Truyen3h.Co

Tit For Tat | Jaehyun✔️

13

authoriya

SESEMPURNA apapun rencana kita, pada akhirnya Tuhan juga lah yang menjadi penentu dan sebaik-baiknya pemberi rencana.

Rosa terpaku. Menatap lurus menembus dinding krem dalam jarak pandangnya, sementara ia membiarkan bumi yang berdetak itu memeluknya. Rengkuhan erat, hangat, mendominasi serta bisikan menggunakan pengulangan kata yang sejak saat dokter mengkonfirmasi soal kehamilannya.

Rosa merasakan tubuhnya kebas dan otaknya lumpuh. Sebuah hal yang sama sekali tidak di prediksinya seolah muncul dengan mulut lebar menertawainya. Menertawai rencananya yang—sekali lagi, gagal.

Dia. Sedang. Mengandung. Bayi. Sekarang.

Bayinya bersama seseorang yang sangat ia benci... dulu. Jadi, sekarang?

Rosa menggeleng, menegaskan hatinya kalau ia masih membenci lelaki yang sedang memeluknya ini. Ia membenci lelaki ini, segaris lurus dengan ia membenci keluarganya. Dan sekarang ia terjebak dengan kehamilan yang menghancurkan. Sebuah janin sedang berkembang di dalam rahimnya... Rosa tak pernah membayangkan hal ini akan terjadi—oke sewaktu rencana ini tercetus di otaknya, tentu saja ia pernah membayangkannya. Tetapi saat itu sebisa mungkin ia selalu menerima 'ajakan' Jefri ketika ia sedang tidak dalam masa suburnya. Dan jelas ketika insiden hilang ingatannya itu, dia sama sekali tidak memikirkan sedang dalam masa subur atau tidaknya.

"Aish!"

"Ada apa?" Jefri melepas pelukannya. Kedua tangannya berada di sisi bahu Rosa sementara matanya menatap bingung pada wanita yang mengumpat frustasi di hadapannya. Ia tahu apa penyebabnya, tetapi lagi-lagi ego-nya memutuskan untuk berpura-pura bodoh dan mengikuti rencana wanita yang ia cintai itu. Kembali, Jefri mengeluarkan suaranya ketika wajah gugup dan bingung tercetak jelas di depannya. "Aku sejak tadi tidak mendengar reaksimu, apa kau begitu terkejut karena ucapan dokter?"

"O-oh?" Rosa tergagap, kemudian buru-buru menggeleng. "t-tidak, a-aku hanya... senang."

Sejujurnya, Rosa sama sekali tak mengerti apapun yang sedang ia rasakan. Wanita itu jelas sekali tidak menyukai fakta bahwa dia hamil sekarang. Tetapi ada perasaan takjub dalam dirinya ketika tahu ada kehidupan lain di dalam perutnya kini... kehidupan seorang calon bayi yang tidak berdosa dan tidak tahu apapun...

Dengan wajah teduhnya, Jefri mengusap pelipis Rosa pelan. "Kau harus memberitahu sahabatmu tentang ini. Aku yakin dia pasti sangat terkejut."

"Ha?"

Tangan Jefri turun bergerak mengusap perut Rosa pelan sambil berbisik. "Chand pasti akan senang saat mengetahui kau sedang mengandung anak kita, Ros."

Tidak, dia pasti akan sedih mendengarnya... Rosa menjawab dalam hati.

Menarik napas pelan, Rosa menjauhkan tangan Jefri yang berada di perutnya tanpa membuta lelaki itu tersinggung atau curiga, lalu secepatnya ia menghela tubuhnya berdiri dan menuai senyuman. "Aku akan memberitahunya ketika dia kembali dari Seoul. Dan kau harus mandi, aku akan menunggu ruang makan. Oke?"

Jefri tersenyum dan mengangguk.

Rosa menggigit bibir bawahnya pelan sambil memikirkan ide apa yang akan dilampauinya. Menggugurkan kandungan tidak mungkin, memberontak dan berteriak kalau ingatannya sudah kembali juga tidak mungkin—Jefri mungkin akan menyekapnya dan tidak akan membiarkannya bertemu Chand. Sambil menunggu Chand kembali dari Seoul, sepertinya jalan satu-satunya adalah berpura-pura bahagia soal kehamilan ini. Ya, itu adalah satu-satunya cara terbaik yang ia miliki.

Sebelum langkahnya mencapai pintu, sebuah ide menerajang kepalanya membuat langkah kecil Rosa berhenti. Kepalanya menoleh, memandang lelaki yang sedang melepas kancing kemeja putih itu dengan wajah polos dan melemparkan bom-nya. "Aku ingin ke Seoul bertemu ayah dan ibumu, Jefri. Boleh ya?"

Tangan Jefri berhenti diudara. Dengan kaku, lelaki itu menatap sang istri yang tak jauh di depannya. "Kenapa tiba-tiba?"

Rosa tersenyum dalam hati. Wanita itu mengedikkan bahu, membuat apa yang ia katakan ini seolah-olah hanya sambil lalu. "Aku hanya bosan di tempat ini, dan aku tidak mungkin mengekorimu ke kantor. Karena aku tahu kalau keluargamu pasti sama sibuknya dengan kau, makanya aku ingin mengunjungi mereka di Seoul serta mengabarkan berita baik ini. Ya?"

Wajah Jefri berubah dingin kemudian melanjutkan kegiatannya. Jefri memasukkan pakaian kotornya ke keranjang di samping pintu toilet dan membawa tangannya membuka handle pintu, satu kakinya melangkah masuk ke bagian dalam dan sebelum ia benar-benar masuk ke sana, Jefri menoleh menatap Rosa sekilas lalu bergumam pelan. "Kita bicarakan hal itu nanti."

Rosa menatap daun pintu yang menutup itu dengan satu sudut bibir yang tertarik ke atas. Nyatanya, meski seribu rencana telah gagal, namun jika Tuhan berkehendak sama, kita sebagai umatnya hanya butuh mengikuti kehendak itu 'kan?

Dengan segala bentuk rencana baru yang telah di gariskan oleh Tuhan dalam kepalanya, Rosa memutar tubuh kemudian keluar dari dalam kamar itu menuju lift menuju ke lantai bawah.

***

Rembulan telah sepenuhnya menggantikan posisi sang dewa matahari di atas langit dengan beberapa bintang yang ikut memberikan sinarnya ke bumi saat Rosa berdiri dengan kedua tangan memegang piring keramik putih berisi irisan beef di atasnya--tak sengaja menatap ke cermin gantung besar yang kini sedang menampilkan sebuah refleksi wanita dengan senyuman lebar memegang piring. Tubuhnya menegang selaras dengan senyuman lebar yang perlahan menyurut membentuk siluet wajah datar setelahnya.

"Kenapa?" gumam Rosa heran. Matanya memandang lurus pada wanita di cermin sibuk menelaah ekspresi yang sama dengan yang kini ia keluarkan. Lalu, embusan napas frustasi keluar setelahnya.

Kenapa ia tersenyum lebar selagi membawakan makanan kesukaan Jefri dari dapur ke meja makan?

Kenapa ia tersenyum lebar?

Senyuman yang bahkan tak disadarinya, senyuman yang keluar tanpa bisa di prediksi. Akhirnya, senyuman itu menumbuhkan pertanyaan-pertanyaan lain yang menghasilkan sebuah jawaban dari ego-nya sendiri.

Ini tidak benar.

Pada perasaan anehnya terhadap Jefri serta kelakuan apapun yang kini sedang ia lakukan Rosa sangat yakin itu pasti karena efek dari amnesianya, ia terlalu terbiasa dengan rutinitas ini dan akhirnya kenyamanan menyelimuti diri. Melepas kukungan perasaan yang tak terkendali sementara waktu ini, akhirnya Rosa berusaha kembali kedunianya. Ke dalam tujuannya.

Wanita itu sesaat kembali menatap wanita di cermin sebelum ia kembali melangkah menuju meja makan dengan ekspresi monoton. Meja makan telah terhidang berbagai lauk-pauk yang dibuat sepenuh hati oleh pelayan bagian dapur sebenarnya. Dan tadi—diluar akal sehatnya—Rosa malah membuatkan daging panggang dengan medium cook kesukaan Jefri, padahal lelaki itu tidak menyuruhnya.

Rosa sibuk menggerutui kebodohannya saat Jefri keluar dari dalam lift dengan kaos polo hitam. Rambutnya yang masih sedikit basah dibuat messy dengan sisir acak, untuk sedetik Rosa terpaku oleh senyuman Jefri kepadanya sebelum ia kembali berkonsentrasi pada piring yang dipegangnya dan dengan cepat ditelatakan piring itu ke atas meja. Berpura-pura tak terpengaruh akan kehadiran laki-laki itu.

Hingga beberapa menit Rosa menghabiskan waktunya mencuri pandang ke arah Jefri dan mengabaikan mangkuk nasinya yang semakin mendingin, akhirnya Jefri meletakkan garpunya ke atas serbet dan mendongak. Mengunci kedua manik mata Rosa dengan mata tajamnya. "Apa ada yang salah denganku?"

"Huh?" Rosa tergagap.

Hyun, yang duduk satu meja dengan pasangan suami istri itu nampak menahan senyum. Pun dengan bibi Pyo yang menunduk sambil mengulas senyum.

"Kau sejak tadi memerhatikanku dan membiarkan nasimu mendingin, apakah ada sesuatu di wajahku?" tanya Jefri dengan nada suara bingung.

"Tidak. Aku tidak memerhatikanmu!" jawab Rosa ketus.

"Yang benar?" Jefri menyipitkan mata. Kemudian kekehannya lepas ketika melihat wajah Rosa yang memerah. "baiklah aku percaya. Aku percaya."

"Tetapi biasanya wanita hamil akan kesal jika melihat suaminya sendiri," bibi Pyo tiba-tiba bersuara sambil mengulas senyum menatap kedua pasangan yang sangat serasi menurutnya itu. Lantas menambahkan pendapatnya, "sepertinya ini kasus langka. Kupikir baik ibu dan anak sama-sama mencintai ketampanan Pak Jefri."

"Aku sependapat dengan bibi Pyo." Ujar Hyun. "Sejak tadi aku perhatikan kalau Nyonya Rosa terus menatap ke arah Bos. Apakah itu yang disebut ngidam?"

Rosa membelalakan mata dengan horor.

Mencintai lelaki itu? ngidam? Ugh, no and never!

***

Rosa menatap sendu pada refleksinya di cermin panjang yang menggantung di atas wastafel di dalam kamar mandi. Fokusnya sejak tadi menatap satu pada titik yang teramat mengganggu pikirannya.

Perut.

Meskipun belum memiliki perubahan yang signifikan dari perutnya, namun fakta bahwa ada janin yang tumbuh di dalam sana tetap mengusiknya. Lagi-lagi.

Rosa mengesah, memejamkan matanya sebentar kemudian mengambil kimono mandinya dari gantungan yang dipasang pada dinding keramik kamar mandi, kemudian membungkus tubuhnya. Tangannya bergerak membuka pintu penghubung lain sebagai penghubung kamar mandi dan walk in closet, langkahnya teratur masuk ke dalam setelah menutup kembali pintu penghubung itu. Rosa membuka salah satu dari empat lemari yang disusun berderat masuk ke dalam dinding di ruangan itu, kemudian memasukkan jemarinya ke bawah tumpukan baju pada slot paling atas. Rosa mengarahkan pandangannya pada pintu takut-takut Jefri tiba-tiba masuk dari arah kamar dan bernapas lega ketika tak mendengar ada langkah yang mendekat. Dikeluarkannya sebuah ponsel dari dalam tumpukan baju itu.

Itu adalah ponsel lamanya yang ia temukan pada laci nakas. Ponsel itu sudah lama dilihat Rosa, namun karena ponselnya mati dan Rosa merasa tidak pernah memiliki wanita itu tidak berpikiran untuk mengisi daya batreinya. Tetapi jelas sekarang berbeda, ingatannya telah pulih dan ia tahu itu ponsel milik siapa.

Itu adalah ponselnya. Ponsel sebenarnya.

Ponsel itu ia beli ketika di Sydney tepat tiga bulan setelah ia memutuskan untuk kembali ke Korea. Rosa segera menyalakan ponsel itu, menunggu beberapa saat sampai ponselnya menyala dan...

Tiga puluh pesan masuk. Dari dua nomor yang sama.

Rosa tersenyum masam, isi kontak di ponselnya itu memang hanya dua nomor. Pertama, Chand. Kedua, orang kepercayaannya. Nothing more, nothing else.

Rosa segera membuka pesan dari Chand. Duapuluh sembilan pesan yang berbeda namun memiliki arti yang sama. Itu adalah pesan dimana Chand frustasi mencarinya, dan mau tak mau Rosa tersenyum membacanya. Bagi Rosa memiliki Chand adalah hal terindah dalam hidupnya, pria itu memerdulikannya dengan sepenuh jiwa dan begitu tulus tidak seperti orang-orang yang kebanyakan hanya ingin mengambil perhatiannya saja.

Masih dengan senyuman yang tersungging di wajahnya, Rosa kembali membuka pesan dari nomor lain. Sederet kalimat yang mampu menghapuskan senyuman diwajahnya.

Aku telah menemukan cacatnya.

Kapan eksekusi akan dimulai?

***

Risa lama mengamati bangunan berpagar tinggi di depannya dengan seksama. Tangannya terus bergetar, dan ia tidak yakin kalau ia baik-baik saja sekarang.

Ia tentu tak dikenali, dan mengaku sebagai dirinya pun pasti tak dipercaya. Tetapi Risa berpikir kalau ia perlu untuk mencoba. Setidaknya, Ayah dan ibu mungkin akan menemukan perbedaan—atau mungkin tidak. Suara hatinya kembali membatin.

Mengingat bagaimana kedua orangtuanya itu tidak memasang kecurigaan sedikitpun jelas bahwa kembarannya itu telah mengoperasi wajahnya jadi secantik dia. Rasa amarah tiba-tiba menerobos masuk dalam diri Risa, pokoknya ia tidak akan membiarkan tempatnya direbut. Tidak akan!

Dengan itu, Risa langsung menekan password rumah besar itu dan masuk ke dalamnya dengan percaya diri yang bertambah.

"Siapa di sana—?" kedua mata ibu langsung membeliak seraya suara piring yang berbenturan dengan keramik terlepas dari pegangannya hingga menghempas lantai.

Sikap defensif ibu yang membuat langkah Risa urung mendekat. Nanar ditatapnya sang ibu. "Ibu, ini aku Risa. Putrimu."

Ibu menggeleng cepat. "Risa sedang bersama Jefri di Mungyeon," ada tawa serupa remehan yang keluar seraya dengan wajah ibu yang menatap Risa dengan tatapan merendahkan. "Rosa, kenapa wajahmu tambah jelek saja? kenapa kau kembali kesini, ha? Membuat malu keluarga saja."

"Ibu... ini aku, Risa." Risa berjalan cepat untuk meraih tangan sang ibu, namun dengan cepat ditepis oleh wanita setengah baya itu seolah tangan yang hendak memengangnya tadi seonggok bakteri yang menjijikan.

"Anakku cantik. Keturunan keluarga kami cantik. Dan kau, bukankah kau sudah kami berikan kehidupan layak di Sydney sana? kenapa kau kembali lah?!"

"IBU!" Risa mengepalkan kesepuluh jemarinya. Air mata yang sejak tadi berusaha ditahannya itu akhirnya merembes bersamaan dengan seruannya barusan. Ia tidak menyangka bahwa ibu tidak memercayainya. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, ia berdiri ditempat yang sama dengan tempat Rosa berdiri.

Diabaikan.

Dimaki.

Tak dianggap.

Ternyata ini lebih menyakitkan dari apa yang ia rasakan dulu ketika ia menjadi Risa yang lemah...

Juga, untuk pertama kalinya ia merasakan kepedihan yang selama ini ditanggung oleh saudara kembarnya itu. yang disebabkan olehnya...

"Kau menempatkanku diposisi yang sama dengan Rosa?"

"Berhenti bicara omong kosong! Lebih baik kau pergi sebelum ayahmu pulang, dia mungkin akan menyakitimu lebih dari aku." ucap ibu sengit. Ia mendekat ke arah telepon rumah di dekat tangga. Menelepon sekuriti.

Tak lama, seorang sekuriti datang dan suara ibu memerintahkan. "Bawa anak ini keluar! Sekarang!"

Risa langsung memelototi sekuriti yang dikenalnya itu dan menepis cepat tangan lelaki tua dengan kepala botak itu. "Jangan sentuh aku!"

Setelah melemparkan pandangan sengit kepada ibunya—persetan dengan tata krama—Risa langsung keluar berjalan keluar. Masih didengarnya suara teriakan ibu yang mengatakan kalau penjagaan dirumah itu harus lebih diperketat, dan melakukan penggantian password berkala.

Mendengarnya membuat amarah Risa berada di ambang batas. Dia memakai kacamata hitam dan syalnya merapat, lalu menyetop taksi yang lewat.

"Tolong antarkan aku ke Mungyeon." Ucapnya pada sopir taksi itu.

***
Banyak hati yang patah...

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co