6. He is drunk
Disclaimer: Myungsoo and Suzy belongs to their family. If I become part of their family, i definitely will match them.
Happy readin' and sorry for typos.
***
Gadis itu sedang tengkurap sudah sejak beberapa jam yang lalu. Kepalanya ditutupi oleh bantal yang kini keadaan bantal tersebut sudah basah sepenuhnya. Suzy menangis.
Dengan kedua mata yang kini sudah sembab, Suzy mengusap pipinya. Punggungnya berguncang kembali saat mengingat kejadian memalukan tadi siang. Bukan karena Suzy manja hingga menangis seperti ini padahal hanya di tegur oleh si pemateri. Hanya saja, ini adalah kali pertama bagi Suzy mendapatkan hal seperti itu. Tadi saat jam kuliah selesai, Suzy langsung membereskan tas nya dan berlari keluar menuju parkiran. Tidak di hiraukannya Myungsoo yang memanggilnya. Yang dia butuhkan adalah kamar tempatnya bisa mengunci diri.
Bibi Cha, yang sedang mengobrol dengan security yang bertugas menjaga pintu gerbangnya bahkan terkejut ketika melihat Nona besarnya berlari masuk--tanpa menyapanya seperti biasa--dengan mata memerah. Dengan panik, Bibi Cha mencoba mengetuk pintu kamar sang majikan dan menanyakan keadaannya. Namun, jawaban singkat dari Nona Suzy -nya lah yang akhirnya membuatnya bungkam. Dan, ketika sore hampir beranjak pergi dan Suzy masih belum keluar dari dalam kamarnya Bibi Cha kembali khawatir.
Bibi Cha berjalan mondar-mandir dengan tangan teremas-remas didepan perut. Tidak mungkin mengganggu Han Sora karena pekerjaan sang majikan sudah cukup berat dan Bibi Cha paham juga kalau Suzy pasti tidak ingin Han Sora mengkhawatiri nya. Bibi Cha terperanjat saat bunyi telepon rumah berdering, kakinya berjalan tergopoh-gopoh menuju pojok ruangan, lalu mengangkatnya.
"Kediaman Han Sora disini." Sapa nya.
"Ini aku, Ellen."
Bibi Cha tidak bisa mendesah senang saat mendengar Nona lainnya menelepon, "Nona Ellen! Apa kabarmu?"
"Aku baik," Jawab Ellen singkat. "Dimana Suzy?" Tanya Ellen kembali.
Bibi Cha mendesah, "Nona Suzy tidak kunjung keluar kamar sejak siang tadi, Nona. Bibi rasa ada sesuatu yang terjadi di kampus..." Ucapnya menerawang. Dia ingat jika pagi tadi semuanya baik-baik saja.
Ellen menggerutu di ujung sana, "Kenapa dia menangis saat kesalahan terjadi karena kecerobohannya sendiri."
"Maksud nona?"
"Tidak." Ellen berucap singkat. "Bibi, bisakah kau berikan telepon ini pada Suzy? Aku menghubungi ponselnya tetapi tidak ada jawaban."
Bibi Cha mengangguk, "Bisa, tentu saja nona. Tunggu sebentar..." Ucapnya.
Kemudian kakinya bergerak menaiki tangga hingga sampai di depan pintu kamar yang tertutup rapat itu dan mengetuknya.
"Nona Suzy, ada telepon dari nona Ellen." Bibi Cha bersuara pelan. Telinganya sudah tidak mendengar isakan tangis lagi seperti pertama kali ia berdiri disini, diam-diam wanita paruh baya itu bernafas lega.
Tidak ada jawaban dari dalam. Kemudian tangan tua nya kembali mengetuk pintu itu tiga kali, "Nona Suzy?"
Hening.
Bibi Cha mendesah, otaknya mulai berfikir jika mungkin saja saudara kembar Ellen itu kelelahan setelah menangis dan akhirnya terjatuh tidur. Tangannya baru saja akan menaruh gagang telepon ke telinganya, diurungkannya ketika mendengar suara serak dari dalam kamar,
"Aku sedang berantakan dan tidak bisa keluar, bisakah bibi menyambungkan panggilan itu ke kamarku?"
"Tentu Nona..." Ucapnya lega. Lalu menekan tombol pada gagang telepon itu sebelum kakinya melanglah turun ke lantai bawah.
***
Suzy menghela napas dengan kesal. Tidak butuh waktu lama saat sambungan telepon itu terhubung pada pesawat telepon di kamar. Dan tidak butuh waktu lama untunya mendengar suara bernada tinggi Ellen, kepadanya.
Suzy menarik ujung rambutnya kesal. Seharusnya disini dialah yang marah pada saudara kembarnya itu. Karena ketidaktanggungjawab Ellen membuatnya di hukum oleh Mrs. Lee dan seolah belum cukup, wanita itu menyuruhnya mengerjakan essay bersama seseorang yang pemaksa seperti Myungsoo.
"Ellen!" Suzy menyela. "Seharusnya disini aku yang marah, tahu?"
Suzy bisa merasakan jika Ellen menaikkan alisnya disana, "Kenapa malah kau? Kau yang menyebabkan si brengsek itu tau penyamaran kita. Bodoh!"
"Uh, Lupakan dulu masalah itu! Ini lebih penting." Suzy mencebik kesal, "Kau bahkan tidak bilang kalau ada essay Bahasa Inggris yang harus dikumpul dan kau tidak mengerjakannya." Tukasnya.
Terdengar suara Ellen yang mendesah seolah mengingat sesuatu hal yang penting, "I'm sorry. Aku lupa kalau belum mengerjakannya karena sibuk menyiapkan audisiku. Apa kata wanita cerewet itu? Dia marah?" Tanya Ellen.
Suzy memutar bola matanya jengah, "Dia membuat namaku tercoreng didepan mahasiswa lainnya."
"Ralat, tapi namaku, Suzy."
"Tapi aku yang ada didepan sana tadi!" Suzy meninggikan suaranya otomatis.
"And I guess that you were crying like a baby? Jadi, ini yang membuat suaramu berbeda dan kau tidak mengangkat panggilanku?" Tanya Ellen dengan nada mencemooh.
Suzy tidak percaya jika Ellen mengatai nya seperti itu. Apa? Menangis seperti bayi?
"Aku menangis karena malu, Leen."
"Ya, ya." Ucap Ellen singkat. "Tinggal kau kerjakan saja hukumannya, Suzy. Jangan menyulitkan keadaan."
"Bagaimana tidak jika aku harus mengerjakan tugas itu bersama Kim Myungsoo." Desah Suzy.
"What?!" Ellen berteriak diujung sana. "Kau bilang apa?"
"Lelaki itu juga terkena hukuman karena tidak mengerjakan tugasnya." Suzy mendesah. "Ini semua gara-gara kau, Leen."
Sejujurnya, Suzy tidak mempermasalahkan apakah ia harus mengerjakan tugas essay itu bersama Myungsoo atau tidak. Toh, Myungsoo juga sudah tahu kalau dia bukan Ellen dan lelaki itu tidak akan menganggunya. Mungkin saja, Myungsoo hanya menggunakannya untuk memancing agar Ellen bereaksi. Seperti yang semua orang tahu, He's deeply in love with Ellen. Dan, untuk masalah ancaman Myungsoo tadi pagi itu, Suzy memastikan jika Ellen tidak akan terkena masalah apapun nanti.
Terdengar suara gerutuan dan sumpah kasar dari mulut Ellen. Membuat kening Suzy mengernyit tidak suka, "Leen, hentikan makian kasar itu. Kau seorang perempuan dan calon model. So, yang harus kau pastikan adalah memiliki attitude dan otak yan--"
"Shut your fuck*ng mouth up!"
Suzy terdiam.
Ellen kembali mendesah diujung sana, "Suzy, dengarkan aku." Titahnya. Sebelum melanjutkan, "Aku tahu Myungso itu seperti apa. Dia akan melakukan segala cara agar aku menjadi miliknya dan sekarang dia memanfaatkanmu. Ingat, jangan dekat-dekat dengannya, Suzy. Oke?"
Tidak ada jawaban.
"Suzy? Kau dengar aku tidak?"
"Hm"
"Kenapa kau tidak merespon!"
Suzy tahu Ellen pasti disana sedang mengangkat alisnya dengan ekspresi kesal. Tapi, tadi gadis itulah yang menyuruh Suzy diam, bukan?
"Katamu tadi aku harus tutup mulut."
"Oh my god! Baiklah, Lupakan." Lagi, gerutuan khas Ellen terdengar dari sambungan telepon itu. Membuat Suzy menggeram jengah, "Jangan memarahiku lagi, Leen!"
Ellen mendengus. "Sorry."
Suzy menghembuskan napas,
"Sudah ya? Aku harus menelpon Myungsoo untuk tugas essay itu."
Baru saja Suzy ingin menutup panggilan itu, suara Ellen terdengar dengan satu oktaf lebih tinggi.
"Akan kubuang kau dari keluarga jika kau menelpon lelaki itu, Suzy!" Ancam Ellen sungguh-sungguh. Nada suara Ellen bahkan terdengar mengerikan dan membuat Suzy bergedik.
"Lalu, tugas Mrs. Lee bagaimana? Kau mau mengulang kelasnya lagi?"
Ellen diam disana. Kemudian terdengar erangan kesal dari mulut saudara kembar Suzy itu, "Dosen itu benar-benar banyak tingkah!" Sekali lagi, Ellen mendengus, "Baiklah. Hanya karena tugas ini kau boleh berdekatan dengan Myungsoo, dan jangan lupa untuk selalu ajak Minho atau Soojung saat bersama si brengsek itu, Mengerti? Kau tidak boleh membuat gosip-gosip aneh menyebarluas karena hanya berduaan dengan lelaki itu."
Suzy memutar bola matanya yang berat karena habis menangis. Disaat seperti ini, Ellen bahkan tidak menanyakan keadaannya setelah menangis panjang seperti tadi dan malah memikirkan repurtasi nya di Universitas. Benar-benar saudara yang baik.
"Leen?" Panggil Suzy.
"Apa?"
"Berhentilah berbicara dan menggunakan bahasa kasar ke orang lain. Dan, cobalah tersenyum pada orang lain, Leen. Kau tahu... Seluruh mahasiswi di kampusmu setiap melihatku seperti sedang melihat hantu."
"Aku tidak mau menjadi murahan dengan berlaku baik pada orang-orang, Suzy." Jawab Ellen singkat.
Suzy menaikkan alisnya tanpa sadar. Dirinya sangat tidak menyetujui ungkapan Ellen barusan, "Berlaku baik tidak akan membuatmu menjadi murahan, Leen."
Suzy tidak mendengar balasan apapun lagi dari saudaranya itu. Kemudian menghela nafas, "Baiklah, kututup ya?"
Kemudian sambungan telepon itu terputus.
***
Myungsoo berdecak kesal ketika melihat gadis pirang yang bergelendot seperti kalelawar di lengan sebelah kirinya sejak tadi. Tertawa manja--yang menurut Myungsoo terdengar seperti tikus. Dentuman musik, lampu kerlap-kerlip dan suara-suara riyuh yang menandakan jika pemilik rumah itu sedang mengadakan pesta di dalamnya. Myungsoo, memijit kepalanya saat merasakan sesuatu seperti menendang tengkoraknya keras-keras hingga lelaki itu merasakan kesakitan. Dia tidak pernah mabuk hanya karena segelas wine saja. Namun, di meja yang berada di hadapannya igu sudah tergeletak beberapa botol wine dan puntung rokok memenuhi asbak yang ada.
Sebenarnya, saat Max mengundang kelompok mereka untuk datang ke rumahnya tadi siang, Myungsoo sudah akan menolak. Air mata di kedua pipi Suzy mengusik dirinya. Dan Myungsoo tidak menyukai hal apapun yang mengusiknya. Namun, ternyata kedua sahabatnya itu bersekongkol dan terus mengejeknya seperti banci karena tidak mau datang. Dan akhirnya, disinilah dia. Jaket kulit berwarna hitamnya sudah bau asap rokok dan kesadarannya sudah hampir terenggut oleh alkohol.
Myungsoo mendesis kesal saat gadis yang juga sama mabuknya semakin menempel kepadanya, "Menyingkirlah, Jiyeon!" Dengan serta-merta Myungsoo mengangkat lengannya dan membuat gadis bernama Jiyeon itu terjengkang kebelakang.
Myungsoo melihat arloji ditangannya.
Pukul dua siang, pikirnya. Matanya kemudian menatap Kai dan Max yang juga sama mabuk seperti dirinya. Kai memijit pelipisnya, dan menyadari Myungsoo sudah berdiri, "Mau kemana?"
"Pulang. Aku harus menelpon Suzy untuk mendiskusikan essay kami."
Kai mengernyit, "Siapa itu Suzy?"
"Maksudku Ellen." Kemudian dia menggeleng-gelengkan kepalanya agar kesadarannya kembali.
"Katakan pada Max kalau aku duluan pulang, oke?"
Kai mengangguk.
***
Suzy sedang tertidur lelap di ranjang berukuran queen size dengan memeluk boneka kesayangannya saat getaran pada ponselnya mengganggu tidur nyenyaknya. Ia sudah berusaha mengabaikan getaran itu, namun sepertinya si penelpon sama sekali tidak patah semangat untuk terus menelpon hingga membuat suara-suara aneh di malam yang sunyi akibat getaran dari ponsel milik gadis itu. Suzy mendesah, mengabaikan rasa kantuknya dan mengambil ponsel yang berada diatas nakas tempat tidur.
"Siapa si gila yang menelpon tengah malam seperti ini!" Gerutunya. Kedua mata Suzy masih terpejam rapat saat mengangkat panggilan telepon itu.
"Hallo," kata Suzy dengan suara rendah. Tubuhnya masih berbaring diatas ranjang dan kedua mata itu terpejam.
"Suzy."
"Hm..."
"Ini aku, Myungsoo." Ucap Myungsoo dengan suara yang sama.
"Siapa?!" Tanya Suzy. Kedua matanya langsung terbuka dan tiba-tiba rasa kantuknya lenyap begitu saja, meninggalkan keheranan karena si penelpon menyebutkan namanya barusan.
"Kim Myungsoo."
Suzy menjauhkan ponselnya sebentar untuk memastikan. Dan benar saja, nomor yang menelponnya itu merupakan nomor baru yang belum disimpannya. Lalu, gadis itu kembali menaruh ponsel pada daun telinganya, "Ada apa, Myungsoo?"
"Kau baik-baik saja?"
Suzy mengerutkan dahi, "Maksudmu?"
Gadis itu bisa mendengar suara nafas Myungsoo yang tidak teratur, pun dengan rancauan aneh yang Suzy yakini jika lelaki itu sedang dalam kondisi mabuk.
"Tadi kau menangis."
Oh!
Walaupun ia heran kenapa Myungsoo tiba-tiba bertanya keadaannya pasca insiden di kampus tadi, Suzy tetap menjawabnya, "Aku sudah tidak apa-apa. Kau mabuk?" Pertanyaan itu keluar dari mulutnya bahkan tanpa sempat Suzy menyadarinya.
"Aku tidak mabuk." Gumam Myungsoo. "Jadi, apa aku harus ke rumahmu sekarang?"
"Ha?"
Ada apa dengan lelaki ini? Kenapa pula dia mau kerumah Suzy di tengah malam seperti ini.
"Kita harus mengerjakan Essay Mrs. Lee,"
"Oh, yaampun! Kau sudah gila ya? Ini tengah malam." Suzy menggerutu pelan. Lelaki yang menelponnya ini memang sedang mabuk, batinnya.
"Ini jam dua siang, Suzy." Ucap Myungsoo dengan nada menjelaskan.
Suzy menghela nafasnya, kedua matanya tiba-tiba mengantuk lagi dan mulutnya sudah lelah meladeni Myungsoo yang sedang mabuk disana. Jadi, Suzy lantas berujar, "Myungsoo, aku mengantuk. Dan ini masih tengah malam. Sebaiknya kau putuskan sambungan telepon ini dan biarkan aku tidur." Ucap Suzy.
Gadis itu menghitung sampai lima dalam hati, namun Myungsoo tidak merespon ucapannya sama sekali. Karena matanya yang sudah tidak mau berkompromi lagi itu, Suzy lantas membiarkan kantuk merenggut kesadaran gadis itu sepenuhnya dengan ponsel yang masih berada di telinganya.
Dengan panggilan telepon yang masih terus terhubung hingga fajar menyingsing.
****
Dont forget to leave a comment and vote. Thx^^
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co