Truyen3h.Co

Statue Love

6. Tangis

nanayyyg_

Hari semakin sore, kota semakin dipenuhi berbagai kendaraan, mungkin jam pulang kerja bagi para pekerja kantor sudah tiba, Katharina menatapi ramainya jalan raya yang terus bersilih berganti dilalui orang-orang.

"Zeno, kenapa orang-orang diam disana?" Unjuk nya melihat segerombolan orang disebrang sana.

Lelaki itu menoleh kearah Katharina "Coba liat lampu yang disana, itu namanya lampu lalulintas, dari situ kita bisa  nyebrang di waktu yang tepat, jadi kalau lampunya sudah merah, dan lampu yang ada tanda pejalan kakinya ganti jadi hijau,para pengendara lainnya bakalan berhenti,  gantian kita yang nyebrang."

"Wah hebat sekali alat-alat dizaman ini! woahhhh, Zeno! lampunya sudah merah, ayo kita menyebrangi jalan!"

"Eh-eh ngapain, "

"Loh bukankah kita harus menyeberang,"

"Tapi kan kita lagi nunggu bus disini."

Katharina mengangguk "Bus itu yang benda besar bergerak?"

"Iya, udah diem, jangan nanya lagi."

"Eh tapi itu apa namanya Zeno?"

"Astaga itu tiang lampu biasa, mending Lo diem sebelum gua yang buat Lo diem." Katharina bergedik ngeri melihat tatapan tajam Arzeno.

Gadis itu berdiri, sebari tersenyum melihat lampu jalan yang berbaris rapih dan mulai menyala bersamaan dikala langit semakin gelap. Ternyata berada di tahun ini bukanlah hal yang buruk, tapi walau begitu tetap saja tak bisa menghilangkan rasa rindunya pada kerajaan nya dulu.

Dari sini Katharina memandangi wajah Arzeno dari samping, dia mengaggumi bahwa benar adanya lelaki itu memiliki wajah yang tampan, "Kamu masih sama seperti dulu Zeno,"

"Ha apa?"

"Ah—tidak bukan apa-apa,"

"Ayo bus nya udah dateng," Arzeno membawa tangan gadis itu, menuntunnya memasuki bus.

Mereka memilih duduk dibangku yang tersisah di belakang, masih dengan tangan yang bertautan, Katharina duduk disamping jendela, melihat berbagai gedung tinggi yang terlihat hebat dimatanya, sembari bertanya-tanya dalam hati siapa sosok hebat yang bisa membangun semua gedung itu.

Disisi lain, Arzeno mengambil earpods dan bukunya dari tas yang ia bawa. Menyalakan playlist lagu yang biasa ia dengarkan akhir-akhir ini. Ia pasangkan alat  tersebut ke telinganya, membaca isi buku nya sejenak, ah sebenarnya ini hanya buku novel rekomendasi dari Raihan.

Bus berhenti di halte, membuat Katharina kebingungan lalu menepuk pundak Arzeno untuk mencari jawaban. "Kenapa berhenti?"

Dengan segera ia melepaskan salah satu earpods, menyunggingkan senyumannya sedikit karena melihat betapa lucunya wajah kebingungan Katharina. "Orang-orang yang naik bus ini pasti punya tujuan yang berbeda, mereka akan berhenti sesuai tujuan mereka masing-masing, atau mungkin hanya sekedar transit sebentar terus sambung ke bus selanjutnya."

"Owh aku mengerti!"

"Pinter," Katharina tersenyum lebar mendengar pujian dari lelaki itu.

Tangan Arzeno bergerak merapihkan rambut gadis itu, kemudian memasangkan salah satu earpods lainnya. "Ini ap—"

"Buat dengerin musik," Balasnya sembari tersenyum.

Astaga melihat Arzeno yang selembut ini sungguh membuat hati Katharina menjadi melebur. Dengan perlahan lelaki itu kembali mengenggam tangan sang gadis, mengelus lembut tangan itu dengan satu tangan lainnya memegang buku sembari membacanya.

Dari sini, dari jendela yang Katharina lihat, senja mulai datang, warnanya begitu indah. "Suka senja?" Tanya Lelaki itu tiba-tiba disamping  telinga sang gadis.

Surai rambutnya ikut bergerak dikala ia menganggukkan kepala. "Indah," Balasnya senyum.

"Tapi cuman sementara," sahut Arzeno ikut memandangi senja.

Gadis itu menoleh, tersenyum melihat mata sang pria disampingnya. "Iya kamu benar. Tapi, bukankah senja selalu menepati janjinya?"

"Maksudnya?"

"Ia memang pergi, tapi ia selalu menepati janji untuk kembali."

Sejenak lelaki itu terdiam, memikirkan jawaban gadis bersurai panjang. Iya, perkataan Katharina benar adanya, bahwa senja bahkan tak pernah hilang, dia selalu kembali walau hanya sesaat datang dan pergi lagi.

Kala itu mereka memilih terbungkam kembali menatapi indahnya senja dari jendela bus, sembari menikmati alunan musik halus. Rasanya damai, Arzeno yang tadinya selalu merasa kesepian, kini tak lagi.

Kini, seorang gadis telah disampingnya, menemaninya, menggenggam tangannya, menatap senja bersamanya.

-Statue Love-

Tepat pukul 6 sore Arzeno dan Katharina sampai dirumah, sejak tadi  sang puan hanya memperhatikan tamu tak diundang nya, kenapa badannya tak berubah menjadi patung lagi? padahal jika dilihat matahari sudah mulai terbenam, langit menjadi semakin gelap. Aneh, ia kebingungan.

"Rin, kenapa Lo gak berubah jadi patung lagi?" Tanya Arzeno.

Sang gadis yang tadi melupakan banyak hal kini ikut penasaran akan pertanyaan Arzeno. "Oh iya! Aku bahkan tak merasakan sesuatu yang aneh sejak tadi Zeno."

Arzeno berdiri di depan Katharina, memegang bahu gadis itu dan membolak-balikan badannya. "Tunggu-tunggu, tadi Lo jadi manusia lagi jam berapa ya?"

"Pukul 07.30 pagi?"

"Coba kita lihat nanti jam 19.30, bisa jadi Lo berubah dijam itu," Katharina menganggukan kepalanya mengerti. "Tapi pas Lo jadi patung Lo bisa dengar suara gue ngomong gak? atau ngerasain suatu hal lainnya?"

Gadis itu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Aku tidak bisa merasakan apapun,"

"Yaudahlah kita lihat aja nanti Lo berubah lagi apa enggak. Lo laper gak?" tanya nya.

"Sangatttt lapar!!! Ayo wahai juru masak, buatkanlah makanan untukku." Ujarnya.

"Anjir. Lo disini tamu ya, bukan majikan gua."

Katharina tertawa, "Astaga Zeno! aku hanya bercanda. Ayo aku mau bantu kamu membuat makanan."

Mereka berdua pergi kedapur, hanya dapur sederhana dan tak memiliki banyak perlengkapan masak, ah hal ini dikarenakan Zeno lebih suka membeli makanan jadi, lalu jika ada sisah akan ia panaskan untuk esok hari. Kalau kata Arzeno sih 'Yah namanya juga hemat,'

Terbiasa dengan hidup sederhana seperti ini membuat Arzeno menjadi lebih dewasa mengatur keuangannya. Ia masih memikirkan banyak hal kedepannya, bahkan uang warisan yang ia dapat mungkin baru ia pakai sekitar 7,5% itu pun untuk biaya kuliahnya selama ini, kalau untuk makan ia mengandalkan uang yang ia hasilkan dari kerja part time.

Ya, semuanya, tolong katakan pada semua orang, bahwa Arzeno adalah lelaki idaman bagi para wanita.

Perlahan lelaki itu memasangkan apron masak miliknya ke Katharina. "Untuk apa Zeno?"

"Biar baju Lo gak kotor."  Katharina diam disamping Arzeno sembari memperhatikan pergerakan tangan lelaki itu saat mencuci sayuran di wastafel.

"Nih potongin, bisa gak?"

Gadis itu mengangguk semangat. "Bisa-bisa!" Dengan segera ia mengambil sayuran itu dari tangan Arzeno. Gadis itu terus berbicara tak henti dikala memotong sayuran, menceritakan betapa bahagianya ia hari ini karena melihat indahnya senja dari dalam bus.

Lelaki itu mengambil satu panci berukuran sedang dan mulai memasukan air dan menyalakan api di kompor. Jika dibilang Arzeno jago dalam hal memasak, sepertinya terlalu berlebihan, karena sebenarnya ia hanya bisa masak beberapa makanan saja, itupun ilmunya sempat ia dapatkan dari teman-teman nya disini.

Sejak seorang Arzeno Javierro memutuskan untuk pindah ke kota ini, ia mengenal yang namanya kebebasan, melakukan apapun yang ia mau tanpa paksaan dan juga larangan.

Dulu bisa diingat dengan jelas, hanya dengan tas ransel yang berisi baju dan juga uang yang ia bawa, berhasil membuatnya berani untuk pergi jauh dari kegelapan yang menyiksa dirinya.

Kala itu umurnya 18, layaknya bocah yang kehilangan arah, dia kebingungan karena tak punya tujuan. Hujan lebat berhasil membuat bajunya basah, malam yang sangat gelap membuat kota terlihat sangat sepi, lelaki itu nampak penuh kepasrahan berteduh dipinggir toko buku kosong.

Layaknya ada keajaiban dari Tuhan yang begitu cepat, datang dua orang lelaki yang seumuran dengannya, mereka baik dan mengajaknya untuk berteduh di kost-an yang tak jauh dari tempat itu. "Nama gua Haikal Chandrana Putra Tresno Joyo, ya panggil aja Haikal."

"Gua Raihan, Lo ke kosan kita aja Zen, gak jauh dari sini, baju Lo basah kuyup, mana bawa-bawa tas kaya anak ilang."

Sungguh Arzeno sangat bersyukur, dari pertemuan itu juga mereka bertiga menjadi dekat, namun ditahun kedua setelah mereka bersama-sama, Arzeno memutuskan untuk pindah dan membeli sebuah rumah untuk ia tinggalkan. Alasannya hanya mudah, ia lebih suka tinggal menyendiri dan tak mau merepotkan orang-orang.

Dikala Arzeno lelah, kesal, dan kecewa akan dunia ia hanya bisa terdiam, rasanya untuk menguapkan setiap perasaannya adalah hal yang sangat sulit, terkadang juga ia berpikir, layaknya lagu Andmesh kesukaanya, dimana pada lagu itu berkata bahwa 'Tunjukan pada dunia bahwa kau mampu, masih banyak yang lebih susah hidupnya, dan syukurilah hidupmu.'

Memang benar adanya bahwa masih banyak yang lebih susah. Namun, sebenarnya untuk merasa sedih tak ada larangan, karena pada akhirnya kita hanyalah manusia yang tak sempurna, semua orang boleh merasakan lelah dan sedih, tak ada yang melarang.

Tapi kenapa rasanya sangat sulit untuk Arzeno mengeluarkan semuanya? Bahkan untuk menangis saja rasanya sulit, bertahun-tahun lamanya ia tak pernah menangis, semuanya dipendam, bahkan sampai sesak sekalipun.

Kembali kepada kedua manusia itu, mereka berhasil menyelesaikan masaknya. Kini mereka tengah makan bersama di meja kecil ruang tamu. "Zeno, tapi dimana keluargamu? sejak kemarin aku bahkan tak pernah melihat mereka." Suara Katharina menghilangkan kesunyian.

Untuk sekian detik Arzeno terdiam, kemudian menatap gadis didepannya,"Dulu gua punya keluarga, tapi sekarang udah gak ada."

Mendengar suara itu membuat Katharina termenung, ia merasa bersalah, "Maaf, seharusnya aku tidak menanyakan hal itu,"

"Santai,"

"Tapi Zeno, pasti kamu merasa kesepian selama ini,"

Lelaki itu tersenyum mengeluarkan mata bulan sabitnya, kemudian menggelengkan kepala. "Enggak,"

"Bahkan mata indah kamu gak pernah bisa berbohong Zeno,"
Katharina menarik telapak tangan Zeno, dan menaruh telapak tangannya di atas milik lelaki itu.
"Kamu sedih, tapi kamu tetap tersenyum, kamu kesepian, tapi tak pernah berusaha memperlihatkan semuanya kepada dunia. Kamu kecewa, tapi kamu terus pura-pura menjadi orang yang bahagia, kamu lelah Zeno..."

Padahal rasanya baru beberapa hari ia bertemu dengan gadis didepannya, tapi kenapa gadis itu sangat paham dengan semua yang ia rasakan? "Zeno, semua manusia boleh merasakan sedih, itu bukanlah sebuah dosa, terkadang berpura-pura bahagia malah membuat dirimu akan semakin tersiksa. Tak apa untuk sekali-kali menangis."

"Enggak Rin, gua cowok, gak boleh nangis kan? Itu kata paman gua dulu. Setiap gua nangis dia selalu marah, dia bahkan pukul gua hahaha, katanya kalau nangis berarti lemah, kalau nangis artinya pengecut,"

Katharina terdiam menatap mata lelaki didepannya yang sudah terlihat berbinar. Gadis itu bergerak menyingkirkan piring yang sudah selesai ia gunakan. kemudian mendekatkan dirinya kearah Arzeno.

Tangan lembut mungil gadis itu menangkup pipi Arzeno, menatap dalam kesedihan yang dirasakan lelaki itu. "Arzeno, tak apa untuk menangis, baik seorang perempuan maupun lelaki itu sama, semuanya diciptakan dengan perasaan kecewa, sedih, bahagia, dan lainnya."

" Ingat ini Zeno, menangis dan mengeluarkan kesedihan kamu itu bukanlah hal yang lemah. Justru jika kamu tidak mengeluarkan nya, semakin lama semua itu akan semakin menyakitkan,"

"Menurutku kamu akan terlihat lebih hebat ketika kamu bisa mengeluarkan semua keluh kesahmu, dan menjadi tenang setelahnya. Kamu boleh lelah, kamu boleh menangis dan istirahat, tapi jangan berhenti di tengah jalan dan mengakhiri semuanya."

"Rin..."

"Tak apa Zeno, kamu boleh menangis, jika kamu butuh pundak untuk bersandar aku selalu siap disamping kamu. Sekarang kamu tidak sendirian lagi," ujarnya tersenyum.

Malam itu suara hujan deras terdengar jelas, hawa semakin dingin seakan mendukung semua kesedihan dalam hati Arzeno untuk keluarkan. "Kalau begitu, boleh gua minta tolong?"

"Tentu saja,"

"Gua pernah baca dimana  pelukan bisa menghasilkan hormon oksitosin. Hormon pembawa pesan yang berfungsi pada bagian pusat emosional otak, jadi dapat mengurangi kecemasan, dan juga stres."

Katharina tersenyum, ia paham betul maksud lelaki didepannya, ia sedikit tertawa akan kode yang diberikan Arzeno. Tanpa banyak bicara, gadis itu merentangkan tangannya lebar, memeluk tubuh Arzeno sembari mengelus rambutnya. "Luapkan semuanya Zeno...Kamu lelah, biarkan dirimu istirahat sejenak,"

Arzeno mengeratkan pelukan "Rin, dunia terlalu jahat ya buat kita?" Gumam nya di dalam pelukan Katharina.

"Dunia memang jahat, tapi lihatlah seberapa banyak yang sudah kamu lewati sampai bisa di titik ini Zeno. Terkadang ketika kamu lelah, dan ingin berhenti, kamu harus melihat kearah belakang sejenak."

"Untuk apa?"

"Melihat bagaimana banyaknya cobaan yang bahkan telah kamu lewati, banyak nya pengorbanan yang sudah kamu lakukan, bukankah sangat disayangkan jika kamu harus menyelesaikan semuanya ditengah jalan?"

"Rin... Gua rindu bunda dan ayah..."

Katharina menepuk-nepuk pundak Arzeno, "Iya Zeno,"

"Gua capek Rin,"

"Iya,"

"Gua bahkan belum bisa bahagia-in mereka berdua, tapi kenapa mereka pergi lebih dulu? dan kenapa bukan orang-orang yang jahat aja pergi lebih dulu Rin?" Ujarnya seakan mengadu akan semua rasa sakitnya selama ini.

"Rin, semuanya jahat ... semuanya bohong ... semuanya pembohong Rin..." Suara desakan tangis Arzeno semakin terdengar, ia menelusup kan wajahnya di ceruk leher Katharina.

"Rin ... sesak rasanya, karena kekangan mereka, gua jadi gak paham dengan jati diri gua sendiri, gua harus selalu membohongi perasaan gua Rin. Mereka jahat... jahat Rin..."

Rasa sesak didalam hati Arzeno seakan ikut menjalar di gadis itu, Katharina ikut meneteskan air matanya. Ia sedih, lihatlah betapa rapuhnya lelaki dingin yang menyembunyikan ribuan rahasia di dalam dirinya.

Dari Arzeno Katharina jadi paham, semua yang terlihat kuat, tak selamanya benar-benar kuat. "Arzeno Javierro, layaknya lagu yang tadi kita dengarkan di dalam bus, milik seorang penyanyi bernama Fiersa Besari, dalam lagu itu berkata bahwa kadang kala tak mengapa untuk tak baik-baik saja, karena kita adalah manusia yang tak sempurna. "

"Lalu dalam lagu itu juga berkata, kalau segala sesuatu yang pelik bisa diringankan dengan peluk. Aku disini Zeno, aku bisa menjadi pelukmu untuk menghilangkan segala pelikmu,"

"Zeno... kamu tidak sendiri, aku disini," Suara lembutnya.

"Gua tau, bahkan disini bukan hanya gua yang rapuh Rin, Lo juga. Lo bahkan lebih rapuh, tapi berusaha menguatkan orang lain,"

"Zeno..."

"Makasih Katharina, kalau Lo bisa jadi peluk dan menghilangkan setiap pelik gua, gua juga mau jadi sayap pelindung Lo, layaknya lagu The Overtunes yang selalu gua dengarkan, saat duniamu mulai pudar, dan kau merasa hilang, ku akan selalu jadi sayap pelindungmu."

"Tetap disini Rin, gua gak mau kehilangan lagi..."

©nanayyyg_

-Statue Love-

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co