12. Bertemu
Setelah Arzeno menyelesaikan benar urusan dikampus nya, ia mengak Katharina pergi mencari nenek yang tempo hari memberinya kalung aneh ini, kalung yang mempertemukan nya dengan gadis yang juga aneh.
Ramai hiruk-pikuk dihari Jumat cukup membuat hawa terasa gersang, ditambah matahari yang masih bersinar cerah tepat diatas kepala. Arzeno yang mengenakan jaket denim Levis segera membuka nya, membiarkan jaket tersebut berada di kepala Katharina agar tak merasa kepanasan. "Yak Zeno, bajumu kenapa diatas kepalaku?"
"Gerah gua pake itu. Pegang, taruh diatas kepala, jangan dilepas,"
"Ck. Tapi ini merusak tatanan rambut ku,"
"Diem jangan berisik." Dengan begitu Katharina sudah tak bisa berkata-kata. Percayalah jika kalian dapat mendengar secara langsung, suara Zeno sangat terdengar dingin ditambah lagi dengan deep voice lelaki itu.
Dengan tangan mungilnya Katharina berpegangan pada kaos putih yang dipakai Arzeno, berusaha terus mengikuti langkah besarnya agar tak tertinggal seperti beberapa hari lalu.
Ketika bus datang dengan segera Arzeno menuntun gadis itu mencari tempat duduk yang tersedia. Namun sayangnya, terlihat jelas bahwa hanya tersisah satu tempat duduk disana, ia menarik tangan sang gadis mendudukannya di bangku tersebut.
"Biarkan aku berdiri saja Zeno," Bantahnya berusaha berdiri namun pundaknya kembali diturunkan agar duduk dengan rapih.
"Duduk aja diem."
"Tapi nanti—"
"Duduk."
"Galak."
"Diem."
"Wle," Meletnya kepada Arzeno.
Bus berjalan melewati banyak halte, dan bagian yang paling Katharina suka adalah ketika ia bisa memperhatikan banyaknya gedung besar dijalan itu, sedikit terasa Dejavu baginya, tapi langit di siang hari kini terlihat sangat biru cerah, terik dengan sinar yang panas. "Apa bisa kami menemukan nenek itu?" Gumamnya seorang diri namun masih dapat didengar Arzeno.
"Bisa," Jawab lelaki itu dingin. "Setidaknya kita berusaha cari nenek itu,"
"Kalau tetap tidak menemukan bagaimana?"
"Positive thinking dulu. Jangan pikirin yang bahkan belum terjadi, itu cuma buat pikiran Lo pusing."
Katharina mengangguk, ia setuju dengan perkataan Arzeno, bahwa tak seharus nya ia berpikir seperti hal tadi, hal yang bahkan belum terjadi, namun... ia hanya merasa sedikit takut, sebenarnya banyak ribuan pertanyaan diotaknya, tapi layaknya orang yang bisu ia hanya bisa pendam seorang diri, membiarkan hal itu terus dipikirannya.
"Masih ada hari esok, kalau hari ini kita gak bisa nemuin nenek itu besok kita cari lagi," Sambung Arzeno berusaha meyakinkan. "Gak usah takut, gua sama Lo," Walau tatapannya tak tertuju pada Katharina, gadis itu tetap memandang kagum kepada lelaki didepannya.
"Karena ada kamu disitu, aku jadi tak takut Zeno.".
Namun, apa mungkin selamanya kamu akan ada di sisiku?
Hal yang sungguh sulit untuk didapatkan jawabannya, bagimanapun juga Katharina sadar bahwa kehidupan sekarang dan kehidupannya yang dulu sangat jauh berbeda, bisa jadi juga memiliki alur yang berbeda.
-Statue Love-
Setiap orang yang lewat bahkan sampai bertanya ke beberapa orang ditoko terdekat sana sudah mereka berdua lakukan. Seakan hanya usaha yang sia-sia mereka berdua tak menemukan apapun, seperti pepatah yang mengatakan semakin dicari maka semakin tak ketemu.
Sudah hilang kapalang rasanya mereka mencari keberadaan nenek tua itu, namun anehnya tak satupun orang tahu tentang identitas nenek tua itu, dunia ini penuh keanehan bagi Arzeno, terlebih lagi saat Katharina datang. "Rin gimana?"
"Tak ada yang tahu tentang nenek itu Zeno," Jawabnya murung.
"Gue yakin banget waktu itu ada sebuah gubuk Deket persimpangan, tapi sekarang udah gak ada. Warga yang tinggal dekat sana juga gak pernah lihat gubuk itu,"
"Sudah Zeno, sepertinya untuk menemukan nenek itu sangat mustahil," Suaranya penuh sendu.
Ia memandangi kalung miliknya, kalung ini benar-benar memiliki makna yang dalam untuk Katharina dan seseorang dimasa lalu, orang yang mengenalkan kepadanya arti kebahagiaan. "Setidaknya kalung ini kembali kepada sang pemiliknya," Gumam gadis itu tersenyum.
"Rin, ini tempatnya dekat sama tempat kerja gua, Lo mau kesana dulu gak?" Tanya Arzeno sembari menyodorkan sebuah botol air.
Gadis itu mengangguk tersenyum mengambil air, "Iya aku mau ikut kemanapun kamu mengajakku Zeno,"
"Yaudah ayo," Tangan kanannya terulur ke arah Katharina.
Walau ragu tetap Katharina menyatukan uluran tangan tersebut, kembali mengikuti langkah kemanapun Arzeno mengajaknya. "Zeno, kamu masih sama,"
Menjadi perhatian bagi semua orang, kedua pasangan itu terlihat sangat serasi, apalagi mengingat postur tubuh tinggi mereka yang saling berdiri beriringan berhasil membuat semua orang merasa iri.
Ting
Lonceng pintu cafe berbunyi menghadirkan mereka berdua. Kedatangan yang tak diundang ini berhasil membuat seisi kafe merasa kaget, apalagi dengan para staff disana. Tentu kaget, lantaran selama bertahun-tahun Arzeno kerja di kafe ini tak ada seharipun ia datang bersamaan dengan seorang gadis disampingnya.
"Weh Bang Arzeno bawa cewek," Kaget Chendra histeris menepuk-nepuk pundak Aji.
"Ha? Bang Arzen? Cewek siapa tuh?"
"Ya— cewek dia lah?!" Kesal Chendra. "Lu kira bang Arzeno berani bawa cewek orang ke sini? apalagi liat deh tuh tangannya gandengan, anjir harus gua abadikan nih."
Aji memandang aneh Chendra yang sibuk memfoto kedua pasangan yang baru datang itu, ia menggelengkan kepala melihat tingkah temannya, "Umur doang tua, kelakuan kaya bocil esempe," Gumam Aji.
"Aji, Navan belum dateng ya?" Tanya Arzeno menghampiri Aji di kasir, ah sekarang giliran Aji yang menjadi kasir, lantaran Arzeno sengaja mengambil hari libur.
"Nanti datengnya rada telat.Bang Arzen katanya libur? kok malah Dateng ke Kafe?" Bingung Aji.
"Tadi ada urusan, tapi gak terlalu jauh dari sini jadi gua mampir Ji, Lo udah makan siang?"
"Belum bang," jawabnya menggelengkan kepala.
"Astaga. Yaudah sini gua gantiin dulu, Lo makan dulu gih, "
Aji yang nampak tak enak hati merasa ragu dengan perlakuan baik Arzeno, karena seharusnya hari ini menjadi hari libur bagi Arzen. "Beneran nih bang?"
Arzeno mengangguk, kemudian mengambil Apron miliknya. Ia menghampiri Katharina yang sibuk duduk dipojok sana sembari memperhatikan tanaman. "Rin, tunggu sebentar gapapa?" Tanya Zeno.
"Iya, tenang saja aku suka tempat ini,"
"Yaudah. Aji, sini Lo temenin dia ya, sekalian makan siang."
"Bang Chendra juga mau ikut nemenin,"
Aji menganggukan kepalanya lalu tersenyum kepada Katharina Dengan ragu. Dalam hatinya ia bersumpah bahwa tangannya kini Tremor melihat kecantikan Katharina dari jarak dekat.
Astaga ceweknya cakep banget Nemu dimana ini. Kalau kata lagunya CJR pasti kau bidadari jatuh dari surga, dihadapanku. Batin Ajj menggunakan sebuah lagu di ingatannya
"Buset Bang, ceweknya cakep banget." Celetuk Chendra. Astaga Aji rasanya mau mengumpat karena malu dengan sikap Chendra yang blak-blakan. Sejak tadi bahkan dirinya sudah menahan ucapan dan terlihat sopan didepan Katharina, tapi lihatlah bocah disampingnya.
Namun mendengar ucapan Chendra Katharina tersenyum manis, ia mempersilakan kedua teman Arzeno untuk duduk dibangku depannya yang kosong. "Halo kak," Sapa Aji nampak ragu.
"Siapa nama kalian?"
"Aji kak, nama saya Aji."
Chendra mengukurkan tangannya "Chendra, anaknya pak Sudrajat pemilik gedung Suman Crop." Ujarnya memperkenalkan diri dengan nada yang sedikit sombong.
"Aku Katharina Belleazure, panggil aku Katharina, kalian bekerja disini juga?" Tanya nya lembut menatap kedua lelaki yang ia yakini umur mereka jauh lebih muda.
"Iya, bareng bang Arzen. Kak Katharina udah lama pacaran sama Bang Arzen?" Tanya Chendra to the point namun langsung tangannya dicubit Aji. "Kenapasih?!"
"Lo kalau nanya barbar banget," Sergah Aji.
"Ya biar gak basa-basi." Kesalnha mencubit balik tangan Aji sampai meringis kesakitan.
"Aku bingung ingin menjawab apa, tapi kenapa semua orang mengira aku dengan Zeno sepasang kekasih? Padahal kami tak terikat sedikitpun,"
"Oh Friendzone ya Kak?" Tebak Aji.
"Itu apa?"
"Ha gak tau?" Bingung Chendra.
"Itu cuma teman tapi saling suka,"
Gadis itu tertawa, ah ternyata begitu artinya. "Sepertinya kata saling suka antara aku dan Zeno tidak ada, lebih tepatnya hanya aku yang menaruh perasaan?" Jawabnya pelan.
"Astaga bang Arzen, bisa-bisanya cewek secakep ini dibiarin galau karena Friendzone. Wah gak bisa di biarin nih Ji!" Celetuk Chendra untuk kesekian kalinya. "Belum aja nanti dia nyesel, sabar ya kak dia emang anaknya gak pekaan."
"Chendra mulut Lo barbar banget daritadi, kasian gua sama Kak Katharina,"
"Ah tidak apa, kalian berdua lucu, aku suka berbincang dengan kalian."
Seperti biasanya tepat dugaan Arzeno bahwa benar adanya Katharina pintar bersosialisasi, jika dilihat dari tempatnya berada Katharina, Chendra dan Aji terlihat sangat akrab sekarang, mereka tertawa bersama bahkan jika bisa didengar suara tawa Chendra sudah sangat menggelegar mengisi kafe. Huft, untung saja Kafe tak terlalu ramai, atau nantinya semua pembeli akan pergi.
Ting
Lonceng itu berbunyi lagi, namun kali ini menampilkan seorang lelaki. "Navan," Panggil Arzeno.
"Oy Bro, lah katanya Lo libur,"
"Panjang ceritanya,"
Navan berjalan mengambil Apron dan menghampiri Arzeno. "Dua bocil mana nih? Tumben gak berisik," Kemudian dengan dagunya Arzeno menunjuk kearah pojok sana tempat Aji dan Chendra berada. "Ha? Sama siapa mereka?"
"Katharina,"
"Cewek Lo?"
Plak
"Bukan cewek gua."
"Anying, yaudah iya bukan. Tapi gua gak bisa liat mukanya dari sini, gua mau samperin ah, kayanya cantik."
"Jangan macem-macem Lo."
"Ck. posesip amat padahal bukan cewek Lo." Seketika Arzeno merasa tertampar kenyataan dengan ucapan Navan. Memang apa salahnya jika khawatir kepada teman nya sendiri? Begitu pikir Arzeno.
Dengan langkah ragunya Navan merapihkan rambut, menghampiri tempat gadis itu berada, sembari mempersiapkan senyuman manisnya. "Halo Katharina Belleazure, kenalin nama gua—"
"Pangeran?"
Lelaki itu kini terdiam membisu, menatap beku wajah Katharina. Waktu seakan berhenti begitu saja, semua suara bising yang tadinya merusak telinga kini menghilang, tatapannya tertuju kepada satu arah. "K-kamu..."
-Statue Love-
kalian bingung gak? sama aku juga bingung nulisnya :)
Sumpah aku ngakak bangwt baca komenan kalian 😭, makanya ku kasih bonus nih wankawan, ingat takdir mereka ada ditangan author 😎🙏🏻
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co