22. Lukis
-Statue Love-
Setelah berpikir semalaman Katharina memutuskan untuk mundur, namun bukan berarti berhenti mencintai Zeno, ia sadar bahwa tempatnya bukanlah disini, masanya hanya terjadi di masa lalu dan kini semuanya sudah terlewat.
Disore hari diminggu ini terasa sedikit manis, sejak tadi gadis itu memperhatikan Arzeno yang tengah berkutat dengan benda yang menurutnya adalah rumah-rumah kecil yang lucu. Katharina suka melihat Zeno yang fokus pada pekerjaan ya, namun ia tak suka dengan Arzeno yang suka melupakan semuanya ketika tengah bekerja.
Sang gadis menaruh kepalanya miring dimeja depan tv, "Zeno, apa kamu tidak pernah bosan dengan rumah-rumah kecil itu?"
Yang ditanya menganggukan kepalanya, bohong jika ia tak bosan dan mengerjakan tugasnya dengan senang hati. "Bosen, tapi harus terpaksa dilanjutin,"
"Kapan rumah kecil itu akan selesai Zeno?"
"Dikit lagi selesai, kenapa? Lo bosen?" Gadis itu mengangguk lucu, membuat Arzeno yang melihatnya tersenyum dan mengusak helai nya sampai berantakan.
Namun sekian detik sang gadis malah diherankan karena Arzeno bangkit dari duduknya dan pergi entah kemana. Layaknya mentari pagi lelaki itu datang bersama senyumannya yang cerah, dengan tangan kanan yang memegang sebuah kanvas, cat, dan juga gitar yang entah terakhir kapan ia mainkan.
"Nih, gua ingat Lo pernah bilang Lo suka gambar kan?" Senyum kesenangan Katharina mengembang, ia ingat terakhir kali melukis dan menggambar saat ia masih berada di akademi kerajaan, itupun harus mengumpat-umpat agar tak diketahui Sang Raja.
"Tapi aku tidak yakin, apa aku masih bisa melukis Zeno?" Tepukan lempur dikepala Katharina membuat gadis itu yakin. "Baiklah aku akan mencobanya."
"Ini cat nya,"
Langsung dengan semangat tangannya bergerak lihat diatas kanvas, sembari menikmati alunan gitar tanpa lirik yang dimainkan Arzeno. "Darimana kamu belajar alat musik itu Zeno?" Tanya nya memandang lucu penasaran lelaki itu.
Sejenak sang lelaki terdiam, mengingat kembali kenangan dimasa lalu. "Ayah yang ngajarin gua Rin. Tapi semenjak Ayah sama Bunda udah pergi, sempat berhenti main gitar, tapi main lagi pas gua di SMA."
"Wah itu terdengar sangat hebat Zeno."
"Gak juga,"
"Jangan merendah, aku yakin saat di sekolah dulu kamu memiliki banyak penggemar," Yakinnya menggerutu sembari sibuk dengan rangkaian warna di kanvas. "Ah atau... apakah dulu kamu pernah menyukai seorang gadis? Wah terdengar sangat keren jika benar adanya."
"Gua gak pernah suka sama cewek pas SMA,"
"Bohong."
"Bener. Tapi sekarang gua udah suka sama seseorang sih Rin..."
Senyum yang tadi secerah matahari kini tiba-tiba luntur akan kegelapan. "Ah begitu ya? Siapa nama gadis itu Zeno?" Walau senyuman terus terukir namun yakinlah, sebenarnya hati Katharina sangat hancur.
"Alya,"
"Pasti dia gadis yang baik ya?"
Yang ditanya hanya mengangguk sembari tersenyum. Dalam pikirnya berkata bahwa memang benar adanya Alya yang ia kenal adalah orang baik. "Dia unik Rin,"
"Ah begitu ya? Kalau begitu bolehkah aku mendengarkan nada lainnya dari gitar yang kamu mainkan Zeno?" Ucapnya berusaha mengalihkan topik.
Dengan lembut Arzeno memainkan gitarnya lagu, dengan ala Finger style, namun kini ditemani dengan senandung indah nan lembut dari Katharina. "Rin, Lo pasti akan ketemu dengan lelaki yang baik suatu saat nanti, dan gua harap Lo bahagia dengan dia."
"Apa bisa aku menemukan lelaki seperti itu Zeno?" Tatapan tulusnya menuju Arzeno.
"Iya Rin, pasti."
Gadis itu hanya tersenyum, ia harap begitu, tapi ia lebih berharap lagi jika lelaki itu adalah Arzeno. Lagi-lagi Katharina menertawakan nasibnya, sebenarnya untuk apa ia hidup? Apa hidupnya hanya sebagai saksi kebahagiaan orang lain? Apakah hidupnya hanya sebagai objek rasa sakit belaka? Bukankah ini melelahkan, namun ia tak bisa menyerah.
"Zeno, jika aku tidak ada disaat kamu sudah menggapai mimpimu, aku harap akan ada orang lain yang bertepuk tangan dengan bangga akan usaha yang telat kamu lakukan,"
Sontak Arzeno berhenti memainkan gitarnya, mendekat ke arah Katharina. "Kenapa bilang begitu? Maksudnya apa Rin?"
"Zeno, kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya, aku harus meminta maaf terlebih dahulu sebelum aku melanggar janji ku nantinya,"
"Enggak. Lo gak boleh kemana-mana. Tetap sama gua Rin, Lo harus tepatin janji Lo."
Katharina tahu bahwa Arzeno bukanlah orang yang mudah menangis, dia hanya menangis ketika ia merasa marah, dan kesal, namun kenapa akhir-akhir ini mata lelaki itu lebih mudah berbinar akan air mata? "Zeno,"
"Enggak Rin. Gua gak mau Lo ngomongin itu lagi,"
"Maaf..." Ujarnya menundukan kepala merasa bersalah akan setiap kata yang telah diucapkan. "Aku tidak akan berkata begitu."
Tatapan nanar sedih itu hadir lagi dikala ia melihat Katharina yang terlihat sedih. "Gua heran Rin,"
"Kenapa?"
"Heran, kenapa akhir-akhir ini gua jadi mudah ketawa, gua mudah sedih, dan gua juga mudah takut untuk kehilangan seseorang. Padahal dulu gua udah seperti orang yang mati rasa,"
Tangan yang tadi menari indah bersama dengan kuas kini terhenti. Bergerak mengelus rambut Arzeno sembari tersenyum. "Tenang Zeno, hidup itu memang tentang mereka yang datang dan pergi, kamu tidak perlu takut kehilangan, pada akhirnya nanti aku yakin segenap hati bahwa kamu akan menemukan yang lebih baik dari sebelumnya. Terkadang seseorang harus mundur satu langkah agar bisa melompat lebih jauh. Dan Terkadang kita harus mengorbankan sesuatu yang indah untuk melihat hal yang lebih indah, tak perlu takut Zeno, percayalah kedepannya pasti akan lebih indah. Takdir akan menuntunmu "
"Iya bener Rin, setiap orang yang datang pasti akan pergi, tapi kenangan mereka gak akan pernah pergi kan?" Lelaki itu mengambil kecil robekan kertas dan menuliskan beberapa kata-kata disana, melipatnya rapat dan memberikan nya kepada Katharina.
'Can you give me a little hug?'
Sang gadis tersenyum lebar merentangkan tangannya, dan dengan lucu lelaki itu masuk kedala dekapan Katharina, bersembunyi dicuruk lehernya, sembari membayangkan apa yang terjadi jika suatu hari ia kehilangan Katharina? Maka siapa yang akan memeluknya seperti ini lagi?
"Kamu seperti bayi besar, kenapa lelaki yang bernama Arzeno ini sangat cengeng, sejak kapan kamu seperti ini? Umur mu bahkan sudah menginjak 22 tahun, tapi masih seperti bocah kecil umur 2 tahun."
"Diem, jangan ngomong." Cemberutnya.
Katharina sedikit merintih kesakitan, tangannya tercekat, terasa kaku saat mengelus rambut Arzeno. "Ugh—"
"Kenapa?"
Dengan cepat ia menjawab "Tidak, bukan apa-apa."
Kembali dihantam kenyataan, Katharina kembali mengingat bahwa bulan purnama akan datang dalam waktu 5 hari, Tangannya sudah sedikit terasa kaku, namun masih sedikit bisa ia gerakan perlahan, apakah nanti semuanya akan terus menjulur keseluruh tubuh? Kenapa rasanya ia belum siap? Ini terlalu berat, dan terlalu cepat, Katharina masih ingin terus memeluk Arzeno.
"Zeno, maaf kan aku,"
"Untuk apa?"
Berani mencintaimu sejauh ini.
-Statue Love-
Ini hanya sebuah lukisan yang kubuat untuk menjelaskan betapa indahnya paras Arzeno maupun Zenovan. Mengabadikan sosok yang mengisi masa lalu, dan masa sekarang, namun tak untuk di masa yang akan datang.
-Katharina Belleazure
GUYS!
BTW HAPPY BIRTHDAY MAS RENJUN ❤️
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co