Truyen3h.Co

Statue Love

11. Rasa

nanayyyg_

Cahaya lampu yang benderang berhasil menelisik netra pandangnya, membuatnya merasa risih membuka kedua mata. Seingatnya ia baru tidur jam 4 pagi, tapi apa-apaan ini, seorang berhasil menganggu tidurnya, sungguh rasanya sangat menyebalkan.

Ia bergumam, merasa risih "Rin... Ck. Matiin dulu lampunya, gua masih ngantuk."

Sang gadis tak menjawab ia membiarkan lelaki itu untuk tidur beberapa menit lagi. Hatinya merasa tak enak ketika tahu beberapa terakhir ini jam tidur Arzen sangat tidak bagus, namun ia tak bisa membantu apa-apa Arzen selalu sibuk mengerjakan tugasnya bahkan semua itu berhasil membuat mata Arzen memiliki lingkaran hitam dan kantung mata yang cukup besar.

Dengan penuh inisiatif, Katharina mengambil handphone nya dengan penuh hati-hati, membuka sebuah video tentang tata cara memasak, ah ia bahkan mengetahui cara mencari video ini dari Haikal dan Raihan, mereka banyak mengajarkan Katharina hal baru.

Gadis itu mengambil dua bungkus mie dan juga telur, ah tak lupa ada juga beberapa sayuran didalam kulkas. Hanya itu yang ada didalam rumah ini, jadi mau tak mau lagi-lagi ia harus makan mie, padahal sudah tak terhitung dalam seminggu ini berapa kali ia makan mie instan. "Tak apa, yang penting adalah makan untuk bertahan hidup," Ujarnya meyakinkan diri.

"Tata cara masak mie rebus untuk suami tersayang," Ejanya membaca judul pada video tersebut. "Astaga jangan yang ini, Zeno bukan suamiku, "

"Tata cara masak mie rebus ter-enak mantap pol," Ejanya kembali. "Sepertinya yang satu ini cocok." Satu jarinya menyentuh tombol play yang tertera pada layar, mengikuti setiap tata cara dengan penuh konsentrasi.

'Masukan dua buah telur, kemudian tambahkan sedikit garam agar menambah rasa gurih,' Semua yang dilakukan dalam video ia ikuti, tanpa ada yang ketinggalan sedikit pun.

"Wah sepertinya aku sangat bertalenta, aku bisa menjadi juru masak yang hebat seperti mang Atuy!" Sahutnya bangga pada diri sendiri.

Dua buah mangkuk mie rebus yang dibuat dengan penuh rasa oleh Katharina akhirnya jadi. Ia menaruh dua mangkuk itu tepat didepan meja sofa, kemudian membangunkan Arzeno yang masih tidur.

Perlahan tapi pasti ia menggerakan bahu Zeno, memainkan wajah lelaki itu dengan jarinya. "Zeno ayo bangun, ini sudah pagi, ah bahkan sepertinya menjelang ke siang hari."

"Jangan ganggu dulu Rin... gua masih ngantuk,"

"Tapi sekarang sudah jam sepuluh Zeno, kamu mau tidur sampai jam berapa? Zeno ayo bangun, Zenoooo!"

Lelaki itu mendudukkan dirinya merasa gusar, mengacak rambut mengusak mata agar netra pandangnya lebih jelas. "Lihat aku sudah buatkan kamu sarapan."

Sontak lelaki itu membesarkan matanya, melihat keadaan dapur yang kali saja sudah hancur kebakaran karena ulah Katharina. "Lo nyalain kompor? Kebakaran gak?!"

"Astaga aku tidak sebodoh itu, tentu tidak Zeno. Lihat aku sudah menjadi juru masak yang handal, aku mengikuti cara yang ada di Hanapon tadi untuk masak ini."

"Mie rebus?"

Gadis itu menganggukan kepalanya. "Ayo kita makan bersama," Ujarnya memberikan satu sendok kepada Zeno yang masih setengah sadar.

Setelah izin untuk membasuh mukanya dengan air terlebih dahulu, Arzeno kembali ketempat nya, melihat wajah Katharina yang tak sabaran untuk makan bersama. Lucu kaya anak kecil.

"Kamu makan terlebih dulu Zeno,"

Lelaki itu mengangguk, menyendok mie rebus hangat yang terlihat memiliki penampilan cukup buruk, namun walaupun begitu ia tetap berusaha positive thinking bahwa rasanya tak seburuk penampilan.

"Bagaimana Zeno? apa rasanya enak?" Dijawab dengan anggukan oleh Zeno.

"Iya enak,"

"Ah baiklah kalau begitu aku juga akan makan!"

"Eh-eh gak usah," Usahanya berusaha menghentikan Katharina. "Gimana kalau gua buatin Lo mie juga, biar adil."

"Lalu yang punyaku bagaimana?" Bingungnya. "Aku sudah membuat dua untuk kita,"

"Punya Lo gua aja yang makan, soalnya ini enak banget." Ia tersenyum kembali menyeruput mie yang dibuat Katharina.

Dengan senyuman lebar nya Katharina merasa bahagia, ternyata benar adanya bahwa dia juru masak yang handal, begitu pikirnya. "Zeno baiklah kamu boleh mengambil punya ku, aku bahagia jika kamu suka masakan ini,"

Zeno tertawa mengacak rambut Katharina. "Sebentar ya gua buatin mie untuk Lo, gak lama kok,"

Gadis itu mengangguk riang, "Baiklah Zeno! Aku akan menunggu,"

Dengan cekatan Arzeno segera membuat mie untuk Katharina, dengan tambahan potongan sosis dan juga telur, mau bagaimana pun Arzeno tak mau jika Katharina nantinya sakit perut akibat makan mie rebus asin buatan gadis itu sendiri. Maaf tapi gua hargain effort Lo yang udah mau buat mie rebus untuk gua Rin. Bukannya gua bohong tapi setidaknya Lo gak merasa kecewa.

"Nih ayo sekarang kita makan," Ujarnya membawa mangkuk mie untuk Katharina.

"Terimakasih banyak Zeno! Ini terlihat sangat enak! Aku akan mencobanya." Semangat gadis itu mencicipi mie buatan Zeno. Dan benar saja mata gadis itu berbinar dengan rasa lezat yang mungkin sangat jauh berbeda dengan buatannya. "Zeno ini sangat enak!"

"Iya-iya punya Lo juga enak," Balasnya ikut makan bersama.

Mata gadis itu memandangi betapa lahapnya Arzeno memakan mie buatannya, namun disisi lain ia juga berbinar karena kesedihan, kesedihan yang terjadi karena sempat ia cicipi rasa masakannya ketika Zeno tengah sibuk di dapur. Ia sadar betapa buruk rasa masakan miliknya, namun ia tetap diam memperhatikan  baiknya sikap Arzeno menyembunyikan itu semua agar ia bahagia.

Zeno bahkan tak perlu berbohong jika memang masakan milikku terlalu asin, tapi aku paham pasti lelaki itu merasa tak enak jika berkata langsung, dan takut membuatku sedih. Zeno kamu lelaki yang baik, kamu masih sama seperti dulu.

"Nanti mau ikut ke kampus?" Tanya lelaki itu tiba-tiba.

"Apa boleh?"

Arzeno menganggukan kepala, karena ia tahu Katharina pasti merasa bosan dirumah seharian, seorang diri dan bahkan tak punya teman lainnya, jika gadis itu ikut ke kampus setidaknya ia bisa bertemu mang Atuy, dan berbincang disana.

Sempat Arzeno merasa bingung, kenapa gadis ini cepat sekali akrab dengan orang-orang? Seperti kemarin akrab dengan Raihan dan Haikal, begitupun dengan mang Atuy, ah sepertinya gadis itu pandai bersosialisasi.

"Boleh. Setelah kampus nanti kita cari nenek yang kasih gua kalung itu,"

"Baiklah aku ikut,"

-Statue Love-

Bersamaan dengan semilir angin yang berhembus kencang, surai Katharina yang indah beterbangan membuat wajah cerahnya kian terlihat makin jelas. Langkah jenjang gadis itu melangkah beriringan dengan milik Arzeno yang ada disampingnya.

Berbeda dengan hari pertama kali ia datang kekampus ini, ia sudah bersiap sedia dengan benda bernama handphone ditangannya, menyiapkan kata-kata jika ada orang yang meminta nomor handphone nya nanti. "Zeno aku sudah memiliki Hanapon, kalau begitu apa boleh aku memberikan nomorku jika ada yang meminta?" Tanya gadis itu.

"Enggak. Jangan dikasih."

"Kenapa?"

"Mereka yang minta nomor Lo tuh orang-orang nakal, mereka gak baik, jadi jangan dikasih,"

Walaupun ada rasa sedikit sedih tapi gadis itu mengangguk paham. "Baiklah kalau begitu, bagaimana kalau mang Atuy?"

"Mang Atuy boleh,"

"Yey, baiklah Zeno."

"Lo dikantin mang Atuy ya, gua mau ke kelas sekarang, tau kan tempatnya?" tanya lelaki itu memastikan.

"Iya aku masih ingat tempatnya, tenang saja."

"Yaudah, hati-hati."

Katharina tersenyum manis, kembali melangkah menuju kios milik mang Atuy, ah rasanya ia rindu dengan cita rasa masakan mang Atuy yang sudah berhari-hari ia tak coba. "Mang Atuy!" Panggilnya sedikit keras.

"Eh Neng Ririn, udah lama Mang gak liat kemana aja,"

"Aku tidak kemana-mana Mang, hanya di dalam rumah, dan akhir-akhir ini banyak menonton film bagus."

"Wah bagus deh, yang penting neng happy ya neng. "

"Iya Mang Atuy, Oh iya Mang aku perlu bantuan."

Mang Atuy merasa kebingungan. "Bantuan apa Neng?"

"Maukah mang Atuy mengajarkan aku menjadi juru masak yang hebat?"

Yang ditanya tersenyum. "Tentu Neng, gampang kalau urusan itu. Ayo Mamang ajarin masak Nasi goreng mantap."

Ia tertawa kesenangan, segera mengikuti Mang Atuy kedalam dapurnya, walaupun tak terlihat besar tapi tetap saja dapur ini menjadi saksi bisu setiap masakan enak yang dibuat Mang Atuy.

-Statue Love-

Di dalam studio banyak sekali mahasiswa arsitektur yang tengah sibuk mengerjakan maket atau, biasa dikenal sebagai model sebuah bangunan dalam bentuk yang lebih kecil. Mereka berkerumun sesuai dengan kelompok masing-masing, dan disini Arzeno bersama dengan Alya teman sekelompok nya.

"Zeno, menurut Lo ada yang kurang gak?"

"Udah enggak Al, Ini udah bagus."

Alya nampak khawatir dengan kerjanya, sebenarnya ia lebih takut jika kerjaanya dapat mengurangi nilai milik Arzeno. "Astaga Zen gue takut banget kalau nanti kurangin nilai Lo."

"Kenapa takut, ini kerja kelompok, semuanya ditanggung bareng-bareng."

"Iya tapi kan... duh gimana ya... Lo kan kaya udah terkenal pinter, bahkan revisian aja jarang jadi kaya udah perfect banget."

Arzeno yang mendengarnya malah tertawa. "Enggak, gak se-sempurna itu Alya, udah yakin aja, ini maketnya udah bagus, sesuai sketsa juga, Lo gak perlu takut,"

"Huhu Arzen okedeh, gue gak takut." Alya tersenyum di depan Arzen, menampilkan senyuman manis yang bahkan tiba-tiba membuat jantung Arzeno kalangkabut tak jelas.

"Lo lucu ya kalau ketawa matanya ilang,"

"He! Lo lagi ngomongin diri sendiri ya? Mata Lo juga ilang tau Zen kalau lagi senyum, tapi gapapa ganteng kok."

Deg.

Kupu-kupu seakan terbang memenuhi perut lelaki itu, astaga perasaan aneh apa yang ia rasakan kali ini. "Lucu banget sih muka Lo jadi merah gitu Zen,"

"H-ha? Enggak kok, mana ada, enggak. " Bantahannya malah membuat Alya tertawa besar, membuat sekeliling yang tadinya ramai dengan kesibukan mereka sendiri malah jadi teralihkan semua pandangannya ke Alya.

"Ngakak banget. Muka Lo merah, terus marah-marah kaya anak kecil. Lucu Arzen,"

"Alya jangan ketawa, suara Lo kenceng banget anjrit, menggelegar." Sahut seorang mahasiswa lainnya.

"Eh sorry-sorry," Pinta maafnya kepada yang lain.

"Alya Lo rada aneh ya," Gumam Arzeno.

"Hahaha gapapa aneh, yang penting gue jadi diri gue sendiri Zen."

"Iya bener."

"Eh tapi btw rumor Lo tinggal sendirian itu bener ya? eh maaf gue kayanya kelewat batas..."

Arzen menggelengkan kepalanya. "Gapapaa, udah banyak yang tau juga. Gua tinggal sendirian,"

"Ortu Lo?"

"Udah meninggal pas gua kecil,"

"Ah Arzeno maaf banget gue gak tau, maaf pertanyaan gue kelewatan,"

"Santai Al,"

"Zen kalau butuh bantuan Lo bisa cari gue ya, Lo gak sendirian kok, ya walaupun gue gak bisa bantu banyak,"

Ia menatap kagum kearah Alya, ia tahu benar bahwa Alya bahkan bukan dari keluarga yang kaya, bahkan ia masuk kuliah pun karena beasiswa yang gadis itu dapatkan. Banyak juga rumor yang mengatakan bahwa Alya rajin bekerja untuk membayar pengobatan ibunya yang sakit.

Dalam diam dengan hati yang tulus Arzeno sadar bahwa dirinya kagum kepada gadis didepannya saat ini. "Lo juga bisa cari gua Al kalau lagi butuh apa-apa,"

Gadis itu tersenyum saat Arzeno menatap nya begitu tulus. "Iya Arzen, Makasih banyak ya, Ternyata yang orang-orang bilang kalau Lo dingin itu salah, Lo itu bahkan lebih baik daripada yang gue kira, keren Zen."

Tak henti-hentinya hati Arzeno ditaruhi berbagai bunga oleh Alya. Perasaan ini baru pertama kali ia rasakan. Iya benar, Arzeno tengah jatuh cinta.

-Statue Love-

belajar masak dengan mang Atuy

Zeno pilih yang mana~

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co