Truyen3h.Co

That's Our Queendom

Gardianham

nanayyyg_

Gadis itu berkacak pinggang, setelah turun dari kereta kuda paman John. Ia akhirnya bisa bernafas lega sembari melihat keramaian di kota Gardianham ini. Jujur dari setiap jejeran bangunan dan juga orang-orang ini sangatlah berbeda dengan desa tempatnya  tinggal.

Ia menunduk sejenak, memandangi betapa lusuh baju yang ia kenakan. Rasanya jika saja ia punya uang, seisi toko akan ia beli, namun jangan lupakan bahwa seorang Ratu yang tadinya dari keluarga kaya kini hidup sebagai Latusya si gadis miskin.

"Sumpah, baju gue kaya pelayan banget! Jelek! Lusuh! Ew gak suka barang lusuh begini. I really need an expensive dress." Ocehnya seorang diri.

Kini langkah kakinya mengikuti ayah dan juga paman John yang akan menuju kantor walikota. "Paman sebenernya aku dateng kesini berguna gak sih? Kok aku harus ikut?" Tanya nya kebingungan, melihat seisi ruangan hanya berisikan para lelaki.

"Justru kamu sangat dibutuhkan Latusya, karena diantara aku dan ayahmu, hanya kamu yang pandai dalam menghitung maupun membaca, kita perlu kamu untuk membaca surat perjanjian yang akan diberikan lara Duke."

"Loh kalian gak bisa baca?"

"Kita rakyat biasa bahkan tak mampu untuk sekolah, bagaimana bisa membaca." Gadis itu hanya mengangguk, ia merasa kasihan dengan situasi yang ada, ternyata menjadi orang miskin bukanlah suatu hal yang mudah baginya.

"Latusya, kemarilah, bantu ayah menandatangani surat ini." Ia mengangguk kemudian berlari ke arah Ayahnya. "Coba beri tahu kepada kami apa isi surat ini."

Perlahan Latusya membaca gulungan surat tersebut, kemudian memahami isinya dan membuat kesimpulan bahwa, "Surat ini bilang, kalau para Duke akan meminjamkan tanah kekita, tapi mereka akan ambil keuntungan sebesar 75%, kontrak ini untuk 3 tahun kedepan. Menurut pendapat ayah dan paman gimana?"

Paman John berpikir sejenak, "Menurutku  keuntungan 75%  terlihat sangat besar untuk mereka, tapi karena disini kita dipinjamkan lahan, dan bersedia untuk mengolahnya, mau tidak mau keuntungannya harus dibagi dua."

"Tapi paman, dalam surat ini tertulis kalau tanaman yang boleh ditanam hanya gandum. Jika dipikir-pikir, tumbuhan gandum akan panen selama 3,5 bulan lamanya, belum lagi benih yang harus kita beli sendiri sebagai modal, paman dan ayah tahukan kalau benih gandum cukup mahal dipasaran."

"Jika luas lahan yang diberikan sekitar 1 hektar, perkiraan yang kita butuhkan adalah 1 kwintal benih. Apa tidak rugi untuk kita?" Tanya gadis itu yang mulai serius dengan pembahasan yang ada.

Kini Leonard mulai berbincang dengan para Duke, dan meminta permohonan untuk pembagian keuntungan. Namun sayangnya para Duke tak mau menerima komplain lainnya dari Leonard.

Tatapannya menjadi tajam, gadis itu terlihat emosi dengan para Duke yang bertindak tidak adil. "Maafkan hamba Duke Wallace, izinkan saya menyampaikan protes saya terhadap pembagian keuntungan dari lahan yang ada di Peonyscar ini. Menurut saya hal ini sangat tidak sesuai dengan prinsip di negara kita."

"Apa maksudmu gadis kecil?"

Latusya mulai menunjuk sebuah papan besar dekat pintu yang bertuliskan moto negara tersebut. "Liberté, égalité, fraternité, yang dimana artinya harus ada kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan. Dalam surat itu tertulis bahwa Duke boleh mengambil bagian yang lebih besar, bukan kah dalam hal tersebut sudah mencoreng salah satu moto yang menyebut kata kesetaraan?"

"Padahal katanya negri ini menjujung tinggi demokrasi, dan akan menerima aspirasi para rakyatnya, namun masih terlihat jelas kalau kita belum bisa bebas akan hal itu. Persaudaraan? Darimana persaudaraan jika kita lihat saja, kalian para Duke seorang pemimpin kota, masih fokus dengan keuntungannya sendiri?"

"Hey gadis kecil! Jaga bicaramu!"

"Aku menjaga bicaraku sejak tadi Duke Felipe , yang ku lakukan ini hanya menyampaikan rasa kecewaku, terhadap para pemimpin yang tidak adil. Disini kami diberikan pinjaman lahan seluas 1 hektar, namun yang kami dapatkan hanya 25%  dari hasil panen. Dan terlebih lagi, semua benih yang akan ditanam harus dibeli menggunakan uang kami sendiri?"

"Uh kalau begitu mungkin keuntungan yang kami dapatkan hanya 10%, sisahnya sudah habis untuk modal membeli benih. Jika kalian bisa bayangkan, dalam 1 hektar lahan bisa menghasilkan 30 kali lipat gandum daripada hasil yang ditanam. Jika dalam 1 hektar lahan bisa menghasilkan 30 ton, bukankah itu adalah keuntungan yang melimpah ruah? Lalu kenapa kalian rakus untuk mengambil lebih banyak keuntungan?"

"Padahal jika kita lihat, yang akan lebih banyak usaha dan juga modal yang terbuang adalah kami para rakyat miskin."

"Penjaga, bawa semua orang ini keluar, mereka sudah tidak sopan terhadap Duke Wallace," Gertak Duke Felipe yang duduk di bangku sebelah kanan.

Duke Wallace mengangkat tangannya tak terlalu tinggi "Sebentar dulu. Biarkan gadis itu berbicara, lalu apa yang kamu inginkan?"

Dalam suasana yang semakin tegang justru Latusya malah semakin terlihat bersni untuk menentang ketidakadilan dalam surat kontrak tersebut. "Saya hanya ingin meminta keadilan, dan kesetaraan, semuanya harus dibagi 2 secara merata. Keuntungan 50% untuk keduanya, dengan begitu semuanya adil."

"Baiklah, Felipe ubah surat kontrak tersebut dan jadikan keuntungan untuk keduanya sama rata." Tegas Duke Wallace.

"Tapi Duke—"

"Ikuti saja perintahku."

Tolehan kepala langsung ia lakukan, ia memandangi Ayah dan juga paman John yang terlihat bangga dengan apa yang telah ia lakukan. "Leonard, putrimu sangat cerdas, bersyukurlah telah memiliki putri seperti dia."

"Terimakasih banyak Duke Wallace, saya pun sangat bersyukur memiliki Latusya."

"Bisakah aku berbicara berdua saja dengan mu Leonard?"

"Tentu saja Duke Wallace, saya bersedia,"

Kemudian keduanya pergi kearah taman belakang, entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti Latusya sudah merasa lega dengan semuanya. "Ya lihatlah, siapa tadi gadis yang berani bergulat lidah dengan para Duke?" Ledek John kepada keponakannya.

"Aku tentu saja! Lihatkan paman, betapa hebat nya aku," Dalam hatinya Latusya tersadar dan merasa aneh, sejak kapan bahasanya jadi sebaku ini? Padahal tadi siang masih baku dengan aksen jaksel yang kental.

"Hebat, sepertinya kita harus merayakan ini dengan makan ayam panggang dari peternakan ku,"

"Wahhh! Harus! Aku sangat-sangat merasa lapar!"

Kemudian keduanya tertawa saling berbagi lelucon, sampai Leonard datang dan mengajak mereka untuk pulang. Ketiganya pulang dengan penuh senyuman, karena Leonard sangat menaruh harapan pada bisnis ini.

Lelaki yang sudah menginjak kepala empat itu bahkan sudah menghitung seberapa banyak keuntungan yang mungkin akan ia dapatkan, dan hal itu pasti berpengaruh pada ekonomi keluarganya nanti, ia hanya berharap bisa hidup lebih nyaman dari kehidupan yang saat ini. Ia ingin istri serta anaknya merasa bahagia dengan setiap hasil yang ada.

"Ibu aku pulang!" Teriak Latusya layaknya gadis kecil yang berlari memeluk ibunya.

"Badanmu bau sekali Latusya! Pergi mandi lalu kita makan malam, ibu akan masak terlebih dahulu." Ucap Evelyn mencubit pelan pipi anak pertamanya.

"Ck. Iya-iya, aku mandi."

"Bagaimana Leonard? Apa semuanya lancar?"

Belum Leonard menjawab, John datang dengan ayam panggang besarnya, kemudian bersahut "Tentu saja, semua ini berkat putri cerdasmu Latusya, dia berhasil berdebat dengan para Duke agar kita bisa mendapat untung yang lebih adil! Lihatlah Putri mu tumbuh besar dengan baik Evelyn, jangan terus memarahinya." Ujar John masuk kedalam rumah.

"Syukurlah, aku sangat bahagia mendengarnya Leonard, lalu kenapa kau diam saja? Ada suatu hal yang mengusik pikiranmu?" Tanya Sang istri pada suaminya.

"Akan kubicarakan nanti saat kita makan bersama Evelyn."

"Baiklah, istirahat terlebih dahulu, aku akan membuatkan kalian teh hangat."

That's Our Queendom

Para pelayan mulai berdatangan menghampiri sang Pangeran yang sudah berkelana membagikan kepingan emas, sebagai peringatan hari suci di negeri ini. Wajahnya terlihat lelah dan sangat datar, sama seperti biasanya.

Berbagai pakaian dilepaskan, kemudian disiapkannya air hangat bersama taburan bunga untuk sang Pangeran mandi.

Ashaqar selalu menikmati berendam di air hangat yang dipenuhi bunga, ia suka merenung dan berlama-lama dalam kolam tersebut, rasanya semua rasa lelah bisa hilang begitu saja jika ia mandi dimalam hari.

"Pangeran, sudah sekitar 1 jam anda di kolam, apa ada yang perlu saya persiapkan lagi?"

"Tidak, cukup keluar dari ruangan ini, dan tinggalkan aku sendiri. Jika ada yang mencariku, bilang saja aku sudah tidur."

"Baik Pangeran."

Sesekali lelaki itu menenggelamkan kepalanya kedalam air, membiarkan semua beban pikirannya ikut hanyut. Kini ia keluar dari kolam tersebut, menggunakam sepasang baju tidur yang telah disiapkan pelayan.

Aroma bunga jasmine seakan mengisi ruangan tersebut, ruangan sedikit redup penerangannya, namun membuatnya tenang. Perlahan derap langkah kaki nya beralih ke arah ruang lukis yang setiap hari pasti ia datangi.

Melihat banyaknya kanvas yang telah ia gunakan membuatnya penasaran, apakah masih ada kanvas yang belum ia lukis? Seisi ruangan terlihat dipenuhi ratusan lukisan yang berbeda, namun beberapa terakhir sang pangeran hanya melukis satu objek yang sama.

Terkadang ia menggambar suatu objek langsung dari apa yang ia lihat, dan terkadang juga hanya berupa khayalan atau suatu hal yang datang didalam mimpinya. Sama halnya dengan kanvas yang berada di tengah-tengah ruangan tersebut.

Baginya hanya hal yang indah yang perlu ia abadikan didalam sebuah lukisan, seperti sosok seorang gadis yang beberapa hari terakhir muncul di mimpinya yang bahkan ia tak kenal siapa gerangan.

"Sepertinya tak lama lagi, aku akan bertemu dengan sosok mu di dunia asli,"

Suara ketukan pintu tiba-tiba mengalihkan atensinya, siapa gerangan yang datang, padahal ia sudah menyuruh para pelayan untuk melarang orang masuk kedalam kamarnya.

"Ashaqar," Dalam sekejap amarahnya menurun, ternyata itu suara sosok yang paling penting dalam hidupnya.

"Iya ada apa ibu?"

"Apa yang kamu lakukan disini"

"Hanya melihat lukisan yang ku buat," Ujarnya singkat.

Sang ibu kemudiam menuntun tangan anaknya, untuk duduk dibangku samping jendela. Membiarkan angin itu menerpa kulit sehingga terasa damai. "Nak, Ibu dan Ayah sudah membicarakan tentang pernikahan mu."

Sudah terlihat jelas dari pandangan yang berubah, Ashaqar sangat tidak menyukai pembicaraan ini. "Ibu dan Ayah, akan membuat sayembara bagi para gadis bangsawan untuk bisa menikahimu. Bagaimana pendapatmu nak?"

"Ibu dan Ayah sebenarnya tak perlu pendapat ku bukan? Kalian hanya basa-basi, kemudian pada akhirnya kalian yang akan memutuskan semuanya. Jadi pendapat ku disini sangat tak bermanfaat."

"Ashaqar. Dengarkan ibu, kamu harus menikah untuk menggantikan tahta ayahmu, beliau sedang sakit keras, tak mungkin ia harus menerus memimpin kerajaan ini bukan?"

Pangeran mengangguk, ia tahu betul bahwa ayahnya tengah sakit keras, namun jujur saja dirinya masih belum siap untuk menjadi seorang Raja. Ah bahkan jika bisa ia tak ingin menjadi seorang Raja.

"Aku serahkan semua pada Ibu, yang kulakukan selanjutnya hanya menjalaninya saja kan. Semua yang ibu perintahkan harus ku lakukan."

Dengan rasa kasihan sang Ibu memandangi putra sulungnya "Ashaqar..."

"Ibu maaf, aku kelalahan setelah berkeliling kota, biarkan aku berisitirahat terlebih dahulu bu,"

"Baiklah nak, istirahat yang cukup, dan jaga kesehatanmu."

"Iya ibu,"

Setelah Sang ibu keluar dari kamar, Ashaqar langsung merebahkan tubuhnya dikasur, entah mengapa pundaknya terasa sangat berat, seakan membawa beban dari setiap harapan orang-orang.

"Aku harap, akan ada seseorang yang datang dan membuatku kuat menghadapi semuanya. Aku hanya ingin bahagia, dan tenang."

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co