12
JEFRI tersenyum miring ketika menolehkan kepala dan mendapati Chand sudah berada di ambang pintu ruang kerjanya. Namun, ia langsung siaga satu ketika mendapati fokus mata Chand yang meredup—tatapan yang hanya bisa dibaca oleh sesama laki-laki—sedang menatap wanita yang duduk di sebelahnya, dengan gerakan cepat Jefri berdiri tepat menutupi tubuh munggil yang masih duduk di tempatnya. Jefri menatap lurus ke depan dengan rahang mengeras.
"Kau bahkan tidak meminta izin sebelum masuk ke gedungku. Apakah sopan santun yang diajarkan kakek dan nenek sama sekali tidak masuk ke dalam otakmu?" ucap Jefri dengan nada sinis.
"Kau sedang bicara dengan cermin?" Chand terkekeh, pria itu melangkah masuk tanpa memerdulikan tatapan Jefri kepadanya. "kau yang tidak sopan karena menipu semua orang, termasuk orang yang kau sandera ini. Sahabatku, yang paling kusayang." Ada kemarahan dalam suara Chand yang tertahan.
Keduanya saling pandang, menghunus pedang tak kasat mata. Bertarung menggunakan tatapan sinis dan membunuh.
"Kita bisa bicara diluar. Kau tahu istriku sedang sakit, jadi tidak seharusnya kau—"
"Tidak seharusnya kau mengambil kesempatan dengan mencuci otaknya!" potong Chand cepat.
"Chand!"
Kedua pria yang sedang terlibat pertarungan tak kasat mata itu langsung menoleh dengan pandangan terkejut. Jefri bahkan tanpa sadar menggeser tubuhnya ketika Rosa berdiri di sebelahnya. Tangan Rosa nampak gemetar dan matanya memerah menatap Chand yang terpana karena bentakannya.
"Jefri adalah saudaramu, bagaimana kau bisa mengatakan hal menyakitkan seperti itu kepadanya?" ada nada terluka di dalam suara Rosa. Ia kemudian menambahkan, "dan suamiku sama sekali tidak pernah mencuci otakku. Aku ingat semuanya tentang kita, dan karena itu aku tahu kalau kita berteman. Tetapi aku tidak bisa bersahabat denganmu lagi kalau kau menjelekkan Jefri. Aku mencintai Jefri, kau harus tahu itu."
Sinar mata Chand terluka, pria itu mundur selangkah sambil menggelengkan kepala tak percaya. Ia yakin kalau Jefri pasti telah memasukkan kata-kata lain hingga membuat Rosa seperti ini, Chand sangat yakin kalau Rosa belum sepenuhnya ingat. Tidak, ini tidak benar. Rosa tidak akan mencintai Jefri. Wanita itu terlalu membenci Jefri dan tidak akan pernah jatuh hati dengan pria itu. Tapi nahasnya, kenapa rasanya tetap saja sakit mendengar hal itu?
Rosa memejamkan mata pelan, sambil mengapit lengan Jefri ia kembali bersuara. "Kau sebaiknya meminta maaf dengan Jefri dan mungkin aku bisa memikirkan tentang pertemanan kita. Atau, sebaiknya kita tidak harus bertemu lagi."
***
Chand terkekeh ironis menatap bunga di jok mobil sebelahnya. Ini adalah pagi lain dari pagi waktu itu yang mampu membuat jantungnya hampir lepas dari tempatnya. Dan, ini merupakan pagi lain dari pagi saat itu yang akan menambah harga dirinya semakin jatuh tak tersisa. Namun, hanya ini satu-satunya strategi yang ia miliki—dengan meminta maaf dengan tulus pada Jefri di depan Rosa—agar ia bisa berdekatan lagi dengan wanita itu. Setidaknya, sebagian ingatan Rosa mengenai dirinya sudah menjelaskan kalau mereka adalah sahabat. Sejak dulu.
Sedangkan urusan Jefri, hal itu akan dipikirkannya nanti. Sekarang adalah saatnya masuk kembali ke kehidupan Rosa dengan pintu masuk yang berbeda. Pintu masuk yang mungkin memiliki jebakan yang banyak, namun Chand yakin dengan frekuensi yang sama, Rosa akan semakin mengingatnya. Dan pada saat ia dan Rosa sudah kembali dekat tanpa ada rasa canggung dari sisi Rosa, Jefri tentu saja tidak bisa menuntut apa-apa. Apalagi memisahkan mereka.
Dan Chand berharap jika perlahan ingatan Rosa akan kembali normal. Agar mereka bisa melanjutkan rencana balas dendam jika wanita itu menginginkan, atau Chand akan mengajak Rosa kembali ke Sydney untuk meneruskan kehidupan mereka disana.
Chand itu mengambil buket bunga di jok samping sebelum turun dari dalam mobil dan melangkah menyambangi gedung pencakar langit di depannya. Harapannya adalah semoga Rosa ada di dalam, semoga sepupunya itu tidak mencari seribu alasan untuk melarang Rosa ikut ke kantor sepupunya itu.
Ia mengira kalau seluruh pegawai di gedung ini telah di intruksikan untuk membanned dirinya dari gedung ini, namun ternyata Chand tak membutuhkan jurus-jurus lain untuk menerobos masuk ke dalam karena seluruh pegawai di dalam gedung pencakar langit ini nampaknya sedang melakukan pekerjaan mereka dan tidak memperhatikan. Ada bagusnya ia datang sedikit lebih siang dari kemarin karena bahkan tak ada satupun pegawai disini yang memerhatikan ke datangannya. Pun dengan wanita yang kemarin tergopoh-gopoh menyusulnya karena ia yang tidak mengikuti protokol.
Chand akan mengingat untuk meminta maaf kepada wanita itu untuk kejadian pagi itu, lain kali.
Nomerator pada lift menunjukkan angka pada lantai paling atas gedung sebelum mengeluarkan bunyi dentingan cukup keras dan pintu lift itu terbuka. Chand berjalan keluar dengan memeluk buket bunga di tangannya, sementara fokusnya langsung menggapai pada satu pintu kaca buram di depannya. Semoga saja hari ini ia tidak menyaksikan pemandangan yang tidak bisa diterima oleh inderanya. Karena itu, alih-alih Chand kini mengetuk daun pintu di depannya tiga kali sebelum mendorong handle pintu ke dalam.
Dan satu wanita berhasil menyita fokusnya lagi. Di sana, duduk dengan kepala tersembunyi di kedua tangan yang terlipat di kedua lututnya, warna baju yang dikenakan Rosa terlihat sangat kontras dengan warna kulit sofa yang ia duduki.
Chand berdeham sekali, membuat kepala yang tadi menunduk itu mendongak. Rosa nampak sedikit terkejut, namun ia langsung merubah posisi. Wanita itu menegakkan tubuhnya sambil mengulas senyum, menatap buket bunga ditangan Chand.
"Ini bunga permintaan maafku kepada Jefri," Chand mengusap tengkuknya pelan. "jangan salah paham. Aku melakukan ini karena ingin menjadi sahabatmu kembali."
Rosa tertawa hingga kedua matanya membentuk bulan sabit. Wanita itu kemudian mempersilakan Chand untuk duduk di sebrangnya. "Melihat bagaimana kau dengan sukarela menekan ego-mu dan memberikan bunga ini, aku yakin bersahabat denganku adalah hal yang paling penting dalam hidupmu ya?" Senyuman tidak luput dari kedua mata dan bibirnya kala ia mengulurkan tangan ke depan Chand dan bersuara. "kupikir kau tidak akan datang kesini setelah apa yang aku katakan kemarin lusa."
Chand menatap tangan itu tak percaya, kemudian dengan perlahan ia membawa pandangannya naik menatap manik mata Rosa dengan pandangan menilai.
"It's me. Your bestfriend." ucap Rosa dengan senyuman lebar.
Chand meletakkan sembarang buket bunga yang ia pegang dan langsung melangkah mengitari meja, pria itu menarik Rosa ke dalam pelukan eratnya. Mendekap wanita itu seolah jika ia mengurai pelukan mereka maka Rosa akan pergi darinya.
"Kau mengingatku? Kau mengingat kita?"
"Chand. Satu-satunya sahabat, rekan, dan saudara yang kumiliki. Satu-satunya orang yang tidak pernah berubah dan selalu ada untuk Rosa. Chand—"
"Aku senang kau kembali!" potong Chand dengan semakin mengeratkan pelukan mereka.
Ada air mata di sudut mata Chand yang berhasil keluar bersamaan dengan hatinya yang menghangat, namun ia segera mengusap air mata itu sebelum terjun dan membuatnya malu. Demi tuhan, ia seorang pria. Dan Rosa akan mengejeknya jika ia sampai lemah hati menangis karena momen ini.
Seraya mendorong tubuhnya menjauh meski enggan, Chand membawa kedua tangannya memegang kedua bahu Rosa sambil menatap wanita itu. "Kau tahu aku bahkan rela menjadi kacung pria itu jika dia meminta, asal kau memaafkanku dan kita bisa bersahabat lagi, Ros."
"Aku benar-benar ingin menghubungimu, tetapi aku tahu kalau ponselku di lacak oleh Jefri."
"Kapan kau ingat semuanya?"
Wajah Rosa bersemu merah, namun dengan cepat ia menggelengkan kepalanya. Berdeham sekali, Rosa lalu memalingkan pandangannya menatap patung harimau yang berada di pojok ruangan. "Kemarin malam." Tepat ketika aku dan Jefri selesai bercinta... tambah Rosa dalam hati.
Ia tidak mungkin mengatakan hal itu, karena jelas hal itu juga mengganggunya. Bagaimana bisa ingatannya pulih tepat ketika Jefri memeluknya erat sehabis olahraga yang mereka lakukan. Benar-benar tidak masuk akal!
Bahkan, tidak ada insiden kepala pusing apalagi sampai pingsan, malam itu segalanya terasa normal. Sampai ketika ia mendapati seluruh ingatannya kembali. Untuk memaki, atau kabur saat itu sangatlah mustahil karena Rosa tahu bahwa pegawai di villa itu sangatlah banyak. Dan Jefri tidak mungkin membiarkannya kabur—atau kejadiannya akan semakin parah dan ia berakhir di kurung seperti waktu itu.
Rosa mengerutkan dahi menatap Chand. "Aku menunggumu kemarin, tetapi kau tidak datang. Aku mulai berpikir jika yang kukatakan waktu itu benar-benar merusak egomu dan kau memilih untuk melupakan persahabatan kita alih-alih menemuiku lagi. aku—"
"Aku tidak mungkin melupakan kenangan kita. Kau adalah hal yang terpenting setelah Ibu dan Ayahku."
Rosa menunduk. "Aku ingin pergi dari sini. Tetapi Jefri akan bertindak nekat, atau dia akan menyekapku seperti waktu itu..." Rosa menggeleng-geleng dengan kedua mata berair menahan tangis. "Dia bahkan menyakiti Risa..."
"Tenang saja, Risa ada di rumah sakit tempat temanku bekerja," Chand mengusap puncak kepala Rosa perlahan. "untuk sekarang kita harus berpura-pura dulu sampai dia lengah dan aku bisa membawamu pergi dari tempat tinggalmu sekarang. Omong-omong, dimana kau tinggal?"
"Di—" Rosa barusan hendak menjawab ketika sayup mendengar suara percakapan diluar. Tubuhnya menegang, dan dengan cepat menyuruh Chand pergi dari sofa panjang yang mereka duduki, ke tempatnya semula. Wanita itu menekan kedua matanya agar airmata itu tak merembes jatuh ke pipi dan memperbaiki posisinya saat mendengar suara pintu terbuka. Menampilkan Jefri dan Hyun dalam balutan jas hitam.
Jefri langsung menatap awas ketika melihat Chand ada di dalam ruangannya bersama Rosa. Baru saja ia hendak mengeluarkan kata-katanya, namun Rosa buru-buru berdiri dan melangkah mendekati Jefri. Wanita itu merangkul lengan Jefri manja. "Rapatmu lama sekali. Aku hampir saja tertidur disini, untung saja sepupumu datang. Katanya dia ingin meminta maaf padamu sayang..."
"I-iya," Chand berdeham. Meraih buket bunganya, dan berdiri. "aku minta maaf soal waktu itu. Aku benar-benar ingin bersahabat dengan Rosa lagi, kumohon kau bisa mengerti soal yang satu ini, Jefri." ucapnya seraya menyodorkan buket bunga itu ke hadapan Jefri.
***
Risa menutupi wajahnya menggunakan selendang hitam tipis ketika seorang pria gelandangan yang ia mintai tolong untuk membelikan ponsel baru datang menemuinya dengan paperbag ditangan. Risa berdeham, mengambil ponsel itu sambil melirik kanan-kiri.
"Kau yakin ini sudah terdaftar atas namamu?"
Pria itu mengangguk. "Ponsel itu sudah di daftarkan atas namaku," senyumannya lebar ketika menerima uang yang disodorkan oleh Risa, sembari menghitungnya ia sedikit melirik dan kembali bersuara. "memang kau terlibat dengan kepolisian sampai-sampai tidak berani--" namun ucapannya terhenti ketika melihat tatapan tajam Risa. Pria itu akhirnya mengangguk, "Terima kasih, nona. Kau bisa meminta bantuanku lagi lain waktu."
Risa melirik sinis pria gelandangan asing itu lalu memutar bola mata. Tanpa merasa perlu mengucap pamit apalagi terima kasih, wanita itu langsung melenggang pergi dari sana.
"Sudah jelek, sombong. Benar-benar tidak tahu diri!" caci pria gelandangan itu sambil memasukkan uangnya ke dalam saku jaket dan melangkah pergi.
Risa mencoba untuk menebalkan telinga. Omongan pria itu tentu saja masih bisa ia dengar, namun jika ia kembali dan melakukan aksi debat malah akan menimbulkan masalah baru. Atau bahkan, ia akan langsung bisa di lacak. Karena itu, ia lebih memilih membekukan hati dan pergi.
Beruntung setelah pergi dari kurungan rumah sakit dengan penjagaan super ketat itu ia berhasil pergi ke rumah Aeri. Sahabatnya. Meskipun dengan wajah luka bakar dan jalan yang terseok, sahabatnya itu masih bisa mengenalinya tanpa ada keraguan sedikitpun. Saat itu, Risa menanyakan kenapa Aeri langsung memercayai bahwa wanita dengan wajah mengerikan itu adalah dirinya, dan Aeri langsung memberikan penjelasan detail mengenai kecurigaannya yang tidak bisa menghubungi ponsel Risa. Bahkan, Aeri tidak mendapatkan undangan resmi--melalui telepon atau pertemuan.
Dan disana juga Risa sekarang tinggal. Namun, ia tidak ingin melibatkan Aeri ke dalam rencana yang telah disusunnya, karena itu Risa hanya meminjam sejumlah uang untuk keperluan pada Aeri dan sisanya ia mengurus secara diam-diam perihal yang lain.
Risa menyandarkan tubuh pada koridor di samping tangga yang akan membawanya ke bagian luar stasiun kereta. Ke lima jemari yang memegang ponsel itu mengetat saat tiba-tiba perasaan jijik mulai melingkupinya. Ia tidak bisa menerima kenyataan kalau Jefri yang melakukan semua ini kepadanya. Ia tidak bisa menerima kenyataan kalau laki-laki itu mencintai Rosa yang buruk rupa daripada dirinya. Ia tidak bisa menerima kenyataan kalau lampu sorot yang menyorotinya meredup. Dan satu-satunya cara agar lampu sorot kembali menyoroti setiap langkahnya adalah dengan mematikan satu di antara mereka.
Hidup adalah soal pilihan. Merebut atau direbut. Bahagia atau menderita. Dicintai atau dibuang. Menghancurkan atau dihancurkan. Dan kepada opsi terakhir, Risa memilih posisi pertama.
Tidak ada yang boleh merebut tempatnya. Dan ia yakin Ayah dan Ibu pasti akan turut membantu ketika tahu semuanya. Jadi pertama-tama, ia harus menemui kedua orang tua nya terlebih dahulu, maka mengambil langkah cepat, Risa segera menaiki undakan tangga di depannya untuk mencari taksi terdekat.
***
Jefri bermain dalam pikirannya sendiri sambil menerawang lukisan abstrak di depannya. Membuat gerakan mengusap menggunakan jemari telunjuk pada bagian bawah bibirnya bersamaan dengan percakapannya bersama dokter Oscar empat minggu yang lalu kembali terngiang. Jika prediksinya tepat, maka sperma yang membuahi sel telur Rosa telah berhasil. Pada masa subur Rosa sejak tiga minggu yang lalu, Jefri sama sekali tidak melepaskan sedikitpun wanita itu darinya. Kendalinya nyaris lepas melihat bagaimana Chand memeluk Rosa begitu erat. Meskipun ia tidak mengetahui pembicaraan mereka—karena terhalang cctv—namun Jefri yakin sesuatu tak terduga telah terjadi.
Dan, melihat bagaimana cara Rosa berbicara—yang belakangan ini sedikit halus, merajuk dan penuh nada merdu—tadi sedikit dipaksakan bermanja-manja persis seperti apa yang wanita itu lakukan sebelum insiden hilang ingatan, semakin memperkuat praduganya. Jefri kali ini yakin seribu persen kalau ingatan Rosa telah kembali.
"Sialan!" umpat Jefri.
Tekadnya untuk membawa Rosa terus ke dalam jarak sentuhnya mengendur. Ia paham bahwa cinta itu bukan mengekang, tetapi ia ingin Rosa sadar kalau ia benar-benar mencintai wanita itu. Sepenuh hati. Segenap jiwa.
Namun, ada hal lain yang mengganggunya. Pemikiran kacau yang mengusik nalurinya beberapa waktu ini; apakah bersamanya saat ini wanita itu akan tersenyum seperti saat ia sedang hilang ingatan? Atau apakah bersamanya wanita itu akan tertawa seperti saat ia sedang bersama Chand?
Dan pada satu pengharapan yang sedang ia semogakan. Jefri benar-benar berharap jika janin yang sedang tumbuh di perut Rosa, akan melunakan dan membuka hati wanita itu. Yang semoga saja bisa menuntun Rosa menujunya. Tanpa terpaksa, tanpa dipaksa.
***
Rosa melangkah dengan perasaan gusar dalam balutan gaun putih selutut yang dipakainya. Langkahnya mondar-mandir sembari melirik keluar jendela dengan tirai tipis yang ia biarkan terbuka meski tahu matahari telah berpulang dan digantikan cahaya rembulan di atas sana.
Beberapa pelayan sibuk tersenyum kecil sambil meneruskan pekerjaan mereka. Sebuah hal yang lumrah yang telah terjadi beberapa waktu belakangan ini adalah pemandangan yang biasa mereka lihat pada setiap harinya; bahwa nyonya besar mereka akan selalu dalam sikap gusar seperti ini jika sang suami belum juga terlihat saat senja mulai menyapa.
"Rosa, aku yakin tidak lama lagi Pak Jefri akan sampai. Aku sudah menyiapkan buah mangga muda permintaanmu."
Suara rendah wanita setengah baya kontan membuat langkah Rosa berhenti. Tubuhnya nyaris membeku di tempat kala menelaah ucapan kepala pelayan yang tetap sibuk dengan pekerjaannya.
Tunggu...
"Aku tidak—" Rosa hendak melemparkan bentuk protes atas apa yang sedang ia lakukan sekarang (kalau ini jelas bukan dirinya, karena ia sendiri bingung untuk apa ia berdiri gusar sejak tadi sambil memikirkan lelaki itu) namun ia mengurungkan niat karena takut dicurigai. Akhirnya, setelah mengembuskan napas pelan Rosa merubah percakapannya. "siapa yang meminta buah mangga?" keningnya mengernyit.
"Kau. Kemarin sore." jawab kepala pelayan itu dengan senyuman penuh pemahaman. "aku benar-benar tidak menyangka hari ini datang juga."
"Ha? Aku tidak pernah meminta buah itu. Aku tidak suka mangga."
"Awal kehamilan memang berat, tapi bibi yakin bahwa nyony—Rosa bisa melewatinya."
Kedua mata Rosa membeliak tak percaya. "Tunggu, siapa yang sedang hamil?"
Kening si kepala pelayan itu mengerut, namun suara tertahan ketika melihat perawakan Jefri sedang berdiri di belakang tubuh Rosa. Senyuman penuh perhatiannya terukir disana, dan dengan penuh pemahaman ia memgangguk undur diri. "Permisi, Pak."
"T-tunggu! Bibi, siapa yang sedang ha—" pertanyaan Rosa tertelan dalam-dalam saat merasakan sebuah lengan besar melingkari perutnya menghangatkan. Rosa memberanikan menoleh ke belakang dan menemukan Jefri dengan aroma maskulin yang menenangkan. "O-oh, hai."
"Oh, hai?" Jefri menaikkan kedua alisnya. Diam-diam menikmati kegugupan dari wanita di depannya. "Kau hamil?"
"TIDAK!"
Menyadari tatapan Jefri yang berubah menggelap membuat Rosa buru-buru memperbaiki intonasi serta kalimatnya. "Ng, maksudku aku tidak tahu. Hahaha," Rosa tertawa membentuk suku kata, dan menambahkan. "bibi itu kan memang suka bercanda. Lagipula kita belum memeriksa ke dokter."
Untuk kalimat terakhirnya, Rosa benar-benar berharap jika Jefri membawanya ke dokter kandungan atau setidaknya membelikannya test pack umtuk memeriksa. Hamil anaknya Jefri tidak termasuk dalam rencananya, dan ia benar-benar tidak pernah memikirkan hal itu belakangan ini.
Ia resah. Besar kemungkinan kalau perkataan kepala pelayan itu benar karena 'rutinitas' mereka belakangan ini memang benar-benar tak terbayang. Jefri selalu mengajaknya dimanapun, kapanpun. Apalagi sejak mereka saling terbuka mengenai isi hati mereka masing-masing.
Saat itu Rosa bahkan merasa... Utuh. Sempurna. Lengkap.
Wanita itu menggeleng ketika perasaan hangat tiba-tiba melingkupinya. Kembali diarahkan manik matanya menatap lelaki yang kini berdiri tanpa jarak di hadapannya. Dengan was-was dia menunggu jawaban dari pertanyaan yang ia ajukan tadi.
Rosa mulai menghitung dalam hati dengan was-was. Dan, entah ekspresi apa yang harus dikeluarkannya saat suara berat Jefri terdengar menyetujui.
"Aku akan menelepon dokter dulu."
***
TBC
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co