Truyen3h.Co

Statue Love

2. Mie instan

nanayyyg_

____________

Bersamaan dengan mie instan yang ia buat, kini mereka berdua duduk berhadapan di depan sebuah meja kayu dengan beralaskan bantal duduk. Arzen, lelaki itu masih memandang aneh kepada wanita di depannya, bahkan dari atas sampai bawah jika dilihat dengan teliti semuanya penuh keanehan. "Baju Lo ribet juga ya," gumam Arzen.

Mendengar suara Arzen membuat Katharina sontak tersenyum, "Ini baju ku di Kerajaan, apa  ini terlihat aneh?" Arzen mengangguk sebagai jawaban.

"Aneh, kedatangan Lo yang tiba-tiba juga aneh, Lo bisa laper gak?" Ah sial, dia merasa pertanyaan yang ia lontarkan terlihat seperti orang bodoh.

"Iya tentu aku bisa merasakan lapar, ya ... sekarang sedikit merasa kelaparan..." jawabnya lesu memeluk perut rampingnya yang terasa nyeri.

Lelaki itu bergerak memberikan satu sendok dan garpu kepada Katharina, "Lain kali kalau mampir kerumah orang bawa makan sendiri biar gak ngerepotin. Gua gak ada makanan lain, kalau gak mau makan yaudah."  nada datarnya bersuara.

Pala nya bergerak mendekati makanan yang baru saja dibuat lekaki itu, meneliti benda panjang, tipis, licin? ah ini mirip seperti ular menurut nya, "Ini apa?"

"Lo gatau?" bingung Arzen, dan dijawab anggukan.

"Ini mie instan, ya... gua makan ini karena lagi hemat, jadi kalau Lo gak mau makan yaudah. Ini rasanya juga enak, biasanya gua stok banyak rasa, kalau gak mau ini nanti gua masakin yang rasa lain," Katharina yang dari tadi memperhatikan kini malah tertawa. "Kok ketawa?" tanya Lelaki itu sinis.

Gadis itu menggelengkan kepalanya, "Tidak, kamu terlihat lucu sekali bicara panjang lebar seperti tadi Arzeno Javierro,"

"Arzen aja, temen-temen gua panggilnya gitu."

"Kalau aku panggil kamu sebagai Zeno boleh?" Tanya nya lembut sembari menyunggingkan sedikit senyum m

Lelaki itu  mengangguk sebagai jawaban, "Terserah, sekarang makan." Dengan ragu Katharina mengambil mie instan di panci yang sama dengan milik lelaki itu, mengunyah dengan perlahan sembari menikmati rasa makanannya dengan penuh hikmat.

Wajahnya yang murung karena rasa lapar kini seketika kembali menjadi cerah, "Ini enak sekali! Juru masak mana yang memasak sehebat ini? ah aku harus membawanya ke kerajaan ku!"

uhuk uhuk!

Arzeno tersedak kala itu juga, ah rasanya ia masih merasa culture shock saat bertemu Katharina. Sontak gadis itu bergerak menuangkan air di gelas kaca "Ah iya Zeno, minum airnya terlebih dahulu," ujar gadis itu khawatir.

Segera ia menyeruput air itu, kemudian kembali menatap aneh gadis di depannya. "Ini Lo beneran manusia kan?" tanya nya tepat di depan wajah Katharina, mungkin jika bisa dihitung jarak mereka tak lebih dari lima sentimeter.

"Kenapa bertanya seperti itu? Lihatlah diriku sekarang, aku adalah manusia. Benar-benar hanya manusia biasa, seperti kamu dan manusia lainnya,"

"Tapi... sebelumnya gue liat Lo masih bentuk patung di Museum kemarin, kenapa sekarang berubah jadi hidup?" Kini matanya menatap serius sang gadis.

Katharina tersenyum, menunjuk kearah kalung yang Zeno pakai, membuat arah mata Zeno ikut sesuai arahan yang ditunjuk "Aku juga tidak yakin, tapi aku rasa ini semua sebab kalung yang kamu pakai, kita berdua memiliki kalung yang sama, dan setelah sekian lama akhirnya aku bisa kembali menjadi manusia seperti dulu lagi."

"Kok bisa..."

Tapi sebentar, "Zeno, aku ingin bertanya, sekarang ini tahun berapa? Kenapa rasanya kehidupan ditahun ini sangat jauh berbeda dengan kehidupan ku,"

"2022?"

"Ha?! yang benar saja!" Matanya membesar, ia terlonjak kaget atas ucapan Arzeno,  namun, sekian detik kemudian gadis itu berubah murung, khawatir dan merasa takut dengan semua yang sudah ia lewati begitu saja saat ia menjadi sebuah patung.

"Zeno! keluargaku, teman-teman, Kerajaan, dan rakyat lainya... aku melewatkan semuanya begitu saja? Kenapa semuanya menjadi seperti ini? Zeno... Argh sial, aku benar-benar benci diriku! Zeno bagaimana ini?" Katharina meneteskan air matanya, menelungkup kan kepala nya di meja. "Zeno aku harus apa?"

Setengah mati lelaki itu kebingungan, entah apa yang harus ia lakukan saat ini, jujur ia tak pernah melihat seorang gadis menangis tepat di depannya seperti ini.
Mau tak mau, Arzen mendekatkan dirinya dengan gadis itu, menepuk lembut pundak Katharina, "Iya gapapa nangis aja, keluarin semuanya..." Ujarnya ragu dan terdengar datar.

"Aku jahat Zeno... aku melewati semua hal, a-aku... aku... bahkan belum bisa menepati janji ku pada nenek untuk membangun sebuah panti bagi rakyat kecil yang kesulitan... Ibunda Ratu juga pasti sangat menghawatirkan diriku, a-aku yang menghilang tiba-tiba,"

"Zeno, aku pasti mengecewakan Ayahanda, dan Ibunda... Pasti selama ini mereka mencari keberadaanku Zeno..."

Arzen memeluk tubuh gadis itu, mengelus rambut nya dengan lembut, "Iya, gapapa... kecewa gak ada salahnya, Lo boleh nangis okay? tapi gak boleh menyalahkan diri sendiri. "

Katharina masuk kedalam pelukan Arzeno, menumpahkan semua rasa kekecewaan nya. Dan disini lelaki itu masih terdiam dengan keadaan bahu nya yang sudah basah akan tangisan Katharina, saat dirasa tangisan gadis itu sudah mereda, Arzeno merenggangkan pelukannya. "Udah nangisnya?" Tanya nya lembut menatap mata berbinar gadis itu.

Katharina mengangguk sembari mengusap air matanya. "Ini minum dulu airnya biar tenang,"

"Arzeno..." Panggil gadis itu.

"Iya?"

"Apa kamu tidak penasaran dengan kedatangan ku? kenapa kamu diam saja sejak tadi?" Bingungnya.

"Boleh gue jawab?" Tanya Arzeno menatap gadis itu dan dibalas anggukan. "Yang pertama, kalau gua gak penasaran artinya gua bohong, tapi gua tau Lo lagi gak baik-baik aja, ada saatnya nanti untuk bertanya disaat yang tepat. Tadi siapa nama Lo?"

"Katharina Belleazurè, Kamu boleh panggila aku apa aja," Jawabnya yang masih terdesak tangisan.

Arzeno tersenyum, memandang lucu wajah Katharina saat ini. "Namanya bagus. Belleazure, artinya Primadona biru langit?" tanya Arzeno.

Katharina mengangguk antusias, "Bagaimana kamu bisa tahu?"

"Gak tau, namanya  terdengar gak asing, kayanya gua pernah dengar nama itu, tapi gak tau dimana. Sini makan lagi mie nya, perut Lo harus kenyang sebelum berusaha untuk pura-pura bahagia di depan orang lain,"

Gadis itu mengikuti perkataan Arzen, kembali mengambil sendok dan makan bersamaan. "Zeno, boleh aku bertanya?" Tanya nya sembari mengunyah.

"Hm,"

"Tadi aku lihat banyak benda besar bergerak sendiri dijalan, apakah itu sebuah sihir? Ah dan ada manusia hijau dengan sebuah benda bulat di kepalanya." Sebentar Arzen lagi-lagi tersedak.

Dia ketawa setelahnya, "Manusia hijau siapa? ah? tukang ojol kali maksud Lo," Katharina menggelikan bahunya bingung.

"Benda bergerak mungkin mobil, itu alat transportasi di zaman sekarang, emang alat transportasi di zaman Lo apa?"

Gadis itu berpikir sejenak memutar waktu diotaknya, mengingat kembali yang dulu ia lakukan di kerajaan "Kuda? Semua orang dikerajaan ku menggunakan kuda untuk berkendara."

"Lo bisa berkuda dong?" Tanya Lelaki itu penasaran, karena sebenarnya ia memiliki trauma sendiri dengan hewan bernama kuda. Ingat dulu bagaimana menangis tersedu-sedu saat seekor kuda tak sengaja mendorong tubuh mungilnya hingga terjatuh kedalam sebuah lobang yang tak terlalu besar.

Gadis berpakaian aneh itu mengangguk antusias, "Iya bisa, aku belajar berkuda sejak umur 12 tahun."

"Sekarang Lo umur berapa?"

"22 Tahun,"

Lelaki itu terdiam sejenak memikirkan beberapa keanehan yang terlintas dipikirannya "Tapi kan lo dari zaman yang berbeda,"

"Aku lahir pada tahun 1.400 Masehi," Dengan segera Arzeno membesarkan bola matanya. Kaget, itu yang lelaki itu rasakan, yang benar saja, bahkan ia baru lahir pada tahun 2000, sedangkan gadis didepannya ternyata seorang nenek cantik?

"Wah, Gila. Kalau dihitung, umur Lo sekarang udah sekitar 622 tahun. What? gua berasa ngomong sama nenek moyang," Katharina memulatkan matanya, mencubit kecil tangan Arzeno.

"Ah, aku bukan nenek-nenek!"

"Ya walaupun kita seumuran, tetep aja Lo lahir lebih dulu."

Ah mendengar ucapan Arzen mengingatkannya pada kehidupannya dulu, "Kalau begitu aku sudah tua ya Zeno?" Ucapnya merenung cemberut.

Kini Arzen yang kelabakan, memikirkan katanya yang mungkin sudah membuat Katharina bersedih. "E-eh gak gitu, ya tapi intinya kita masih seumuran. Ini udah selesai makannya, Lo ganti baju pakai punya gua dulu, ini bukan karena peduli tapi karena gua aneh liat Lo udah kaya mba-mba kosplay di pasar malem."

Walaupun tak mengerti benar ucapan Arzeno gadis itu hanya mengangguk "Ah iya boleh, aku mau coba memakai baju para manusia di zaman ini!"

"Kalau mau mandi, toilet nya disitu." Tunjuk Arzen.

"Toilet, maksud kamu ruang pemandian?" Haduh, Arzen lupa bahwa Katharina orang zaman dulu.

"Iya ruang pemandian, tapi orang-orang zaman sekarang sebutnya toilet atau kamar mandi, haduh gua berasa ajarin anak bocah mengenal nama tempat."

Katharina berjalan mengintip ruangan yang menurutnya tempat pemandian. "Zeno... tapi dimana kolamnya?" Tanya gadis itu.

"Kolam apa?"

"Kolam untuk berendam, aku dulu mandi didalam kolam dengan air bunga."

Tolong semuanya, bantu Arzeno untuk lebih sabar menangani gadis ini. "Katharina, ingat ya, di zaman Lo dan di zaman gua berbeda. Sekarang Lo mandi, ini namanya shower, nih cara nyalain nya kaya gini," Ujarnya mempraktekkan. "Abis itu kalau udah selesai dipakai, matiin."

"Ini namanya sabun, tau fungsi nya buat apa?" Katharina menggelengkan kepalanya. "Untuk bersihin tubuh Lo, astaga kok gue lama-lama jadi kesel ya. Jangan sampe Lo gua mandiin kaya anak bocah."

Katharina bergerak ketakutan, memeluk tubuhnya sendiri. "Kamu jangan berani macam-macam dengan aku Zeno!"

"Ya enggak lah, gua masih waras. Udah sekarang Lo mandi, itu ada shampo, untuk bersihin rambut, terus ini ada sikat gigi, ini odol, ah mungkin dulu Lo masih pakai siwak kali ya. Yaudah kalau ada yang gak tau tanya gua. Itu handuk, abis itu ini baju nya sekalian Lo bawa. Gua gak punya baju cewek, jadi pakai ini dulu." Jelasnya panjang lebar.

Katharina hanya tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, terimakasih Zeno."

Arzen mengagguk, kemudian pergi memutuskan untuk merapihkan rumahnya.

Tring!

Ponselnya yang tergeletak di sebuah meja dekat tv tiba-tiba berbunyi. Arzen menatap bingung dengan nomor asing yang menghubungi nya. Seingatnya ia tak pernah meminjam uang pada renternir, atau di bank, bahkan tak pernah membuat kerusuhan atau masalah, tapi kenapa selalu saja ada nomor asing hanh menelfonnya setiap hari. "Halo, siapa?"

"Hai Arzen, ini Alya. Masih inget gak?" Suara di seberang sana mengisi.

"Iya Alya gua ingat."

"By the way, gue minta nomor Lo dari Raihan, eh iya sorry juga gue jadi hubungin malem-malem gini. Gue mau kasih tau kita sekelompok buat tugas yang Pak Budi kasih kemarin,"

"Oh Iya, makasih infonya Al,"

"Lo ada waktu kapan Zen? gue kapan aja bisa sih,"

"Gua Minggu free, kalau Lo bisa sorean,"

"Bisa kok, nanti deh gue kabarin lagi ya Zen." Setelah menyelesaikan percakapan mereka, Arzen kembali membereskan rumahnya.

Sebenarnya yang ia lakukan saat ini bukan karena ia rajin, melainkan karena terpaksa. "Zeno, lihat baju yang ku pakai," Ujar Katharina menepuk bahu Arzeno agar menoleh.

Sial.

Bahkan walau hanya menggunakan kaos dan juga celana training, wajah cantik Katharina masih terus bersinar indah. "Cantik."

"Apa? kamu bilang apa tadi?"

"Ha? Bukan. Bukan apa-apa,"

"Hm, kamu sedang apa?"

"Bersih-bersih."

"Aku bantu ya? aku pintar dalam urusan ini, walaupun dulu banyak dayang yang membantu, tapi tetap saja aku berusaha untuk lebih rajin dengan usahaku sendiri."

Arzeno mengangguk, menatap betapa telaten nya Katharina membersihkan beberapa barang berantakan dirumahnya. "Lo dulu dari keluarga kaya ya? sampai punya dayang segala,"

Katharina terkekeh, "Kalau dibilang kaya mungkin benar, tapi tetap saja semuanya bukanlah milikku Zeno. Ayahku seorang Raja, ia cukup tegas dan bijak. Aku terlahir dengan dua bersaudara, dan aku lah anak keduanya, kakak ku akan menjadi penerus tahta, sedangkan aku hanya putri kerajaan yang bahkan tak pernah diinginkan keberadaan nya."

Arzeno tertegun mendengar ucapan Katharina, ah dia rasa sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk Katharina bercerita, gadis itu perlu mengistirahatkan pikirannya. "Lo tidur aja dulu, gak usah dipaksa untuk cerita kalau gak kuat, tenang aja,"

Arzeno menuntun gadis itu menuju kamarnya, "Kamar gua mungkin gak sebesar kamar Lo di kerajaan dulu, tapi setidaknya cukup nyaman buat istirahat. Tidur, Lo pasti capek," Katharina tersenyum, betapa bahagianya ia bisa bertemu orang sebaik Arzeno. "Kamu tidur dimana Zeno?"

"Di sofa ruang tamu, kalau butuh apa-apa kasih tau aja,"

Kakinya bergerak mengambil sebuah selimut di dalam lemari, ia menurunkan pundak Katharina pelan agar bisa tiduran di kasur, lalu dipasangkan ya selimut tersebut dengan telaten. "Katharina..."

"Iya?"

"Untuk apapun yang udah terjadi, tolong jangan sepenuhnya menyalahkan diri Lo sendiri ya? coba anggap ini semua sebagai takdir, Lo tahu kan? bahwa setiap takdir yang Tuhan berikan pasti memiliki makna tersendiri, bisa jadi dengan adanya Lo di tahun ini, akan buat Lo lebih bahagia, atau mungkin kehidupan Lo akan lebih baik daripada dulu,"

"Sekarang Lo tidur,"

"Zeno,"

"Hm?"

"Terimakasih,"

"Iya sama-sama, Sleep Well Rin."

-Statue Love-

"Udah nangisnya?"

"Ini minum dulu airnya biar tenang,"

Kaos + Training

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co