Truyen3h.Co

That's Our Queendom

New Life begin

nanayyyg_

Suara ayam berkokok membuat gadis itu terbangun, ia berkata didalam hati sejak kapan dirumahnya ada ayam, bahkan dikomplek sekitar tidak ada orang yang pelihara ataupun berternak ayam.

"Latusya Bangun! Astaga gadis macam apa kamu, bahkan ayam lebih cepat berkokok daripada bangunnmu yang seperti seorang putri."

Matanya masih belum terbuka, namun ia bisa jelas mendengar suara itu, suara perempuan yang bahkan ia tak rasa asing. Gorden yang tadi setengah terbuka kini semakin dibuka lebih lebar membuat cahaya tersebut dengan cepat menusuk indra penglihatan sang gadis. "Ah siapasih, tutup lagi dong, gue ngantuk banget please, baru tidur jam 3, ya Tuhan berikan hambamu ketenangan." Ujarnya sedikit keras.

"Latusya! Bahasa mana yang kamu gunakan?!" Sontak sang gadis membuka matanya.

"Ha?!" Ia melihat ke arah sekelilingnya, semua benda, terlihat berbeda, rumah mewahnya yang elegant entah kenapa berubah menjadi susunan batu yang menurutnya tidak sedap untuk dilihat  mata. "OH FUCK! GUE DIMANA?!"

"Hey! Apa yang kamu maksud? Latusya jangan banyak drama lagi, cepat mandi, dan kerjakan tugasmu!" Kini matanya beralih ke seorang wanita yang cukup berumur didepannya.

"Bunda? Ini beneran Bunda? Aku gak mimpikan?"

"Latusya apa kamu sudah hilang ingatan?" Bingung sang wanita paruh baya itu. "Badan mu tidak panas, berarti kamu tida sakit. Habis makan apa kamu kemarin Latusya, katakan pada ibu! Main kemana saja kamu bersama Galatea?" Ucapnya marah, sedangkan gadis yang dimarahi hanya bisa terdiam membisu.

Selama beberapa detik ia tersadar, ada banyak keanehan disini, yang pertama rumahnya entah mengapa menjadi gubuk derita yang sangat jelek, dan yang kedua, Bunda nya yang dulu sudah meninggal tiba-tiba hadir didepannya.

"Latusya, nak cepat bersiap-siap, kita harus pergi ke kota bersama paman John." Dan yang ketiga, Ayahnya yang sibuk setengah mati bahkan hampir tak pernah pulang, kini bisa ia lihat dengan jelas kehadirannya.

Kini gadis itu menangis dengan keras. "Bunda, Ayah... Akhirnya aku bisa bareng kalian lagi, aku kangen kalian. Ratu gak mau sendirian lagi Bunda. Ratu gak mau ditinggal Ayah kerja. Ratu mau bareng kalian terus!" Tangisnya memeluk sosok yang ia panggil Bunda dengan erat.

"Latusya ada apa nak? Kenapa kamu menyebut dirimu sebagai Ratu. Namamu Latusya Celestiar dengan marga keluarga kita Nadeleine"

"Namaku Ratusya Asareena bunda, bunda lupa?" Bingungnya

"Ya Tuhan Leonard, sepertinya anak kita benar-benar lupa ingatan, kita harus membawanya ke tabib penyembuh."

"Ayolah Latusya, jangan bercanda lagi, kita sudah terlambat." Suruh sang Ayah Leonard.

"Ini dimana Bunda?"

"Hentikan memanggil ibumu sebagai bunda. Panggil Aku Ibu Latusya, kita tinggal di desa kecil Magenchill, dan cepat bangun karena kamu harus pergi ke kota Gardianham dan bantu ayahmu."

Setelahnya sang ibu menarik tangan putrinya menunu kamar mandi, yang bahkan tak bisa disebut kamar mandi. Lantaran itu hanya berupa kotak kecil yang bahkan atapnya tak ada penutup, jadi bisa saja ada orang yang mengintip dari atas sana.

Tak pernah terpikirkan dalam pikiran Ratu bahwa ia akan hidup semelarat ini, lihatlah bahkan bathub yang indah sering ia pakai kini berubah menjadi sebuah bak besar yang bahkan airnya harus ditimba terlebih dahulu dari sumur.

Setelah beberapa menit ia keluar dari ruangan kecil yang sangat menjijikan menurutnya. Matanya kaget mendapati seorang gadis muda yang entah tak ia ketahui berapa umurnya. "Lo siapa?" Tanya nya sedikit jutek.

"Kakak, ini aku Mhitney, ada apa dengan kakak? Kemarin pura-pura sakit, sekarang pura-pura lupa. Kakak semakin hari semakin terlihat gila, pantas saja tidak ada yang mau menikahi kakak!" Ujar gadis itu sedikt cerewet meskipun suaranya agak berat.

Dengan wajah judesnya Ratu menatap tajam gadis itu. "Masih kecil, songong betul lo. Mana bajunya jelek banget lagi, ew bad fashion. Disgusting."

"Ibu!!! Liat kakak! Dia bilang bajuku jelek, padahal semua isi lemarinya lebih jelek!"

"Latusya, Mhitney, berhenti bertengkar. Dan cepat ke meja makan."

Kedua gadis itu berjalan menuju meja makan kayuyang terlihat sudah tua dan rapuh. Diatas sana tak terlihat banyak makanan, hanya ada roti panggang dan juga telur hasil dari peternakan ayam tempat Mhitney membantu paman John.

Ratu terduduk dimeja tersebut, sembari merenung sementara. Ia ingat akan suatu hal. Dulu pas ia kecil, ia ingat sekali ibunya pernah keguguran, dan apa mungkin Mhitney adalah adiknya yang keguguran saat itu? Apa mungkin semuanya kembali bersamanya? Sungguh semuanya masih terasa angan-angan bagi Ratu.

"Bun- eh maksudnya Ibu, disini umur aku berapa?" Tanya Ratu yang membuat sekeluarga menatapnya aneh.

"Apa kamu lupa bahwa kamu sudah menjadi perawan tua Latusya? Seharusnya tahun ini kamu menikah." Jawab ibu sembari memberikan sepotong roti kepada ayah.

Leonard sang ayah tersenyum. "Tidak perlu mendesak Latusya untuk menikah Evelyn, biarkan saja dulu, umurnya masih menginjak 23 tahun."

"Leo, apa kamu lupa? Bahwa di desa kita usia paling tua untuk menikah adalah 24 tahun, jika lebih dari itu maka tidak akan ada lelaki yang mau menikahi gadis tersebut."

"Loh terus aku nanti jadi jomblo seumur hidup dong?! Buset ngenes banget kehidupan gue, udah miskin, jones lagi!"

"Bahasa mana yang kamu gunakan Latusya, berkata yang sopan sedikit. Jaga tata Krama mu, kamu itu seorang perempuan." Marah ibu untuk yang kesekian kalinya.

Mereka saling berbincang dan tertawa bersama, kebiasaan mereka dipagi hari ini masih belum terbiasa untuk Ratu lakukan, ia masih kaget dengan keadaan yang ada, namun disisi lain ia juga merasa bahagia. Ia bersyukur bisa melihat keluarga nya lagi, kini ia tak sendirian, kini ia pun tak kesepian.

Sang gadis yang kini bernama Latusya, membawa sebuah keranjang kecil berisi bekal makanan untuk dibawa saat perjalanan nya kekota besama sang ayah. Mereka berangkat menggunakan kereta kuda milik Paman John, adik dari Ayahnya.

"Ayah, emang kita mau ngapain sih di Gardianham?"

"Ada urusan bisnis yang cukup besar disana nak, Ayah akan bertemu para Duke untuk mendapatkan beberapa tanah di daerah Peonyscar untuk dijadikan lahan pertanian baru kita."
Latusya hanya mengangguk seakan mengerti dengan pembicaraan tersebut.

Ia merintih sejak tadi, sejak 2 jam perjalanan seluruh tubuhnya terasa pegal dan sakit-sakit, ia mengeluh dan akhirnya paman John memberhentikan kereta kudanya di sebuah tempat makan, agar bisa istirahat terlebih dahulu.

"Apa yang kamu mau Latusya, pesan saja, paman yang akan bayarkan untukmu."

"Tidak perlu John, kami membawa bekal dari rumah, kau saja yang pesan."

"Ayah tapi bekel kita cuma dikit tau, mending kita tuh pesen aja, mumpung dibayarin paman John. Ya kan Paman?" Sahut gadis itu dibalas senyuman John.

"Ah baiklah, lakukan sesukamu Latusya."

Sepanjang mereka makan di resto tersebut John memberi tahu beberala daerah bagus yang harus Latusya kunjungi suatu saat nanti. John banyak sekali bercerita kepada Latusya, dari kandang peternakan miliknya yang mulai membesar, hingga keluarga kerajaan yang di kabarkan akan ada pergantian tahta tak lama lagi.

"Woah, pasti pangerannya ganteng ya Paman John?"

"Ganteng itu apa Latusya? Sebenarnya bahasa dari negri mana yang kamu gunakan?" Tanya John kebingungan dengan tingkah aneh serta lucu dari Latusya.

"Negri Jaksel paman!" Sahutnya. "Ganteng tuh kaya... Ah! Tampan. Pasti Pangerannya tampan kan?"

Sembari menyeruput sup yang enak di mangkok, John membalas ucapan gadis itu. "Menurut bisik-bisik para rakyat sih begitu, aku pun belum pernah melihat keluarga kerajaan secara langsung."

"Bukankah Pangeran tersebut harus menikah terlebih dahulu untuk menjadi Raja? Ku dengar Sang Pangeran masih cukup muda dan belum memiliki istri." Sahut Leonard yang penasaran dengan topik pembicaraan tersebut.

"Untuk itu aku belum tahu pasti, tapi memang betul seorang pangeran harus menikah terlebih dahulu untuk naik tahta menjadi Raja."

Tak lama selang mereka berbincang, dari sudut kejauhan sangat terdengar jelas ada suara terompet yang tertiup, serta orang-orang yang berlarian keliar karena rasa penasaran. "Latusya ayo kita keluar, sepertinya ada keluarga kerajaan yang lewat jalan ini."

"Hah? Serius? Gila berasa presiden mau lewat." Ujarnya masih penuh kepanikan. Ia ikut berlari kearah luar, dan melihat bahwa banyak orang yang sudah mulai menanti-nanti dan bertanya siapa gerangan anggota kerajaan yang lewat jalan ini, pasalnya ini hanya jalanan kecil yang harang dilewati para bangsawan.

"Perhatian semuanya, beri jalan untuk Pangeran kita Ashaqar Lysander Dalone!"

"Lah panjang umur, baru tadi gue  gibahin." Ocehnya seorang diri. "Paman, ini pangeran yang tadi paman bilang kan?"

Paman John mengangguk, dan berbisik ditelinga gadis itu. "Di negri ini hanya ada satu Pangeran, dan dia Ashaqar Dalone."

Bisa dipastikan, pasti nama Dalone adalah nama bangsawan untuk anggota kerajaan. Latusya menaikan kakinya, berusaha mengintip bagaimana rupa wajah sang pangeran tersebut.

Suara hentakan kaki kuda semakin terdengar jelas, sosok pangeran terlihat berada di tengah para penjaga, ia berbaju putih dan menunggangi kuda bewarna putih, sedangkan yang lain menggunakan kuda bewarna hitam.

Latusya teringat kata John tadi, bahwa kuda putih hanya digunakan untuk kaum bangsawan, dan pasti sudah ia yakini bahwa pangeran tersebut adalah pangeran berkuda putih bak di negri dongeng yang sering Latusya baca.

Kuda tersebut berhenti tepat ditengah-tengah masyarakat. Bisa dilihat sang pangeran turun dari kudanya, dan berjalan sebentar menyapa para rakyat, dan membagikan beberapa kepingan emas, "Ini sih pangeran lagi sedekah jariyah kah?" Bingung gadis itu.

Ia hanya terdiam, masih belum melihat wajah sang pangeran dengan jelas, sampai pada akhirnya rombongan tersebut memberikan kepingan emas disisi Latusya berdiri.

Matanya terbelalak besar melihat sosok lelaki yang tadi menunggang kuda putih kini sedang berdiri tepat di depannya. "Loh?!"

"Raja! Lo disini juga?! Kok lo jadi keluarga bangsawan?! Sedangkan gue jadi orang miskin?!" Suara besar gadis itu membuat semua orang menghadap kearahnya. "Lah Raja! curang banget lo! Takdir macam apa ini?"

Sontak dengan rasa takutnya Paman John menyenggol tangan Latusya, dsn mengingatkan bahwa lelaki yang sedang berdiri tepat didepannya adalah seorang Pangeran. "Apa maksudmu?" Tanya Pangeran tersebut.

"Raja, jelasin ke gue, ini kita lagi dimana? Kok aneh banget! Masa bunda sama adek gue hidup lagi? Terus ayah gue jadi baik banget Ja?"

"Pangeran maafkan anak saya, ia sedang sakit, maafkan segala tutur katanya yang kurang sopan." Leonard menunduk ketakutan meminta maaf, karena sebenarnya tak boleh ada rakyat yang meninggikan suaranya didepan keluarga bangsawan, atau kepala adalah taruhannya.

"Siapa nama putrimu?" Tanya sang pangeran membuat nya malah semakin gugup.

"Nama putriku Latusya Celestiar Nadeleine, tolong maafkan perilakunya Pangeran."

Latusya hanya kebingungan, kenapa Sang Ayah harus minta maaf kepada sosok temannya Rashaqa Rajasana?

"Nama yang bagus, gunakan kepingan emas itu untuk perobatan putrimu."

Kini sang gadis semakin membelalakan matanya, lantaran sosok yang menurutnya adalah Raja teman kecilnya malah kini memberikan sekantong kepingan emas. "Woy gue gak sakit Raja!"

"Maaf-maaf Pangeran, anak saya memang sakit, maafkan"

"Latusya jaga perkataan mu agar kita bisa kaya raya," Ucap paman John kepadanya.

"T-tapi itu—" Kemudian rombongan berkuda tadi pergi begitu saja setelah memberikan kepingan emas kepada semua masyarakat.

Leonard menatap anaknya, ia menarik tangan gadis itu untuk kembali kedalam restoran. "Latusya jangan gila, kamu tahu? Jika masyarakat biasa seperti kita tidak boleh meninggikan suara didepan keluarga kerajaan, atau imbalannya kepala mu akan dipenggal."

Kini gadis itu menunduk merasa bersalah. "Maaf ayah, aku gak tau  seriusan deh. Tapi tadi dia itu Rashaqa Rajasana, dia temen aku, bukan temen juga sih, aduh gimana jelasinnya ya."

"Sudah hentikan khayalanmu Latusya, ingat kita keluarga biasa yang harus menjaga tatakrama didepan keluarga bangsawan."

Sungguh rasanya gadis itu tidak terima dengan takdir seperti ini, mengapa ia harus berada dikeluarga yang miskin sedangkan Raja menjadi seorang pangeran dan hidup enak?

"Gak adil."

Latusya Celestiar Nadeleine

Mhitney Celestiar Nadeleine
(Adik Latusya)

Leonard Nadeleine
(Ayah Latusya)

Evelyn Nadeleine
(Ibu Latusya)

Ashaqar Lysander Dalone

Edmund Lysander Dalone
(Raja Dalone/ Ayah Ashaqar)

Alice Casandra Dalone
(Ratu Dalone/ Ibu Ashaqar)

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co