3. Masa Kecil
________
Anak kecil itu terdiam membisu didepan pemakaman baru milik kedua orangtuanya. Hatinya kelu tak mengerti apa yang tengah ia rasakan saat ini, rasanya sesak didalam diri namun tak dapat ia lampiaskan dengan air mata.
"Arzen, ayo pulang nak," Ucap sang paman menuntun dirinya menjauhi pemakaman.
Kini ia merasa kesepian, orang yang tadi selalu menjadi dunianya sudah tak ada, rasanya hampa, tak ada semangat untuk menjalani hidup lagi, kenapa semuanya berakhir pergi menjauhi dirinya?
Dari sini ia terdiam, menguping pembicaraan sang paman yang ada di ruang tamu bersama beberapa lelaki yang tak ia kenal pasti. "Jadi bagaimana pak? Perusahaan milik Pak Doni harus ada yang memegang, namun jika dilihat dari keadaan anak dan umurnya saat ini juga tak memungkinkan,"
"Arzen masih terlalu kecil, kalau begitu saya yang akan melanjutkan perusahaan milik kakak saya, saya yakin bisa meneruskan nya sebaik mungkin." Ujar Paman itu terlihat tersenyum di depan beberapa lelaki berkacamata.
Arzen benar-benar tak paham apa yang mereka bicarakan, namun tetap saja dirinya masih diam dibalik pintu, sampai dirasa semua suara itu perlahan menghilang ia bergerak pergi dari sana.
"Ah, kenapa gak dari dulu aja si Doni mati, kalau kaya gini kan saya jadi bisa pegang semua sahamnya," Suara itu membuat Arzen berhenti melangkah.
Dulu ia memanglah tak paham dengan semua itu, namun, seiring berjalannya waktu semuanya berhasil ia pahami, bahwa tak ada satupun dari keluarga nya yang benar-benar tulus. Mereka semua busuk, berpura-pura di depan Arzen, menjadi paman dan bibi yang baik, namun nyatanya malah menusuk dari belakang.
Saat dirinya menginjak 18 tahun, Arzen memberanikan diri pergi dari rumah itu, ah sebenarnya sudah tidak bisa disebut sebagai rumah, melainkan neraka dengan semua penjahat didalamnya.
Hanya bermodalkan tabungan nya beberapa tahun terakhir dan juga keberanian, ia merantau jauh dari tempat itu. Lelaki itu bersumpah tak akan pernah kembali lagi, dan biarlah mereka menikmati hasil kejahatan mereka.
Arzen tak perduli, karena ia percaya semua yang dilakukan dan segala yang terjadi pasti akan ada balasannya. Ia yakin itu.
Arzen terbangun dengan nafas tersengal, dia mengutuk dirinya sendiri yang entah mengapa selalu mendapatkan mimpi buruk dengan alur yang sama. "Sial, udah jam 7,"
Lelaki itu bergerak cepat mengambil sebuah handuk, memasuki kamarnya yang seharusnya ia tempati tadi malam. "Katharin..."
Matanya membelalak kaget, "Ha? dia balik jadi patung lagi?!" Arzen mengelilingi posisi patung itu yang berdiri tegak, namun terlihat gayanya dan baju yang dipakai terlihat berbeda dengan patung yang kemarin. "Katharina, Lo bisa dengar gua gak?" Tanya nya seorang diri.
"Kok Lo bisa balik lagi jadi patung? Rin... jawab gua," Arzen mengusak rambutnya kebingungan. "Ah sial, gua kaya orang bego ngomong sendirian. "
"Katharina, gua harus apa? gua bingung!" Seketika terlintas dipikiran nya mengenai kalung yang ia pakai, dengan segera ia mencopot nya, mendekatkan kalung itu dengan milik Katharina. "Anjrit kok gak berubah?! Rin, ayo cepet pencet tombol berubah Lo, gua gak paham."
"Katharina... ini Lo jadi patung beneran gak sih?"
Lelaki itu mendengus kan nafasnya kasar, membuka tirai kamar agar udara masuk, setidaknya ia harus berpikir jernih dan menghirup udara segar. "Astaga, Lo bikin gua tambah kerjaan aja sih, Gak mungkin gua tinggal Lo dengan keadaan kaya gini,"
"Katharina..." Perlahan dia menggeser patung tersebut kearah samping tirai, agar tak menghalangi jalan. "Rin... kok bisa berubah lagi jadi patung? Trus kenapa ini kalungnya gak bereaksi kaya kemarin?"
Dengan kepala pusing Arzeno masih memikirkan cara yang pasti agar gadis ini bisa kembali menjadi manusia.
Cahaya matahari terik yang menelisik masuk kedalam ruangan membuat Arzen merasa risih, ia menggerakan tirai tersebut berusaha menutup nya.
Tapi sebentar.
Kalung yang dipakainya kini kembali bereaksi, miliknya dan milik Katharina kembali bersinar seperti hari kemarin. "Kok ...?"
"Cahaya matahari? Jadi ini akan bereaksi kalau ada cahaya matahari? ah apasih anjir, kok jadi berteori kaya gini. Cukup teori MV KPop aja yang susah dipahamin." Gerutunya seorang diri.
bruk!
Tubuh gadis itu terjatuh lemah, sontak membuat Arzen segera membantunya untuk duduk dipinggir kasur. "Rin..." Arzen menatap dalam mata gadis itu
Seakan mengerti dengan lelaki didepannya, Katharina menganggukan kepalanya. "Iya Zeno... Sepertinya aku belum seutuhnya kembali menjadi manusia..."
"Trus kita harus apa?"
Kini ia menggelengkan kepalanya, tak tahu. "Aku bahkan tidak tahu apa yang harus ku lakukan," Jawabnya lesu.
"Astaga, makin repot kalau gini urusannya,"
Katharina merenung, menundukkan kepalanya merasa bersalah. "Maaf aku banyak merepotkan mu Zeno." suara paraunya sedih.
"Baguslah kalau Lo sadar. Gua gak tau mau apalagi, gua harus pergi, ada kelas pagi ini."
"Zeno... aku ikut boleh?" Lelaki itu membelalakan matanya, yang benar saja dia membawa Katharina ke kampus?
"Enggak, gak boleh-gak boleh." Arzeno mengambil beberapa Snack dan juga roti miliknya di dapur, lalu segera memberikannya kepada Katharina. "Mending Lo diem dirumah, terus makanin deh itu semua, nanti gua balik sore, gua beliin Lo nasi Padang,"
"Nasi Padang? Apaitu?"
"Makanan, Yaudah intinya gitu, gua mau mandi dulu."
Arzeno berlari kelabakan menuju kamar mandi. Hanya dalam 5 menit lelaki itu berhasil membersihkan tubuhnya, Ah tapi terkadang yang dilakukan Zeno dikamar mandi hanyalah mencuci muka dan juga sikat gigi, hal itu ia lakukan karena ia rasa dimalam hari ia sudah mandi dan tubuhnya bersih.
Lelaki itu keluar hanya dengan handuk dibagian pinggangnya, melangkah tergesah mencari baju yang ia harus pakai hari ini. "AAAAAAAA ZENO!!!"
"AAAAAAA!!!" Astaga Arzeno melupakan bahwa sekarang ia bukanlah hidup seorang diri, melainkan adanya seorang putri kerajaan yang tiba-tiba datang kerumahnya.
Lelaki itu sontak menyilangkan tangannya di dada, membulatkan matanya menatap Katharina yang masih heboh dengan teriakan nya. "Woy, keluar Lo,"
"Kamu kenapa belum menggunakan baju?!" Balas gadis itu masih menutup matanya.
"Y-ya gua lupa bawa! sekarang keluar kamar gua!"
"A-ah iya..." Dengan langkah cepat Katharina keluar dari kamar lelaki itu. "Astaga, apa yang baru ku lihat tadi! Tapi... badannya cukup bagus, Astaga! Katharina bodoh, apa yang kamu pikirkan! T-tapi memang sangat bagus!"
Bentuk rumah ini masih asing bagi Katharina, Menurut nya rumah ini sangat sederhana, dan juga sangat dijaga kebersihannya, dengan begitu Katharina bisa mengambil point bahwa Arzeno adalah lelaki yang rajin.
Langkahnya bergerak mengelilingi isi rumah, melihat benda-benda yang bahkan menurutnya aneh. "Apa dia tinggal sendirian dirumah ini?" Gumamnya.
"Ah ini apa?" Ujarnya saat melihat sebuah benda yang membuat nya penasaran.
Ctak!
Ctek!
Matanya berbinar, melihat keajaiban lampu yang ada didalam ruangan tiba-tiba bisa mati dan menyala. "Uwah! ini sihir!"
Ctak!
Ctek!
Ctak!
Ctek!
"Eh Lo ngapain sih disitu?" Lelaki itu kebingungan saat keluar dari kamar, dan melihat gadis aneh tengah tersenyum dan tertawa cekikikan.
"Ini aku menemukan keajaiban, lihat kesana Zeno! Cahaya nya nyala dan mati saat ku tekan ini!"
Ctak!
Ctek!
"Astaga, jangan di pencet terus saklar nya, nanti kalau mati lampu beneran gimana? Itu bukan keajaiban Rin, astaga di jaman Lo belum ada listrik ya?"
Katharina kebingungan menjawab pertanyaan dari lelaki itu, seingatnya cahaya yang selalu menerangi kerajaannya hanyalah berasal dari sebuah lilin ataupun obor api, dan mungkin di siang hari hanyalah mendapat cahaya dari sinar matahari. "Apa itu listrik Zeno?"
"Ya... gua bukan anak listrik sih, tapi intinya ini buatan manusia, dan banyak manfaat juga. Contohnya lampu itu, Lo liat kan kalau Lo pencet saklar nya pasti lampunya nyala, karena dari saklar sini ke lampu itu terdapat sambungan kabel, yang didalamnya ada listrik."
"Udah-udah jangan tanya gua, gua bukan tukang listrik."
"Wah, jadi manusia di zaman ini sudah sangat pintar ya? Mereka berhasil menemukan banyak benda bagus."
"Y-ya begitulah."
Kemudian mata Katharina seketika beralih ke arah magic com yang ada di dapur. "Kalau ini fungsi nya untuk apa Zeno?" Ujarnya menatap aneh magic com itu, sembari membuka tutup, penutupnya.
"Nasi, buat masak nasi. Sini deh gue ajarin cara pakainya." Dengan telaten dan penuh kesabaran akan segala pertanyaan Katahrina, Arzeno mengajari gadis itu cara memasak nasi menggunakan Magic com.
"Jadi nasi nya akan matang setelah kita menunggu sampai 20-35 menit?" Tanya gadis itu dijawab anggukan oleh Arzen. "kalau begitu aku harus mulai menghitung waktu dari sekarang ya?"
Lelaki itu tertawa mengusak rambut sang gadis, "Biasanya kalau udah mateng ada bunyi nya, jadi gak perlu Lo hitung sendiri waktunya."
"Kalau ini apa-ini apa???"
"Eh-eh... itu kompor, jangan asal dinyalain," Arzeno menghentikan tangan usil Katharina, menepisnya sedikit keras.
"Arghh..." Rintih gadis itu.
"Duh, maafin gua, sorry Rin, sakit gak?" Lelaki itu menggenggam tangan sang gadis, meneliti apakah ada rasa sakit disana.
"Eng-enggak aku gak apa," Seakan ada perasaan aneh dari diri Katharina, dengan cepat ia menarik kembali tangannya.
Kini atmosfer diantar mereka berdua sangat terasa canggung, "Ekhem, y-yaudah gua mau siap-siap kampus,"
"Zeno, izinkan aku untuk ikut..." Matanya berbinar berusaha memohon kepada lelaki itu.
"Hmm... kalau Lo disini sendirian juga bahaya sih," Setelah berpikir ulang Zeno sadar, bahwa akan lebih bahaya jika ia meninggalkan gadis itu seorang diri dirumahnya ini.
Bagaimana jika nanti gadis itu memainkan barang-barang bahaya karena rasa penasarannya? atau mungkin menyalakan kompor dan membuat kekacauan, ah tidak. Arzeno harus berpikir sepanjang itu demi kebaikan kedepannya. "Yaudah, bentar."
Lelaki itu pergi ke kamarnya dan kembali lagi dengan beberapa baju miliknya, "Gua cuma punya baju ini, cepet lo siap-siap." Katharina tersenyum lebar memeluk Lelaki di depannya.
"TERIMAKASIH BANYAK! Kalau begitu tunggu aku sebentar ya Zeno!" Dengan terburu-buru dia pergi mengganti bajunya, merapihkan rambutnya yang tadi terkuncir kini menjadi tergerai indah.
Ah ia ingat sekali, betapa dulu bahagianya ia jika Sang Bunda Ratu menyusuri rambutnya dengan lembut, sembari bersenandung. Ia ingat betapa jelasnya pesan ibu yang selalu diberikan kepadanya, salah satunya.
"Nak, Kita sebagai manusia tak pernah luput dari kesalahan, pada akhirnya semua orang memiliki kekurangan nya masing-masing, maka dari itu setiap manusia perlu manusia lainnya untuk saling melengkapi, hidup bukan tentang dirimu sendiri, jadi jangan pernah menjadi orang yang egois,"
"Ibunda, Katharina sangat rindu... Maaf Katharina belum bisa menjadi anak perempuan yang baik... dan malah berakhir dengan takdir yang sangat aneh seperti ini..."
"Rin, cepet. Nanti kita ketinggalan bus." Panggil Arzeno dari luar kamar.
"Ah iya sebentar Zeno,"
cklek
Gadis itu melangkah perlahan keluar dari pintu coklat, mendekati Arzeno dan menepuk pundak lelaki itu. "Aku udah siap!" Jawabnya penuh semangat.
Disisi lain, Arzeno malah terdiam.
Dalam pikirnya, ia rasa Katharina adalah seorang gadis yang memang sudah ditakdirkan menjadi putri kerajaan, ah bahkan bisa juga menjadi Dewi. Lihatlah betapa tertegunnya lelaki itu melihat wajah cerah Katharina tersenyum lebar.
"Zeno kenapa diam? apa ada yang salah?"
"Cantik."
-Statue Love-
©nanayyyg_
Jangan lupa untuk follow akun ini ya, karena nanti akan ada private chapter 😉
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co