Truyen3h.Co

Tit For Tat | Jaehyun✔️

5

authoriya

"TIDAK MUNGKIN!" Risa berteriak keras menatap televisi di depannya yang sedang menayangkan pemberitaan mengenai pernikahan anak dari keluarga konglo di negeri ini. Pandangannya buram, kedua tangannya meremas rambut geram.

Nama yang tertera adalah namanya, tetapi jelas orang yang ada disana bukan dirinya. Dia ada diruangan ini, di sekap dan keluarganya bahkan tak mencari... Ini pasti sudah direncanakan!

Jantung Risa berdebar ketika satu nama muncul di kepalanya.

Rosa...

"Sialan, apa dia sudah merencanakan semua ini!?" pertanyaan yang ia tunjukkan untuk dirinya sendiri.

Dengan perasaan yang tersulut emosi, ketakutan, dan merasa di khianati, Risa berdiri. Dimatikannya televisi itu dan menatap ke sekeliling. Mencari sesuatu yang ia butuhkan untuk membuka pintu yang menguncinya ini. Desahan lolos dari bibirnya ketika ia tidak menemukan satupun alat untuk membuka pintu itu. Tanpa gentar, Risa berjalan ke arah pintu dengan sedikit menunduk ia membawa satu matanya mengintip melalui lubang kunci. Perlahan, senyuman Risa timbul kembali saat secercah harapan untuk kabur terpampang di depannya.

Risa mendongak, mengambil jepit besi serupa lidi dari rambutnya dan mulai memeraktekkan hal yang pernah ia baca dalam komik favoritnya. Sebelumnya, ia membawa kertas putih yang ia temukan di dalam laci meja kecil itu hingga sebagian berada di antara daun pintu bagian luar dan dalam.

"Yes!" pekik Risa. Dengan perlahan ia mulai menarik kertasnya dan... Hap! "Tamat kau, anak sial!" desis Risa ketika telah memegang kunci itu dalam genggaman.

***
"Kau yakin dia tidak mengetahui sesuatu?" Chand bertanya tanpa prolog ketika ia memiliki kesempatan menemui Rosa. Mereka sedang dalam perjalanan menuju tempat penyekapan Risa.

Rosa tak bisa lebih bersyukur karena Jefri harus melakukan perjalanan bisnis pagi tadi dan baru pulang sore nanti. Dia benar-benar belum bisa mengontrol dirinya untuk tidak menepis atau bersikap kasar ketika Jefri mencoba 'menyentuh'-nya semalam. Memang dasar laki-laki sulit untuk menahan hasrat!

Untung saja Jefri percaya saat Rosa mengatakan kalau ia sedang datang bulan... Padahal, siklus datang bulannya telah dilalui empat hari yang lalu.

Wanita itu mendesah. Kepalanya bersandar pada jok, lalu melepas kacamata hitamnya. Ditatapnya Chand dengan pandangan sama bingungnya. "Aku juga curiga. Dua kali dia memelukku seolah tahu tentang penyakitku."

"Ini tidak bisa dibiarkan, Ros... Kau bisa tamat jika ketahuan," Chand berucap khawatir sambil membagi pandangannya dengan jalanan dan wanita di sebelahnya. "Aku khawatir."

"Kau kira aku tidak gemetar?" Rosa mendengus. "Apalagi semalam Jefri hampir—"

"Dia melakukan itu!?" Chand menginjak rem mendadak. Kepalanya menoleh cepat pada Rosa yang menggerutu karena hampir terbentur dashboard. "Maaf, aku refleks." imbuh Chand sambil mengusap pelan dahi Rosa.

"Kukatakan 'hampir' bukannya sudah." gerutu Rosa. Ia menepis dengan dingin tangan Chand yang mengusap dahinya. "Sakit, tahu! Kalau keningku sampai benjol dan membuat pertanyaan-pertanyaan tidak penting bagaimana?"

Chand benar-benar tidak bisa menyembunyikan perasaan leganya. Pria itu menoleh, tersenyum sambil menjawil hidung Rosa dan memilih untuk menikmati gerutuan serta makian wanita yang telah mengisi sebagian relung di hatinya yang ia biarkan kosong itu. Tetapi, saat ia hendak menjawab perkataan Rosa, terpaksa ditelannya kembali ketika dering ponsel Rosa terdengar.

"Siapa?" tanyanya ketika Rosa sudah menggenggam ponselnya.

Rosa menunjukkan layar ponselnya yang kini dipenuhi nama samaran sang informan wanita itu.

"Ya, ini aku." ucap Rosa ketika ia mengangkat panggilannya.

Namun, sikap santai Rosa berubah tegang ketika suara diseberang sana mulai berkata dengan nada suara panik.

"Dia kabur, bos!" ucap sang informan.

***

Sementara yang jaraknya sedang berkilo-kilo meter sangat jauh dari Seoul, Jefri sedang meregangkan otot-ototnya saat sampai di kamar hotel. Pria itu melepas jas dan menggulung lengan kemeja hingga ke siku, matanya menatap luar jendela kamar hotel sambil mengendurkan dasinya. Lalu bergumam bertanya, "Rosa sedang apa?"

"Pergi dengan Chand."

Tangannya berhenti, raut wajah Jefri kembali angker disana. Mati-matian ia menahan diri untuk tidak agresif, untuk berpura-pura buta dan mengikuti apapun rencana Rosa. Namun, ia benar-benar tidak bisa menerima kalau ada pria lain disisi wanitanya. Apalagi, setelah mengetahui Rosa kembali, dan juga pelukan di depan pintu toilet yang terus membayanginya, Jefri langsung menyuruh seseorang mengorek informasi dan membuntuti wanita itu. Alhasil, satu fakta mengejutkan diketahuinya pada hari setelah hari itu; bahwa sepupu jauhnya ternyata sahabat Rosa.

Sebenarnya apa maumu, Chand? Gumamnya dalam hati.

"Pak, kau baik-baik saja?" tanya Hyun, asisten Jefri.

Jefri mengangguk. Pandangannya masih menatap gedung pencakar langit dari jendela hotel dengan tangan terlipat di depan dada. "Aku mulai berpikir untuk mematikan satu tikus yang mencoba mengganggu kejuku, Hyun. Bagaimana?" tanyanya dingin.

Hyun mengangguk pelan. Namun fokusnya beralih saat HP dalam kantong jasnya bergetar. Pria berpotongan rambut rapi itu segera mengambilnya, lalu memberikannya pada Jefri. "Nomor baru menelepon." ia menginformasikan.

Dengan kening berkerut, Jefri segera mengangkatnya. Menunggu si penelepon bersuara lebih dulu.

"Jef, ini aku Risa! Wanita yang sedang bersamamu bukan aku, dia Rosa, dan tolong aku... Aku disekap, sekarang aku sedang di telepon umum. Kumohon jemput aku, ini sungguh menakutkan..."

***

🥺

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co