" Soojung memerhatikan lelaki yang sedang mengotak-atik robot di tangannya itu dengan kening berkerut. Tadi, selepas kuliah Suzy, Soojung dan Minho memutuskan untuk mengunjungi rumah Minho. Sebenarnya Soojung yang memaksa karena hanya dirumah Minho lah yang memiliki kolam renang. Soojung memang sudah terbiasa keluar masuk rumah ini, karena Choi Minho merupakan saudara sepupu nya dan tentu saja berkat dirinya lah Minho kenal dengan seorang Ellen.
Soojung menumpukan tangannya di ubin kolam, "Ellen memiliki alergi ya?" Tanyanya. Dirinya sedikit heran bagaimana bisa ia tidak tahu menahu tentang Alergi yang dimiliki sahabatnya itu. Sedangkan lelaki bernama Myungsoo malah mengetahuinya.
Minho mengalihkan pandangannya dari robot, "Tidak. Ellen tidak memiliki alergi apapun."
Kening Soojung mengernyit. Jika Ellen tidak memiliki alergi, jawaban mana yang bisa menjelaskan atas pertanyaan mengapa Myungsoo mengetahui soal alergi kacang itu?
Mulutnya baru akan terbuka saat melihat Suzy keluar dari pintu kaca dengan nampan Jus ditangannya. Diurungkannya keanehan yang ingin ditanyakan pada Minho dan berbalik menyapa Suzy, "Kau yakin tidak ingin berenang?" Tanya Soojung lagi.
Suzy menggeleng, "Aku tidak bisa berenang, Soojung."
Soojung mendesah, "Kau harus meminta Ellen mengajarimu saat dia kembali kesini."
Suzy tersenyum kemudian mengangguk.
***
Haaaai. I'm back! Wkwkwk
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co