Truyen3h.Co

Tit For Tat | Jaehyun✔️

8

authoriya

HUJAN semakin deras ketika helikopter pribadi dengan inisial JY mendarat di lapangan luas yang berada tepat disamping hunian tingkat dua bergaya klasik modern—dengan suara baling-balingnya yang berisik. Beberapa orang dengan pakaian serba hitam seragam plus asisten rumah tangga—dengan pakaian seragam bercorak abu-abu kotak—memegang payung transparan nampak berdiri berjajar membentuk barisan vertikal.

            Hyun membukakan pintu helikopter itu dari luar sementara pengawal yang mentudungi kepalanya tadi setia berdiri di tangga terbawah. Untung dalam penerbangan tadi tidak menyangkut kendala apapun meski hujan sama sekali tidak mau bekerja sama, alhasil mereka bisa sampai ke tujuan dengan waktu yang sama seperti estimasi perjalanan, yakni tujuhbelas menit saja. Yang umumnya akan dilalui sekitar tiga jam lebih-kurang jika menggunakan transportasi darat.

            "Tidur...?" Hyun terkejut di tangga bagian atas ketika melangak ke dalam dan mendapati kepala Rosa yang sudah menyandar nyaman di atas bahu Jefri. Sementara bosnya itu nampak rileks meskipun ia tahu pasti kalau bahu itu jelas mendapatkan beban yang tak enteng. Hyun kemudian berjalan sedikit masuk ke bagian dalam. "Aku akan memanggilkan orang untuk membawa istrimu masuk ke dalam vil—"

            "Tidak perlu. Aku yang akan membawanya sendiri." Potong Jefri cepat. Dengan gerakan terkordinir Jefri dapat dengan mudah membawa Rosa ke dalam bopongannya. Tubuhnya berdiri tegak, kemudian mengulas senyum kecil. "Tolong katakan pada mereka untuk memayungi Rosa dan aku sementara kami berjalan. Aku tidak ingin dia terbangun karena terguyur hujan, Hyun."

            Hyun mengangguk. Pria itu lantas berjalan keluar dari dalam helikopter itu terlebih dahulu, lalu menyuruh beberapa orang standby untuk melindungi dua orang penting yang akan keluar dari dalam helikopter itu.

            Beruntung, ketika menuruni tangga yang digunakan untuk turun dari helikopter itu telah memiliki lindungan sejenis kanopi sehingga keduanya tidak perlu kehujanan saat hendak menuruni tangga itu, barulah ketika tungkai panjang itu telah sampai pada anak tangga terbawah salah satu dari pria berpakaian hitam-hitam itu menjulurkan tangan yang memegang payung itu ke arah Jefri, dan untuk kemudian berjalan dibelakang bosnya yang tengah membawa istri di dalam bopongannya.

Bagi siapapun yang melihat, pandangan ini benar-benar seperti potongan kejadian dalam drama korea yang santer tayang menghiasi layar televisi setiap malam. Pangeran tampan yang sedang membopong putri cantik yang terlelap, dengan efek hujan dan beberapa barikade pengawal yang siap melindungi tuan mereka kapanpun. Yang mana, kejadian malam ini normalnya akan menjadi bahan gosip antar sesama asisten rumah tangga tiap ada kesempatan.

Barikade pengawal plus Asisten rumah tangga itu kemudian membubarkan diri setelah tuan mereka terlindungi hingga masuk ke dalam villa.

Villa ini sangat besar, untuk menuju ke atas menggunakan lift dengan kartu akses yang hanya dimiliki oleh kepala ART, Hyun, kepala pengawal, dan sudah pasti Keluarga besarnya. Namun karena kondisi yang riskan ini, Jefri meminta Hyun untuk mengganti kartu akses lift di lantai dua ini agar yang memiliki akses keluar masuk lift hanya dia dan beberapa orang kepercayaannya. Maksud lain dalam penggantian kartu akses tersebut adalah supaya keluarga besarnya tidak bisa menerobos masuk ke lantai dua. Tempat pribadinya.

Terutama untuk orang yang bertanggung jawab atas sudut bibirnya yang sedikit robek ini. Tidak akan dibiarkannya untuk Chand memiliki akses kesini. Tidak akan pernah.

"Kau sudah membelikan nomor baru yang kukatakan kemarin?" tanya Jefri seraya menarik quilt hingga menutupi bahu Rosa. Tatapannya teduh ketika melihat Rosa yang menggeliat pelan memperbaiki posisi tidur sebelum menjadi pulas kembali. barulah Jefri menegakkan tubuhnya, kedua mata tajam itu menaruh pandang pada pria yang sudah dianggapnya seperti saudara sendiri itu.

Hyun mengangguk, tangan kanannya merogoh sebuah ponsel dari dalam jas kemudian mengulurkannya ke hadapan Jefri. "Nomor baru nyonya Rosa sudah kuprogram di ponselnya. Segalanya sudah kuatur dan kuhapus demi kenyamanan."

Jefri menerima ponsel itu dengan senyuman kecil yang tak bisa dihindari. Dia benar-benar bisa mengandalkan Hyun kapanpun dan untuk urusan apapun. "Terima kasih, dan kau boleh ke kamarmu, Hyun. Ini sudah malam, aku akan beristirahat."

"Baiklah. Kalau begitu aku permisi." Ucap Hyun seraya membungkuk sopan, lalu pria itu berjalan keluar kamar menutup pintunya dan melangkah menuju lift.

Jefri memalingkan pandangan dari daun pintu yang tertutup itu dan kembali memusatkan diri pada wanita yang sedang tertidur di ranjang. Matanya menelusuri setiap lekuk wajah yang begitu ia cintai itu. Wajah yang tertidur dengan damai dan sekarang wajah itu sedang tersenyum. Perasaan hangat kembali menjalar ke sekujur tubuh Jefri, entah apapun yang dimimpikan oleh Rosa sekarang, namun Jefri menduga pasti kalau itu adalah sebuah hal baik. Kemudian ingatan Jefri kembali menerawang pada kejadian di rumah sakit beberapa jam yang lalu ketika Rosa memintanya untuk menceritakan perihal masa lalu wanita itu. Yang sampai detik ini masih menjadi sebuah tanya dalam benak wanita itu—tadi Jefri berkilah dan mengatakan akan menceritakannya besok karena hari ini sudah malam dan mereka harus pulang—dan sekarang pertanyaan itu malah mengusik Jefri.

Sebuah teks telah tersusun rapi di kepalanya dan tinggal dilucuti melalui suara yang akan menjadikannya informasi bagi Rosa, namun masalahnya adalah teks yang telah tersusun rapi itu bukanlah kronologis hidup yang sebenarnya terjadi, Jefri telah mengganti semuanya; semua tentang cerita hidup Rosa disana.

Pada detik ini akhirnya dia meloloskan asumsi dikepalanya itu. Bahwa ia ingin Rosa bahagia bersamanya. Dan ini adalah jalan menuju kebahagiaan itu.

***

Sinar matahari menembus melalui jendela-jendela bertirai tipis di kamar itu ketika Rosa mulai terjaga. Samar, ia menangkap suara-suara langkah kaki dan bunyi dari benda kecil yang berdenting, namun wanita itu masih enggan untuk membuka mata karena quilt yang super hangat itu menyelimuti, mendekapnya dan menyebarkan kehangatan.

Ia kembali menggeliat kecil ketika aroma dari kopi yang baru di seduh masuk ke menembus selubung awan setipis selendang pengantin dan membiaskannya. Perlahan, dibukanya kedua mata itu. Rosa melihat bayangan Jefri sedang duduk di sofa dengan samar sebelum penglihatannya benar-benar fokus.

Rosa menegakkan tubuhnya dari berbaring, quilt-nya merosot hingga melingkari pinggulnya. Tanpa sadar ia menyunggingkan senyum kecil ketika melihat Jefri yang sedang menikmati secangkir kopi panas dengan mata yang menatap pada koran di tangannya.

Pria itu adalah suaminya... suaranya menggema dalam dinding hati.

"Kau sudah bangun?"       

Pertanyaan Jefri yang tak terduga membuat Rosa langsung melepaskan tatapannya. Matanya tertuju ke arah jendela kamar yang sedikit melengkung membungkus sebagian atap yang kini sedang membentangkan pemandangan langit yang super cerah.

"Mm, baru saja." Rosa melirik Jefri. Lalu, tiba-tiba ia teringat akan hal semalam. "Apa aku ketiduran ketika kita akan kesini?"

Jefri menutup halaman pada koran paginya, melipat dua koran yang dipegangnya kemudian meletakkannya ke atas meja di samping kopinya. Matanya menatap Rosa lurus-lurus sambil mengangguk santai. "Ya. Sama seperti dulu..."

Satu kilas balik tiba-tiba menyerang Jefri, masih terekam jelas bagaimana ia melihat Rosa yang jatuh tertidur di perpustakaan ketika jam pelajaran di kelas mereka kosong. Saat itu, Jefri benar-benar kebingungan karena ia melepaskan matanya sesaat dan langsung kehilangan orang yang sejak tadi ia awasi diam-diam keberadaannya. Waktu itu ia ingat sampai menyisir ke segala tempat—dan akhirnya menemukan Rosa sedang tertidur menyandar pada rak buku dengan satu buku yang berada dalam pangkuan. Lama mengamati, hingga ketika Hendery memanggilnya melalui telepon karena mereka akan tanding basket, Jefri akhirnya mengakhiri menatap dalam diam-nya.

"Seperti dulu?" suara Rosa memelan, keningnya mengernyit bingung karena ia sama sekali tidak mengingat apapun mengenai masa lalu-nya itu. Lalu, ia ingat kalau Jefri masih memiliki hutang cerita kepadanya. "Kau janji akan menceritakan masa lalu-ku, rasanya tidak menyenangkan karena hanya kau yang mengingat sementara aku tidak." Keluhnya sambil membawa alisnya melipat ke bawah.

Jefri menahan senyum. Pria itu membawa cangkir kopinya ke mulut dan menyesap cairan pahit itu sekali teguk, kemudian berdiri.

Telapak kakinya yang telanjang berjalan menapaki ubin dingin menuju ranjang. Dalam jarak sentuh, dia mengulurkan tangannya menangkup pipi Rosa gemas. Lalu ia mendaratkan satu kecupan singkat disana. "Kau harus mandi."

"Kau mengingkari janji?!" Rosa mengerutkan dahi, pandangannya menembus ke dalam manik mata hitam Jefri yang menyesatkan. Manik mata yang menguncinya dalam sekali pandang.

"Tidak," Jefri menyapukan senyuman. "Aku akan bercerita nanti setelah kau mandi dan kita pergi sarapan bersama di bawah."

Rosa mendesah. Melepaskan tangkupan tangan Jefri dengan kepala menunduk. "Tidak mau!"

"Tidak mau?" Jefri mengulang kalimat Rosa. Kemudian satu seringaian muncul di bibirnya, "Jadi, kau lebih memilih kita menghabiskan waktu di atas ranjang ini? Aku setuju—"

"Hei!" Rosa berseru cepat. Wajahnya memerah, menatap Jefri setengah malu dengan sekejap ia sudah langsung berdiri dengan kedua tangan memegangi kerah baju. "Bukan itu maksudku. Aih, bagaimana kau bisa mengatakan hal seperti itu pada seseorang yang hilang ingatan!" gerutunya seraya melangkah menuju kamar mandi.

Jefri tersenyum geli, dan berseru bersamaan dengan pintu kamar mandi yang tertutup. "Apa kau butuh di gosokkan punggungnya?"

"TIDAK!" seru Rosa ketus dari dalam kamar mandi.

Membuat Jefri terbahak di luar. Ia melangkah mendekati pintu kamar mandi dan mengetuk sekali, "Aku akan menunggumu dibawah, ya? Kartu akses lift ada di meja. Sampai nanti, channie."

Gumaman Rosa sebagai jawaban mengiringi Jefri melangkah keluar dengan senyuman yang tak luput dari bibirnya, bahkan hingga lift membawanya ke lantai bawah dan menemukan Hyun sudah menunggu di sana bersama beberapa berkas ditangannya.

Hyun mengangkat alis melihat senyuman Jefri yang sempat tertangkap matanya, namun lenyap setelah beberapa detik setelahnya dan pria itu kembali ke dalam mode biasa, berjalan keluar lift mendahului Hyun yang masih berdiri terkejut.

"Ini hari minggu, dan kau masih membawa pekerjaan." Ujar Jefri, melangkah ke jendela spektakuler yang menampilkan pemandangan ke taman villa dengan rumput Jepang dan artifisial lake di tengah-tengah taman, nampak beberapa petugas perkebunan sedang melakukan pekerjaannya dengan menggunting beberapa rumput dan tanaman di taman yang tingginya tidak simetris.

Hyun tersadar, dengan segera ia menyejajari langkah ke arah Jefri. "Ini dokumen tentang manipulasi pajak oleh perusahaan mertuamu," ucap Hyun seraya menyodorkan dokumen itu kepada Jefri. Pandangannya berubah tak enak. "Kau yakin akan membeberkan ini? maksudku, Rosa saat ini sudah hilang ingatan dan rencanamu akan diluncurkan. Kenapa tidak kita lupakan saja dendam Rosa sementara waktu?"

"Aku tidak sedang berniat membeberkan ini," Jefri mengulum senyum tipis, namun satu lesung pipitnya terukir di wajah. "Aku hanya ingin menyimpan ini. Mungkin saja bisa kugunakan untuk menahannya jika suatu saat terjadi hal yang tidak diinginkan."

Pria itu mengangguk paham mendengarnya.

"Kau sudah menyelidiki apa yang sedang Chand lakukan?"

"Menurut informan, dia sedang mencari tahu dimana keberadaan kau dan Rosa. Kurasa cepat atau lambat dia akan menemukan kalian berdua disini."

Jefri menerawang kelam ke depan. Ada helaan napas kentara yang terdengar, namun tak terdengar menyedihkan. Ia mengembalikan dokumen yang semula di lihatnya itu kepada Hyun. "Akan kupastikan dia tidak akan bisa bertemu Rosa-ku."

"Apa yang sedang kalian bicarakan? Kenapa suara kalian pelan sekali seperti orang sedang bersembunyi?" suara Rosa terdengar penasaran dengan langkah mendekat ke arah dua pria yang masih berdiri menghadap ke jendela. Lalu, ia tersipu ketika Jefri berbalik, dan dalam jarak sentuh pria itu menarik tangannya hingga membuat Rosa masuk ke dalam pelukannya.

"Kau wangi sekali," bisik Jefri setelah menghirup aroma yang terkuar dari tubuh Rosa bercampur wangi bunga mawar. Beruntung rasanya ia ingat dan memberitahu kepala pelayan di villa ini untuk berbelanja segala peralatan yang sama dengan yang ada di rumahnya di Seoul. Dari parfume sampai sabun mandi Rosa—yang ia ketahui ketika Rosa membeli sabun lain (menolak memakai sabun yang sama dengannya)—setelah melewati pengamatan bertahap, Jefri mengetahui ternyata merek sabun yang digunakan adalah favorit wanita itu.

"Hei, ada pegawaimu disini..." ucap Rosa pelan seraya mendorong tubuh Jefri menjauh. Wanita itu melirik Hyun dengan pandangan tidak enaknya karena Jefri yang tiba-tiba saja melakukan hal seperti itu, padahal yang berdiri di sana bukan hanya mereka saja.

Hyun mengangguk dengan ekspresi datar. Lalu, mengundurkan diri. "Kalau begitu aku pergi dulu. Semoga hari kalian menyenangkan."

Rosa menatap punggung yang menjauh itu pelan, sebelum memukul bahu Jefri jengkel. "Kau sih!"

"Kenapa?"

"Pasti pegawaimu merasa tidak enak karena dia mengira mengganggu kita, padahal kalian sedang ada perbincangan dan sejujurnya tentu sajak aku yang sepertinya mengganggu," Bibir mungil Rosa maju tiga senti. "Aku jadi merasa bersalah..."

"Hyun sangat peka dengan kita, makanya ia pergi begitu," Jefri melingkarkan kedua tangannya di pinggul Rosa, menatap wanita itu dari jarak sentuh dengan intim. Lalu, kembali dilabuhkannya sebuah ciuman—kali ini cukup panjang sebelum ia mengudarakan kalimat tambahan. "Ayo, channie-ku harus makan dan meminum vitamin."

Kedua mata Rosa berbinar. "Menu apa yang aku sukai?"

Pertanyaan yang membuat Jefri terdiam kaku. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa pertanyaan itulah yang pertama akan dilontarkan oleh Rosa alih-alih lainnya. Pria itu berdeham, menghalau kegundahan dan ketidaknyamanan yang tiba-tiba menelusup masuk menggigilkannya—karena sungguh ironis, ia sama sekali tidak mengetahui makanan apa yang disukai wanita di depannya ini. Mereka tidak memiliki kesempatan yang sama, dan jelas saat masa sekolah dahulu Rosa sama sekali tidak pernah nampak di kantin untuk memakan menu makan siangnya. Risa juga tidak pernah membahas soal Rosa kepadanya. Dengan sisa pertahanannya, Jefri mengusap lembut pipi Rosa dan mengulas senyum kecil.

"Satu-satunya yang tidak kau sukai adalah ketinggian."

Rosa mengerutkan dahi. "Aku sedang membicarakan makanan."

"Kau menyukai semuanya. Itulah sebabnya kau memiliki tubuh yang seperti ini. Terasa pas."

"HEI!" Rosa memelototi Jefri. Kepalanya menoleh ke segala arah sambil mencari apakah ada pelayan yang berdiri di dekat mereka, sebelum ia menghentakkan kaki kesal. "Aku benar-benar penasaran kenapa aku bisa menikah dengan pria sepertimu!" ucapnya, lalu berjalan menjauh menuju ruang dapur.

Jefri menatap dingin pada punggung rapuh yang semakin menjauh itu. Lalu bergumam sehalus angin. "Karena kau membenci keluargamu dan aku, Rosa. Karena kau membenci kami..."

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co