8. Rooftop
Note #04 : If a girl walks in looking better than you. Hate them. - Ellen
---
"Mwoya..." Gumam Suzy saat membaca sticker note yang diberikan Ellen kepadanya. Diremasnya kertas itu hingga membentuk serupa bola, lalu dengan gerakan penuh perhitungan kertas yang semula berada di genggaman nya itu beralih tempat ke kotak sampah.
Ellen is something. Pikirnya. Ia masih tidak habis pikir apa hubungannya membenci gadis lain yang terlihat lebih cantik dari kita?
Sebelumnya, Soojung juga pernah menggerutu kesal dan melirik dengan pandangan sinis kearah sekelompok gadis yang berjalan melewati mereka waktu itu. Ia tidak mengingat wajah-wajah mereka, namun Suzy tahu dengan jelas bahwa style mereka sama seperti Ellen dan Soojung. Hanya saja, jika Ellen ataupun Soojung lebih memilih mengecat rambut mereka dengan warna coklat gelap, kelompok gadis-gadis itu memiliki rambut yang sama pirang antara satu dan yang lain.
Ringtone ponsel miliknya yang berbunyi membuat Suzy mengalihkan pandangannya pada ponsel yang tergeletak diatas meja persegi di dekat jendela.
Satu pesan dari Mila.
Suzy dengan segera membuka pesan itu.
From: Mila
Suzy, kembalilah! Aku tidak tahan dengan ulah saudaramu Ellen. Dia selalu ke bar dan berakhir dengan menelponku saat mabuk. Dan Oh tuhan! Kau tau apa?
Suzy mengernyit ketika tidak menemukan lanjutan dari pesan text yang di kirimi Mila. Dengan segera ia mengetikan balasan.
Apa itu?
Selang satu menit, ponselnya kembali bersuara. Suzy membukanya.
From: Mila
Barbara wants her to be part of their group. But, Ellen ignores her.
Suzy terkejut membaca kalimat pertamanya, namun tidak untuk kalimat terakhir Mila. Dia sudah memprediksi Ellen akan menolak tawaran tersebut sejak membaca sticker note itu. Ellen dan Soojung adalah spotlight, dan tentu saja mereka tidak suka ketika melihat seseorang yang lebih dari mereka. Dan, untuk alasan Ellen menolak tawaran barbara itu, Suzy tahu dengan jelas kalau Ellen tidak menyukai jenis pertemanan yang seperti hirarki kekuasaan begitu. Bagaimana Suzy bisa mengetahuinya? Mudah saja, karena dia adalah saudara kembar Ellen.
***
Suzy mencium kedua pipi Han Sora secara bergantian kemudian pamit. Diambilnya kunci mobil diatas meja yang berada di samping televisi berlayar datar di ruang tamu. Ia lantas berjalan menuju pintu depan. Suzy menuruni undakan tangga yang menghubungkan pintu utama dan carport dan saat itulah matanya melihat satu mobil yang sudah terparkir nyaman di belakang mobil Ellen. Si pemilik mobil itu melambaikan tangan kearahnya sambil tersenyum.
"Selamat pagi." Ia menyapa.
"Umm... Pagi." Balas Suzy. Kedua manik mata itu masih saja menatap keheranan pada laki-laki didepannya. Membuat laki-laki itu terkekeh pelan. "Kau kenapa?"
"Seharusnya aku yang bertanya," Suzy menyipitkan mata, "Kau kenapa?" Lanjutnya.
Pertanyaan Suzy lantas membuat kening si laki-laki itu berkerut sambil menjawab, "Aku tidak pa-pa. Memangnya aku kenapa?"
Suzy menaikan bahu, "Kenapa kau kemari, Minho?" Tanya nya kemudian. Matanya masih menatap laki-laki berpostur tinggi dengan kemeja bewarna dongker itu secara menyeluruh. Satu-satu nya laki-laki yang membuat Ellen jatuh cinta setengah mati. Jika boleh jujur, Suzy akan mengakui jika Ellen tidak salah memilih teman laki-laki. Dan Suzy bersyukur karena laki-laki pilihan saudara kembarnya itu terlihat sangat menyayangi Ellen.
"Aku menyusulmu." Jawab Minho singkat, tentu saja tidak lupa dengan senyuman nya. "Ayo." Kemudian Minho menarik Suzy untuk masuk kedalam mobilnya.
Tidak membutuhkan waktu lama sampai mobil Minho berbaur dengan mobil-mobil lain di jalan raya. Ini adalah kali pertama sejak kedatangannya ke Seoul duduk semobil dengan Minho. Biasanya, selalu ada Soojung--tapi, hari ini Soojung membawa mobilnya sendiri-- ataupun Suzy membawa mobil sendiri. Suara penyiar radio mengiringi perjalan mereka menuju Universitas.
"Aku dengar dari Ellen kemarin lusa kau menangis?" Minho melirik Suzy melalui ekor mata.
Dalam hatinya, Suzy menggerutu. Apakah harus Ellen menceritakan hal memalukan itu pada orang-orang disekitarnya? Dengan canggung, ia mengangguk. "Um...ya."
Minho mendesah ditempatnya, "Maafkan Ellen, Suzy. Aku biasanya membantunya mengerjakan Essay, tapi saat itu memang kami bertiga sibuk menyiapkan audisi Ellen."
Suzy menggeleng pelan, "Tidak apa-apa, Minho. Itu juga sudah berlalu dan--" belum sempat Suzy melengkapi kalimatnya, Minho menyela, "Dan kau di minta Mrs. Lee mengerjakan essay itu bersama Kim Myungsoo."
Suzy mengangguk.
"Kau percaya laki-laki itu tidak mengerjakan essay nya?" Minho kembali menoleh kearah gadis itu, dan melihat Suzy menatapnya dengan pandangan bingung, "Maksudmu?"
"Myungsoo itu pintar, Suzy. Ya, walaupun dia memiliki sifat yang berbanding terbalik. Tapi untuk urusan akademik dan non-akademik, dia lumayan juga." Kata Minho. Kepalanya kembali menoleh ke jalan raya. "Aku mengakui hal itu, terlepas dari sikapnya yang sombong dan selalu mengejar-ngejar kekasihku."
Suzy terdiam. Fakta bahwa Myungsoo seorang yang pintar sebenarnya memang sudah diketahui Suzy dari Ellen. Tapi, apakah benar Myungsoo berpura-pura tidak mengerjakan essay itu? Kalau saja dirinya Ellen, mungkin Suzy tahu apa motivasi laki-laki itu berpura-pura. Tetapi, dia adalah Bae Suzy. Jadi, Apa motivasi laki-laki itu?
Pikiran Suzy terus berkelana hingga tidak sadar jika mobil yang dikendarai Minho sudah sampai di universitas mereka. Minho turun dan berjalan memutari mobilnya, membukakan pintu untuk Suzy, "Kau mau didalam saja, atau mau keluar?" Minho bertanya dengan tersenyum.
Susy tersentak, matanya melihat kedepan dan menyadari jika mereka sudah berada di gedung parkir. Ia meringis, "Aku pasti melamun." Ucapnya seraya turun dari dalam mobil.
Minho menutup pintu mobil itu, lalu tangan kanannya terulur kedepan gadis itu. Suzy menatap bingung, "Apa?"
"Ellen bilang aku harus menggandengmu supaya kau tidak salah jalan dan diculik."
Suzy mengerutkan dahi, "Apa maksudnya?"
"Sepertinya Ellen mencurigai kalau Myungsoo berniat mendekatimu."
Deg... Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang.
Suzy berdeham sekali, "K-kenapa bisa?"
Minho menatap gadis didepannya, "Aku menceritakan kejadian di loker tempo hari, dan juga Ellen bilang kalau lelaki itu menelponnya juga. Bukankah kau ada disana saat dia menelpon?"
Suzy menghela napas lega. Setidaknya Ellen tidak tahu akan perjanjiannya dengan Myungsoo kemarin. "Oh that."
Minho mengangguk. "Dengar Suzy, jika Myungsoo mengganggumu. Katakan padaku, janji?"
"Baiklah, aku akan mengatakan pada kalian jika Myungsoo menggangguku."
Keduanya lantas berjalan keluar area parkir. Suzy melirik pergelangan tangannya yang dipegang oleh Minho sambil berfikir dengan bingung. "Minho, apa kau menggandeng Ellen seperti ini?" Ucap Suzy sambil mengangkat tangannya.
Minho melirik sebentar, "Tidak. Hanya saja Ellen bilang untuk tidak boleh menautkan jemari kita."
Oh tuhan! Suzy merasa Choi Minho sudah menjadi budak cinta seorang Bae Ellen. Selalu menuruti apa yang dikatakan Ellen dan tidak pernah membuat Ellen cemburu. Benar-benar tipe lelaki baik, pikirnya. Suzy tidak menjawab hanya mengangguk mengerti. Matanya tanpa sengaja melirik kearah barat dan pada saat itulah dia melihat sekelompok anak laki-laki sedang berkumpul dalam satu meja, duduk. Beberapa anak tampak menghisap rokok ditangannya dan...
Dan ada Myungsoo disana.
Jantungnya berdetak keras ketika melihat tatapan tajam lelaki itu ternyata sedang ditunjukan kepadanya. Dengan refleks, Suzy melepaskan genggaman tangan Minho dipergelangannya. Membuat laki-laki disampingnya menoleh heran, "Ada apa, Suzy?"
"Oh?" Suzy menoleh. Kemudian tersenyum kaku, "Tidak... Aku hanya..." Suzy mencari alasan yang tepat, "Aku ingin mengambil ponselku di tas." Ucapnya, lalu buru-buru membuka resleting shoulder bag hitamnya.
Suzy sendiri bingung kenapa dia tiba-tiba menarik tangannya menjauh ketika menyadari kalau Myungsoo sedang menatapnya. Tapi, ada perasaan aneh dan membuatnya terintimidasi oleh tatapan tajam Myungsoo kepadanya dan Suzy tidak tahu apa penyebabnya.
***
"Dasar norak."
Myungsoo melirik Kai yang tiba-tiba berucap seperti itu. "Kau kenapa?"
"Lihatlah Choi Minho itu." Tunjuk Kai menggunakan dagunya. Myungsoo dan Max mengikuti arah pandang temannya. "Dia pikir mereka akan melakukan penyebrangan jalan, eh?" Ejeknya.
Myungsoo menatap tajam kedua orang yang sedang berjalan bersisian yang tampaknya sedang mengobrol sesuatu hal. Matanya melirik kearah tangan Suzy dan mengernyit tidak suka saat melihat Minho menyentuhnya.
"Mungkin Minho ingin semua orang tahu kalau Ellen itu punya dia." Ucap Max.
"Dan semua orang sudah tahu hal itu, Max." Kai menjawab dengan nada sarkas. "Lagian, mereka juga tidak terpengaruh kalau Ellen milik si tukang robot itu, bukan? Ellen tetap disukai dan memiliki banyak pengagum. Termasuk teman kita ini." Kai melirik kearah Myungsoo.
"Yeah, fakta bahwa Ellen terlihat semakin cantik saat rambutnya bewarna hitam seperti sekarang ini memang seharusnya membuat si tukang robot itu waspada..." Gumam Max.
"Tapi menurutku Soojung lah yang tercantik."
Myungsoo dan Max menoleh bersamaan kearah Kai dengan pandangan mencela mereka. Lalu, Max bersuara, "Kalau menurutmu Soojung yang tercantik, Kau tidak akan mencium salah satu anggota dari kelompok pirang itu saat statusmu masih menjadi kekasihnya."
"Dan membuat Soojung memandangmu dengan penuh kebencian seperti sekarang." Myungsoo menambahkan.
Kai menghela napas.
***
From: L
Temui aku diatap fakultas. Sekarang.
"Dari siapa?" Soojung bertanya. Tubuhnya mencondong kearah Suzy mencoba untuk mencuri baca pesan masuk itu, namun dengan sigap Suzy langsung mematikan layar ponselnya.
"Umm... Seorang teman." Jawab Suzy dengan cepat.
Soojung menaikkan kedua alisnya, "Siapa?"
Tangan Suzy lantas mengambil gelas lemon tea nya, kemudian menyesapnya hingga setengah. Suzy berdeham, "Kau tidak kenal. Dia temanku di New York."
Soojung menjentikan jarinya, "Ah! Mila?"
"Bagaimana kau tau soal Mila?" Suzy merespon. Seingatnya, dia tidak pernah membicarakan soal sahabatnya itu ke Soojung.
Soojung mengibaskan rambutnya kebelakang, "Tentu saja dari Ellen. Ellen bilang dia beruntung karena bertemu orang seperti Mila, penurut dan dapat diandalkan." Gadis itu lalu mendelik kearah Suzy. "Ku katakan aku juga beruntung punya teman sepertimu, Suzy. Dan Ellen marah-marah."
Suzy tersenyum mendengarnya. Persahabatan Ellen dan Soojung adalah yang terbaik menurutnya. Saling mencela dan mengumpat kasar, namun begitu setia kawan. Dan Suzy merasa senang karena hidup Ellen bahagia di Seoul. Gadis itu kemudian berdiri, membuat Soojung bertanya, "Sudah ingin pulang?"
"Oh? T-tidak. Aku..." Suzy berfikir apa alasan yang tepat supaya Ellen percaya padanya. Setelah menemukan alasan itu, Suzy segera berucap, "Aku mau ke toilet."
"Arraso, ayo kutemani." Jawab Soojung. Gadis itu hendak berdiri, tapi Suzy buru-buru mencegahnya. "Tidak usah. Kau disini saja, nanti Minho menyusul kesini katanya. Aku tidak akan lama, Soojung-ah."
Soojung menggerakkan bahunya, "Baiklah. Hubungi aku jika kau bertemu Kim Myungsoo dan teman-temannya."
Dengan cepat Suzy mengangguk.
***
Menaiki undakan tangga di Universitas ini cukup menguras tenaganya. Suzy dalam hati mengumpat, kenapa lelaki itu harus mengajaknya bertemu di tempat tinggi seperti ini, ditempat yang harus menaiki lantai demi lantai untuk mencapai atap. Setelah tangga ke tiga yang dinaikinya, Suzy segera menjalankan tungkainya menuju koridor paling ujung. Disana ada tangga yang akan membawanya sampai di gedung paling atas. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum kembali melangkahkan kakinya menaiki satu per satu undakan tangga.
Kedua mata Suzy otomatis menyipit ketika sinar matahari menyilaukan matanya. Suzy menatap kesekeliling dan tidak menemukan siapa-siapa.
"Myungsoo?" Panggil Suzy, ia menjalankan tungkainya perlahan menuju bagian timur. Kepalanya menoleh mencari sosok yang tadi menyuruhnya datang kemari, namun hingga kakinya sampai diujung gadis itu tidak menemukan apa-apa. Hanya tumpukan meja dan kursi.
Suzy mendengus. Kalau saja lelaki itu sampai mengerjainya, ia bertaruh akan memberi Myungsoo pelajaran. Diputarnya tubuh itu kembali menuju ujung satunya, dengan kembali memanggil laki-laki bermarga kim itu, "Myungsoo?"
Tetap tidak ada jawaban. Suzy mulai kesal, pikiran buruk mulai menyelimuti otaknya. Bodohnya dia kenapa tadi langsung menurut saja saat Myungsoo menyuruhnya kesini. Dengan sedikit menggerutu, Suzy tetap melanjutkan jalannya hingga ujung tembok. Jika sampai disana dia masih tidak menemukan Myungsoo, Suzy bersumpah akan marah kepada laki-laki itu.
Kakinya hampir membawanya hingga keujung, dan sampai saat ini tidak menemukan tanda-tanda sekecil apapun akan dimana laki-laki itu berada. "Yya, Kim Myungsoo kau di--" ucapannya terhenti kala mendapati sepatu yang menyembul ditempat paling ujung.
Suzy mendekat. Dan pada saat itulah ia menemukan seseorang yang dicarinya itu sedang duduk bersandar pada tembok ber-cat putih dengan berselonjor kaki. Kedua mata tajam itu tidak melihat Suzy karena terpejam. Namun, Suzy bisa melihat jika dahi Myungsoo sedikit berkerut kala sinar matahari menyinari nya. Gadis itu bergerak ke sisi samping kemudian berlutut, diulurkannya kedua tangan kedepan wajah Myungsoo mencoba menghalangi sinar matahari agar tidak mengganggu lelaki yang sedang tidur itu.
"Kau menyuruhku datang, tetapi kau malah tidur..." Gumam Suzy.
---
Myungsoo mengamati gadis yang berlutut didepannya dengan pandangan tak terbaca. Sepuluh menit sudah berlalu saat ia menatap Suzy yang kini memejamkan matanya dalam diam. Myungsoo tidak menyadari jika tadi dia jatuh tertidur ketika menunggu gadis ini datang. Dalam hati ia mengira-ngira sudah berapa lama kah kedua kedua tangan Suzy seperti itu?
Pandangannya meredup penuh kerinduan dengan tangan kanannya yang berada dalam saku celana bergerak meremas apa yang ada didalamnya. Baru saja Myungsoo hendak mengeluarkan apapun yang berada didalam saku celananya saat dengan gerakan tiba-tiba tubuh Suzy luruh mengikuti gaya gravitasi dan jatuh kepelukannya.
Jantungnya berdebar kencang. Membuat Myungsoo mebelalakan kedua matanya tak percaya. Suzy bukan gadis pertama yang berada dalam pelukannya, tapi dia tidak tahu mengapa reaksi seperti ini yang muncul dalam dirinya?
"Eung..."
Suara Suzy membuatnya kembali ke dunia nyata. Kedua manik matanya kemudian bertemu dengan manik mata Suzy.
Jantung Suzy hampir lepas ketika menyadari posisinya sekarang, dengan panik Suzy berkata, "Oh, tuhan!" Sambil mencoba menjauhkan diri dari tubuh Myungsoo yang ditimpahnya.
Namun sayang sekali gagal karena kedua tangan Myungsoo menahan lengannya. Menahan Suzy dalam posisi yang sama seperti sebelumnya.
Jika tatapan bisa membuat orang tidak sadarkan diri, mungkin Suzy sudah pingsan sekarang. Suzy menelan salivanya dengan gugup, dia tidak pernah berjarak sedekat ini dengan laki-laki. Oh tuhan!
Suzy bisa melihat kedua manik mata hitam Myungsoo meredup saat mata itu menatap kearah bibirnya, Membuatnya menggigit bibir bawahnya gugup.
Dan ketika Suzy merasakan kepala Myungsoo semakin mendekat kearahnya, Suzy seketika menutup matanya. Dia belum pernah melakukan hal ini sebelumnya. Dan jika benar lelaki itu akan menciumnya, apa yang harusnya ia perbuat?
Helaan nafas Myungsoo semakin terasa dan Suzy tahu bahwa bibir Myungsoo dan bibirnya tinggal berjarak seujung jari saja. Tepat pada saat Myungsoo akan menciumnya, suara ponsel Suzy berbunyi.
Suzy menjauhkan tubuhnya dengan canggung dan segera mengambil ponselnya.
"Oh, Soojung?"
***
Vote and comment. Thx:)
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co