17
INI adalah hal tercanggung yang pernah dirasakan Rosa seumur hidupnya. Makan malam ini terasa berat sekaligus mendebarkan. Sebisa mungkin ia menahan diri untuk tidak melirik pria dalam jarak sentuh itu, untuk tidak mengamati wajahnya yang terlihat letih itu, dan untuk tidak bertanya kabar. Jika ia tidak menahan diri, entah apa yang mungkin akan dipikirkan Jefri.
Dia. Membenci. Pria. Itu.
Ya.
"Kenapa istrimu tidak diajak?"
Uhuk! Rosa yang baru memasukkan sesumpit nasi ke dalam mulutnya langsung terbatuk ketika mendengar pertanyaan bibi Moon yang ditujukan pada Jefri. Wanita itu bergerak memukul dadanya pelan, sementara langsung menerima sodoran air yang diberikan Jefri padanya.
"Kau tak apa?"
Rosa mengangguk sedikit kikuk. "U-uh, terima kasih."
"Kau selalu tersedak tiap kali sedang makan. Kau harus lebih berhati-hati." Ujar Jefri dengan nada khawatir.
Baik keduanya sama sekali tidak menyadari bahwa sepasang mata yang turut menyaksikan itu terlihat heran. Mata tua bibi Moon tahu, bahwa di antara keduanya itu telah terjadi sesuatu. Gestur tubuh, cara menatap satu sama lain, dan kedekatan emosional yang tak bisa ditutupi semuanya telah diperjelas melalui tindakan dan ucapan Jefri barusan. Jika dugaannya benar, maka apa yang akan lepas itu mungkin masih bisa diperbaiki. Tetapi bibi Moon memilih untuk pura-pura tidak mengerti, ia tidak memiliki hak apapun untuk ikut campur dalam masalah orang lain.
"Hati-hati, nak."
Rosa mengangguk. "Maafkan aku tidak sopan. Padahal kita sedang makan malam."
"Tidak masalah, akupun sering terbatuk karena sebuah nasi." Kekeh bibi Moon mencairkan suasana.
Kemudian selanjutnya, ketiganya larut dalam makan malam mereka kembali. Setengah jam kemudian setelah makan malam selesai, Rosa yang baru datang dengan sepiring kudapan tiba-tiba hatinya terasa menghangat saat melihat tawa lebar Jefri yang sedang terlibat pembicaraan santai dengan bibi Moon. Tawa itu adalah tawa yang jarang dilihat Rosa dulu, namun Jefri selalu memberikannya ketika mereka sedang berduaan.
Langkah Rosa berhenti. Ia menggeleng perlahan.
Tidak... kenapa aku terus saja membayangkan kebersamaan kami. Astaga!
Dan nahasnya, Jefri terlihat baik-baik saja tanpa dirinya. Rosa mengesah, tiba-tiba dadanya terasa sesak dipukul oleh kenyataan yang baru saja diterimanya.
"Kau sejak tadi mondar-mandir. Harusnya kau biarkan saja aku yang menyiapkan kudapan ini." bibi Moon berdiri ketika mendapati Rosa dalam jarak sentuh. Wanita baya itu mengambil alih nampan yang dipegang Rosa sambil menghela napas. "Ayo, pokoknya kau harus duduk dan tidak boleh mengerjakan apapun lagi."
Rosa mengiakan. Matanya melirik ke arah Jefri, namun langsung mengalihkan pandangan saat mendapati sepasang manik mata itu menatapnya tanpa berkedip. Dengan tatapan yang mampu membuatnya salah sangka, tentu saja. Rosa mengambil tempat pada kursi yang berhadapan dengan kursi yang di duduki Jefri. Dan masih bungkam.
"Ini Rosa yang membuatnya," bibi Moon meletakkan kudapan di atas meja, dan menatap Jefri sambil tersenyum. "cobalah. Kau pasti menyukainya."
Jefri tersenyum dan mengambil satu. Rasanya masih sama... pikiran Jefri langsung terlempar ke masalalu tanpa ampun. Tidak bisa dipungkiri, dia benar-benar merindukan wanita di hadapannya ini. Wanita yang berada dalam jarak sentuhnya, namun sama sekali tak bisa ia dekap. Wanitanya. Masih.
"Bagaimana?" tanya bibi Moon.
"Enak sekali." Puji Jefri tulus.
Bibi Moon tersenyum. "Semua pelangganku sangat menyukai masakan dan kudapan yang dibuat Rosa."
"Kau kerja di restoran bibi?" tanya Jefri keheranan.
Tak menyangka mendapatkan pertanyaan itu, Rosa kebingungan sesaat. Namun, langsung mengangguk saat sadar. "M-mm, aku ingin membantu bibi Moon karena dia tak memiliki pegawai." Jawab Rosa menatap Jefri sebentar sebelum pandangannya beralih ke bibi Moon. "Bibi, kau selalu saja berlebihan. Jelas sekali makanan buatanmu adalah yang terbaik."
Bibi Moon terkekeh. Sambil beranjak berdiri, wanita baya itu berkata, "Aku berkata sebenarnya, nak. Ahya, aku lelah sekali. Sepertinya karena semakin tua aku jadi mudah mengantuk setelah makan. Kau menginap di sini kan?" tanyanya pada Jefri.
Jefri menggeleng. "Tidak. Aku akan tidur di hot—"
"Oh tentu saja kau menginap di sini." Potong bibi Moon cepat. Lantas menatap Rosa, "Nak, tolong antarkan anak nakal ini ke kamarnya yang berada di depan kamarmu. Oke?"
"Oh?"
"Aku tidur dulu. Sampai bertemu besok pagi!" setelah melambai sambil tersenyum, bibi Moon memutar langkah menuju kamarnya di dekat tangga ke lantai dua.
***
"Di mana Jefri!?" Risa berteriak saat pintu di depannya terbuka. Ia masih di sekap bersama Aeri—ditempat yang lebih baik daripada penyekapan pertamanya waktu itu—tetapi jelas penjagaan di sini semakin diperketat.
Hyun mendesah, menggunakan isyarat ia menyuruh dua orang yang ikut bersamanya itu untuk meletakkan nampan saji ke atas meja. "Dengar, aku tidak akan membawa kalian ke rumah sakit jika kalian berdua jatuh sakit."
"Pertemukan aku dengan Jefri!" teriak Risa tak memerdulikan.
"Aku juga," ucap Aeri. "Setidaknya dia harus tahu kalau aku hanya ikut-ikutan di sini. Semua ide gila itu berasal dari Risa, bukan aku. Aku hanya mengikuti ucapannya!" lanjut Aeri menggebu. Wanita itu sudah tidak tahan di sekap di dalam sini. Harusnya ia menolak saat Risa meminta bantuannya kalau tahu akhirnya akan seperti ini. Sungguh sial sekali berteman dengan Risa!
Hyun berdecak, menatap kedua wanita itu dengan sinis. "Bos sedang tidak ada di Seoul. Seharusnya kalian berdua senang, karena jika dia mengunjungi kalian kesini, berarti kalian dalam masalah besar."
Tanpa mengatakan apalagi pamit, Hyun segera melangkah keluar ruangan itu.
"Ini semua salahmu!" bentak Aeri kepada Risa. Wajahnya kusut dan ia lapar sekali. Aeri langsung melangkah mendekat ke arah nampan yang dibawakan tadi, seketika air liurnya menetes saat melihat menu makanan yang tersaji.
"Aeri, kukatakan jangan memakan itu!" bentak Risa keras. Satu tangannya terulur menahan lengan Aeri yang hendak mengambil sumpit. "Kita harus sakit agar bisa sampai ke rumah sakit. Lalu, kita bisa kabur!" tambahnya, mengulang rencana mereka berdua.
Aeri mendesis, lalu menepis kasar tangan Risa. "Kalau di bawa ke rumah sakit. Kalau aku berakhir dikubur mati, kau mau tanggung jawab?"
Risa terdiam. Kedua tangannya mengepal dan bergumam sehalus angin. "Lihat saja, akan hancurkan Rosa ketika melihatnya nanti!"
***
Bibi Moon tersenyum kecil saat memerhatikan Rosa yang sejak tadi menatap ke arah tangga lantai dua. Asam garam kehidupan telah diarunginya, wanita baya itu tahu dengan pasti bahwa si cantik di depannya ini sedang menunggu siapa. Sambil membereskan alat menyelamnya, ia berkata. "Jefri sudah pergi sejak pagi tadi."
"Oh?" Rosa menoleh terkejut. Lalu, buru-buru membenarkan mimik wajahnya. "Aku tidak menunggunya."
"Aku hanya memberi informasi," wanita baya itu tersenyum maklum sambil mengancing pakaian menyelamnya. "Tadinya aku ingin membangunkanmu, nak. Tapi kata anak nakal itu jangan, karena kau perlu istirahat yang cukup." Imbuhnya.
Rosa merenung. Lalu tersenyum, "Cuaca semakin dingin kenapa bibi selalu pergi menyelam?"
"Jika sudah masuk ke dalam laut, tubuhku menjadi hangat." Bibi Moon tersenyum. "Kau nanti dirumah saja tak usah membantuku di restoran."
"Kenapa begitu?" Rosa mengernyitkan dahi. Ia bisa mati kebosanan jika harus berada di dalam rumah saja. Belum lagi, bagaimana kalau Jefri pulang lebih awal. Pasti akan terasa canggung bukan main. Oh tidak!
"Anak nakal itu minta dibuatkan bubur seafood, tadi dia sedikit tidak enak badan. Mungkin kelelahan." Ujar bibi Moon. "Dan aku lupa resep sup seafood itu bagaimana, aku sudah tidak terbiasa memasak sup." Tambahnya cepat saat melihat Rosa hendak mengeluarkan protes.
Rosa menggigit bibir bagian dalamnya, lalu mendesah. "Baiklah, kalau begitu aku akan ikut bibi sambil mencari seafood segar."
Bibi Moon tersenyum. "Ayo."
***
Jefri mengernyitkan dahi. Dua jam lebih meeting yang dilaksanakan untuk proyek terbaru terasa menyiksa. Tubuhnya jelas sudah lelah, ia tahu itu. Dan, keberadaan Rosa di rumah bibi Moon semalam seolah menyiksanya. Adik kecilnya itu tidak bisa di diamkan semalaman saat tahu kalau 'rumah' yang dirindukannya ada tepat di depan pintu kamar yang ia huni. Alhasil, Jefri tidak tidur semalaman, kedua matanya nyalang terjaga agar ia tidak berbuat hal aneh—masuk ke kamar Rosa dan meminta di kasihani—tadi malam.
"Menurutmu apakah ide yang bagus membangun furniture di sini? Maksudku, ini Jeju. Bukan Seoul." komentar rekan bisnis Jefri membuat pria itu menarik napas dan mencoba berkonsentrasi. Kepalanya benar-benar pusing sekarang, namun ia harus menyelesaikan meeting penting ini.
"Dengan perkembangan jaman yang begitu pesat, belum lagi banyak turis mancanegara yang mulai berdatangan ke sini. Kupikir proyek kita akan berhasil." Jawab Jefri penuh percaya diri. "Furniture yang kita jual juga yang 'sangat Jeju' sekali. Berbeda dengan store yang lain."
"Lalu, kita tetap memasukan kafetariat di store yang akan kita bangun ini? maksudku, sangat banyak restoran di sini dengan persaingan harga jual yang gila-gilaan."
"Tentu saja," Jefri mengangguk. "target market kita adalah furniture-nya, bukan makanan. Jadi, seperti di store lain, kita tetap menjual makanan yang enak dan murah. Keuntungan dari penjualan furniture akan menutupi biaya makanan itu sendiri."
Beberapa orang yang ada di sana mengangguk. Setelah pembicaraan cukup menguras pikiran itu selesai—bersama investor baru yang langsung setuju—Jefri tersenyum lebar. Dirogohnya ponsel dari balik saku jas saat merasakan benda itu bergetar. Jefri mengernyit saat menemukan nama Hyun di sana.
"Ya, Hyun?" sapa Jefri saat telah mengangkat panggilan itu.
"Bos ada masalah!"
"Apa?"
"Dua tawanan kita kabur! H dan T dibius, dan kuduga mereka membawa pistol milik kedua pegawai kita!"
Tubuh Jefri menegang. "Sudah kau suruh tim IT melacak keberadaan mereka?"
"Ya. Masih dalam pencarian." Jawab Hyun. "Kupikir Risa akan ke rumahnya, tapi saat orang suruhan kita kutugaskan ke sana, wanita itu tidak ada. Jadi, bos harus segera pulang secepatnya ke Seoul."
"Tidak bisa." Jefri mendesah.
"Ada apa?"
"Rosa di Jeju. Di tempat bibi Moon." Jefri menginfokan. Dan jika Risa dalam daftar pencarian begitu, dia tidak mungkin meninggalkan Rosa sendirian di sini. Oke, mungkin Risa tidak akan kepikiran untuk ke Jeju karena wanita itu tak akan tahu keberadaan Rosa. Namun, sebelum ia menyuruh orang untuk menjaga Rosa di sini agar tetap aman, Jefri tidak akan meninggalkan wanita itu. Tidak akan pernah.
***
Rosa tersenyum puas ketika selesai memberikan sentuhan akhir pada bubur seafood-nya. Setelah menyiapkannya di atas meja, ia bergegas melepas apron dan menggantungnya di tempat penggantungan. Matanya melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukan pukul tujuh malam. Lalu mengernyit. "Kenapa dia belum pulang?" gumam Rosa pelan.
Ia mendesah, lalu melangkah ke ruang tengah. Rumah bibi Moon tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Namun, rasanya begitu hangat. Tidak seperti rumahnya dulu. Rosa tersenyum ironis, fakta bahwa kekayaan bahkan tak bisa membuatnya seperti manusia ternyata bukan bualan. Dan lihatlah sekarang, keluarganya sedang berada di ambang kejatuhan—dan jahatnya hati Rosa begitu lega mengetahui hal itu.
Mata Rosa mengamati beberapa figura yang berdiri di samping televisi, lalu mendekat dengan minat. Senyumnya terukir saat melihat potret bahagia sepasang keluarga. Meskipun sangat berbeda, Rosa bisa tahu kalau yang ada dalam foto itu adalah bibi Moon dan keluarga kecilnya.
Sungguh bahagia...
Pandangannya kembali mengedar pada figura di sampingnya. Kali ini nampak dua orang anak laki-laki sambil memegang mainan. Berbalut jaket tebal, salah satu anak laki-laki tersebut sedang tersenyum ke arah kamera sambil dipeluk oleh bibi Moon, sementara satu anak lainnya nampak berpose sambil memegang pistol mainannya. Rosa mengambil figura itu dan memandang dengan seksama. Satu anak di dalam foto ini jelas saja adalah Chand karena ia pernah diperlihatkan foto masa kecil Chand saat sekolah di Sydney waktu itu. Namun, satu anak lainnya—yang sedang dipeluk oleh bibi Moon—meskipun asing tapi terasa sangat familiar. Rosa memejamkan mata dengan kening mengernyit, ia sedang mencoba mengingat sesuatu. Ia yakin kalau pernah bertemu dengan anak yang dipeluk bibi Moon itu dulu. Tapi dima—
"Ah benar!" Rosa membuka mata, "Dia anak kecil yang dulu menangis ditaman bermain lingkungan rumah lama-ku! oh my god!"
"Senang kau mengingatnya..." ada senyuman dalam suara yang berbunyi di belakangnya.
Rosa kaget, dan otomatis meloncat kebelakang. Kepalanya menoleh dan mendapati wajah pucat Jefri yang sedang tersenyum.
"Kau—"
"Benar. Aku adalah bocah cengeng yang dulu pernah kau tolong." Potong Jefri.
Rosa hendak melayangkan pertanyaan akan bagaimana pria itu bisa masuk ke dalam rumah, namun tertahan saat melihat wajah pucat dan lesu Jefri. Wanita itu mendekat, mengulurkan tangan ke dahi Jefri dengan tatapan khawatir. "Kau pucat sekali? Kau sakit? Oh tuhan, suhu tubuhmu panas sekali!"
"Kurasa aku kelelahan."
Rosa menipiskan bibir. "Ayo, aku akan mengantarmu ke kamar." tanpa menunggu jawaban Jefri, Rosa lantas merangkul tangan Jefri dan memapahnya menuju lantai atas. Ke kamar pria itu.
Jefri tersenyum kecil saat melihat bagaimana Rosa yang membaringkannya ke atas ranjang dan melepaskan jas-nya. Bagaimana Rosa yang kemudian keluar kamar itu dan kembali masuk dengan nampan berisi bubur seafood hangat kesukaannya. Sebuah perlakuan kecil yang berefek besar pada diri pria itu.
"Kau harus makan, setelah itu aku akan mengompresmu," ucap Rosa sambil menyodorkan sesendok bubur kepada Jefri. "Aaaa..."
Tanpa komentar Jefri mengikuti dan melahap habis bubur itu. Kedua matanya yang sejak tadi memandang Rosa tanpa teralihkan itu semakin meredup. Ia merindukan wanita di depannya ini teramat sangat... dan sekarang ia ingin memeluk wanita itu hingga pagi.
"Bibi Moon tadi menelepon kalau ia terjebak hujan salju di restoran. Dan mungkin akan menginap," ucap Rosa, wanita itu baru menyadari kalau Jefri sejak tadi menatapnya terus menerus. Dan hal itu menimbulkan efek tidak baik untuk jantungnya. "Aku akan menaruh mangkuk kotor ini ke bawah dahulu." lanjutnya. Tangannya hendak mengambil nampan di atas meja kecil samping ranjang, namun berhenti di udara saat merasakan tangan lain yang menahannya.
Sejenak yang terasa abadi itu menimbulkan efek hangat yang mengucur. Dengan degup jantung yang tak bisa berkooporatif, Rosa menoleh untuk menemukan manik mata hitam yang menguncinya.
"Jangan pergi..."
"Aku hanya ingin menaruh mangkuk ini dan mengambil air kompresan untukmu—"
"Tidak usah," Jefri menggeleng. "Aku hanya membutuhkan satu hal."
"Apa?"
"Bisakah aku mendapatkan pelukanmu?" suara Jefri sehalus angin yang mungkin tak akan bisa di dengar orang lain saat mengucapkan kalimat itu. Namun, Rosa mendengarnya dengan jelas. Teramat jelas.
Dengan degup jantung yang semakin menggila, wanita itu masih terdiam menatap belum menjawab.
Jefri menghela napas, dan tersenyum ironis. "Maaf, aku terlalu lancang dan—" suara Jefri tertelan saat bumi yang dirindukannya menenggelamkan ia ke dalam pelukan.
"Rosa..."
"Diam dan nikmati saja pelukanku. Aku sepertinya sudah mulai tidak waras sekarang." ujar Rosa sambil memejamkan mata, kedua tangannya yang melingkari Jefri semakin mengerat, sedangkan kepalanya tenggelam di dada Jefri. "I thought i just like you. A lot."
***
Wajah riang yang dilihat oleh mata tuanya pagi ini benar-benar menyenangkan hati. Bibi Moon tersenyum kecil, meletakkan mangkuk nasi ke depan Jefri yang sudah rapi dengan kemeja putih dan jas hitam.
"Bibi, maafkan aku. Aku harusnya membantu—"
"Jadi, apakah kalian berdua sudah baikan?" tanya bibi Moon memotong kalimat Rosa.
Rosa terperanjak kaget, kedua matanya sampai membeliak lalu berdeham. "A-apa?"
"Kau dan suamimu. Jefri suamimu 'kan? Chand menceritakan semuanya padaku kemarin."
Oh tuhan!
Bibi Moon menatap Jefri sambil memukul. "Dasar anak nakal, bagaimana bisa kau tidak langsung bercerita padaku soal Rosa!"
"Aw, sakit, Bi!" keluh Jefri sambil menghindar dari pukulan bibi Moon yang sebenarnya tidak sakit sama sekali itu. "Aku hanya tidak ingin membuatnya tak nyaman. Tapi sekarang kami sudah baik-baik saja." Jefri tersenyum lebar.
"Chand memberitahumu?" tanya Rosa.
Bibi Moon mengangguk. "Kemarin dia ke restoran. Idenya juga soal aku yang tidak pulang semalam karena badai itu."
Rosa mengerjap. "Lalu, dimana Chand sekarang?"
"Kenapa kau menanyakan Chand?" tanya Jefri cepat. Dari suaranya ia sama sekali tak menutupi ketidaksukaannya.
Rosa menatap dengan mata menyipit. "Dia sahabatku. Tentu saja aku bertanya." Jawabnya. Lalu, kembali menatap bibi Moon. "Chand dimana, bi?"
Bibi Moon membawa pandangannya pada jam yang menggantung di dinding, lalu kembali menatap Rosa. "Seharusnya sudah di bandara. Chand mengatakan pesawatnya jam 10."
Tanpa membuang waktu, Rosa segera berlari menuju ke kamarnya. Mengganti pakaiannya dan mengambil tas berikut ponsel. Wanita itu segera bergegas keluar kamar dan menemukan Jefri sudah menghadangnya.
"Aku harus ke bandara."
"Rosa, katanya kau mau ikut aku?"
Rosa menggeleng. "Tidak. Aku harus menemui Chand."
"Kau istriku," Jefri mendengus. "Kau bisa bertemu Chand besok-besok saat sudah kembali ke Seoul."
"Dia tahu tentang kau dan aku di sini. Dan aku penasaran kenapa dia tak menjengukku disini." Rosa mengernyitkan dahi. Kedua matanya menatap Jefri. "Aku tidak ingin Chand salah duga."
Berdecak malas, Jefri akhirnya mengangguk dan berkata. "Baiklah, aku akan ikut bersamamu."
"Tapi, kau ada meeting."
"Bagiku, lebih penting kau daripada uang-uang dan proyek itu, Ros."
***
Chand menghela napas. Keputusan yang diambilnya semalam jelas menentang hatinya. Ia tercabik-cabik dan dapat dipastikan patah hati sepatah-patahnya. Rosa, seseorang yang ia sukai dan kini bertransformasi menjadi orang yang ia cintai sepenuh hati itu sangat ingin didekapnya. Ingin dipeluknya erat. Namun, tidak bisa.
Hati wanita itu bukan miliknya sejak awal. Dan tak akan pernah menjadi miliknya. Jika dipikir ulang, keputusannya semalam—menyuruh bibi Moon agar berbohong soal hujan badai—akhirnya diputuskan Chand karena Rosa sendiri tak sadar dengan perasaannya. Rosa terlalu menyimpan benci, dan yang tak ia tahu kalau kebencian dan cinta hanya dipisahkan oleh sebuah benang tipis. Chand mulanya tak menyangka kalau Rosa—sahabatnya yang sangat ia cintai itu—perlahan menyukai Jefri. Tetapi, setelah penyekapannya bersama Ben, juga keputusan Rosa ingin "mengasingkan diri" yang dibungkus rapat dengan wanita itu dengan kata "liburan sejenak" , pun saat Rosa yang kebanyakan bengong, kadang menatap acara bisnis—yang kebetulan ada Jefri—dengan penuh antusias dan surat cerai yang tak kunjung dilayangkannya itu akhirnya membuat Chand bisa menyimpulkan kalau sahabatnya itu benar-benar sedang merasakan apa yang sering orang sebut dengan rasa galau.
"Kupikir rasanya akan lebih baik dari pada saat itu..." gumam Chand miris pada dirinya sendiri. Kepalanya menunduk dengan tiket ditangan.
"Chand!"
Chand mendesah frustasi. Bahkan ia kini berhalusinasi dengan mendengar suara Rosa yang memanggilnya. Jelas saja Chand mengatakan seperti itu karena Rosa tak akan datang kesini. Ia sudah mewanti-wanti bibi Moon supaya tidak mengatakan apapun soal kedatangannya ke Jeju ini. Dan bibi Moon pasti menuruti ucapannya.
"Chand!"
Suara itu semakin terdengar jelas. Dan Chand tahu kalau ia tidak sedang berhalusinasi sekarang. Pria itu mendongak, mengedarkan pandangnya ke segala penjuru dan rasa terkejutnya tak bisa ditutupi kala melihat seseorang dengan kardigan andalannya berdiri dalam jarak pandang. Raut wajahnya tak terlihat, tetapi Chand bisa tahu kalau wanita itu pasti sedang menangis karena sesekali ia mengusap pipinya. Tak jauh dibelakang Rosa, Chand bisa melihat Jefri dibelakangnya. Dan dari posisi berdiri pria itu jelas sekali ia tak suka berada disini.
Dasar possesif... sudut bibir Chand tertarik ke atas.
Chand berdiri. Hendak melangkah menuju Rosa, namun suara sekelebat yang terdengar itu mampu menghentikan langkahnya. Kedua mata Chand membeliak, jantungnya terasa berhenti berdetak. Dalam kurun waktu yang bahkan satuan detik tak mampu menghitungnya, suara debuman keras yang begitu cepat—nyaris tak ada yang menyadari sebelumnya—itu berhasil menumbangkan satu target dalam bidikan.
"Rosa!" teriak Chand sambil berlari lintang pukang kepada satu objek itu dengan dada berdebar kencang.
***
Bertemu di Epilog~
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co