My home
Rintikan hujan yang tak di undang tiba-tiba saja terjatuh dikulit mereka yang masih berada tepat diatas motor. Suasana malam yang dingin ditambah air yang berjatuhan semakin membuat tubuh rengkuh gadis itu lemah. "Raja hujan, minggir di hotel terdekat aja dulu."
"Dikit lagi sampai rumah lo."
"Ck. Kenapa sih gak nurut banget, nanti gue yang bayar."
"Gue juga bisa bayar, tapi rumah lo dikit lagi sampe, buang-buang uang doang." Jawabnya, kemudian membuat gadis itu semakin terdiam.
Rasanya didalam hati seorang Ratusya sudah tak sanggup lagi untuk menahan diri dari mencaci maki sang empu pengendara motor. tersebut. Dia menyimpan wajah sebalnya, membiarkan dagunya bersandar di baju Raja.
"Jangan tidur nanti jatoh." Ucap lelaki itu datar.
"Enggak!"
Entah selang beberapa menit kemudian, motor nya sudah berhenti di garasi rumah Ratu. Sang gadis memaksa lelaki tersebut untuk masuk kerumahnya terlebih dahulu lantaran baju Raja yang terlihat basah kuyup. Tidak, jangan katakan hal itu dilakukan Ratu karena kasihan dan perduli dengan Raja, ia hanya ingin berbalas budi. Iya itu saja.
Ia melangkah menghampiri Raja yang terduduk didepan ruang tamu "Itu pake. Baju mahal, buat lo aja." Sm
"Besok gue balikin." Balas Raja.
"Terserah. Dasar keras kepala!" Yang di caci sudah tak mau berkutik lagi, dia sudah terbiasa mendapatkan perkataan itu dari Ratu, baik disekolah maupun dimana saja saat mereka bertemu.
Lelaki itu bangkit dari duduknya, mengambil baju yang diberikan sang gadis tadi, dan beralih ke kamar mandi. Tak perlu bertanya dimana letaknya, karena sebenarnya Raja sudah sering datang kerumah ini.
Dia hafal dengan benar, dimana letak kamar Ratu, dimana letak kamar orang tuanya, bahkan sampai letak peralatan seisi dapur ia masih ingat dengan jelas.
Sebenernya ada rahasia yang bahkan orang-orang tak pernah ketahui, dimana Raja dan Ratu sebenernya adalah teman kecil, namun entah kenapa sejak menginjak bangku SMP keduanya jadi seperti air dan minyak yang tak bisa bersatu.
Rumah Raja tepat didepan rumah gadia itu, bahkan bunda Raja sering memberi perintah ke anaknya untuk menemani Ratu yang sering sendirian dirumah. "Isi kulkas lo kosong, besok isi. Biar kalau pas laper gak usah ribet keluar."
"Kuno banget sih lo, jaman sekarang ada kali layanan jasa antar, ngapain ribet-ribet masak, gak perlu isi kulkas juga."
"Jangan keseringan makan junk food, gak sehat."
"Tumben perduli."
Raja terdiam sejenak, seakan terjebak akan sesuatu. "Itu pesen dari Bunda gue, jangan kegeeran."
"Tadi bunda chat gue, katanya kalau masih ujan lo temenin gue disini." Ucap gadis itu masih fokus pada layar handphone.
Raja tak menggubris perkataan itu, karena sebenarnya dia sudah tahu pasti sang bunda akan menyuruhnya begitu. Entah dari kapan, tapi Bunda selalu memperhatikan Ratu seperti anaknya sendiri, ia selalu mengkhawatirkan kondisi gadis itu.
Suara petir diluar sangat terdengar jelas sampai kedalam rumah. Sang gadis menutup jendela dan juga gorden tersebut, tak membiarkan air hujan tersebut masuk kedalam rumah.
Kini keduanya duduk didepan televisi, perlahan tangan Raja mengambil remote tersebut dan membuka layanan aplikasi disana. "Ah gue mau nonton juga!" Ujar gadis itu mengambil alih remote tv.
"Eh lo tau gak, ada series netflix, itu tipe filmnya rada eropan classic gitu, gue suka banget. Sebentar gue lupa judulnya." Ujarnya yang tiba-tiba semangat.
Disisi lain lekaki itu hanya menahan amarahnya, benar-benar untuk menghadapi seorang Ratusya Asareena sangat memerlukan kesabaran yang setinggi gunung fuji. "Liat deh, kayanya gue kalau masuk kedalam cerita eropan classic gitu, pasti gue jadi keluarga bangsawan, atau gak Ratu. Gue sih yakin banget!"
"Kalau lo gak jadi keluarga bangsawan atau Ratu gimana?" Tanya Raja tiba-tiba.
"Ya pasti jadi anak dari saudagar kaya, soalnya kalau lo liat kehidupan gue yang sekarang aja udah kaya 7 turunan 7 tanjakan, pasti kebawa tuh ke dunia fiksi."
"Kebanyakan ngehalu." Cicir sang lekaki menunjuk dahi Ratu yang ia rasa kurang sehat.
"Yeh, gue yakin nih ya, pasti kalau masuk dalam cerita itu, kehidupan lo melarat, gak punya uang, terus kisahnya 11 12 sama malin kundang soalnya lo suka ngelawan bunda lo, terus nanti lo dikutuk jadi batu! Terus abis itu patung batu lo gue jual deh, gue langsung kaya." Kemudian gadis itu tertawa terbahak-bahak.
Sang empu yang mendengar hanya hida menggelengkan kepalanya, memang benar adanya sejak kecil hobi Ratu selain menghabiskan uang adalah berkhayal. "Udah jam 3 mending lo tidur."
"Nanti ah, mau tamatin ini dulu. Lo kalau mau tidur duluan, tidur aja." Ucapnya sembari menaikan kaki keatas sofa, serta mengambil beberapa cemilan yang ada dimeja sampingnya.
Baik dari menonton film yang membuatnya tertawa, hingga menangis sosok Raja selalu berada disampingnya. Entah Raja merasa bingung, kenapa seakan-akan dan segala sesuatunya menbuat ia harus selalu terikat dengan Ratu yang menurutnya memiliki sifat yang aneh Sempat ia berfikir sepertinya nama Ratu bisa saja dimasukkan kedalam list orang teraneh didunia.
Beberapa menit lalu gadia itu baru saja berkata ingin menamatkan series netflix yang ia pilih, tapi belum sampai 30 menit, sang gadis sudah tidur mendengkur diatas sofa, dengan cemilan yang sudah berceceran kemana-mana. Bisa terbayangkan bagaimana berantakannya seorang Ratu, baik rumahnya mau pun hidupnya sama seri, sama-sama berantakan.
Kini Raja menghela nafas untuk yang kesekian kalinya, ia mengangkat gadis itu. Jangan bayangkan Raja akan membawa Ratu seakan-akan pasangan yang romantis ala bridal style, sungguh sangat jauh dari ekspektasi. Justru Raja membawa tubuh gadis itu layaknya abang-abang jasa angkat karung goni yang ada dipasar.
Ditidurkannya gadis itu dengan perlahan, dan ia pasangkan selimut. "Ratu, mau lo hidup di dunia asli maupun di dunia fiksi, gue harap lo punya kisah akhir yang bahagia. Mau lo jadi orang kaya atau orang yang bahkan gak punya apapun, gue gak perduli, yang terpenting kebahagiaan lo Ratu. Temuin kebahagiaan lo, karena lo berhak atas itu." Tuturnya pelan, kemudian mengecup dahi sang gadis.
"Nighty night my queen, i hope you have a nice dream, to make you happy even it's just a dream."
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co