Truyen3h.Co

Tit For Tat | Jaehyun✔️

16

authoriya

SUARA kicauan burung yang mengetuk jendela kamar yang dihuni Rosa membuat wanita yang sedang tertidur pulas itu mengernyitkan dahi. Walau samar, suara-suara burung itu semakin terdengar bersamaan dengan aroma dari ikan bakar makarel yang menggugah membuat wanita yang sedang berbaring nyaman di kasur empuk itu akhirnya menyerah dan membuka matanya.

Kedua matanya mengerjap pelan. Sinar matahari pagi keluar melalui celah gorden yang tak tertutup menghasilkan segaris cahaya sampai di tempatnya tidur. Ia menyibak selimut, dan merenggangkan tangan. Pagi ini restoran bibi Moon belum buka—restoran itu selalu buka di jam makan siang dan jam makan malam—sehingga setiap pagi Rosa bisa mengambil tidur lebih lama. Diliriknya jam dinding lalu keningnya mengernyit keheranan. Biasanya, jam segini bibi Moon sedang di laut bersama group wanita penyelam. Sebuah aktivitas yang biasa dilakukan oleh beberapa wanita Jeju. Lalu, kalau bibi Moon sedang dilaut, siapa yang memasak di dapur rumah ini?

Tangannya bergerak mengambil kardigan yang menggantung di belakang pintu kamarnya dan mengikat rambutnya asal, kemudian dengan berbekal rasa penasaran, Rosa membawa langkahnya keluar kamar.

Bibi Moon adalah kerabat keluarga Shin, tidak ada hubungan darah memang, namun menurut cerita Chand bibi Moon adalah mantan kepala koki di rumah nenek dan kakeknya. Bibi Moon kemudian pensiun karena sang suami sakit-sakitan, lalu akhirnya pergi dengan damai. Restoran yang didirikan bibi Moon sudah ada sejak dulu, diurus oleh sang suami dan anaknya, namun sekarang bibi Moon yang mengurus semuanya. Sebenarnya, Rosa merasa tidak enak karena menumpang di rumah wanita baya itu, namun karena bibi Moon begitu antusias saat Chand menelepon, akhirnya ia berakhir di rumah ini.

"Bibi Moon?" Rosa menegur kaget. Langkahnya cepat menuju dapur. "sedang apa? bibi tidak menyelam?"

Wanita baya dengan apron yang sedang mengangkat ikan bakar makarel itu menoleh dan tersenyum hangat. "Selamat pagi. Apa tidurmu nyenyak?"

Rosa mengangguk. "Mm. Dan aku kelaparan sekarang karena mencium aroma masakanmu." Langkahnya mendekat ke arah ikan bakar makarel yang sudah tersaji. Kedua mata Rosa berbinar, dan menoleh. "Ini untuk siapa?"

"Tentu saja untuk sarapan kita."

Senyum semringah Rosa terbit. "Omong-omong, mengapa bibi tidak menyelam?" tanyanya sambil mengekor bibi Moon dengan mangkuk nasi dan sujeo. Lalu, meletakkan mangkuk nasi itu ke atas meja. Rosa mengambil satu tempat di kursi, siap menyantap sarapan paginya. Walaupun belum mandi, tentu saja ia sudah gosok gigi. Jadi tak masalah.

"Akan ada tamu penting yang akan datang. Jadi bibi ingin memasak makanan kesukaannya." Ujar bibi Moon.

"Siapa itu?"

"Seseorang yang sudah kuanggap seperti anakku sendiri."

Rosa tersenyum. "Aku akan menjaga restoran kalau begitu. Serahkan semuanya padaku, ya walaupun masakanku belum seenak buatan bibi."

"Kau selalu merendah," bibi Moon menyumpitkan daging ikan bakar makarel dan menaruhnya ke atas nasi hangat Rosa. "Makan yang banyak. Kau terlalu kurus, nak."

"Selamat makan..." ucap Rosa. Sesuatu yang hangat menjalar ke dalam tubuhnya, ia sudah menangis saat kedatangan pertamanya kesini. Berawal dari orang asing, namun sikap dan tindakan bibi Moon sangatlah tulus. Ia memanusiakan manusia, dan Rosa seperti menemukan sesuatu yang tak pernah dirasakan dari orang yang melahirkannya; Kehangatan dan kasih sayang tulus keluarga.

Bersama bibi Moon, ia seperti menemukan payungnya.

***

Penerbangan delay hampir dua jam karena angin serta hujan deras yang tak kunjung usai mengakibatkan Jefri baru mendarat di bandara hampir jam tujuh malam. Hyun tidak ikut karena orang kepercayaannya itu harus mengurus hal di Seoul, sehingga ia hanya sendirian dengan satu koper di tangan. Jefri merogoh ponsel, lalu membuka pesan yang dikirimkan Hyun padanya tadi.

Matanya membaca seksama hotel yang sudah di reservasi oleh Hyun. Hyun mengatakan nanti akan ada taksi yang menjemput dan mengantarkan Jefri menuju hotel tersebut, namun ketika ia turun tadi, ia sama sekali belum melihat seseorang yang memegang namanya. Jefri berdecak, baru saja hendak memasukkan ponselnya kembali ke saku celana, benda elektronik itu berdering.

Mata tajam itu menatap sebentar sebelum mengangkat panggilan. "Ya, bibi Moon?"

"Anak nakal. Kau dimana? Tidak menghubungi sejak tadi, aku sudah menyiapkan makan malam untukmu." Suara wanita tua itu terdengar protes. Alih-alih kesal, Jefri malah menuai senyuman.

"Penerbanganku delay. Dan aku baru sampai di bandara."

"Kalau begitu pesan taksi dan langsung ke rumah."

"Tidak... aku minap di hote—"

"Aku tidak akan menganggapmu seperti anakku lagi kalau kau tidak ingin datang. Chand juga sama. Astaga, kenapa kalian sudah dewasa tetapi malah semakin melupakanku begini? Aku sedih sekali."

Mendengar nama Chand disebut, tubuh Jefri sedikit menegang. Pria itu terdiam sebentar, lalu menarik napas. "Baiklah, kau selalu mendapatkan aku, bibi. Aku akan menyetop taksi dan langsung ke sana."

"Anak pintar. Aku menunggumu!"

***

Rosa mengulas senyum kecil sambil meletakkan makanan di atas meja. Melihat interaksi bibi Moon dengan seseorang yang akan datang itu membuat Rosa yakin kalau bibi Moon sangat menyayangi orang itu. Interaksi yang sama ketika bibi Moon bertemu dengan Chand saat pria itu mengantarnya kemari.

Senyuman bibi Moon mengembang, meletakkan ponselnya di dekat lemari pendingin, bibi Moon kembali melanjutkan aktivitasnya mengambil gelas dan piring makan. "Pesawatnya delay." Info bibi Moon pada Rosa.

"Dia akan kemari?"

Bibi Moon mengangguk riang. "Kau harus bertemu dengannya. Tetapi sayang, dia sudah menikah. Kalau saja belum maka aku akan mengenalkannya padamu."

Rosa tersenyum kecil. "Aku juga sudah menikah." Ucapan itu meluncur lancar bahkan sebelum ia sadar. Tubuh Rosa langsung menegang hebat.

"Oh, benarkah? Kupikir kau sedang dekat dengan Chand? Chand mengatakan kalau kau orang yang spesial untuknya..." kening bibi Moon berkerut. "Dasar anak nakal, bagaimana bisa dia menggoda istri orang. Astaga."

Meskipun pembicaraan ini semakin mengguncang, Rosa berusaha agar tetap tenang. Wanita itu kembali tersenyum. "Aku dan Chand bersahabat." Ucap Rosa, lalu mengalihkan pembicaraan. "Omong-omong, siapa dia?"

"Sepupunya Chand. Namun, aku lebih dekat dengannya karena ia sering menginap dirumah mantan majikanku—nenek dan kakek Chand—karena orangtuanya yang sibuk. Dia menikah baru-baru ini, tetapi aku tidak bisa datang karena ada hal yang tidak bisa kutinggalkan disini."

Rosa sempat was-was jika orang yang dimaksud bibi Moon adalah Jun—anak dari Keluarga Lee yang baru saja menikah bulan kemarin—dan bisa gawat jika Jun tahu keberadaannya disini. Bukannya bagaimana, Rosa hanya bingung menjelaskannya karena jelas kabar 'keretakan hubungan' antara ia dan Jefri sama sekali belum terkuak. Orang-orang yang tidak tahu, masih mengira mereka berdua bersama. Bahagia.

"Siapa...?" tanya Rosa takut-takut.

"Dia J—" suara bell memotong pembicaraan mereka. Wajah bibi Moon tersenyum lebar. "Kurasa itu dia. Kau bisa tolong membukakannya, nak? Aku harus memanaskan sup abalon ini."

Rosa mengangguk. Dalam hati sibuk berdoa agar bukan Jun yang dimaksud bibi Moon ini. Bisa gawat. Lagipula, kenapa ia tidak menanyakan lebih awal siapa tamu yang ditunggu bibi Moon ini coba? Kenapa tidak terpikirkan...

Jantung Rosa semakin bergedup saat memutar kunci pintu dan menarik handle. Angin malam seketika menyeruak masuk bersamaan dengan wangi parfum yang menguar dari tubuh pria yang sedang membelakanginya itu.

Parfum ini...

Tubuh Rosa menegang. Ia merasa hampir saja pingsan saat pria itu berbalik menghadapnya.

Jefri.

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co