4
"SELAMAT untuk kita, akhirnya keluarga kita bisa bersatu melalui pernikahan anak-anak kita. Hohoho!" Jo Park mengacungkan gelas kaca ke udara, membuat kerumunan yang sedang berbahagia itu mengikuti. "Cheers!" serunya sambil menggoyangkan gelas kaca itu pelan.
"Selamat untuk kita," ucap ayahanda Jefri. Kemudian menatap pasutri baru yang tengah berbahagia di antara mereka. Senyumannya tulus nan menghangatkan. "Hiduplah dengan bahagia, nak." ucap ayah Jefri sambil memeluk menantu barunya.
Kedua tangan Rosa mengepal, untuk kali pertama dalam hidupnya ia mendengar sebuah kalimat seperti itu yang diperuntukkan untuknya. Tatapan mata ayah Jefri saat menatapnya, membuat Rosa tahu kalau pria setengah baya itu serius dalam ucapannya. Tak ada kemunafikan di dalamnya.
Sekejap, perasaan bersalah kembali menyekapnya. Orang-orang yang tak tahu apapun akan ikut menjadi korban. Pria ini baik, dan tentu tidak tahu apa-apa. Belum lagi semua staf pegawai di perusahaan yang juga termasuk golongan orang baik.
"Maafkan aku," akhirnya kalimat itulah yang keluar dari mulutnya.
"Kenapa kau meminta maaf?" pria itu mengurai pelukannya. Ditatapnya Rosa dengan wajah bersahaja. "Pokoknya, kau harus katakan padaku jika semisal anak ini...," ia melirik Jefri sambil menepuk lengan sang anak yang kini tingginya sudah melebihinya itu, lalu melanjutkan. "sampai menyakitimu. Maka aku akan langsung membuang namanya dari daftar warisan."
"Ayah!" seruan Jefri membuat semua yang ada disana tertawa. Kecuali satu orang yang terus membubuhkan tatapannya kepada Rosa.
"Kalau Jefri tidak mendapatkan warisanmu, maka mungkin aku akan mencari pria kaya lain dan bercerai darinya." suara Rosa langsung membuat seisi ruangan hening.
Segalanya saling tatap dan salah tingkah. Kemudian suara bibi Nara, memecahkan keheningan dengan suara tawa yang dipaksakan. "Astaga, Risa sayang, pulang dari Jeju kau jadi humoris ya? Duh, ponakanku yang paling cantik ini. Ahaha,"
Membuat semua yang disana kemudian ikut tertawa. Masih sama; tawa yang dipaksakan.
Rosa tersenyum sinis tanpa kentara. Lalu, mimik wajahnya kembali di setel seperti semula. Ditatapnya keseluruhan wajah yang saling pandang salah tingkah itu, kemudian kedua tangannya mengampit lengan Jefri dengan manja dengan kepala menyandar pada pundak pria yang menjadi suaminya itu, "Aku tidak mungkin bercerai dengannya, ayah dan ibu tahu kalau aku sangat mencintai Jefri 'kan?"
Ibu mengangguk. "Tentu saja. Makanya kami mengabulkan permintaanmu sebagai hadiah di ulang tahun tahun kemarin."
"Selamat ulang tahun, anak ayah dan ibu yang paling cantik!" ayah dan ibu mencium kedua pipi Rosa bersamaan. Kemudian keduanya beralih menatap Risa, dan gantian memeluk satu anaknya yang lain itu. "Selamat ulang tahun, sayang!"
Ruang keluarga yang sekarang di dekor dengan balon-balon dan aksesoris lain yang sebagai pelengkap perayaan ulang tahun bersama dengan kue tart yang diletakkan pada meja kecil di depan kedua anak kembar keluarga itu.
Rosa tersenyum senang. Bersama Risa, keduanya saling membuka kado yang diberikan ayah dan ibu mereka bersamaan.
"Woah, buku komik series limited edition?!" Risa memekik riang menatap tumpukan buku di dalam box kadonya. Senyuman terukir di wajahnya, "Terima kasih, ayah, ibu."
"Sama-sama." Jo Park mengusap puncak kepala Risa sekilas.
Kemudian matanya memandangi anak lain yang sedang berkerut heran melihat isi box nya. Membuat pasutri itu saling menukar pandang dengan senyuman tertahan.
"Apa ini? Hanya kertas dengan tulisan 'Ruang 01'?" Rosa cemberut, menatap kedua orang tuanya dengan bingung.
Kedua orang dewasa itu tersenyum. Menundukkan tubuh mereka sama-sama agar sejajar dengan anak yang sangat dibanggakan itu. "Hadiahmu ada di ruangan bernomor itu." ucap ibu sambil menjawil ujung hidung puterinya.
"Temukan ruangan itu di rumah ini." ayah tersenyum lebar menambahkan.
Kedua mata bundar yang selalu tersenyum itu membulat. "Sungguh?"
Kedua orang tua Rosa mengangguk. "Carilah pintu bernomor itu."
"Asik!" pekiknya riang. Lalu tanpa menunggu lama gadis itu berlari lakang putang mencari pintu yang dimaksudkan.
Ketika keluarganya itu saling mengikuti dari belakang. Senyuman ayah dan ibu tak sirna di wajah mereka. Sedangkan Risa yang juga penasaran, berubah kesal ketika lagi-lagi saudara kembarnya mampu membuat orangtua mereka tersenyum seperti ini.
Kekesalan Risa semakin menjadi ketika Rosa membuka pintu dengan nomor 01 itu. Matanya ikut melihat ke dalamnya dan menemukan hal super indah di dalam sana.
"Woah, studio dance?!" Rosa memekik senang sambil lompat-lompat. Kedua tangannya merepal di depan dada, sedangkan kakinya melangkah mengelilingi isi ruangan itu. Begitu lengkap dan... Super keren!
"Kau senang?" tanya ibu, membuat Rosa mengangguk. "Tentu saja! Terima kasih ibu, ayah."
"Sama-sama anak kebanggaan kami. Jadi kau akan semakin hebat dalam menari. Bakat yang perlu diasah agar karir modellingmu semakin bersinar. Karena, semua bisa berjalan di catwalk, tetapi hanya sebagian yang memiliki bakat penunjang." ucap Ayah sambil mengelus puncak kepala Rosa.
Tangan Rosa langsung bergetar ketika kilas balik kembali menembak pikirannya. Tubuhnya menegang, dan pelukan tangannya pada lengan Jefri perlahan terlepas. Ini adalah malam private party, dan ini adalah babak yang baru saja akan dimulainya. Tetapi ketika ia mulai merasakan kalau serangannya akan kembali, Rosa langsung menatap Chand yang sejak tadi mengawasinya.
Chand yang menyadari hal itu, langsung mencari cara untuk membantu Rosa, namun keluarga ini tidak tahu kalau mereka bersahabat. Sehingga tidak mungkin untuknya menolong terang-terangan.
Disaat Chand masih berpikir apa yang harus ia lakukan. Jefri juga menyadari perubahan wanita disebelahnya. Rahangnya mengerat, menoleh menatap Rosa yang kini menunduk dengan wajah pucat. Dengan gerakan impulsif Jefri langsung mengambil lengan Rosa dan menariknya dalam pelukan. Menenggelamkan kepala itu ke dalam dadanya; memeluknya erat. "I love you more, sweetheart. I love you more." Bisik Jefri dengan dada berdetak cepat.
"Ya ampun Jef, tahanlah, kau harusnya tidak bersikap romantis seperti itu di muka umum." bibi Nara terkekeh melihat kedua anak manusia yang tengah menjadi pusat perhatian malam ini.
Jefri tak mendengarkan, pikirannya kini terfokus pada wanita dalam pelukannya. Tubuhnya ikut menegang, namun ketika merasakan tubuh yang ia peluk itu sudah lebih rileks dan napasnya yang teratur. Jefri diam-diam menghela napas lega. Dikecupnya puncak kepala Rosa perlahan. "Aku sungguh mencintaimu." bisiknya sehalus angin.
***
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co