6
"SIAPA KALIAN!?" Risa mencoba melepaskan cekalan pada lengannya namun tak berhasil. Matanya menatap pria-pria berbadan besar yang mencekal kedua lengannya dengan begitu kencang itu berulang kali, mencoba mempelajari wajah-wajah mereka, namun Risa sama sekali tidak menemukan siapa orang-orang seram ini. Napasnya pelan, keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Namun, Risa tak gentar dan kembali meneriakkan pertanyaan serupa. "KUTANYA SIAPA KALIAN!? SIAPA YANG MENGUTUS KAL--"
Plak!
"Aish, kau berisik sekali, wanita," keluh seseorang yang sejak tadi diam. Meregangkan otot lehernya dan mengusap tangan. "Maaf, biasanya aku tidak pernah kasar terhadap wanita cantik, tapi kau sepertinya menjadi pengecualian." imbuh pria dengan codet di pipi kiri itu.
Tadi, ketika Risa sedang menunggu Jefri datang menjemputnya di tempat yang mereka janjikan, tiba-tiba dua orang berkapakaian gelap menyekapnya dan menarik paksa Risa masuk ke dalam mobil hitam besar. Risa di bius, dan ketika ia membuka mata, ia sudah berada di suatu ruangan pengap—seperti gudang yang sudah tak terpakai lagi. Pria itu nampaknya adalah bos dari kedua pria yang mencekal lengan Risa karena pria itu kemudian menginteruksi untuk membawa Risa ke bangku di tengah ruangan. Lalu, memaksa wanita itu duduk disana dengan tangan terikat.
Wanita itu berteriak, meronta guna meloloskan diri. Namun usahanya sia-sia ketika ia malah mendapat satu kali tamparan di pipi sebelahnya. Pria bercodet itu tersenyum bengis sambil mencekam kedua pipi wanita berani di depannya dengan kasar,
"Bos menyuruhku untuk bermain-main denganmu sebelum memberikan hadiah pada wajahmu yang cantik itu..." gumam pria itu. Ditundukkannya kepala hingga sejajar dengan wajah Risa, kemudian dengan kurang ajarnya pria itu menyentuh pipi Risa.
"Sialan!" amarah Risa memuncak. Wanita itu mencoba meronta dengan ekstrem sampai menendang-nendang pria bengis itu, kali ini dengan mata memerah menahan tangis.
Namun, perlawanan Risa malah membuat pria itu semakin menjadi. Ditanggalkan baju yang ia pakai dengan cepat, kemudian menatap kedua anak buahnya satu persatu, "Kalian berdiskusi siapa yang mencicipinya setelah aku selesai."
Lalu, semua terjadi begitu saja. Dengan kasar, disertai tangisan Risa dan tawa ketiga pria bengis itu. Pakaian Risa robek, segala yang ia banggakan hilang, dan seketika itu juga kehidupan yang dibanggakan Risa runtuh. Hancur. Tidak hanya sampai situ, kemudian pria bercodet itu menyuruh salah satu dari anak buahnya menyiramkan air panas ke pipi kiri dan lengan Risa, membuat wanita itu kembali berteriak kesakitan dan akhirnya tak sadarkan diri.
Si pria bercodet itu lalu mengirimkan sebuah pesan singkat 'Mission completed' kepada sang Bos yang mengutus perintah kepadanya.
***
Rosa benar-benar panik. Pasca berita menghilangnya Risa dari tempat sekapan, ia tidak bisa berhenti berjalan mondar-mandir sambil mengigiti kuku tangan dengan gelisah. Satu hal yang pasti, ia harus segera menemukan Risa sebelum kembarannya itu pulang dan mengacaukan segalanya.
"Tenanglah." Chand mengumumkan mantra entah sudah yang keberapa kali. Pria itu sedang duduk di sofa apartemen Rosa—yang hanya mereka berdua yang mengetahui letaknya—dengan mata menatap Rosa yang terus melangkah di depannya.
Chand juga panik, tetapi pria itu terlampau tenang tiap kali mengatasi kepanikannya. Chand menghela napas, saat Rosa memilih tak mendengarkan dan tetap bergerak gelisah, Chand kemudian menarik lengan Rosa hingga membuat wanita itu terduduk di jok sofa yang sama dengannya, kedua tangan Chand memegang bahu Rosa. "Dengar," Chand memulai, suaranya rendah menatap ke dalam manik mata coklat wanita dengan rambut terurai di depannya. "Kau tidak akan ketahuan."
"Bagaimana kalau dia kembali?"
Chand tersenyum, satu tangannya bergerak mengusap puncak kepala Rosa perlahan, mencoba menenangkan wanita yang nampak sedang khawatir itu. "Maka aku akan membawamu pergi dari sini detik itu juga. Lalu, kita menikah."
"Hei!" Rosa berdecak, menyingkirkan dengan paksa tangan Chand dari kepalanya sambil menatap jengah. "Aku sedang tidak berniat bercanda."
"Aku serius."
"Dan aku sekarang sedang menjadi istri orang, kalau kau lupa." Rosa kembali mendengus malas. Kedua tangannya terlipat di depan dada sembari menyandar pada punggung sofa. Matanya lurus menatap televisi yang sejak tadi dibiarkan menyala, dan kini sedang menyiarkan acara ragam yang tidak ia ketahui judulnya. Sedangkan ketika pikirannya hendak kembali terenggut, ponselnya malah berdering. Dengan cepat Rosa langsung mengeluarkannya dari dalam tas, dan ia kontak tergugup saat membaca nama pada layar ponselnya. Rosa melirik kaku pada Chand, "Jefri..."
Jantungnya berdetak tak karuan dengan segala praduga yang melayang di kepala. Apakah Risa sudah datang dan membeberkan semuanya?
"Angkatlah."
"Tapi ini facetime," balas Rosa ragu. Dia bisa mati jika di sana semua keluarga sedang berkumpul. Terlebih jika Risa ada disana juga.
"Angkatlah, dan bersikap biasa saja. Aku akan pindah duduk, dan membantu jika diperlukan." Chand bicara tenang. Pria itu langsung mengambil tempat di sofa lain. Kedua tangannya saling bertautan bertumpu pahanya. Menatap Rosa.
Rosa menarik napas pelan, kemudian mengangguk. Merapikan rambutnya, hingga akhirnya ia mengangkat panggilan itu. Senyuman artifisial terlihat di wajah cantik itu ketika panggilan video itu terhubung.
Rosa tidak bisa mendesah lega saat mendapati hanya wajah Jefri yang memenuhi layar itu. Dia aman untuk sekarang.
"Aku sudah di airport. Kau tidak jadi menyusulku? Kau dimana sekarang?"
Aku pasti sudah gila. Aku lupa sudah berjanji akan menjemputnya! Runtuk Rosa dalam hati.
"Maaf, aku..." Rosa melirik Chand melalui ekor mata tanpa kentara. "Aku menyiapkan makan malam spesial untukmu. Cepatlah datang, aku rindu." imbuhnya dengan nada manja.
Jefri tersenyum lebar di sana. "Aku tidak sabar untuk menikmatinya..." jawabnya ambigu. Lalu mengakhiri panggilan video itu, "Sampai nanti. Aku mencintaimu."
Rosa mengangguk dengan terus menyunggingkan senyum. Setelah panggilan itu berakhir, ia langsung berdiri dan menyambar tas-nya. "Chand, tolong antarkan aku pulang sekarang. Kita tak punya banyak waktu."
"Wah, aku benar-benar iri dengan dia." Chand geleng-geleng. Mengikuti Rosa yang sudah berjalan mendahului.
"Kenapa?"
"Bagaimana bisa dia mendapatkan service-mu gratis, sementara aku harus menunggu dibuatkan makanan olehmu hanya setahun sekali. Hanya di hari ulang tahunku saja."
"Kau benar-benar kekanakan."
"Janji kalau kau tidak akan memasak yang enak, oke?" Chand menyodorkan jari kelingkingnya, membuat janji seperti anak kecil. Hal itu malah membuat Rosa tertawa keras. Alih-alih menyambut jemari itu, Rosa malah menekan tombol lift. "Hei, janji dulu padaku!"
"Tidak mau!"
"Baiklah, kalau begitu kau harus membuatkanku makanan juga besok. Oke?"
Rosa tersenyum kecil. "Tidak mau!"
Membuat Chand mendesah kesal sambil mengacak rambut.
***
"Aku merindukanmu..." bisik Jefri ditelinga Rosa, sementara kedua lengan kekar itu memeluk tubuh ramping Rosa erat, menyalurkan kerinduannya pada si pemilik tubuh itu.
Rosa mencoba menenangkan jantungnya yang berpacu cepat. Jika mengesampingkan dendamnya, ia jelas begitu gugup perihal skinship yang selalu dilakukan Jefri padanya. Ia bahkan berulang kali merepalkan mantra jika semua yang dia korbankan akan terbayar ketika melihat satu persatu kejatuhan lawan tiap kali ia merelakan dirinya di kecup mesra atau di pegang oleh Jefri.
Tangan itu menelusup kebalik t-shirt merah muda yang dikenakan Rosa, dan mengelus perut rata di dalamnya. "Aku merindukanmu." bisik Jefri kembali.
Jemari Rosa bergetar, jantungnya berdetak liar. Ia ingin memaki, menghardik dan menyumpahi Jefri. Tapi ketika ia mengingat misi-nya hampir berhasil, Rosa kembali menekan habis segala bentuk kebenciannya itu.
Tubuhnya berbalik cepat di saat tangan Jefri semakin bergerak ke bagian atas. Dirangkulnya leher Jefri hangat, dengan sebuah senyuman di bibirnya. "Kau akan mendapatkan dessert-mu ketika kau menghabiskan makananmu. Umm?"
"Aku tidak sabar dengan dessert-ku." jawab Jefri sambil mengecup Rosa sekali.
Rosa sama sekali tidak menikmati makanannya. Pikirannya tentang Risa benar-benar menghantuinya, karena satu hal yang akan terjadi adalah kehancuran jika Risa sampai datang kemari. Namun, dari pada ia gagal total, membuat Jefri menghamilinya mungkin akan membuat hati Risa dan lelaki itu terluka. Kedua orang itu--dan bahkan keluarga mereka nanti--akan merasa tertipu. Risa akan merasa dikhianati, dan Jefri akan merasa bersalah. Pria itu akan merasa patah hati jika ternyata orang yang di 'rusak'-nya bukanlah wanita yang ia cintai. Memikirkan itu membuat Rosa tersenyum kecil.
"Kau sedang memikirkan apa?" Tanya Jefri dengan alis terangkat. Piring di depannya sudah tandas, dan ia mendorong sedikit piring itu ke depan.
Rosa mendongak, menggeleng pelan. Melakukan hal yang sama dengan Jefri, kemudian wanita itu berdiri. Ia berjalan ke arah kursi Jefri dan duduk di pangkuan pria itu sambil merangkulkan kedua tangan dileher. "Dimana kau ingin menikmati dessert-mu?"
Jefri menyeringai. Tanpa membuang waktu lagi Jefri langsung membopong Rosa dan membawanya ke dalam kamar.
"Aku akan pelan-pelan." bisiknya parau setelah ia berada di atas tubuh wanitanya.
Dan berawal dari sebuah ciuman, Jefri menanggalkan semua pakaian mereka--melemparnya ke sembarang. Napasnya terengah, senyumannya terus mengembang ketika melihat wajah merah dibawahnya yang semakin terlihat cantik itu. Kemudian semuanya terjadi.
Dalam dinginnya malam yang kini terasa panas segalanya terasa nyata; segalanya terasa sempurna. Hingga ketika dinding tipis penghalang itu berhasil di terobos, Jefri tersenyum sambil memeluk tubuh ramping wanita yang dicintainya.
"Aku mencintaimu, Rosaline Park." Bisik Jefri dengan perasaan bahagia.
Membuat senyuman di wajah Rosa langsung luntur. Air mukanya pucat, menatap pria yang berada di atasnya dengan pandangan tak percaya.
***
Mata panda pagi itu benar-benar tidak bisa diabaikan. Dia mengantuk, bahkan sangat mengantuk. Namun pikirannya tidak bisa diajak kompromi untuk istirahat barang sejam saja. Dengan bersusah payah Rosa mencoba bangkit, tubuhnya nyeri bukan main dan ia benar-benar tidak memiliki tenaga sekarang. Tetapi ego-nya tak bisa menerima, pasca kejadian semalam plus ia yang berteriak histeris—dan berakhir dengan menyuruh Jefri keluar dari kamar—Rosa memang tidak mengecek pintu kamar itu lagi.
Tangannya terulur, meraih handle pintu untuk membukanya.
Nihil.
Rosa memejamkan mata sesaat, mencoba mencari kekuatan agar dirinya tidak meluruh jatuh, karena sebisa mungkin peperangan ini harus ia menangkan. Atau paling tidak, dia harus meminta penjelasan sejak kapan dirinya telah ketahuan.
"Aku mencintaimu, Rosaline Park..." Rosa menggeleng keras, menghapuskan suara yang terekam oleh otaknya dan kini terus terdengar seperti sebuah kaset rusak dari dalam kepalanya.
Dan ulah kemarahan yang memuncak itu, akhirnya Rosa menggedor pintu di depannya membabi buta. "JEFRI! BUKA PINTU INI!" teriaknya.
"AKU TAHU KAU DI SANA! BUKA PINTU SIALAN INI!" umpatnya keras-keras.
Suara gedoran yang berasal dari wanita itu kepada pintu semakin mengeras, Rosa bahkan bertindak ekstrem sampai mendobrak pintu kamar itu menggunakan tubuh sebagai tameng, namun ia harus kembali meringis kesakitan karena boro-boro pintu di depannya bisa di dobrak, yang ada malah wanita itu yang kesakitan. Nanar, ditatapnya daun pintu itu dengan satu pipi tertempel pada pintu yang kini ikut merosot ke bawah bersamaan tubuh rampingnya yang meluruh.
Rosa tahu, menunjukkan kekesalan kepada pria itu tidaklah ada gunanya. Karena jelas, apapun yang ia katakan sejak tadi tak kunjung mendapatkan sautan dari luar—padahal Rosa kerap mendengar suara-suara seperti orang sedang berjalan atau apapun di sana. Dan yang paling basic adalah tentu saja rumah ini memiliki asisten rumah tangga!
Matanya memerah, sedangkan kepalanya bertambah pusing. Hingga sampai di fase pandangannya mulai buram dan akhirnya menggelap, tubuh Rosa meluruh pada dinginnya ubin lantai di kamar itu.
***
"Dia dimana?"
"RS Myungyeon. Aku telah mengirim orang untuk menjaga di depan pintunya."
"Bagaimana keadaannya?"
"Tidak baik. Dia terus berteriak dan menggaruk seluruh tubuhnya hingga menyebabkan goresan kemerahan," seseorang itu menginfokan. "Apa ini tidak keterlaluan? Maksudku, bagaimanapun juga kalian berte—"
"Kenapa kau jadi cerewet sekali, Hyun?"
"Maafkan saya."
"Dia pantas mendapatkan semua itu, walaupun aku sudah memarahi si bodoh-bodoh itu karena sampai menyentuhnya. Tapi bagaimanapun itu sudah terjadi, Hyun. Aku meminta kau mengurus Chand juga. Aku tidak ingin ada tikus-tikus lain lagi."
Sayup, suara obrolan itu masuk melalui indera pendengaran Rosa membuat wanita yang sejak tadi memejamkan mata itu perlahan membuka matanya. Dia mengaduh pelan saat merasakan selang infus yang menempel di satu tangannya seraya menekan pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut nyeri. Kedua matanya menyipit, mengerjap pelan, sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya. Dan orang pertama yang masuk ke dalam pandangannya adalah Jefri.
"Akhirnya kau sadar juga, aku begitu khawatir..." Pria dengan kaos hitam polos dibungkus dengan coat itu memamerkan wajah leganya, satu tangan Jefri terulur hendak menyentuh pelipis Rosa, sebelum berhenti diudara kala wanita yang hendak ia sentuh beringsut mundur dengan sikap defensif sambil memegangi tubuhnya melindungi diri.
Satu tangan itu mengepal diudara serta rahangnya mengeras, dadanya seperti di hantam batu besar ketika sebuah penolakan kembali diterimanya. Semalam dia benar-benar kelepasan saking menikmati, hingga lupa kalau dia pun tengah berpura-pura. Dan sekarang, ketika kenyataan telah terkuak, Jefri seperti dibawa ke masa lalu, dimana ia kembali jauh dengan wanita di depannya. Meskipun Jefri tahu bahwa kedekatan mereka berdua belakangan ini tidaklah nyata—karena jelas, mungkin saja wanita cantik ini berusaha menahan untuk tidak muntah dan menamparnya—tetapi tetap saja sikap Rosa sekarang jauh diluar prediksinya.
Rosa masih membencinya.
"Rosa..."
"Sejak kapan kau tahu!?" Rosa menatap Jefri penuh amarah.
Rahang yang mengeras itu perlahan mengendur, ada senyum kecil muncul di wajah Jefri. Pria itu menoleh, menatap seseorang yang mengobrol dengannya tengah berdiri dengan sikap siap di dekat pintu ruangan, lalu Jefri menyuruh pria bersetelan hitam formal itu untuk menunggu diluar. Hyun mengangguk, mengikuti perintah.
Sepeninggal Hyun, Jefri kembali membawa fokusnya pada wanita yang masih mencoba membentangkan jarak di antara mereka sejauh mungkin itu dengan pandangan sayang. Pria itu maju satu langkah dan mengambil tempat di ujung ranjang.
"Aku akan menjawab semua pertanyaanmu, tetapi kau harus mengisi perutmu. Dokter tadi mengatakan kau lemas dan shook." ucap Jefri. Tangannya terulur mengambil nampan bubur yang tadi di letakkan di atas meja kecil di samping ranjang. Lalu, menyendokkan bubur itu dan mengulurkan tangannya ke depan mulut Rosa. "Buka mulutmu."
"Tidak mau!"
"Kau tidak akan mendapatkan informasi apapun kalau kau tidak memakan makananmu, Rosa." Jefri memberikan ultimatum. "Ayo, buka mulutmu."
Dengan penuh amarah ketika mendengar suara Jefri yang sok berkuasa dan memerintahnya, Rosa langsung menepis tangan dan nampan bubur itu hingga membuat semuanya membentur ubin lantai; pecah dan berserakan.
Jefri memejamkan mata sesaat, saat kedua mata itu terbuka ia memberikan senyuman lembut. "Aku akan menyuruh pelayan untuk membereskan ini dan membuatkanmu bubur yang baru untukmu." Ucapnya, mengusap pelan puncak kepala Rosa, "Seberapa pun kau membenciku, mungkin sekarang sedang terbentuk calon masa depan kita di dalam sini." Bisik Jefri sambil memegangi perut Rosa.
Rosa tersentak, wajahnya memerah dan ia menahan napas. Pandangan penuh luapan kemarahan itu ia lemparkan terus kepada pria yang ia benci dan baru mereda ketika tubuh itu menghilang dari balik pintu. Sikap tegang Rosa perlahan mengendur, wanita itu mengembuskan napas sambil meremas ujung bajunya.
Kepalanya bergerak mencari, dan langsung melesat mengambil tas miliknya ketika ia menemukan tas biru dongker itu tergeletak di dekat meja rias. Dengan cepat Rosa mencakar seluruh isinya, tetapi yang ia cari tak juga ditemukan di sana. Walaupun agak samar, namun ingatan pasti kalau terakhir kali ia meletakkan HP itu di dalam tas, karena ia sibuk memasak makanan untuk Jefri sore itu sehingga membuatnya tidak sempat melihat-lihat HP-nya. Tetapi, kenapa benda elektronik itu tidak ada di dalam tas-nya?
Rosa berpikir keras.
"Kau mencari ponselmu?" Suara Jefri membuyarkan lamunan Rosa. Wanita itu mendongakan kepala, menatap Jefri dengan pandangan memicing. Membuat Jefri menampilkan raut sedih, "Temanmu begitu berisik menelepon dan mengirimi pesan. Aku cemburu, jadi ponselmu kusita ya?"
"Jefri!" Rosa membentak.
"Ayo, ini buburnya," Jefri mengabaikan bentakan itu, meletakkan nampan bubur itu ke atas meja semula dengan sedikit membungkuk. Kemudian, ia menatap Rosa lembut. "Aku tahu kau pasti marah. Kau bisa 'kan menghabiskan makananmu tanpa berulah? bibi pelayan akan menemanimu sembari beliau membersihkan kotoran ini. Aku akan menunggumu diluar. Aku mencintaimu." Langkah Jefri hampir mencapai ambang pintu, kemudian ia berbalik. Mengeluarkan sebuah kalimat yang mampu membuat Rosa harusnya mau menurut. "Aku mungkin akan membatalkan niat untuk menyentuh Chand kalau kau mau menghabiskan makananmu dan mengikuti aturanku, Rosa. Ya, walaupun aku begitu kesal karena dia terus menempel pada istriku."
Mendengar nama Chand kembali disebut, Rosa langsung terdiam kaku. Ingatannya kembali kebeberapa saat lalu ketika Jefri dan lelaki asing mengobrolkan satu topik yang juga menyeret nama Chand di sana.
Rosa menggeleng pelan. Dia tidak boleh membiarkan Chand terluka, pria itu sudah membantunya sejauh ini.
"Tidak, tidak boleh." Gumam Rosa cepat, kemudian tanpa sadar wanita itu mengambil sendok dari nampan makanan dan mulai menyuapkan bubur itu ke dalam mulutnya.
***
Jefri sedang menatap keluar jendela di ruang kerjanya ketika pintu diketuk dan Hyun menginformasikan bahwa Rosa telah datang. Raut wajah dingin yang sejak tadi terpasang perlahan menghilang digantikan dengan senyuman kecil ketika tubuhnya berbalik dan mendapati Rosa telah berdiri di depan pintu dengan floral dress coklat bertangan panjang. Dibawah pendar cahaya lampu yang termaram, Rosa nampak cantik meskipun Jefri bisa menangkap jelas raut kemarahan di wajah itu.
Diam-diam Jefri menghela napas. Dia sangat mencintai wanita di depannya ini, dan Rosa harus tahu kalau dia mencintainya. Bahkan, ia sangat ingat bagaimana tubuh Rosa yang merespons segala bentuk sentuhannya. Meskipun ragu, Jefri berkepala besar karena mungkin Rosa akan luluh dan menerimanya seperti tubuh wanita itu yang menerimanya.
"Sejak kapan kau tahu kalau aku bukan Risa." Suara Rosa menyisingkan keheningan di ruangan itu. Dengan langkah terorganisir, ia berjalan dan mengambil duduk pada kursi hitam di tengah ruangan.
Jefri mengurai tangannya yang terlipat di depan dada, lalu mengikuti Rosa mengambil tempat pada kursi di seberang wanita itu. Ekspresinya nampak tenang ketika meluncurkan sebuah jawaban yang pastinya mampu membuat Rosa merasa telah kalah sejak awal.
"Mm," gumamnya nampak berpikir sebelum melanjutkan. "Ketika kau menuruni tangga rumahmu saat acara pertunangan kita? Waktu itu aku sempat meragu, namun ketika menemukan mata yang selama ini telah menghipnotisku, aku yakin kalau yang berdiri di depanku itu adalah Rosa, bukan Risa."
Rosa mengepalkan kedua tangannya. "Kau pasti senang karena berhasil mengelabuhiku?"
"Tidak," Jefri mengernyit. "Sepanjang hari aku memikirkan kenapa kau berpura-pura menjadi Risa. Dan ketika informan yang kusuruh membeberkan semua informasi—termasuk dimana Risa di sekap—aku paham dan mengikuti aturan mainmu," Jefri menarik napas, membenarkan posisi duduknya dan suaranya kembali mengudara. "Ahya, kau tidak perlu takut. Aku telah menyingkirkan Risa untukmu, sayang"
"A-apa?!"
Jefri kembali tersenyum. "Risa meneleponku dan mengatakan kalau dia telah diculik olehmu. Padahal aku sudah tahu soal itu, tetapi karena bisa saja dia mengacaukan semuanya dan membuatmu pergi dari sisiku lagi, aku akhirnya memutuskan untuk membalaskan dendammu kepadanya."
Jantung Rosa berpacu cepat. Tubuhnya gemetar, ia benar-benar tidak memercayai apa yang didengarnya barusan. Dengan perasaan yang tidak lebih baik setelah mendengar penuturan itu, Rosa kembali bertanya dengan suara rendah, "Dimana dia?"
"Rumah Sakit. Risa sepertinya sedikit frustasi atas apa yang menimpahnya. Kuakui anak buahku memang keterlaluan, aku hanya menyuruh mereka untuk menakuti Risa dan membuat wajahnya luka seperti apa yang Risa perbuat kepadamu dulu, tetapi mereka malah menggilirnya—"
"Kau monster!" Rosa berdiri cepat, kakinya gemetar dan kedua matanya memerah menatap Jefri. "Kau tidak dalam kapasitas menghancurkan mereka karena aku juga membencimu!"
Jefri yang tidak menyangka kalau ini yang akan diterimanya, terdiam. Napasnya tercekat ketika kata-kata Rosa mengenai dirinya menghunusnya sampai ke hati. Bahkan, ketika Rosa telah pergi dari pandangannya, barulah ia sadar dan kemudian kalap. Dengan cepat, Jefri berlari keluar ruangan itu untuk mengejar Rosa.
"Hyun, dan semua pelayan, hentikan istriku yang mencoba pergi! Cepat!" perintah Jefri sambil berteriak.
Napas Jefri terengah, namun ada perasaan lega ketika melihat Rosa telah berada dalam cekalan Hyun. Meskipun wanita itu meronta dan terus mengeluarkan sumpah serapahnya, yang terpenting adalah Rosa tidak lari darinya.
Jefri membalas tatapan penuh kebencian Rosa dengan sorot lembut, "Kau harus tetap disisiku."
Rosa menggeleng.
"Aku akan membantumu menghancurkan perusahaan keluargamu. Aku mempunyai buk—"
"Aku tidak bisa bersama seorang yang kubenci."
"Apa?"
"Lepaskan aku!"
"Rosa—"
"Kau gila! Psikopat! Tidak seharusnya kau melakukan itu pada seorang yang kau cinta—"
"Kau yang kucinta, Rosa. Kau."
Rosa terdiam.
"Sejak dulu sampai sekarang, hanya kau yang aku sukai. Aku tahu caraku mengambil perhatianmu salah, aku minta maaf soal itu. Makanya sekarang aku akan berusaha untuk menunjukkan dengan benar perasaanku kepadamu."
"Dengan menghancurkan hidup Risa?"
Jefri mengerutkan dahi, "Bukankah itu yang kau inginkan?"
Bukankah itu yang kuinginkan? Rosa menggumam dalam hati. Dia menginginkan ini, tetapi kenapa saat Risa hancur hatinya tidak membaik juga?
Rosa memejamkan matanya dua detik. "Ayo kita sudahi pernikahan sialan ini. Aku tidak bisa melanjutkan pembalasan dendam ini saat targetku bahkan sudah mengetahui sia—"
"Tidak. Aku tidak mau."
"Jefri!" Rosa berseru. "Terserahlah, Aku akan meminta Chand untuk menjempu—"
"Hyun, bawa dia ke dalam kamar dan kunci kamar itu dari luar," perintah Jefri kepada orang kepercayaannya itu dengan rahang mengeras. "Suruh orangmu untuk membunuh Chand agar istriku sadar kalau hanya aku yang ia butuhkan." Lalu tanpa menoleh Jefri melangkah pergi.
Mengabaikan teriakan Rosa yang bertambah histeris di sana.
Karena satu hal yang harus Rosa tahu, beginilah cara seorang pria sejati mempertahankan seseorang yang di cinta secara benar.
***
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co