Truyen3h.Co

Statue Love

21. Ingkar

nanayyyg_

Didalam kamar milik Zeno gadis itu merebahkan tubuhnya. Ternyata kamar sederhana ini cukup berhasil membuatnya rindu berat, harumnya, setiap barang yang tersusun, dan juga kenangan yang ada walaupun belum terlukis banyak.

Perlahan gadis itu melepaskan kalung miliknya, memandangi kalung yang memiliki kenangan indah dimasa lalu. Ujung bibirnya terangkat mengingat serpihan kenangan dari lelaki yang memberikan kalung ini kepadanya.

"Pangeran, kalung ini bahkan masih ku simpan dengan baik," Lirihnya.

Satu tetes air matanya mengalir, ia merindukan kenangan dimasa lalu nya. Memang hanyalah kenangan yang tersisah, namun mengapa rasanya sulit untuk membuang setiap rasa sakitnya? Bukankah rasanya terlalu berlebihan jika ia masih merindukan hal-hal yang bahkan sudah hilang?

Setiap kenangan yang tersimpan nyatanya tak selalu indah, terkadang juga bisa menjadi rasa perih yang menyakiti Katharina. Perlahan ia menutup matanya, sembari mengingat masa lalu, masa-masa dimana ia bersama sang pangerannya.

Kala itu, malam gelap tak terlihat memiliki bintang, dalam hatinya bergumam apakah sang malam mengerti bahwa hatinya tengah muram? Setelah mendapat surat dari sang pangeran, hati Katharina merasa hancur, segala harapan yang ia punya kini sudah hancur bersama dengan janji yang mereka berdua buat.

Gadis itu termenung didepan jendela besar dikamarnya. Meratapi nasib yang begitu menyedihkan, sembari mengingat bahwa besok hari adalah hari pernikahan sang kekasih. Bukankah lucu, ketika ia menjalin hubungan dalam waktu yang cukup lama, namun mereka diharuskan terpisah dengan keadaan yang mendesak, berat hati, sungguh berat untuk Katharina.

"Pangeran, bukankah besok kau akan berbahagia dengan mempelai wanitamu? Ah aku harap kamu selalu bahagia," Gumamnya dengan senyuman cantik kepada langit malam. Ia berharap angin yang berhembus bisa membisikan kepada Sang Pangeran betapa dirinya mencintai lelaki itu.

Suara buka pintu yang terbuka mengalihkan atensinya, membuatnya kebingungan siapa gerangan yang berani masuk kedalam kamarnya ditengah malam seperti ini? Bukankah ini tak sopan.

"Katharina, kau dimana?" Suara seorang lelaki terdengar mengisi ruangan.

"Pangeran? Aku disini,"

Saat dirasanya mendengar sahutan sang putri, lelaki itu berlari menghampiri, kemudian membawa sang gadis kedalam reluk pelukannya yang erat. Rindu, ia sangat rindu gadis cantik ini, bisa-bisanya setiap detik nama Katharina selalu mengisi hatinya. "Aku rindu..."

"Pangeran, kenapa kamu datang kesini? Bagaimana jika ada yang tahu?" Khawatir nya.

"Aku ingin bertemu denganmu, bertemu dengan orang yang kucintai mungkin untuk yang terakhir kalinya,"

"Pangeran..."

Tangan lembut sang pangeran bergerak menghapus air mata milik Katharina. "Maafkan aku... Bukankah rasanya sangat menyakitkan untukmu?"

Katharina mengangguk perlahan, "Bukan hanya untukku, aku yakin ini juga menyakitkan untukmu pangeran,"

"Tak bisakah kau cukup menyebut namaku saja Rin? Aku ingin mendengarmu menyebut namaku kali ini, aku bukanlah pangeran jika aku menyakiti seseorang,"

"Zenovan, kau tak menyakiti siapapun, tapi takdirlah yang menyakiti kita berdua,"

"Katharina, rasanya aku ingin pergi meninggalkan semua ini, aku ingin membawamu pergi jauh berasamaku. Aku tak mau berpisah. Rin... Apa tak ada lagi kesempatan untuk kita berdua?" Sang lelaki terus mengeluarkan setiap rasa sakitnya. "Rin, aku tak sanggup ... Selamanya aku tak bisa mencintai orang lain jika itu bukan dirimu,"

"Zenovan? Bukankah malam itu kamu pernah berkata, bahwa lari dari setiap masalah yang ada, bukanlah cara yang bagus. Pangeran, disini aku pun begitu, rasanya aku sudah tak punya harapan kedepannya, namun cukup aku yang kehilangan harapan, kau tak boleh merasa demikian. Aku yakin kau bisa mencintai gadis lainnya suatu saat nanti. Pilihan ibumu tak mungkin salah kan?"

"Pilihan ibu salah Rin, yang ibu pilih bukanmu, itu semua salah. "

"Zeno... Aku tau kau lelaki yang kuat, tolong terus lanjutkan hidupmu dengan bahagia, berjanjilah kepadaku pangeran,"

"Tapi bahagiaku ada dirimu Katharina, bagaimana bisa aku berjanji untuk suatu hal yang belum tentu bisa kujalani. Rin... Maaf... Aku terlalu menyakitkan untuk terus bersamamu,"

Sepasang kekasih itu meluapkan setiap rasa sakitnya, Katharina menangis sembari mengelus lembut helai rambut milik pangeran Zeno dari kerajaan Gleotra. Lihatlah betapa
lemahnya pangeran Gleotra yang selalu terlihat kuat didepan semua rakyatnya. "Zenovan, hiduplah dengan bahagia, aku yakin kau akan menjadi seorang raja dan suami yang bertanggung jawab. "

"Katharina, tak mau kah kau berharap untuk hidup bahagia bersamaku?"

"Bohong jika aku menjawab tidak, aku sangat menginginkannya, namun harapan hanya sebuah harapan, kita berdua harus kembali kepada jalan masing-masing."

"Kenapa kamu setegar ini Katharina?"

"Aku hanya tak ingin membuat mu menyesali keputusan yang telah kau buat Zeno, cukup kisah kita menjadi kenangan, sungguh aku bersyukur bisa bertemu denganmu."

"Katharina... Kau ingat janji kita kan? Jika kita tidak bisa bersatu dalam kehidupan ini, maka kita harus bersatu dikehidupan selanjutnya. Aku yakin kita akan bertemu lagi,"

Sang gadis hanya mengangguk dan tersenyum dengan air mata nya. "Iya pangeran, kau harus menjadi sayap pelindungku dikehidupan selanjutnya, akan selalu ku genggam ucapanmu."

Dikala lelah hanya Katharina lah yang menjadi rumah berteduh penuh kehangatan untuk pangeran Zenovan. Namun kali ini rasa sakit terus menjalar, setelah ini rumahnya harus ia tinggalkan, dan harus terpaksa bersinggah dirumah yang lain.

Dengan perlahan sang pangeran mendekatkan wajahnya kepada gadis itu, menyatukan dahi mereka, bahkan sampai hidung keduanya bertemu. "Katharina, setelah ini aku tak bisa selalu ada disisimu, maka simpanlah kalung ini, hanya ini yang bisa kuberikan. Tunggu aku Katharina, tunggu aku dikehidupan selanjutnya, aku berjanji akan selalu mengenggam tanganmu, dan membiarkan kisah kita menjadi lebih indah."

"Katharina, aku yang akan jadi sayap pelindungmu, aku yang akan ada untukmu, aku yang akan menemukanmu nanti, dan membawamu kedalam dekapanku."

"Pangeran..."

"Sekali lagi, maafkan semua omong kosong, dan janji yang sudah kuingkari. Ada satu hal yang selalu kukatakan namun bukan omong kosong belaka, Aku cinta Katharina, dan itu benar adanya."

"Aku juga mencintaimu pangeran, berapa lama pun itu aku akan selalu menunggumu,"

"Katharina, aku akan kembali kepada rumahku, tunggu aku..."

Angin malam  lembut yang menelisik di kulit mereka, berhasil menjadi saksi perpisahan yang diakhiri dengan kecupan hangat dari sang pangeran untuk sang putri. "Maaf, aku harus pergi sekarang..."

"Aku harap ini bukanlah sebuah akhir, namun menjadi awalan dari kisah kita,"

"Ternyata kali ini janji mu tak terbuktikan lagi pangeran, kamu memang menjadi sayap pelindung, tapi bukan untukku, melainkan untuk gadis lainnya."

-Statue Love-

Lelaki itu merentangkan kedua tangannya, membuat posisinya yang tadi tergeletak tidur di sofa berubah menjadi duduk. Sejenak ia termenung, memikirkan mimpi aneh yang beberapa hari ini menghantuinya. "Kenapa mimpi aneh itu terus berlanjut?" Kemudian ia menepis pemikiran anehnya, berusaha memikirkan hal yang lebih penting. "Itu cuma mimpi biasa kan? Gak mungkin juga sebuah mimpi bisa jadi kenyataan." Gumamnya.

Ia mengangkat tubuhnya, berjalan menuju kamar miliknya. Perlahan diketuknya pintu tersebut, namun sejak tadi mengapa tak ada respon dari penghuni didalamnya. "Rin? Masih tidur?" Tangannya membuka pintu dengan sangat hati-hati.

Melangkah perlahan kearah kasur, menyamakan tubuhnya dengan tinggi kasur tersebut, kemudian memandangi wajah lembut Katharina dari jarak yang cukup dekat. "Ternyata dia bisa diem juga ya." Ujarnya tersenyum mengelus lembut rambut gadis itu. "Cantik,"

Arzeno membenarkan selimut gadis itu, membiarkan sang gadis tidur dengan nyenyak, kali ini ia tak mau membuat kesalahan dengan berkata kasar lagi kepada Katharina, pasti gadis itu cukup lelah dari hari kemarin. "Lo pasti capek ya Rin? Tapi kenapa Lo malah nanyain kondisi orang lain? Lo aneh."

"Mungkin gak sih Rin? Kalau gua cinta sama Lo seperti yang dibilang Navan?" Gumamnya pelan. "Maaf Rin... Gua belum bisa paham dengan diri gua sendiri."

Kakinya bergerak untuk menjauh dari tempat Katharina tadi berada. Namun langkahnya tercekat saat sebuah tangan menahannya. "Zeno," Ia menoleh, melihat wajah sang gadis yang terlihat masih sayu-sayu.

"K-kok Lo udah bangun?"

"Kenapa? Apa aku harus tidur seharian?" Bingungnya.

"Bukan gitu, eh—kok tangan Lo dingin? Lo sakit? Kedinginan? Rin kenapa?" Ia menyatukan tangannya dengan dahi Katharina, memeriksa suhu tubuh gadis itu. "Gak panas, tapi badan Lo dingin banget."

"Aku tidak apa-apa Zeno, aku tidak sakit."

"Sebentar gua ambil selimut lagi, yang ini terlalu tipis,"

Lagi-lagi Katharina menahan tangan Arzeno, membuat sang lelaki kebingungan menatap matanya. "Kenapa?"

"Tetap disini,"

Deg. Rasanya perasaan aneh seakan bergemuruh didada Arzeno. "Tapi Lo kedinginan." Wajah pucat yang terlihat kini malah tersenyum, sembari menggelengkan kepalanya. "Lo beneran sakit ya?"

Yang ditanya diam, malah menuntun sang lelaki menuju ranjang kasur. Perlahan direbahkannya tubuh mereka berdua, "R-rin?" Suaranya semakin tercekat disaat gadis itu melingkarkan tangannya ditubuh Arzeno, memeluk sang lelaki dengan erat.

"Maaf Zeno, aku janji hanya sebentar..." Ia menyampingkan posisi tubuhnya menatap Arzeno, bersandar diatas dada lelaki itu. "Zeno, maaf,"

"Kenapa minta maaf? Hey Rin? Lo nangis?" Katharina menggelengkan kepalanya. "Kenapa? Lo Sakit ya?"

"Iya Zeno, sakit... sangat sakit,"

Kini lelaki itu diam, sunyi tak bersuara. Tangannya bergerak dengan ragu mengelus helai rambut Katharina. "Gak perlu minta maaf Rin," Satu tangannya bergerak membawa tubuh Katharina kedalam pelukannya agar terasa hangat.

"Rin..." Panggilnya dengan lembut. " ternyata Lo sehebat ini ya? Lo tertawa didepan semua orang, tapi nyatanya Lo yang paling merasakan sakit. Dan hebatnya Lo masih bertahan,"

"Aku punya alasan untuk bertahan Zeno," Ujarnya menatap dalam netra lelaki yang memeluknya.  Hanya untukmu, aku hanya bertahan untukmu semampu yang aku bisa...

"Rin? Lo nangis?"

Gadis itu tersenyum. "Tidak Zeno,"

"Gak cape ya bohongin diri Lo sendiri? Lo boleh nangis Rin, gua gak melarang, kalau Lo malu karena ada gua, nanti gua tutup mata deh," Bukannya menangis ia malah tertawa melihat Arzeno yang berusaha menutupi kedua bola matanya. "Ayo nangis Rin,"

"Zeno apa yang kamu lakukan?" Tawanya terbahak-bahak membuat Arzeno malah menaikkan alisnya kebingungan.

"Kok ketawa?"

"Kamu lucu,"

Wajah nya seketika berubah menjadi merah layaknya kepiting rebus. "Wajahmu memerah, apa kamu merasa malu?"

"Enggak!"

"Lucu sekali bayi besar ini, walaupun teman-teman mu mengatakan kamu sebagai orang yang membosankan, tapi menurut ku kamu tak terlalu membosankan, kamu bahkan terlihat lucu tanpa harus berusaha menjadi lucu Zeno."

"Rin ... Jangan gitu gua malu."

Lagi-lagi gadis itu tertawa. "Udah jangan ketawa, gua tau semua orang bilang gua gak lucu, Lo cuma mau hibur gua doang kan? Wah bisa-bisa nya Lo lagi sedih masih aja ledekin gua. Gatau lah males." Zeno menjauhkan tubuhnya dari Katharina.

"Eh kamu marah? Zeno, astaga maafkan aku, itu sebuah pujian, aku jujur mengatakannya, kenapa kamu tak percaya denganku? Jangan menjauh Zeno, sini, aku masih butuh pelukkan."

Sontak lelaki itu kembali tersenyum, kembali membawa tubuh Katharina kedalam dekapannya.  "Badan Lo masih dingin Rin,"

"Iya, tapi sekarang sedikit hangat," Suaranya yang samar-samar memeluk tubuh Zeno. "Terimakasih,x

"Untuk?"

"Semuanya,"

"Terimakasih kembali ibu Katharina Belleazure," bisiknya didekat telinga gadis itu. "Katharina... Gua sayang banget sama Lo, sebagai sahabat,"

"Iya Zeno ... Aku juga sayang denganmu," Maaf Zeno, sepertinya aku melanggar hukum pertemanan yang ada, karena kali ini aku menaruh lebih dari perasaan sayang  pada sahabatku sendiri.

"Jangan pergi Rin,"

"Aku masih disini Zeno,"

Tapi entah dengan esok hari. Apa masih bisa aku berada disisimu?

"Zeno? Apa boleh aku menjadi egois sekali ini saja?"

"Untuk hal apa?"

"Cinta,"

Rasanya aku ingin menjadi egois untuk terus berada didekapanmu Zeno, dan membiarkan setiap waktu berhenti dan menyisahkan kita berdua disini. Rasanya aku belum bisa rela jika melihatmu bahagia dengan yang lainnya.

Zeno, pelukan mu terlalu hangat, seakan tak ingin ku lepaskan dan menghilang. Zeno? Dari sekian banyak manusia, kenapa hatiku harus jatuh padamu? Dan menyedihkan nya kenapa hatimu tak terjatuh padaku?

"Enggak Rin, Lo gak bisa memaksakan cinta,"

"Kalau begitu aku harus mundur ya Zeno?"

-Statue Love-



Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co