7. Unwritten Agreement
Disclaimer: Myungsoo and Suzy belongs to their family. If I become part of their family, I definitely will tell Myungsoo oppa to marrying Bae Suzy.
***
Suzy mengerutkan keningnya ketika mendengar suara-suara bising yang berasal dari lantai bawah. Ia membawa satu tangannya kedepan mata saat merasakan sinar-sinar matahari mengenainya dari balik tirai jendela. Ketika dirinya sudah bisa menyeimbangkan kesadarannya, kelopak mata Suzy sepenuhnya terbuka.
Pukul berapa sekarang?, Pikirnya.
Tangan kanannya bergerak mencari-cari ponselnya diatas nakas, namun tidak ketemu. Dahi Suzy mengernyit. Seingatnya semalam dia terbangun karena ponsel itu terus saja bergetar dan ternyata Myungsoo lah si penelpon itu. Pikirannya kemudian melayang mengulas kembali percakapan dirinya dan Myungsoo dan berakhir ketika dia menyuruh lelaki itu menutup panggilan teleponnya karena ia sudah mengantuk.
"Kau sudah bangun?"
Satu suara berat laki-laki membuat Suzy terperanjat kaget. Kepalanya langsung menoleh dan mata bulatnya menemukan ponsel yang dicarinya itu berada diatas bantal tidurnya. Dengan gerakan cepat, Suzy meraih ponselnya.
"Masih terhubung?" Gumamnya. Saat melihat panggilan telepon Myungsoo semalam masih terus berjalan.
"Ya." Suara berat itu menjawab gumaman Suzy.
Suzy mengernyit, bahkan loudspeakers di ponselnya menyala. Mungkin saja itu tidak sengaja terpencet saat dia jatuh tertidur semalam. Diarahkannya kembali ponsel itu ke telinga setelah mematikan loudspeakers nya. "Kenapa kau tidak mematikannya?"
"Aku tertidur." Jawabnya. Memang benar, kepala nya begitu pusing semalam dan tanpa sadar ia malah tertidur. Ntah apa yang membuatnya tidur begitu nyenyak, namun ketika bangun tadi pagi Myungsoo baru menyadari kalau ia masih menelpon Suzy. Dan, ntah mengapa suara tarikan nafas yang teratur diujung sana bisa membuatnya tenang. Jadi Myungsoo memutuskan untuk tidak memutuskan panggilan itu.
"Umm.. aku juga tertidur." Kata Suzy. Kemudian keheningan hadir diantara mereka, membuat Suzy kembali bersuara. "Eung... Kalau begitu aku matikan dulu, ya?"
"Tunggu!" Myungsoo bersuara cepat. "Mengenai tugas essay itu..." Myungsoo menggantung kalimatnya, dia merasa tidak yakin mengatakan hal itu pagi-pagi begini, namun hanya ini caranya agar bisa terus berbicara dengan gadis ujung telepon.
"Astaga!" Suzy menepuk dahinya. Kemarin, setelah mengakhiri panggilan suara dengan Ellen, gadis itu hendak menelpon Myungsoo untuk mendiskusikan hukuman Mrs. Lee tapi tidak jadi karena Suzy baru ingat ia tidak memiliki nomor ponsel lelaki itu. Suzy kembali bersuara, "Kita harus mengerjakan itu secepatnya. Ellen tidak me--" Suzy mengatupkan mulutnya saat menyadari kalau ia hampir saja mengatakan pada Myungsoo soal larangan Ellen.
Myungsoo tertawa geli, sepertinya lelaki itu tahu apa yang dikatakan Ellen pada Suzy. "Ellen pasti menyuruhmu berdiri sejauh mungkin dariku."
"Ng... Begitulah." Suzy menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal, "Jadi, kapan kau bisa mulai mengerjakan essay itu?" Tanya Suzy. Berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.
"Hari ini kau bisa?" Myungsoo bertanya.
"Aku bisa." Jawabnya.
"Dimana? Rumahmu?" Tanya Myungsoo kembali.
"Ya?" Suzy membelalakan matanya. Dia sama sekali belum memikirkan jawaban atas pertanyaan Myungsoo barusan.
"Atau dirumahku?" Myungsoo bertanya lagi. Suzy bisa merasakan jika Myungsoo menyeringai disana saat mengucapkan itu. Suzy bergedik, ia tidak mengenal Myungsoo dengan baik dan tadi malam lelaki itu bahkan mabuk. Siapa yang tahu jika ternyata lelaki itu malah akan macam-macam kepadanya.
Dengan cepat ia menolak, "Tidak. Dirumahku saja." Kata Suzy.
Myungsoo mengiyakan. "Oke, aku akan kerumahmu nanti siang."
"Baiklah, alamatnya di--"
Terdengar suara tawa diujung sana, "Aku tahu alamat rumahmu, Suzy."
Yeah, tentu saja. Pikir Suzy.
Myungsoo begitu menyukai Ellen dan Ibu mereka juga bekerja di firma hukum keluarga Myungsoo, jadi tidak akan sulit mendapatkan alamat rumah ini.
***
Setengah jam kemudian Suzy turun, dengan baju santai bermotif garis-garis kecil dan celana jeans diatas lututnya. Rambut panjangnya sudah tercepol dibelakang kepala. Suzy, mendengar suara ribut-ribut yang berasal dari dapur rumah itu, lantas mengarahkan tungkainya menuju kesana.
"Ibu, Bibi." Sapanya. Kakinya bergerak mendekati kedua wanita yang sedang berkutat dengan makanan-makanan di atas meja bundar, memindahkannya kedalam storage organizer.
Han Sora menoleh, "Oh, sayang! Kau sudah bangun?"
Suzy mengangguk. "Apa ini, bu?" Tunjuknya pada semua menu makanan yang tersaji diatas meja mundar itu, "Kau mau kemana?" Tambahnya.
Han Sora menutup kotak organizer yang sudah berisi penuh bulgogi. Lalu memasukkannya kedalam totebag hitam bersama kotak lainnya, "Ini untuk dibawa Bibi Cha. Dia harus pulang untuk beberapa waktu karena anaknya baru melahirkan dan tidak ada yang membantu mengurusnya."
Suzy menoleh sedih kearah Bibi Cha, "Apakah itu akan lama?"
Han Sora tersenyum, tangannya mengusap punggung Suzy dengan lembut, "Kau takut kesepian ya di rumah?"
Suzy mengangguk.
Bibi Cha tersenyum menenangkan, "Bibi akan mengusahakan kembali kesini secepatnya, nona Suzy."
"Baiklah, Jadi kenapa putri cantik Ibu menangis?" Tanya Han Sora. Kedua manik matanya memandang Suzy dengan keingintahuan seorang Ibu.
Suzy melirik kearah Bibi Cha yang langsung mendapatkan ucapan permintaan maaf tanpa suara dari wanita tua itu. Kemudian ia mendesah, "Aku hanya pusing sedikit kemarin."
Han Sora menaikkan alisnya, "Pusing?"
Suzy menggigit bibir bawahnya pelan, lalu mengangguk. Membuat Han Sora mendesah pelan. Wanita itu tahu jika anak gadisnya ini berbohong padanya, "Sayang, kau bisa menceritakan yang sebenarnya kepada Ibu. Apakah karena Ellen?" Tanya nya.
Gadis itu tersenyum, "Tidak, Ibu. Ada sesuatu hal yang terjadi untuk pertama kalinya dalam hidupku dan aku sedikit terkejut karenanya," ucap Suzy. "Tapi aku sudah tidak apa-apa."
Han Sora menatap anaknya selama beberapa detik. Lalu, tersenyum juga, "Kau bisa meminta tolong Minho dan Soojung kalau merasa bingung akan sesuatu, sayang. Dan Ibu akan selalu mendengarkan ceritamu kapanpun kau ingin bercerita, mengerti?"
Suzy mengangguk. Dengan gerakan impulsif, gadis itu langsung memeluk sang Ibu dengan hangat. Gadis itu teringat sesuatu, "Oh ya bu, nanti siang ada temanku yang akan datang kesini."
Han Sora melepaskan pelukan itu. Menatap Suzy dengan pandangan takjub. Dirinya tahu, kalau teman yang di maksud Suzy pasti bukanlah Soojung ataupun Minho karena kedua orang itu sudah seperti keluarga disini. Selalu datang tanpa perlu izin dahulu. Dan, kenyataan bahwa ada 'teman' baru yang akan datang selain kedua anak-anak itu tentu saja membuat Han Sora tertarik. "Ibu tidak pernah mengira kata-kata seperti ini akan hadir di rumah ini." Han Sora tersenyum, "Siapa temanmu yang akan datang kemari, Sayang?"
"Umm," Suzy mengusap tengkuknya, "Sebenarnya Ibu tahu orangnya..."
Han Sora mengangkat kedua alisnya, "Benarkah?"
"Kim Myungsoo."
Han Sora tampak terkejut ketika Suzy mengucapkan satu nama yang familiar ditelinganya. "Kim Myungsoo anak dari Kim Tae Joo?"
Suzy tidak yakin siapa itu Kim Tae Joo, tapi gadis itu mengangguk membenarkan.
"Ibu fikir kau tidak berteman dengannya." Ucap Han Sora, mengingat apa yang dikatakan Suzy waktu itu.
Suzy mengernyit, "Aku memang tidak berteman dengannya. Kami hanya mengerjakan tugas kelompok saja."
Han Sora tersenyum menggoda, "Kau tadi bilang kalau temanmu akan datang."
"Eung... Maksudku teman dari Universitas, bukan teman yang dekat." Ralat Suzy. Gadis itu sedikit aneh ketika memikirkan ia dan Myungsoo berteman. Bahkan mereka berdua tidak pernah mengobrol dalam arti harfiah. Kecuali saat di airport. Itu juga sepertinya tidak bisa dikatakan mengobrol, pikir Suzy.
Han Sora tersenyum, "Ibu senang jika kau dekat dengan anaknya Pak Kim Tae Joo. Keluarga Kim begitu berjasa hingga bisa menjadikan Ibu seperti sekarang ini, Ibu berhutang budi kepada keluarga mereka."
Han Sora mengenang, setelah dirinya dan Bae Soojin resmi bercerai. Han Sora terbang ke Korea dan kembali bertemu dengan Kim Tae Joo, pengacara yang pernah bekerja sama dengan keluarga Bae. Dan pada saat itulah Kim Tae Joo mengajaknya bekerja di firma hukumnya. Sebelumnya, Han Sora memang memiliki background pendidikan hukum karena wanita itu menamatkan pendidikannya di jurusan Hukum dan sempat bekerja sebagai jaksa di salah satu pengadilan tinggi, namun Han Sora berhenti dari pekerjaannya ketika akan menikah dengan Bae Soojin. Begitulah awal mula kehidupan Han Sora hingga bisa sampai seperti sekarang.
***
Suzy mengintip dari jendela kamar ketika mendengar suara deru mobil terdengar. Dia tidak mengenali mobil milik siapa yang terus membunyikan klakson mobil dan terlibat adu mulut dengan Paman Byun selaku satpam penjaga rumah ini. Suzy menyipitkan matanya, kepala mungilnya sampai maju saat melihat sosok laki-laki yang turun dari dalam mobil hitam di depan gerbang. Walaupun sesaat Suzy tidak bisa mengenali siapa laki-laki itu karena kacamata yang dipakainya, namun saat lelaki itu melepaskan kacamata hitamnya dan menoleh kearah atas--tepatnya ke jendela kamar ini-- Suzy membelalakan matanya bulatnya. Itu Myungsoo!
Dengan cepat, Suzy langsung berlari keluar kamar, menuruni tangga dalam dua undakan langsung dan membuka pintu rumahnya. Nafasnya terengah saat gadis itu sampai di depan gerbang bagian dalam.
"Nona, kenapa anda berlari?" Paman Byun bertanya khawatir saat melihat nona -nya berlari sampai sebegitunya.
"Lelaki ini," Suzy menatap Myungsoo sesaat, kemudian kembali menatap lelaki paruh baya di sebelahnya, "Dia temanku, paman. Kau bisa membukakan pintu untuknya?"
Paman Byun nampak tidak enak hati ketika mendengar ucapan Suzy barusan. Dirinya kemudian menunduk pelan sambil meminta maaf, "Maafkan aku nona, Nyonya Han selalu memerintahkanku untuk tidak sembarang menerima tamu." Kemudian tangannya bergerak menekan tombol pada remote yang selalu berada di pegangan tangannya dan seketika pintu gerbang itu terbuka.
Suzy meringis karena sebenarnya ini bukan salah paman Byun, tetapi sepenuhnya salahnya. Tadi dia lupa berpesan kepada penjaganya itu agar membukakan pintu jika Myungsoo datang. "Gwenchana. Aku yang harusnya meminta maaf karena tidak mengatakan lebih awal tentang kedatangan temanku. Mianhae, Ahjussi."
***
"...is something that makes the thing looks different if compare with the other things--" Suzy berdeham saat menyadari tatapan yang diberikan Myungsoo kepadanya. Gadis batinnya mendesah, kata-kata yang sudah dipikirkannya tiba-tiba menguap begitu saja.
Myungsoo menaikan alisnya, "Kenapa tidak dilanjutkan?" Ia bertanya.
"Jangan menatapku seperti itu!" Ucap Suzy ketus.
"Kenapa?"
Suzy menggigit bibir bawahnya, "Itu membuatku tidak nyaman."
"Ellen selalu suka jika semua orang menatap kearahnya." Ucap Myungsoo dengan nada santai.
"Tapi aku bukan Ellen." Suzy mendesah. Dia sendiri berfikir demikian, bagaimana Ellen selalu senang jika semua orang menatap kearahnya. Sungguh berbeda dengan dirinya--yang jika bisa ia akan memilih mode invisible saat di dalam keramaian.
Myungsoo menyeringai senang, "Jadi kau sudah mengakui kalau kau bukan Ellen?"
Suzy memanyunkan bibirnya.
Kedua matanya menatap Myungsoo lamat-lamat, "Kumohon jangan beritahu siapapun tentang ini, Myungsoo. Aku hanya menggantikan Ellen sementara waktu dan jika masa trainee nya sudah selesai, kami akan kembali bertukar lagi. Uh?"
Myungsoo tercenung sesaat. "Kau akan kembali ke New York?"
Suzy mengangguk, "Tentu saja. Jadi, untuk sementara ini kumohon rahasiakan ini dari semua orang termasuk teman-temanmu, please?" Kedua tangan Suzy menyatu didepan.
Kedua manik mata mereka saling bertemu untuk beberapa detik terlewatkan. Suzy tidak tahu pemikiran apa yang sedang berkecamuk di kepala Myungsoo. Tetapi, ditatap sebegitu dalamnya oleh manik mata tajam milik Myungsoo itu membuatnya tidak bisa berpaling.
"Jadi kekasihku, ya?"
Ajakan Myungsoo itu sontak membuat kedua pupil mata Suzy membesar. Kepalanya langsung menoleh ke kanan-kiri dengan gugup, takut jika Han Sora tiba-tiba muncul dan mendengar perkataan Myungsoo. Untungnya, Suzy bisa bernafas lega saat mengetahui ruangan itu hanya ada dia dan lelaki didepannya ini. Suzy menatap Myungsoo dengan pandangan ngeri, "Kau mabuk ya?"
"Aku sadar, Suzy." Myungsoo mengernyitkan dahinya. "Dan itu adalah syaratku."
"Mwo?!"
Myungsoo mengedikkan bahunya, tangannya bergerak mengambil orange juice diatas meja lalu menyesapnya dengan santai, "Kau menjadi kekasihku sampai kau kembali lagi ke New York."
Suzy mengerutkan hidungnya, "Aku Suzy..."
"Ya, kau Suzy. Siapa bilang kau Ellen?"
Suzy menggigit bibir bawahnya. Dia sama sekali tidak pernah berkencan sebelumnya, namun dia juga tidak ingin berkencan karena hal seperti ini. Dia ingin berkencan dengan seseorang yang memang melihatnya, bukan karena main-main atau karena melihat wajahnya yang sama seperti kembarannya. Suzy menarik nafasnya, "Kau tidak bisa mengajak berkencan seseorang hanya karena dia mirip dengan orang yang kau sukai..."
Myungsoo menautkan kedua tangannya diatas paha, "Aku tidak mengajakmu berkencan karena wajahmu yang mirip dengan siapapun, Suzy." tubuhnya condong ke depan menatap Suzy dalam-dalam lalu kembali melanjutkan, "Bagaimana? Kau setuju?"
"Persyaratanmu itu tidak mungkin." Suzy mengeluh. Mana mungkin ia menyetujui persyaratan itu. Ellen akan mengamuk padanya, belum lagi citra Ellen di Universitas akan rusak dan saudaranya itu akan di cap sebagai tukang selingkuh. Belum lagi Soojung pasti akan mengutuknya sama seperti yang Ellen lakukan jika sampai itu terjadi.
"Kau tidak perlu sampai mengerutkan keningmu begini." Ucap Myungsoo. Tiba-tiba saja Suzy merasakan ada tangan hangat yang menyentuh dahi nya. Suzy mengerjap dua kali. Myungsoo kembali melanjutkan, "Hubungan kita akan dirahasiakan dari Jung Soojung dan juga Choi Minho. Jadi kau bisa tenang karena Ellen akan terus berpacaran dengan kekasihnya itu di mata teman Universitas. Bagaimana?"
Suzy memandang Myungsoo selama tiga detik kemudian bertanya, "Kau bisa memegang janjimu, kan?"
"Tentu saja, Aku seorang pria."
Kedua kelopak mata Suzy terpejam sebentar, ini pilihan yang tidak mudah. Namun jika dia menolak, Suzy sama sekali tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan Suzy harus sebisa mungkin membantu Ellen.
Tenanglah, Suzy. Hanya untuk beberapa bulan ini saja. Kau pasti bisa, gadis batinnya menyemangati.
"Baik, aku setuju."
Satu jawaban yang membuat Myungsoo tidak bisa untuk tidak menyeringai lebar.
***
An: Gilaaaa cepet banget. Haha! sehari 2x update dah kaya minum obat aja:')
ayook pada komen dan vote yaaah aku tunggu loh. Semakin banyak feedback dari kalian yang masuk, semakin buatku semangat buat ngetik loh! Kalian harus tau kalo sweet comment dan vote dari readers itu sangat memengaruhi para author buat melanjutkan cerita2 nya ^^
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co