Truyen3h.Co

Statue Love

27. Terlambat

nanayyyg_

-Statue Love-

Kedua remaja berbadan tegap dengan badan yang terbilang cukup tinggi itu turun dari mobil mewah bercat merah elegan. Mereka berdua berjalan mendekat kearah pekarangan rumah, sampai tepat didepan rumah keduanya mengetuk pintu tersebut. "Kak Karin..."

Chendra menyenggol tangan Raji, "Jangan nangis mulu anjir, sedih-sedihan nya belum dimulai." Raji hanya mengangguk, ia menahan tangisnya sebisa mungkin.

Pintu terbuka, menampilkan Katharina dan Navan disana. "Kalian?" Bingung Katharina melihat kedua remaja yang sudah ia anggap sebagai adiknya.

Katharina menoleh kearah Navan, berusaha mencari penjelasan. "Gua yang bolehin mereka dateng Rin. Boleh kan?" Walau ragu akhirnya Katharina membolehkan keduanya masuk kedalam rumah Arzeno.

"Kak Karin, kita udah baca surat dari Kakak." Agaknya Nafas Katharina sedikit tercekat. "Kak, Lo mau kemana? Kenapa tiba-tiba?"

"Itu..."

"Chendra, Raji, jangan ditanyain sekarang ya, gua akan jelasin ke Lo berdua tapi gak sekarang," Mereka berdua berusaha memahami keadaan saat ini, Chendra yakin Navan pasti akan menepati janjinya.

"Iya bang,"

"Kak Karin, Aji gak tau kakak mau kemana, tapi... Aji mau berterimakasih ke kakak. Kak, maaf kalau Aji bandel, itu semua karena Chendra juga,"

"Kok gua???" Marahnya tak terima.

"Emang Lo." Dalam sesaat Katharina tertawa, ia bahagia masih bisa melihat Chendra dan Raji disaat-saat terakhir seperti ini.

"Kak Karin... Maaf kalau gua bikin Lo kesel ya, gua seneng banget kak bisa kenal Lo, dari dulu gua mau punya cici, tapi gak mungkin bisa, tapi pas ketemu Lo gua jadi tau rasanya punya cici atau kakak yang penuh kasih sayang." Ulas Chendra yang berpura-pura tegar padahal air matanya sudah di pelupuk mata.

"Kak Karin bakalan balik lagi gak?" Kini Raji bertanya, namun ia kebingungan karena hal ini tak dijawab Katharina. "Kak? Balik lagi kan?"

"Mungkin iya mungkin juga tidak, aku bahkan tidak tahu tentang kedepannya. Tapi... Bagaimanapun kedepannya aku siap untuk menerima segala resiko. Chendra, Raji, kalian anak yang baik, aku juga senang bertemu dengan kalian. Gapai mimpi kalian ya?"

"Setiap cerita yang kalian beritahu kepadaku akan selalu kuingat, dan aku kenang, aku harap kalian tidak sering bertengkar, terus menjadi teman bahkan hingga tua nanti."

Kini Raji benar-benar menangis didepan semuanya. "Kak Karin maafin Aji... Jangan pergi kak, Aji gak mau kehilangan orang yang Aji sayang..."

"Kak, salahin Raji, karena gara-gara dia gua jadi ikutan nangis." Mereka saling berpelukan, memberikan setiap kasih sayang adik dan kakak yang ada. "Kak, kalau boleh request, gua gak mau Lo pergi kak,"

Aku juga mau seperti itu

-Statue Love-

Kota dimalam hari ini entah mengapa ingin membuat Arzeno mengutuk dirinya sendiri karena kemacetan jalan yang ia tengah hadapi. Ribuan pikiran negatif sejak tadi sudah melewati pikirannya, Arzeno sungguh menyesal dengan semua yang terjadi, semua perbuatan bodohnya yang bisa dibilang terlambat untuk diperbaiki kembali.

Mobil angkot sudah terhitung 30 menit tadi hanya jalan beberapa meter, mau tak mau dengan jiwa gusarnya sang lelaki itu turun, dan berlari mengarungi kemacetan jalan. "Gua gak punya waktu lagi." Ujarnya sembari berlari, mengerahkan semua tenaganya agar cepat sampai ke rumah.

"Putri Katharina, maaf..."

Dalam lari nya menelusuri jalan, tanpa ia sadari setetes air mata jatuh di pipinya. Nafasnya terus menderu tak memperdulikan rasa lelah yang terus menerpa. "Katharina tunggu sebentar lagi."

Brakkk!

Tubuhnya seseorang terjatuh lantaran tak sengaja terdorong dirinya tadi. "Nenek, maaf saya gak sengaja, nenek ada yang sakit?" Ucapnya berusaha membantu nenek tua tersebut.

Sang Nenek memperhatikan wajah panik sang lelaki, beberapa saat kemudian nenek itu tertawa, "Kamu sudah terlambat nak, tak ada yang bisa diubah dan diperbaiki, janji mu yang dulu bahkan telah kau langgar, kini untuk yang kesekian kalinya kamu gagal. Cintamu yang sesungguhnya akan pergi karena kebodohan mu sendiri."

Diam, membeku, tubuhnya tak bisa berkutik mendengarkan setiap tutur kata nenek tersebut. "Nenek s-siapa?" yang ditanya tak menjawab, ia malah berdiri lalu pergi kembali menyusuri keramaian, hingga dalam seketika hadirnya tak dapat Arzeno lihat lagi, dalam sekejap nenek itu hilang entah kemana.

-Statu Love-

"Kemana Raji dan Chendra pergi Navan?" Tanya Katharina dengan lembut.

"Udah gua suruh pulang mereka." Ujarnya memberikan sebuah gelas minuman kepada Katharina.

"Kenapa kamu suruh mereka pulang?"

Kini kepala Navan menoleh. "Gak mungkinkan, nanti mereka lihat lo hilang gitu aja? Yang ada mereka takut."

Seketika bola matanya lucu membesar. Ia mengangguk paham dengan penjelasan Navan. "Kalau begitu kamu akan tetap disini sampai aku menghilang nanti pangeran?"

Kini Navan terdiam, jika boleh memilih ia mau tetap bersama Katharina kemanapun sang putri pergi, namun layaknya angan belaka, dan pertanyaan retoris yang sudah pasti terjawab tidak bisa, Navan menyerah. "Iya, setidaknya gue liat lo,"

Walaupun untuk yang terakhir kalinya...

Sang gadis paham benar ketika melihat mata Navan yang mulai berbinar, namun terlihat dengan kuat menahan semua itu. Tangannya kemudian bergerak mengelus perlahan dan lembut punggung Navan. "Pangeran, kamu tau? Di kerajaan ku dulu terdengar tentang kisah seorang pangeran yang terkenal sampai kepelosok negri karena kebaikannya,"

"Terus?"

Katharina tersenyum kemudian melanjutkan ceritanya. "Pangeran tersebut disukai banyak orang, bahkan banyak putri dari kerajaan lain yang rela datang hanya untuk bertemu dengan sosoknya, namun sayangnya..."

"Kenapa?"

"Dari ribuan gadis hanya satu yang ia cintai dikala itu. Mereka menjalin hubungan tak terlalu lama, sampai pada saat Sang pangeran ditinggal mati oleh kekasihnya, putri dari kerajaan sebrang itu dikabarkan bunuh diri, karena lelah menerima kekangan dan paksaan dari orangtuanya."

"Ha? Terus si pangeran gimana? Dia gak ikut bunuh diri kan?" Penasaran Navan, semakin mendekatkan tubuhnya untuk mendengarkan cerita Katharina dengan serius.

"Pangeran itu sedih, ia ikut terpuruk, apalagi disaat ia melihat sosok mayat sang kekasih didepannya. Setelah kematian sang kekasih dirinya sempat berubah, ia lebih banyak menyalahkan diri sendiri atas semua yang terjadi. Padahal jika kita lihat sebenarnya itu bukanlah salah pangeran kan?"

Navan mengangguk setuju, karena aneh rasanya kesalahan orang justru disalahkan kepada diri sendiri. "Aneh njir pangerannya, terus gimana nasibnya? gak bundir kan?"

"Tidaklah hahaha! Pangeran bertemu dengan gadis lainnya, yang menyadarkan dia bahwa hidup memang tentang menerima, mendapatkan, datang, pergi, dan ikhlas. Tepatnya sang Pangeran bertemu dengan seorang anak petani, walaupun sederhana, gadis itu pintar, mengajarkan banyak hal kepada pangeran."

"Kasih apa?"

"Saran."

"Tentang?"

"Hidup."

"Widih berarti kalau dijaman sekarang, bisa dibilang love language ceweknya pasti word of affirmation ya?"

Ia menggaruk bingung dahinya, entah apapun yang Navan katakan ia hanya mengangguk agar terlihat memahami isi pembicaraan. "Ya mungkin seperti itu. Pangeran... gadis itu berkata, ketika orang yang telah kita temui pergi atau meninggalkan kita, itu artinya semua tugas kita bersama orang tersebut sudah selesai. Akan ada saatnya orang yang datang dan bagi kita menjalankan tugas barunya lagi."

"Capek dong, kerjain tugas terus ditinggal gitu Rin. Sampai kapan selesainya? I mean sampai kapan kita ketemu orang yang akan menetap?"

"Sampai datang waktu yang tepat."

"Jadi intinya lo bilang kaya gini, lo mau kasih tau gue kan? Kalau tugas gue ke lo udah selesai?"

Dengan ragu Katharina mengangguk. "Ternyata kau lebih cerdas dari yang kukira pangeran." Navan tertawa, kemudian memperhatikan bola mata indah sang gadis yang sangat ia cintai.
"Pangeran ada apa? Apa ada yang aneh dari wajahku?"

"Iya aneh."

"Huh?"

"Aneh. Karena Cantiknya melebihi bintang malam." Ujarnya tersenyum memandang gadis didepannya.

Navan tak bisa bohong betapa ia mencintai Katharina, ia terus memandangi wajah itu, seakan tak ingin kehilangan pandangnya sedetikpun. Perlahan digenggamnya tangan Katharina, ia menatap tangan mungil tersebut, dan tanpa sadar ia malah meneteskan air matanya dalam bisu.

"Pangeran?"

"Rin... Tangan lo ..." Pandangan Katharina sontak ikut melihat kearah tangannya. "Katharina?"

"Pangeran, jangan takut, sepertinya ini sudah saatnya aku pergi ya?" Navan menggelengkan kepalanya dengan tegas. Tidak, ia tidak rela jika Katharina menghilang.

Dengan segala rasa paniknya Navan meraih tubuh gadis itu. "Lo gak boleh pergi! Jangan pergi! Jangan pergi lagi!"

"Pangeran... ikhlaskan aku ya?"

"Enggak!"

"Katharina!" Keduanya menghadap kearah sumber suara. "L-lo badan lo kenapa?!"

Zeno berlari melepaskan pelukan Navan dari Katharina, kemudian ia rengkuhnya tubuh gadis itu. "Katharina, jangan sekarang! Gue gak bisa kehilangan lo! Jangan tolong..."

Keduanya menangis, saling mengungkapkan rasa sakit dalam pelukan tersebut. "Zeno, tugasku sudah selesai, sudah saatnya aku pergi,"

"Rin! Lo mau pergi kemana?! Gue gak bisa lihat lo kesakitan kaya gini! Bilang ke gue gimana caranya untuk buat lo tetap disisi gue Rin?!"

"Sudah terlambat Zeno, sudah usai. Kamu bahkan tak bisa mengingatku Zeno, tapi hal itu lebih baik, daripada kamu mengingat siapa aku di kehidupan mu yang sebelumnya. "

"Rin?"

Katharina melepaskan pelukan erat lelaki itu, melangkah mundur beberapa langkah, membiarkan tubuhnya dengan lapang dada perlahan menghilang dari indahnya malam ini. "Maaf, Bintang malam dilangit sana bahkan lebih indah daripada kepergianku, maaf jika aku mengecewakan semua orang, sepertinya sejak dahulu kehidupanku selalu seperti itu? Selalu membuat semua orang kecewa."

"Biarkan aku menghilang, pergi entah kemana, aku takut untuk membuat orang lainnya kecewa Pangeran,"

"Pangeran Zeno, Pangeran Navan, terimakasih untuk segala kebaikan di kehidupan ini maupun di kehidupan kalian yang sebelumnya. Zeno, maaf, aku mencintaimu baik dulu, sekarang, maupun seterusnya."

Zeno terdiam beribu bahasa, ia mendekatkan diringa dengan gadis itu, menangkup wajah cantik sang gadis dengan kedua tangannya, kemudian menatap matabya sedalam mungkin. "Putri Katharina? Aku ingat kamu."

"Pangeran?"

"Maaf Katharina, aku belum bisa menjadi sayap pelindungmu di kehidupan yang lampau, tapi biarkan aku menjadj sayap pelindungmu di kehidupan yang sekarang dan seterusnya." Ia mendekatkan wajahnya, membiarkan jarak bibir antara keduanya semakin terhapus, membiarkan malam ini dihabiskan untuk mereka berdua.

Tetes air mata Katharina mengalir kembali, entah rasanya bercampur aduk, ia tak tahu harus bersikap apa, karena pada akhirnya ia merasa tubuhnya akan menghilang. "Zeno, aku mencintaimu, sangat. Aku harus pergi Zeno... Aku tahu hatimu bukan untukku."

"Rin, i like the why u smile, i don't know why, everything just make me happy when I'm with you, i love you Rin, please don't leave me, i need u to stay."

Tubuh Katharina terlihat semakin buram dan sebagian tubuhnya sudah menghilang. "Katharina jangan pergi," Dengan erat Zeno berusaha mengenggam tangan gadis itu." "Rin jangan pergi! Gua gabisa bayangin hidup gua tanpa lo Rin."

Dari belakang sana Navan hanya terdiam, hatinya ikut hancur melihat tubuh gadis itu, yang semakin memudar, "Lo terlambat Zeno, lo terlambat!"

"Navan, please bantu gua. Balikin Katharina Navan!"

"Gua gak bisa bodoh, semuanya ada ditangan lo! Lo bodoh!"

Zeno meneteskan setiap air matanya, ia benar-benar rapuh, hatinya sakit, ia harus kehilangan Katharina untuk yang kedua kalinya.

"Rina..."

"Aku pergi, terimakasih semuanya..." Ujarnya tersenyum manis dengan tetesan air mata terakhirnya.

Teruntuk Pelangiku
Pangeran Zeno

Mungkin setelah kamu menemukan surat ini berarti aku sudah pergi dan menghilang. Pangeran jangan salahkan semuanya kepada dirimu sendiri, tidak ada yang salah pangeran, hanya cinta kita yang memang tak akan pernah bisa menyatu. Pangeran, aku rindu kamu, sangat merindukanmu.

Jika kamu bertanya sebanyak apa cintaku padamu, aku akan menjawab, bahkan aku lebih mencintaimu daripada cinta kepada diriku sendiri. Hiduplah dengan bahagia bersama orang yang kau cinta, maaf aku tidaj bisa menepati janjiku untuk tetap terus bersamamu.

Setidaknya aku bahagia bisa bertemu denganmu lagi Pangeran. Hanya kamu pangeranku, yang akan menjadi sayap pelindung bagiku.

Aku mencintaimu baik sebagai sosok Pangeran Zenovan Gleotra maupun Arzeno. Pangeran aku bersyukur, setidaknya dalam nafas terakhirku, aku masih mencintaimu.

-Dariku Bunga Malam mu

-Statue Love-





Maaf baru nongol lagi ya kawan🙏🏻

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co