26. Sadar
Secercah cahaya matahari menelisik masuk dari sela-sela gorden tipis yang nampak terbuka. Silau nya cahaya berhasil menganggu tidur sang gadis yang masih berada dalam dekapan sosok lelaki yang memeluknya semalaman.
Didalam selimut mereka saling berpelukan, mereka hanya saling mengobati dengan setiap rasa sakit yang ada, kini Katharina menyerah bagaimanapun juga ia harus pergi, namun kini ia malah harus terikat oleh Arzeno.
Sorot netra nya bergerak menatap Zeno yang masih tertidur tenang, wajah mereka berdua cukup dekat, bahkan Katharina bisa merasakan hembus nafas lelaki itu. Perlahan jari-jarinya bergerak merapihkan Surai rambut Arzeno yang menutupi wajah lelaki itu. "Zeno, aku harap kamu tak akan merasakan sakit setelah aku pergi..." Lirihnya lembut.
Dalam tidurnya Zeno dapat merasakan jari-jari Katharina yang masih bergerak mengelus rambutnya, ia semakin mengeratkan pelukannya pada Katharina. "Eunghh," lenguhnya merasa sedikit terganggu.
"Zeno bangun," Ia mulai membuka matanya, merasa aneh dengan cahaya silau yang tiba-tiba menelisik mata. "Ayo bangun, lepaskan aku,"
"Rin..."
"Iya?"
"Gak mau lepas, gini dulu gua masih ngantuk..." Ujarnya menelungkupkan kepala nya mencium surai Katharina.
"Zeno, boleh aku mengatakan suatu hal kepadamu?"
"Kalau hal itu bikin gua sedih lebih baik jangan diucapin dulu Rin. Gua gak mau dengar hal yang menyedihkan lagi." Kini Katharina terdiam, mungkin memang sebaiknya ia tak membahas tentang kepergian nya kepada Arzeno.
Ia menyerah, membiarkan Arzeno melakukan apapun semaunya. "Zeno, janji kepadaku untuk selalu hidup bahagia,"
"Namanya hidup kan gak selalu bahagia Rin, gua gak bisa janji."
"Tapi setidaknya kamu berusaha untuk memiliki kehidupan yang bahagia, mau dengan siapapun itu,"
"You said you love me, tapi ucapan Lo sekarang malah terdengar kalau Lo pasrah biar gua pergi dengan orang lain,"
Katharina menggelengkan kepalanya. "Bukan begitu..."
"Terus gimana?"
"Sebagaimana cinta yang seharusnya, dimana cinta tak hanya sekedar kebahagiaan, cinta juga tentang hubungan timbal balik, yang dirasakan satu sama lain. Dan disini kita punya posisi yang berbeda Zeno, aku mencintaimu tapi tidak dengan sebaliknya,"
"Rin..."
"Zeno, aku tahu kamu mencintai orang lain, dan itu bukan aku. Aku tak ingin memaksakan cinta, karena yang dipaksakan tak akan pernah berakhir dengan kebahagiaan." Tangan Katharina beralih mengelus pipi lembut Arzeno. "Aku akan bahagia ketika kamu merasa bahagia Zeno, jangan merasa kasihan dengan setiap rasaku saat ini, aku sungguh tak apa."
"Maafin gua..." Ia menutup matanya, mengenggam tangan Katharina yang berada diatas wajahnya saat ini.
Layaknya boneka yang terlalu tersenyum Katharina menampilkan senyuman indahnya didepan Arzeno, ia tak mau terlihat menyedihkan seperti sebelumnya. "Tidak apa Zeno."
"Lo udah jadi obat gua Rin, tapi tanpa sadar, gua gak memberikan hubungan timbal balik, karena bukan obat yang gua berikan, melainkan luka. Maaf... Orang kaya gua rasanya gak pantes terima cinta dari orang sebaik Lo Katharina."
"Enggak Zeno. Selama ini aku cukup bahagia denganmu. Kamu banyak mengajarkan ku berbagai hal, menerima, memberi, dan mengikhlaskan,"
Arzeno semakin mengeratkan pelukan diantara mereka, "Gua sayang Lo Rin, tapi gue juga bingung dengan perasaan gua. Lo mau tunggu gua?"
"Tunggu untuk apa Zeno?"
"Tunggu gua paham dengan perasaan ini." Tegasnya.
Katharina tersenyum namun kini matanya terlihat berbinar, hatinya sakit, ia ingin sekali menunggu Arzeno, namun kali ini ia tak bisa.
Semuanya sudah terlambat Zeno, tak ada yang bisa diubah.
Arzeno menatap mata sang gadis, melihat surai-surau panjang yang menutupi wajah cantik Katharina. Dalam sekian detik sang lelaki mengecup lembut bibir Katharina. "Katharina, sekali lagi maaf untuk setiap rasa sakit yang udah gue berikan."
Katharina sudah cukup lama menunggu, namun Arzeno tak pernah sadar akan penantian berharga sang gadis.
Sudah cukup aku menunggu Zeno, pada akhirnya apalah arti menunggu jika hanya sebuah kesia-siaan yang kudapatkan.
-Statue Love-
Kali ini cafe yang biasanya terlihat ramai pengunjung malah menjadi sepi sunyi, entah karena apa, bahkan para barista yang biasanya ceria kini ikut mengalami kesunyian panjang yang tak berarti.
Raji berjalan kearah sudut ruangan menaruh sapu dan pengki yang ia gunakan tadi. Setelah ditaruh ia berjalan kearah Chendra yang menghitung uang hasil dari penjualan hari ini. "Chen, Lo ngerasa sunyi gitu gak? Apa gua doang yang ngerasa kaya gini?"
"I feel you bro, suasana nya jadi sepi, apa karena bang Arzen, sama bang Navan berantem?"
Ia mengangguk sebagai kemungkinan ucapan dari Chendra adalah benar adanya. "Kayanya iya," Lelaki berparas tinggi itu memilih duduk di bangku kosong samping Chendra. Memutar sebuah lagu berharap menghilangkan kekosongan yang ada.
Bahkan sudah 15 menit sejak mereka berdua terdiam mendengarkan lantunan musik, tak ada satupun pembeli yang datang. Sampai pada bunyi lonceng pintu itu terdengar, memperlihatkan kehadiran seorang lelaki.
"Selamat dat—Bang Navan?" Keduanya saling berpandangan merasa kebingungan.
"Arzen gak kesini?" Tanya Navan merapihkan rambutnya yang basah terkena hujan.
"Tadi Aji chat, katanya nanti dateng sih bang. Kenapa bang emangnya?" Navan menggelengkan kepalanya. "Lo ngapain kesini bang? Emang gak ada kuliah?" Sambung Chendra.
"Gak ada." Suaranya terdengar dingin dan datar. Dengan cepat Navan terlihat mengeluarkan sesuatu dari tas nya. Memberikan dua buah amplop kepada mereka. "Gajian Lo pada."
Setelah mendengar ucapan Navan, otomatis Raji langsung tersenyum, menggosokan kedua tangannya tak sabar untuk mendapatkan gaji dibulan ini. "Wih makan enak hari ini. Makasih Bang."
"Sama-sama, tapi ada satu lagi." Dua buah kertas berwarna coklat ia berikan dengan ragu.
"Apaan nih bang? Bukan surat resmi kita dipecatkan?" Tanya Chendra mengusak rambut nya.
"Bukan, itu dari... Katharina."
"Seriusan? Surat apaan nih? Surat cinta kah?"
"Jangan ngimpi Lo bocil." Sergah Navan. "Gua gak tau isi surat itu apa, karena bukan hak gua untuk baca."
"Makasih Bang, gua mau baca dulu surat cinta dari Kak Karin." Senyum Chendra seakan merekah indah, dengan semangat ia membaca surat itu, menghayati setiap kata demi kata yang tertulis.
Semakin lama dibaca semakin hilang juga senyum Chendra dan Raji secara bersamaan. Kini mereka menatap kosong surat yang tadinya ia kira kabar gembira malah membuat mereka merenungkan kesedihan.
"Jadi kak Karin mau pergi?" Tanya Raji dengan tatapan kosong.
"Bang Navan, Lo harus cerita ke kita, jangan buat kita penasaran bang. Kak Karin mau pergi kemana?" Tatapan marah Chendra seakan menuntut penjelasan dari Navan, namun lelaki itu hanya membuang nafasnya kasar.
Apa Navan harus menceritakan semuanya kepada mereka berdua? "Terlalu panjang untuk diceritain Chen, gua gak bisa cerita."
Tanpa sadar Raji sudah mulai menghapus air matanya yang terjatuh membasahi pipi. Kalau boleh jujur, Raji bahkan sudah menganggap Katharina sebagai kakak nya, bagi Raji, Katharina sosok perempuan yang baik, dan penuh dengan kasih sayang.
"Lah Ji? Lo nangis?" Tanya Chendra memperhatikan Raji yang menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Ji jangan nangis, nanti gua juga ikutan nangis,"
"Bang, kak Karin sekarang dimana? Apa dia udah pergi?"
"G-gua juga gak tau. Tapi gua harus ke rumah Arzen, semoga aja Katharina masih ada disana."
"Bang, mau ikut." Mohon Raji menarik ujung baju Navan.
"Please bang, setidaknya kita harus ketemu kak Karin, buat ucapin terimakasih." Sambung Chendra yang telah menundukkan kepalanya.
"Ck. Yaudah ayo, tapi Lo berdua naik apa?"
"Naik mobil nya Chendra bang, ya gak Chen?" Tanya Raji dengan semangat, menyenggol bahu teman disampingnya. "Ayolah Chendra,"
"Yaudah ayo dah, gua suruh pak Tarno dulu untuk anterin mobil kesini."
"Okay. Gua duluan, tapi... Seandainya ada kejadian aneh pas Lo ketemu Katharina, gue harap Lo berdua gak kaget, dan jangan tanya apapun."
Chendra dan Raji kompak menganggukan kepala. Mereka setuju dengan segala resiko yang akan mereka dapatkan nantinya.
Rin, gua harap Lo masih bisa ucapin selamat tinggal secara langsung.
-Statue Love-
Detik-detik jarum jam dinding terdengar jelas di Indra pendengaran sang gadis. Hatinya kembali terasa kosong ketika Arzeno dengan cepat melepaskan pelukan dan beralih pergi setelah mendapat panggilan telfon dari Alya.
Sebelumnya Katharina telah berharap Arzeno benar akan menyanyanginya seperti yang lelaki itu bilang, namun lagi-lagi ia kalah, nyatanya Arzeno masih menaruh nama Alya sebagai prioritasnya.
"Rin, nanti kalau mau makan gua udah buatin untuk Lo, gua harus ke rumah sakit sekarang, Lo jangan pergi kemana-mana, gua bakalan pulang cepet, gua janji." Ucapanya yang masih sibuk memasang tali sepatu dengan benar.
Dengan tas ransel hitam yang selalu Arzeno bawa, lelaki itu segera pergi, meninggalkan Katharina sendirian untuk yang kesekian kalinya. Nafas yang tergesa-gesa dan langkah yang begitu cepat membuatnya semakin khawatir dengan panggilan terakhir dari Alya.
Dalam telfon Alya berkata bahwa ia butuh bantuan dari Arzeno, tanpa memberi penjelasan yang pasti bantuan apa yang seharusnya lelaki itu lakukan. Namun layaknya lelaki sejati, apapun itu Arzeno akan selalu membantu Alya.
Dalam beberapa menit setelah menaiki bus ia sampai di rumah sakit yang sama dimana Raihan dirawat. Kali ini terlihat banyak sekali pasien, entah kenapa tapi Arzen tersadar bahwa banyak orang yang sakit, dan membutuhkan obat penyembuh yang pasti, agar mereka bisa bertahan hidup.
Arzeno melambatkan langkahnya, mengetuk pintu ruang rawat Raihan. Ia masuk kedalam ruangan dingin itu, melihat dengan jelas Raihan dan Alya yang tengah bergandengan tangan, dan saling berpeluk.
"Arzen, Lo udah dateng," Pertanyaan retoris dari Alya membuat Arzeno hanya menganggukan kepalanya. "Sorry, gue kayanya ngerepotin Lo ya, tapi gue lagi butuh bantuan Lo."
"Enggak Al, Gua bisa bantu apa?"
"Anu... Raihan harus kekamar mandi, tapi gak mungkin kalau gue yang nganter kan?"
"O-oh... Ayo han,"
"Dih Lo kok langsung ayo gitu sih," Heran Raihan.
"Terus gua harus gimana? Nolak nganterin Lo ke kamar mandi? Yaudah gua pulang."
"Eh Zen, astaga, jangan ngambek. Sini Lo, bantuin gua." Arzeno mendenguskan nafasnya, berjalan kearah Raihan dan memapah tubuh lelaki itu menuju kekamar mandi.
Alya yang ikut kebingungan ingin membantu, memilih pergi dari ruangan tersebut, sembari meminta tolong kepada suster lainnya untuk mengganti infus Raihan nantinya.
"Han," Sahut Arzeno.
"Yo, kenapa?"
Arzeno menelan salivanya ragu "Lo pacaran sama Alya?"
"Belum, tapi gua tau kalau dia suka sama gua."
"Berarti ada kemungkinan kalian pacaran?" Raihan sontak menaikkan alisnya, menatap aneh ke arah Arzeno.
"Jangan bilang Lo suka Alya?" Tebak Raihan yang sebenarnya sangat tepat, namun dijawab gelengan kepala. "Ah iya gak mungkin sih, Lo pasti suka nya sama Katharina kan?"
"Maksudnya?"
"Lo tuh gak peka atau bego dah. Dia tuh suka sama Lo, the way she is staring at you just like she already explain how much she loves you. Katharina cewek yang baik menurut gua, she deserves someone who has a good personality."
"Han. Do I deserve her?" Tanya Arzeno.
"Iyalah, Lo cocok sama dia, gini ya Zen. Jangan pernah sia-siain orang yang selalu punya pandangan cinta ke Lo. Kalau dia cinta sama Lo artinya dia menerima Lo apa adanya, dia mau Lo bahagia bahkan kalau misalnya bahagianya Lo bukan dia. Itu cinta yang sebenarnya, and i know, Katharina deserves you, and you deserve for her."
"Semua orang itu pantas Zen, jangan merendah, karena semua ciptaan Tuhan di buat seindah mungkin, tanpa direndahkan sedikit pun."
Kala itu Arzeno benar-benar memahami setiap ucapan Raihan. Ia tertampar dan tersadar akan kenyataan, bahwa Katharina adalah orang yang tepat untuk dirinya. "Raihan. Gua harus pergi,"
"Eh-eh mau kemana Lo! Eh Zen, anjir bantuin gua cebok dulu! Ah anjing!"
Arzeno berlari kencang tanpa mendengar teriakan Raihan yang terdengar marah. Mungkin memang kali ini harus Arzeno sesali bahwa ia telah menghiraukan perasaanya dulu terhadap Katharina. Menghiraukan setiap peringatan dari Navan, dan bahkan dari mimpinya yang selama ini ia dapatkan. "Putri Katharina, Maaf, karena sosok sayap pelindungmu harus datang terlambat..."
-Statue Love-
maaf sebelumnya aku gak bisa nepatin janji, karena tiba-tiba aja semuanya diluar kendali, aku lagi hectic, maaf ya untuk para readers yang masih nunggu cerita ini dengan sabar😞🙏🏻
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co