8. Takut
__________
Bersamaan dengan matahari yang menyinarinya terang, patung cantik itu berubah wujud lagi menjadi manusia, badannya sedikit terkulai lemas setiap ia berubah menjadi manusia.
Langkah kakinya bergerak menyusuri setiap ruangan, sama seperti yang biasa ia lakukan, disetiap pagi selalu saja gadis itu mencari keberadaan Sang tuan rumah, jika ia tak melihat nya pasti hatinya akan resah, ia takut kehilangan, kehilangan untuk yang kesekian kalinya.
"Zeno kamu dimana?" Terus melangkah mencari disetiap sudut rumah, namun keberadaan lelaki itu tetap tak ditemukan. "Zeno... kamu tidak meninggalkan aku sendirian kan? Zeno?"
Matanya perlahan mulai berbinar, ia merasa takut, ia merasa kesepian, seorang diri, tak ada yang menemaninya saat ini. "Zeno...Aku takut..." Dirinya terlihat gusar tak dalat menemukan Zeno. "Zeno dimana..." Satu tetes air mata jatuh dipipinya.
Tubuhnya meringkuk sembari duduk memeluk lututnya. "Zeno cepat kembali aku takut," Desakan tangisannya perlahan semakin terdengar, bukan soal tentang terlalu berlebihannya sikap Katharina, melainkan ia hanya merasa takut, ia sudah banyak kehilangan orang-orang tersayang dimasa lalu, dan kali ini ia tak mau kehilangan lagi.
Cklek!
Pintu terbuka menampilkan sosok yang ia tangisi sejak tadi. Dengan cepat Katharina membangkitkan tubuhnya berhamburan memeluk tubuh Zeno. "R-rin? Kenapa?"
Gadis itu masih menangis tersedu-sedu dipelukan Zeno. "Kamu meninggalkan aku sendirian Zeno. Aku takut, aku t-takut kamu pergi lagi..."
Butuh beberapa saat bagi Arzeno untuk memahami ucapan Katharina, "Lagi? Maksudnya?" Gumamnya seorang diri, seingatnya ia selalu bersama gadis itu dan tak pernah meninggalkan. "Hey, Rin gua disini, tadi cuma beli sarapan untuk kita, Lo kenapa? Tangan Lo sampai gemeteran gini?"
Katharina masih sibuk dengan tangisannya, ia tak bisa menjawab pertanyaan Zeno. "Rin, jangan nangis, muka Lo jelek kalau nangis gitu."
"Zeno! Bisakah kamu tak mengejekku sekali saja." Desaknya.
"Y-ya maaf, makannya jangan nangis, cengeng. Kaya anak bayi ditinggal langsung nangis,"
"Bukan bayi!"
Saat dirasanya tangisan gadis itu mulai mereda, Zeno menuntun tangan Katharina untuk duduk di sofa ruang tamu, kemudian membuka dua bungkus bubur ayam yang ia beli didepan komplek. Perlahan tatapan Zeno mengarah ke air mata dipipi Katharina yang masih mengalir, astaga wajah cemberut Katharina bahkan terlihat sangat lucu.
Tangannya bergerak menghapus air mata itu, "Udah, Lo tambah jelek, mending makan bubur." Gadis itu mengangguk, ikut mencoba makanan aneh yang ada didepannya.
"Lo lebih suka bubur diaduk apa enggak?" Tanya nya berusaha mencari topik agar Katharina tak berlarut dalam kesedihannya.
"Kalau kamu suka apa?"
"Diaduk,"
"Ah kalau begitu aku ikut denganmu,"
"Hm. Terserah."
Sepanjang mereka berdua memakan bubur, Katharina selalu melantunkan pertanyaan sepertu biasa yang membuat Zeno heran. Padahal beberapa menit lalu gadis itu menangis seperti anak kecil, namun sekarang sudah kembali lagi menjadi seorang reporter yang suka bertanya.
"Hari ini gua ada kerja part time, Gua gak yakin bisa ngajak Lo,"
"Kalau begitu aku dirumah saja Zeno,"
Arzeno mengangguk setuju. "Iya, ingat kalau ada apa-apa chat atau telepon gua, kaya yang gua ajarin kemarin."
"Iya siap! Akan aku lakukan nanti."
"Oh iya sebentar," Lelaki itu berdiri, melangkahkan kakinya menuju kamar, mengambil sebuah tas disana dan mengeluarkan laptop miliknya. "Ini kalau Lo bosen, Lo bisa nonton film, deketan sini, gua ajarin." Dengan telaten dan pelan-pelan Arzeno mengajarkan cara mudah untuk Katharina menonton drama maupun film yang ada di laptopnya.
"Woah?! Kenapa ada manusia didalam benda itu?! Bagaimana ia bisa masuk kedalam sana?! Zeno-Zeno aku juga mau ikut kedalam sana?!" Dengan cepat Katharina berusaha memasukan kepalanya kedalam layar laptop.
Duakh
"Astaga Rin! Gak gitu caranya. Haduh, capek gua capek ngomong nya,"
"Lalu bagaimana?"
"Liat, ini cuma film, artinya semua adegan atau alur cerita yang ada disini itu settingan dan rekayasa belaka, mereka syuting ditempat lain, direkam, diedit terus dimasukin kesini. Aduh susah jelasinnya, udah jangan nanya, Lo mending nonton aja. Diem."
Gadis itu mengangguk-angguk, ''Baiklah kalau begitu, aku akan mengikuti katamu,"
"Hm, pinter."
"Tapi jam berapa kamu akan pulang?"
"Gak pasti, kayanya malam, soalnya gua ada kerjain tugas bareng temen. Nanti kalau lapar kasih tau gua, biar gua pesenin makanan secara online."
"Oh baiklah Zeno!" Serunya yang membuat lelaki itu menyembunyikan rasa gemas tak karuan. "Aku akan menunggumu pulang!"
Yang dilakukan lelaki itu hanya menjawab dengan anggukan, berusaha menguatkan diri agar tidak tersenyum. Kemudian beralih cepat membuang bungkus bubur sembari menyembunyikan wajah merahnya.
-Statue Love-
Sebuah lonceng pintu berbunyi kencang, mengartikan bahwa ada yang datang kedalam cafe sederhana milik seorang lelaki paruh baya. Kakinya melangkah cepat mengambil sebuah apron lalu dipasangkan dipinggangnya, tak lupa juga memberi salam kepada sang pemilik cafe tempat ia bekerja. "Siang Pak Johan," Sapanya sopan sembari menyunggingkan senyuman.
"Siang juga Arzen, seperti biasanya kamu selalu datang tepat waktu ya," Ujar lelaki yang bisa dilihat memiliki jarak umur yang cukup jauh dengan Arzeno. "Lihat, pas kamu datang, pembeli nya makin banyak. Kamu benar-benar kunci keberuntungan," Suaranya tertawa dengan nada bercanda.
"Pak Johan, apa mau saya buatkan kopi?"
"Ah gak usah nak, terimakasih. Kamu layani pembelinya saja dulu, saya harus ke rumah sakit." Arzeno paham betul mengapa lelaki paruh baya itu setiap harinya pergi kerumah sakit. Betapa tersedu nya hati Zeno disaat ia tahu orang sebaik pak Johan tengah mengalami hal berat, dimana istrinya mengidap kanker otak, dan diperkirakan hidup sang Istri tak lama lagi.
"Hati-hati dijalan Pak, saya titip salam ke Bu Joya,"
Pak Johan tersenyum mengangguk, menurut dirinya Arzeno adalah staff yang paling sopan dan ramah, ah bahkan bisa dibilang Pak Johan sudah menganggap Zeno seperti anaknya sendiri. "Iya nak, semangat juga kerjanya,"
Para pengunjung yang mengantri panjang seakan merasa tak sabaran untuk mendapat pelayanan dari sang barista tampan. Sebenarnya cafe ini tak hanya memiliki satu barista, melainkan ada 3 orang lainnya. Sama halnya seperti Arzeno, bahkan beberapa dari mereka memiliki alasan tersendiri untuk melakukan part time ini.
Lelaki bertubuh tinggi, bermata sipit dengan hidung yang mancung, tengah menyapu bagian kiri cafe itu bernama Aji.
Bahkan umurnya terpantau dua tahun lebih muda dari Arzeno, tapi dia sangat gigih dalam bekerja, alasannya bekerja juga sangat memperihatinkan, kalau kata Aji sih, "Mau bantu Bunda cari uang, biar gak kecapean jual donat dipasar."
Betapa kagumnya Arzeno dikala tahu alasan itu yang membuat Aji memutuskan untuk mengambil kerja part time, padahal Aji berada dikelas tingkat akhir yang sangat sibuk menyiapkan ujian masuk ke perguruan tinggi nantinya.
Yang disebelah kiri tengah menghitung jumlah uang pemasukan hari ini bernama Chendra, kalau yang satu ini menurut Arzeno cukup unik. Lantaran faktanya Chendra adalah anak dari pemilik perusahaan terkenal di ibu kota, namun dia tetap memilih mencari kerja part time hanya untuk mengisi waktu luang. "Ya gua gabut aja sih gak ada kerjaan, jadi mending kerja part time, terus uang gajiannya paling gua kasih ke Aji,"
Ya sudah tak perlu diherankan lagi, walaupun menurut Arzeno terkadang anak itu sedikit sombong, tapi disisi lainnya dia juga baik hati, suka membantu orang lain.
Dan yang terakhir, yang tengah sibuk dengan mesin kopi disana bernama Navandra, tapi lebih sering dipanggil Navan. Antara Navan dan Arzeno memiliki umur yang tak jauh berbeda. Jika Chendra tadi adalah anak dari seorang pemilik perusahaan, maka disisi lain Navan adalah anak dari pemilik cafe ini-iya Navan anak dari Pak Johan dan Bu Joya.
Jika membicarakan jadwal kerja seorang Navan, biasanya tak pernah jelas. Lantaran Navan hanya bisa datang membantu dikala ia senggang dan tak sibuk akan tugas kampus. Siapa yang menyangka bahwa barista tampan saat ini adalah seorang mahasiswa semester terakhir fakultas kedokteran, namun Navan berada dikampus yang berbeda dengan Arzeno.
Setiap harinya cafe ini tak pernah terlihat sepi, walau hanya mematok harga bagi para pelajar cafe tetap memberikan pelayanan yang sangat baik. Bagi Pak Johan yang terpenting dalam sebuah usaha adalah membuat pelayan merasa senang, dengan begitu Pak Johan memberikan arahan kepada para staff nya untuk bekerja dengan baik.
Ting!
Ting!
Ting!
"Bang Arzen, itu hp nya ada banyak notif," Sahut Aji.
Arzen yang nampak penasaran segera mengambil handphone nya yang tergeletak dekat meja, mungkin tidak apa untuk mengecek sebentar, karena belum ada pembeli yang memesan lagi.
Cewek berisik
[Zenooo]
[Halo]
[aku sedang mencoba alat
bernama hanapon ini]
[Kamu sedang apa?]
[Zeno tadi aku menonton
film hantu, kenapa hantunya
terlihat lucu sekali]
[Rambutnya panjang]
[dia juga memakai baju kebesaran]
[aku bertanya-tanya apa
tidak ada mall disana? agar ia
bisa membeli baju yang lebih indah.]
[😑]
[chat kalau penting aja.]
[Gua lagi kerja]
[Jangan ganggu]
[Ah baiklah!]
[Kalau begitu semangat bekerja[]
[Dan cepat pulang zenooo!]
[Aku menantimu disini!]
[ya]
"Wih udah punya cewek ya bang?" Tanya Chendra nampak menggoda Arzeno.
"Enggak."
"Cielah, lucu banget kuping Lo sampe merah gitu bang." Tawa keras Chendra semakin terdengar keras layaknya frekuensi ultrasonik yang dimiliki lumba-lumba. Aji yang nampak kebingungan dengan tawa Chendra hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Arzeno beralih kembali kepada pembeli yang baru datang, berjalan menuju meja kasir "Nav, Hot Americano 1," Seru lelaki itu ke Navan.
"Oke Zen,"
Tanpa ambil waktu lebih lama lagi, dengan cekatan Navan membuat Americano sesuai dengan apa yang sudah diajarkan Pak Johan. "Hot Americano satu dibuat dengan penuh cinta kasih," Ujar Navandra mengeluarkan senyum manisnya kepada pembeli.
"Aduh mas, senyumannya cerah banget," Sahut seorang pembeli yang masih menggunakan baju sekolahnya. "Mas-mas tahu gak?"
"Tahu apanih?"
"Walaupun matahari bersinar terik, tapi tetap senyuman kamu yang menarik," Arzeno bergedik ngeri saat mendengar gombalan, ah sial padahal gombalan itu bukan ditujukan kepada dia, tapi dirinya lah yang kegelian setengah mati mendengar hal itu.
Kalau soal gombalan seperti ini sih kesukaan Navan, dia juga jago dalam hal ini. "Saya tahu rahasia tentang kamu,"
"Wah apatuh." Balas Sang gadis penasaran.
"Saya tahu rahasia, kalau kamu itu sebenarnya bidadari yang dicuri slendangnya, cantik." Astaga Chendra yang mendengarnya sudah menahan muntah.
Disisi lain Aji malah tertawa, dan diam-diam menghapalkan gombalan tadi agar bisa ia praktekkan di suatu hari.
Kondisi Sang gadis hanya terkulai lemas, jantung berdebar, tatkala Navandra semakin melebarkan senyumnya. Dalam hatinya ia berkata bahwa. Tetap naksir walaupun mustahil.
Wajah Chendra yang semakin memerah merasa freak-nya gombalan itu segera mengusir pembeli tadi. "Mba-mba udah, satu kopi satu gombalan, silahkan kembali ke tempatnya." Astaga tidak ramah, bintang satu.
"Navan-navan, kayanya Lo doang anak fakultas kedokteran yang kelakuannya kaya jamet kuproy." Gumam Arzeno yang masih sibuk di meja kasir.
Navan tertawa terbahak-bahak. "Cuma latihan itu."
"Latihan biar bisa dipraktekkin ke pacar beneran?" Tanya Chendra.
"Tuh tau."
"Udah berapa banyak mantan Lo Nav."
"Kalian, percaya gak kalau gua gak pernah pacaran?"
Mereka bertiga membulatkan matanya kaget. "Enggak!" Sontak mereka bersamaan.
"Anying. Masa gak ada yang percaya. Walaupun tingkah gua kaya gini, gua belum pernah pacaran,"
"Wah keren sih bang," Sahut bangga Aji menampilkan kedua jempolnya. "Patut dicontoh,"
"Eh-eh tapi kayanya bang Arzen udah punya pacar dah, dari tadi ada yang ngechatin dia terus, padahal biasanya notif yang kedengeran cuma alarm doang kan." Astaga Zeno berdecak kesal saat Chendra mulai memanas-manaskan suasana.
Ting!
Ting!
Ting!
"Wih baru diomongin langsunh ada notif lagi tuh." Sambung Navan.
"CK. bukan," Lelaki itu terdiam sejenak mencari alasan agar bisa mengelak "Ini dia... saudara, iya saudara gua."
"Lo gak jago boong Arzen," Yang lainnya tertawa mengejek wajah merah Arzeno.
Cewek Berisik
[Zeno0o0]
[Kamu sedang apa?]
[Zeno0oo]
[Aku habis menangis 😭]
[Kenapa???]
[Film nya terlalu sedih 😭]
[Ternyata dulunya hantu itu
meninggal setelah melahirkan
seorang anak, yang ia kandung
diluar pernikahan 😭]
[Astaga, Lo nonton apaansih?]
[Aneh]
[Laper gak?]
[IyAaAAaaa]
[Okay gua pesen makanan]
[Apa nanti yang mengantar,
mahkluk berkepala hijau itu lagi?]
[Iya.]
[30 menit dateng]
[Baiklah, terimakasih Zeno😭🙇🏻♀️🙏🏻]
[Ah bukankah gambar-gambar itu
terlihat lucu, bisa menjelaskan
ekspresiku saat ini]
[Iya.]
[Zeno0oo]
[?]
[Apa boleh aku menonton film lain?]
[Iya.]
[Udah, gua mau kerja.]
[Baiklah, sEmAnGaT🤗]
[👍🏻]
Bahkan walau hanya dalam sebuah ketikan, rasanya suara berisik Katharina terdengar sampai ke telinganya saat ini. Segera Arzeno menutup handphone nya, menaruhnya didalam kantung celana.
Betapa terkejutnya ia dikala sisi kanan dan kiri terasa dikepungi oleh ketiga temannya, sembari ditemani seringai godaan. "Bangsat, gua kaget." Umpatnya.
"Cie-cie," Sahut Navan menggoda Arzeno dan disusul yang lain. Astaga kalau sudah seperti ini pasti Navan lah yang paling jago menggoda orang bahkan sampai kesal sekalipun. "Gua yakin dua ratus persen itu bukan saudara Lo sih,"
"Yakin seribu persen." Sambung Aji.
"Ck. Iya bukan."
Chendra sontak tertawa, benar dugaannya. "Wih-wih harus syukuran bang Arzeno punya pacar."
"Tapi dia bukan pacar gua. Dia..."
"Apalagi hayo, alasan lagi, alasan terus, kalau kata Siti Badriah kamu punya seribu alasan mas,"
"Navan, pilih diem atau gua pukul." Mereka semua bergedik takut, mereka paham betul betapa kuat dan besarnya otot Arzeno. Sekali pukul mungkin bisa sampai ke Cappadocia.
"Duh iya maaf-maaf, Lo kalau pukul orang sampai kritis anying, serem. Tapi tuh cewek namanya siapa? penasaran deh gua."
"Kepo."
"Wah, parah nih bang, udah gak setia kawan, mainnya rahasia-rahasiaan gini." Panas Chendra.
Lelaki itu mendenguskan nafasnya berat. "Ck. Katharina Belleazurè,"
"Namanya bagus, pasti cantik ya bang?" Tanya Aji, namun tak dijawab Arzeno, ia hanya diam, bingung mau menjawab apa. Kalau ditanya Katharina cantik apa enggak, jawaban ia pasti, Cantik. Tapi kali ini ia lebih memilih diam agar tak menjadi bulan-bulanan anak-anak cafe.
Navandra yang tadi merada penasaran kini malah terdiam saat nama itu yang disebut Arzeno. "Katharina Belleazurè..." Gumamnya masih membeku.
"Kenapa?" Bingung Arzeno.
"Enggak-enggak, namanya agak gak asing aja." Arzeno mengangguk paham, benar kata Navan, bahkan saat mendengar nama Katharina rasanya tak begitu asing, namun Arzeno juga tak paham benar mengenai hal itu.
Ting!
Ting!
Alya
[Halo Arzen]
[Hari ini jadi kan?]
[Iya jadi Al,]
[📍lokasi]
[Itu tempatnya ya]
[ok, thanks Alya]
[Urwell dude,]
-Statue Love-
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co