7. Sabtu
Kemarin tepat pukul 19.30 benar adanya bahwa Katharina berubah lagi menjadi patung, rasanya sedih ketika ia harus berubah menjadi patung dan kembali lagi menjadi manusia saat dipagi hari.
Katharina sedih, bahkan yang ia inginkan hanyalah menjadi manusia seutuhnya seperti dulu. Smakin lama semakin juga rasanya ia tersiksa. Takdir menjalankan hidupnya dengan begitu lucu, dengan berbagai alur plotwist yang menurutnya tak masuk akal namun nyata adanya.
Tangannya bergerak membuka jendela dikamar Zeno, menghirup udara pagi sejenak agar pikirannya lebih tenang. Kemudian melangkahkan kaki keluar, melihat Arzeno lelaki itu masih tergeletak diatas sofa dengan sebuah selimut dibadannya. Katharina berjalan mendekati tubuh lelaki itu, mengikis jarak diantara mereka lalu memperhatikan setiap lekuk dari dari wajah seorang Arzeno Javierro.
"Bahkan jika dilihat dari dekat, semuanya sama, kau sama Zeno."
Tangan gadis itu bergerak kearah alis tebal milik Zeno, mengelusnya lembut, "Aku bahkan tidak bisa menjelaskan lagi betapa indahnya dirimu dari jarak sedekat ini," Gadis itu tersenyum, membenarkan selimut yang tadi dipasang berantakan. "Dia bahkan terlihat lebih lucu jika sedang tidur nyenyak,"
Brak!
Astaga, ceroboh nya Katharina yang tak sengaja menjatuhkan sebuah sendok yang ada dimeja dekatnya. "Astaga, aku pasti akan mengganggu Zeno tidur jika terus seperti ini," Namun saat dilihatnya lagi Zeno yang masih tertidur tenang, Katharina memilih untuk tetap ditempatnya sekarang, memandangi wajah tampan milik Arzeno.
Sangat tampan, ah mungkin jika ada yang bertanya kepadanya, siapa lelaki yang paling tampan di dunia, maka dengan cepat Katharina menjawab, "Zeno paling tampan, hanya dia,"
"Katharina..." Gadis itu terlonjak kaget, sepertinya saat ini Arzeno tengah mengigau namanya. "Kalung itu..." Saat dirasanya keanehan yang semakin menjadi, Katharina lebih memilih membangunkan Arzeno, menepuk-nepuk pelan tangan lelaki itu.
"Zeno, ayo bangun, Zeno,"
"Katharina... jangan pergi... j-jangan pergi,"
Sebenarnya apa yang terjadi di dalam mimpi Arzeno, kenapa igauan nya semakin aneh, pikir Katharina. "Zeno, kamu kenapa? Ayo cepat bangun, aku tidak pergi, Zeno."
Keringat mengucur di kening lelaki itu, pergerakannya makin nampak gusar tak karuan. "Katharina, jangan pergi, jangan pergi lagi..."
"Zeno! Ayo bangun! Jangan membuatku takut,"
"Katharina!" Teriakan terkahir nama Katharina berhasil membuat Arzeno terbangun dari mimpinya. "R-rin..." Sejenak lelaki itu mengatur nafasnya, menetralkan pikiran dan juga mengumumkan kesadaran.
"Zeno? Ada apa?" Tanyanya panik.
Lelaki itu menggeleng ketakutan, "G-gua mimpi buruk."
"Apa Zeno?"
Dikala Katharina bergerak mendekatkan dirinya, Zeno malah memilih mundur. "J-jangan dekat-dekat gua Rin..."
"Zeno... Ada apa?" Mata gadis itu berbinar, mengenggam satu tangan Arzeno dengan lembut.
"Sebenernya Lo siapa?! Kenapa, semenjak Lo disini mimpi itu selalu hantuin gua Rin, dan sebenarnya kalung ini kalung apa?"
Dengan cepat Katharina memeluk tubuh Zeno yang ketakutan, mengusap punggung lelaki itu agar sedikit lebih tenang. "Zeno...tenang dulu, kamu mimpi apa? Coba ceritakan terlebih dahulu padaku,"
"G-gua mimpi Lo pergi, tapi gua gak paham, rasanya semua yang disekitar gua jahat Rin... Gua gak paham." Risaunya.
Sontak gadis itu melepaskan pelukan mereka, menangkup kedua pipi Zeno. "Lihat Zeno, aku disini, aku tidak akan pergi, untuk kalung yang kau dan aku pakai... Maaf aku belum bisa menceritakan tentang hal itu, tapi aku janji akan menceritakan nya nanti, disaat aku siap," Arzen membuang nafasnya resah, tapi mau tak mau ia harus percaya bahwa Katharina akan menceritakan tentang semua kaenahan ini nantinya.
Kepala lelaki itu bergerak mengangguk, "Iya gak apa, gua percaya Lo akan cerita nantinya,"
"Maaf," Suara gadis itu terdengar sedih.
"Enggak, gak perlu minta maaf, gapapa." Lelaki itu berdiri, pergi kekamar mandi untuk mennyejukan wajahnya dengan secercah air.
Di hari Sabtu ini awan tak terlihat lebih cerah seperti biasanya, langit mendung, udara kian terasa dingin. Lagi-lagi lelaki itu membuang nafasnya, niatnya yang tadi ingin pergi ketempat Raihan malah menjadi terurungkan.
Saat keluar dari kamar mandi Arzeno Arzeno sudah melihat betapa rapih rumahnya saya ini, yang tadinya barang-barang tergeletak disana-sini sekarang jadi terlihat tertata rapih. Sembari membersihkan rumah, gadis itu terus mengomel lucu, mengenai betapa kotornya lantai rumah Zeno yang mungkin hanya di pel sebulan sekali, atau bahkan betapa banyaknya debu disisi ruangan.
"Astaga bahkan dikerajaanku setitik debu pun tak terlihat, tapi kenapa disini banyak sekali debu. Zeno tidak bisakah kamu memperkerjakan seorang dayang untuk membersihkan semua ini?"
"Udah punya kok,"
"Ha? lalu dimana dia? Kenapa dayang itu tidak membersihkan ini semua?"
Zeno tersenyum kemudian menarik tangan Katharina menuju sebuah cermin besar. "Ini dia dayangnya," Sontak gadis itu membesarkan matanya.
"Yak?! Zeno aku bukan dayang?! Wah kamu sudah berani, jika kamu hidup dikerajaanku pasti Raja sudah memenggal kepalamu karena telah menyebutku sebagai seorang dayang?!" Yang disebut malah tertawa terbahak-bahak, astaga lihatlah betapa lucunya wajah Katharina memerah karena emosi.
"Tapi sayangnya kita bukan hidup dikerajaan Lo." Jawab lelaki itu.
"Menyebalkan?!" Sahutnya kemudian mendorong bahu Zeno sedikit keras. "Lihatlah, kalau bukan aku yang membersihkan lantai ini, aku yakin pasti tidak akan ada yang membersihkannya. Seharusnya kamu berterimakasih kepadaku Zeno,"
"Untuk apa? Gua anggap itu sebagai bayaran, karena kemarin udah gua beliin banyak baju."
Astaga Katharina lupa tentang hal itu. "Selama Lo tinggal disini, Lo harus ngelakuin apa yang gua suruh, ingat, hidup dizaman sekarang gak ada yang gratis Rin."
Gadis itu membuang nafasnya kasar. "Astaga menyebalkan, aku terpaksa akan mengikuti semua kata-kata mu Tuan Zeno!" Gadis itu terus mengoceh sebal, tak berhenti bahkan sampai Zeno merasa kupingnya kepanasan sekalipun.
Lelaki itu mengambil handphone nys yang tergeletak di meja, ah iya, dia lupa akan perkataanya hari kemarin, dimana ia akan memberikan satu handphone lama miliknya untuk Katharina. "Oy, sini." Sahut Zeno menyuruh Katharina duduk disampingnya.
Dengan langkah malas gadis itu menghampiri Zeno "Ada apa?"
"Nih," Ujarnya menyodorkan Handphone lama yang namun masih layak digunakan. "Namanya hp, ini untuk komunikasi, kalau dulu mungkin Lo masih pakai burung merpati buat surat-suratan kan?"
"Wah iya benar, kenapa kamu sangat pintar bisa mengatahui banyak hal tentang kehidupan ku?"
"Y-ya gak juga sih, itu gua tau karena baca novel atau nonton film istanasentris. Yaudah intinya Lo perhatiin ini, gua ajarin cara pakainya." Gadis itu mengangguk, mendekati Arzeno agar dapat melihat lebih jelas. "Eh tapi Lo bisa baca kan?"
"Kamu meragukan aku? Jangan salah, aku yang paling pandai di sekolah Kerajaan dulu, aku bisa berbicara menggunakan 3 bahasa,"
"Hm iya-iya gua akuin keren. Perhatiin, ini buat kirim pesan. Jadi Lo bisa ketik apapun dan kirim ke nomor tujuan. Nih Contoh, Lo ketik sesuatu dan kirim ke nomor gua."
Dengan tangan dua layaknya ibu-ibu yang sedang mengetik begitu lama Katharina membuat kalimat disana. Kemudian menekan tombol kirim agar tersampaikan kepada Zeno.
Ting!
Nomor lama
[Zeno, kamu itu sangat
menyebalkan]
[Lo lebih.]
Mata Katharina terlonjak membesar dikala membaca balasan pesan dari Zeno. "Woah! Hebat sekali tekhnologi dizaman ini?! Woahhhhh Zeno apa ini sebuah sihir? Ah atau ini harus dikirim menggunakan sebuah mantra?"
"Astaga masih aja ngomongin sihir, enggak, ini bukan sihir. Udah intinya ini alat komunikasi dizaman sekarang. Kalau Lo butuh apa-apa atau dalam keadaan yang bahaya langsung chat atau telepon gua."
Gadis itu mengangguk paham. "Iya-iya! Aku akan me- me... apa tadi?"
"Menelfon Rin..." Ujar lelaki itu penuh penekanan.
Katharina mengangguk menyetujui kata Zeno "Nah iya itu!" Tangannya direntangkan segera memeluk tubuh lelaki didepannya. " Ah terimakasih Zeno! Aku sangat senang,"
"Ekhem. I-iya-iya, jangan peluk gua, sesek nafas." Suaranya yang nampak bohong, karena sebenarnya bukan sesak nafas yang ia rasakan, melainkan papiltasi jantung yang membuat berdetak begitu cepat.
"Ah iya maaf Zeno."
"Hm. Lain kali kalau sama orang lain jangan langsung peluk-peluk gitu, gak sopan, tapi kalau sama gua gapapa."
Katharina tersenyum lebar, "Iya baiklah Zeno. Kalau begitu sekarang ayo kita makan sesuatu! perutku sudah merasa lapar,"
"Gak ada makanan,"
Mendengar jawaban Arzeno membuat gadis itu merenung sedih, "Yah lalu bagaimana? Apa kita akan mati kelaparan?"
"Lo doang sih, gua enggak."
"Yak?!"
"Bercanda."
Lelaki itu menyalakan handphone nya, memilih untuk membeli sebuah makanan dengan online agar lebih mudah, lagipun jika dilihat diluar sudah sangat hujan deras, membuatnya semakin malas mencari makanan diluar sana. Dari setiap pergerakan yang Arzeno lakukan pasti selalu menjadi pertanyaan bagi Katharina. "Ah iya itu tombol apa Zeno? kamu sedang melakukan apa?" Tanyanya mendekat kearah Zeno.
"Ck. Bisa gak sih jauhan dikit, ganggu."
"Zeno! Aku penasaran, ajarkan aku tentang hal itu juga!"
"Sabar. Ini gua lagi pesen makanan,"
Yang benar saja, memesan makanan dari benda kecil yang ada di genggamannya? apa bisa? apa benar itu berhasil? Apa nanti makanannya akan keluar dari benda yang disebut handphone itu? itulah betapa banyaknya pertanyaan yang Katharina ajukan kepada Zeno. Ya Tuhan, kali ini kesabaran Arzeno benar-benar diuji.
Dengan segala kesabarannya Zeno menjelaskan itu semua secara satu persatu. Setelah menunggu sekitar 30 menit, akhirnya makanan yang dipesan datang. Kalian harus tahu betapa hebohnya Katharina ketika melihat seorang kurir online yang mengantarkan makanan tadi. "Wah?! Kamu mahkluk berkepala hijau yang aku lihat beberapa hari lalu?! Apa yang ada di kepala mu itu? Hebat sekali benda besar itu."
Tak lupa juga dengan respon keheranan bapak kurir yang melihat tingkah Katharina tadi. "Mas, ini istrinya lagi sakit ya? Kalau gitu dijaga dengan baik ya mas, saya permisi dulu,"
"Ck-Ck-Ck, kasian padahal istrinya cantik, mana masih muda udah setress begitu, pasti banyak beban hidupnya ya," gumam bapak Kurir saat berjalan menjauh dari kediaman Zeno.
"Zeno-Zeno! Benda apa yang ada di kepala orang tadi? Apakah itu sebuah benda keren seperti benda-benda yang kamu perkenalkan kepadaku?!"
"Katharina."
"Iya-iya?"
"Bisa diem gak."
"T-tapi."
"Jangan banyak omong, mending makan, Lo laper kan?" Dijawab anggukan oleh gadis itu, kemudian dengan lembut lelaki itu menuntun tangan Katharina untuk duduk dimeja ruang tamu, memakan nasi goreng pesananya tadi.
Dimeja makan Katharina masih berusaha diam tak mengoceh, dia takut kena marah lelaki didepannya seperti tadi. Baginya Arzeno kalau sudah marah terlihat menyeramkan, matanya akan lebih tajam dan suaranya semakin terdengar dingin.
Diam, sunyi, hanya diisi suara tv yang memperlihatkan berita cuaca dihari ini, bahkan detak jam dinding pun sampai terdengar. "Kenapa diem daritadi?" Tanya Lelaki itu yang sebenarnya kebingungan.
"Kamu bilang tadi jangan banyak berbicara, jadi aku tidak bicara sejak tadi,"
"Sekarang boleh."
"Wah, akhirnya aku boleh berbicara lagi, ada banyak hal yang ingin aku tanyakan kepadamu Zeno."
"Dilarang nanya-nanya."
Gadis itu langsung merasa sedih, padahal ribuan pertanyaan sudah ia siapkan untuk Arzeno, tapi apa daya, pasti Zeno lelah menjawab semua pertanyaannya. Melihat perubahan wajah gadis itu membuat Arzeno tak enak hati, "Hm, satu pertanyaan."
Sontak Katharina kembali menyunggingkan senyumnya. "Aku mau bertanya, dimana kamu mendapatkan kalung itu Zeno?" Unjuknya ke kalung yang Zeno pakai.
"Gua dapat kalung ini..." Matanya memperhatikan kalung yang ia pakai, kembali mengingat dimana ia mendapatkan kalung biru yang menurut nya agak aneh.
Kala itu langit nampak mendung, rasa lelah yang ia rasakan kian bertambah, tugas kuliah yang menumpuk dan juga kerja part time yang tengah ia lakukan, terasa sangat melelahkan. Langkah kakinya masih terdiam di halte bus, rintik hujan makin terlihat dan menerpa kulitnya.
Earpods yang melantunkan lagu semakin membuat suasana menjadi terasa lembut. Kali ini jalanan tak terlalu ramai, dimalam hari seperti ini halte pun terlihat sepi, lelaki itu hanya bisa berharap bisa mendapatkan bus terakhirnya.
Sorot matanya tiba-tiba menuju kearah sebrang, dimana ada nenek tua yang berjalan membawa banyak barang ditangannya, pakaiannya terlihat kotor, bahkan ia jalan dengan tertatih. Bisa Arzeno lihat sejak tadi Sang Nenek kesulitan untuk menyebrangi jalan, dengan langkah cepat dan sergap Arzeno menyebrangi jalan, mengarah ke nenek itu, dan membantunya.
Perlahan Arzeno menuntun nenek tua kesebuah bangku supermarket disana, nenek itu nampak kelelahan. Sang Nenek sempat kebingungan dikala Arzeno tiba-tiba meninggalkannya, namun beberapa menit kemudian kembali lagi sembari membawa beberapa makanan dan minuman ditangannya. "Maaf, cuma ini yang bisa saya kasih Nek, Nenek istirahat dulu disini, pasti capek bawa banyak barang."
Nenek itu tersenyum, "Terimakasih Nak,"
"Iya sama-sama, Kalau boleh saya tahu, rumah nenek dimana?" Tanya Arzeno dengan lembut.
"Dekat dari sini nak, Kamu sendiri pasti rumahnya jauh dari sini ya? Kamu sedang menunggu bus terakhir?" Tanya balik nenek tua itu.
Arzeno mengangguk sebagai jawaban. "Iya, saya tadi lagi tunggu bus nek, Nenek mau saya antar kerumah? biar saya bantu bawa barangnya juga."
Sang nenek malah menggelengkan kepalanya, sebagai tanda tak perlu mengantarkannya kerumah. "Bagaimana dengan bis terakhir mu nak? Kamu bisa ketinggalan nantinya."
"Gak apa nek, saya bisa naik taksi nantinya," Pada akhirnya Arzeno tetap mengantarkan nenek tua itu kerumahnya, mungkin jika bisa dihitung waktunya itu tak lebih dari lima menit.
Sesampainya di rumah sang nenek, lelaki itu nampak sedih melihat bangunan rapuh yang bahkan nampak tak layak untuk dihuni, barang-barang bekas yang tadi sang nenek bawa pun sepertinya jika di jual hanya cukup untuk makan sehari-hari. "Nek, ini barangnya,"
"Iya Nak, kamu sangat baik, terimakasih telah membantu nenek. Maaf nenek belum bisa kasih sesuatu sebagai rasa terimakasih,"
"Ah, gak perlu Nek, saya ikhlas bantu, makanan yang tadi jangan lupa dimakan ya Nek, saya pamit pulang dulu,"
"Ah sebentar nak, berikan tanganmu," Arzeno yang kebingungan langsung menjulurkan tangannya. "Nenek hanya punya ini, simpan ini nak, cahaya akan terus bersinar bersama orang yang tepat. Setiap barang akan kembali kepada pemiliknya, dan sepertinya kamu adalah orang yang tepat untuk memiliki ini."
"Nek terimakasih... Tapi ini terlalu berlebihan, nenek gak perlu kasih saya sesuatu, saya benar-benar ikhlas," Sang nenek mengelus lembut kepala Arzeno.
"Nak, kamu orang yang baik, terimakasih , tetap jaga kalung ini, kalung ini akan membawa kamu untuk menemukan belahan hati yang telah lama berpisah,"
Banyak pertanyaan yang ingin ia sampaikan kepada Sang Nenek, namun terus-menerus sang Nenek menyuruhnya kembali ke halte, karena bus terakhir pasti sudah datang.
"Aneh, nenek itu aneh."
"Tapi Zeno, sepertinya nenek itu mengetahui banyak hal tentang kalung ini, apa mungkin dia juga bisa membantu aku agar kembali menjadi manusia seutuhnya?" Tanya Katharina yang membuat Arzeno berpikir keras.
"Bisa jadi,"
"Zeno, tolong bantu aku, aku ingin kembali menjadi manusia seutuhnya, kita harus mencari nenek itu,"
"I-iya gua janji gua akan bantu Lo,"
-Statue Love-
misi gopud
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co