Truyen3h.Co

Tit For Tat | Jaehyun✔️

8a

authoriya

CHAND tertunduk lesu. Di meja di depannya telah terhidang beberapa menu sarapan pagi yang sama sekali belum ia sentuh. Nasi di mangkuk masih mengepulkan asap meskipun sudah lewat lima menit sejak pria itu menyambangi meja makan. Chand mendongak sedikit, menatap salah satu menu di antara banyaknya menu yang tersedia di meja—terima kasih kepada bibi yang ditugaskan untuk membersihkan apartemen dan memasakinya makan pagi—dan wajahnya semakin murung.

Ia mengambil sepasang sumpit, kemudian menyumpitkan telur orak-arik dengan irisan tomat ke dalam mulutnya. Hanya ini satu-satunya yang bisa menghubungkannya dengan Rosa karena menu sederhana satu merupakan menu olahan favorit Rosa sejak ia mengenal Rosa di Sydney. Wanita itu jelas pintar memasak, namun ia acap kali memasak menu olahan super sederhana ini alih-alih yang lain—bahkan harus diakui Chand, ini juga adalah satu-satunya menu olahan yang pernah di masak oleh Rosa untuknya.

Miris, dulu. Namun sekarang rasanya malah membuat rindu.

Ternyata benar bahwa frekuensi rindu memang seram. Kenangan sekecil apapun jika sudah terkena rindu akan terasa menyakitkan ketika diingat. Dan untuk yang kesekian kalinya Chand kembali menarik napas payah.

Kembali ia melahap telur itu, kali ini bersama nasi yang tersedia di dalam mangkuk. Rahangnya terkatup rapat ketika kilasan kembali melandanya, ia membanting sumpit ditangannya ke meja hingga membuat dentingan ketika stainless sumpit berbenturan dengan kaca meja makan sebelum akhirnya terjatuh membentur ubin.

Chand memejamkan mata pelan, mencoba membawa segala asumsi di kepalanya menjauh. Yang ia butuhkan untuk mencari keberadaan Rosa adalah melacak menggunakan sinyal ponsel Rosa. Namun, orangnya sama sekali tidak menemukan apa-apa. Ketegangan semakin kental terasa, Chand yakin kalau Jefri sengaja melakukan semua ini agar mereka tidak terlacak.

"Argh!" bentaknya sambil membanting mangkuk nasi yang semula berada di tangannya dengan kasar. Sepektrum kekesalan semakin tak terbendung, apalagi ketika ia mengingat soal informasi yang diterimanya tentang Rosa yang mengalami amnesia.

Ini tidak benar. Bagaimanapun ia harus segera menemukan Rosa.

Harus.

***

"Disini tidak ada kuda ya?" tanya Rosa dengan kepala miring menatap Jefri yang berdiri tepat di sebelahnya.

Jefri yang sejak tadi terhanyut pada ikan-ikan hias di danau buatan di depan mereka, menoleh. Dan ia langsung menemukan manik mata coklat bening yang menenangkan milik Rosa sedang menatapnya penuh pertanyaan. Selesai makan, Jefri mengajak Rosa untuk menghirup udara di luar villa yang begitu asri pemandangannya. Meskipun ucara dingin yang terasa karena sebentar lagi kemungkinan salju pertama akan turun, hal itu tidak membuat mereka berhenti menikmati pemandangan menyejukkan di lahan villa besar ini.

"Kau ingin berkuda?" tanya Jefri seraya mengusap pelan puncak kepala Rosa. Pria itu membalas tatapan Rosa dengan begitu lembut, dan ketika anggukan kecil yang ia lihat, Jefri kembali menyuarakan suara beserta nada jahilnya. "Aku bisa menjadi kudamu."

"Maksudmu?"

Seringaian Jefri semakin melebar. "Kita bisa bermain kuda-kudaan di dalam kamar seharian, Rosa."

Semburat merah langsung menjalar ke seluruh wajah Rosa. Wanita itu melempar pandang tak percaya akan perkataan Jefri barusan, kemudian ia menutup wajah menggunakan kedua telapak tangannya. "Aku mau naik kuda sungguhan. Bukan kau!"

Jefri tertawa geli. Matanya menelurusi setiap jengkal jemari Rosa yang menutup wajah mungil wanita itu dengan perlahan, menyimpan segala hal ke dalam memorinya dalam satu folder yang memiliki nama sama. Lalu, tangannya bergerak, meraih lengan kecil itu untuk di genggam. "Disini tidak ada kuda. Aku akan menyuruh Hyun membeli kuda terbaik untukmu."

"Tidak," Rosa menggeleng cepat. "tidak seharusnya kau mubadzir soal uang," kedua matanya menatap Rosa dengan senyuman mengembang. "Aku tidak terlalu ingin berkuda."

Jefri menegang, rahangnya mengatup keras dengan tatapan menajam. Kedua tangan yang memegang lengan Rosa terlepas, dan beralih menangkup pipi wanita itu erat. Pandangannya menyayu, "Jika soal dirimu, aku tidak pernah mubadzir soal uang. Jadi, kau tidak boleh menolak jika aku ingin memberimu sesuatu. Paham?"

Rosa tersenyum kecil. Membawa kedua tangan ke atas punggung tangan Jefri dan menggenggamnya erat. "Kenapa kau bisa mencintaiku?"

"Karena kau Rosa."

"Hanya itu?" ia kembali bertanya, nampak tak percaya karena hanya alasan itu yang dikatakannya.

Jefri mengerut dalam, raut wajahnya nampak berpikir selama beberapa menit terlewat. Lalu, kembali ia mengangguk. "Aku menyukaimu karena kau Rosa. Kau adalah orang pertama yang mendatangiku ketika di taman bermain di daerah rumah lama kita."

"Sungguh?"

Jefri mengangguk. "Saat itu lututku luka dan aku menangis. Kau memberikan plaster luka kepadaku padahal kita belum saling mengenal. Sejak itu aku terus kepikiran denganmu dan ingin mengetahui namamu. Hingga takdir membawaku bertemu kau ketika kita SMA."

"Kau mengenaliku?" Rosa berkata tak menyangka. Manik mata itu berbinar, menyala seperti yang seharusnya. "Lalu, kita berteman? Atau langsung berkencan?"

"Tidak," Jefri menggeleng. Sorot matanya berubah muram membalas tatapan Rosa yang menenggelamkan. "Kau membenciku saat itu."

"Kenapa?" tanya Rosa. Jefri bisa menangkap kalau binar dari kedua mata Rosa yang tiba-tiba menghilang kembali merasakan nyeri. Namun, ia harus menjelaskan tentang ini kepada Rosa. Setidaknya, dalam permohonan kecil dalam hati Rosa mampu menerimanya. Menerima kebodohannya saat itu...

"Aku menyukaimu, tapi aku mengganggumu," ia tersenyum masam. "Aku pikir dengan mengganggumu bisa mencuri perhatianmu, tetapi ternyata kau membenciku karena hal itu. Kemudian, suatu hari ketika kita di minta untuk menulis surat cinta kepada siapapun yang kita suka dan karena aku penasaran akhirnya aku merebut suratmu—"

"Tunggu, aku menyukai orang lain?" potong Rosa.

Jefri mengangguk. "Ya. Aku tidak akan menyebutkan nama orang itu, tetapi aku benar-benar kesal saat itu..."

"Dan?" tanya Rosa ketika merasakan kalau itu bukanlah akhir dari kalimat Jefri.

"Dan kabar buruknya, Hendery—temanku dan teman sekelas kita memergoki. Dia menyebarkan soal kau menyukai pria itu, dan kau mengira kalau aku yang menyebarkannya. Lalu kau semakin membenciku."

Rosa mengerutkan dahinya. "Maafkan aku, aku pasti sangat kekanakan karena membencimu soal itu dan malah menuduhmu..."

"Tidak, tidak. Aku yang salah, tidak seharusnya aku selalu menggodamu hanya agar kau memerhatikanku." Jefri mengusap lembut kedua pipi Rosa. "Aku senang kita bisa bersama-sama."

"Bagaimana aku bisa tidak membencimu lagi?"

Jemari Jefri yang mengusap pipi Rosa berhenti diudara. Sorot matanya kembali muram, namun segera ia menyamarkannya dengan mengulas senyuman kecil. "Kau akhirnya sadar karena aku tampan. Jadi kau memaafkanku dan kita berteman." kelakarnya.

Rosa mendengus. "Aku tidak percaya soal itu."

Jefri yang gemas melihat wajah itu tak kuasa menarik tubuh Rosa ke dalam pelukannya. Satu tangan yang tak mendekap tubuh Rosa dibawanya ke rambut dan mengusap pelan rambut belakang wanita itu. "Kita berteman ketika masuk universitas, dan menjadi akrab..."

"Oh seperti itu," ada senyuman kecil terbit di wajah Rosa. "Aku senang mengenalmu. Kurasa disini akulah yang sedang jatuh cinta kepadamu, Jefri." gumam Rosa sambil mendongak dalam pelukan Jefri.

"Aku juga tetap jatuh cinta padamu sampai sekarang." kepala Jefri menunduk dan mengecup Rosa sekali.

"Kalau tentang keluargaku? Kenapa mereka tidak ada yang menjengukku ketika aku di rumah sakit?" kening Rosa mengernyit ketika dadanya tiba-tiba terasa nyeri. Kernyitan itu semakin mendalam ketika ia merasakan sebuah perasaan aneh datang mengerogotinya, sebuah perasaan asing yang Rosa tak tahu dari mana ia bermuara. Yang jelas, efeknya sangat tajam karena ia langsung merasakan napasnya tercekat seolah ada sesuatu yang menghalanginya untuk keluar.

Jefri yang menyadari perubahan itu dengan cepat kembali membawa kepala Rosa ke dalam dekapannya. Tangannya memeluk erat tubuh itu dengan sesekali mengelus kepalanya pelan seraya menembakkan kecupan di puncak kepala Rosa. "Kau baik-baik saja?"

"Aku merasa sesak napas ketika membicarakan keluarga. Apa yang terjadi?"

Dalam setiap hal yang telah dilupakan wanita dalam pelukannya ini. Kenapa traumatisnya tetap tinggal? Kenapa kesakitan Rosa tak ikut menghilang?

Jefri memejamkan mata. Kepalanya menengadah membiarkan angin menampar wajah itu hingga menggigil. Ia membutuhkan hal itu agar sakit yang juga ia rasakan tiap melihat Rosa terkena serangan bisa sedikit mereda. Ia membutuhkan angin untuk membuatnya waras dan tidak membunuh orang-orang yang membuat Rosa menderita...

Dan ia akhirnya meluncurkan kebohongan lainnya, berharap kalau itu bisa menyembuhkan.

"Keluargamu meninggal karena kecelakaan pesawat. Semuanya, tanpa terkecuali karena mereka semua berada dalam penerbangan dari Aukland ke Korea. Dan kau tidak ikut saat itu karena kau memiliki tugas akhir di masa kuliahmu. Hal itulah yang membuatmu selalu merasakan sakit tiap membicarakan soal keluarga," ucap Jefri masih memeluk Rosa. "Kuharap sakit itu yang terakhir. Karena mulai hari ini aku akan mengukirkan kenangan yang hanya berisi kebahagiaan di dalam hidupmu, channie."

"Terima kasih," ujar Rosa tulus.

"Dan satu lagi," Jefri mengeluarkan secarik foto dari dalam kantong celana, meletakkannya ke atas pangkuan Rosa. Menggeser tubuhnya sedikit menyerong menatap wanita di sampingnya dengan pandangan kelam. "Kau harus ceritakan padaku jika kau bertemu dengan orang ini, janji?"

"Dia siapa?" kepala Rosa tertunduk, memandang bingung pada foto di pangkuannya. Tangan Rosa bergerak mengambil secarik foto yang menampilkan sesosok pria sebaya dengannya. Fokus pria itu tidak sedang menatap ke lensa kamera tetapi perawakannya jelas disana. Tiba-tiba ada sesuatu terasa aneh di dalam dirinya. Rosa mengernyit tak suka, lantas mengalihkan pandangannya kepada Jefri. "Kenapa rasanya aneh ketika melihat foto ini. Apa aku mengenalnya?" tanya Rosa kembali.

Sesaat Jefri kehilangan kendali diri, namun segera berhasil dikuasai kembali kendalinya karena suara gemericik dari beberapa ikan yang melompat-lompat di danau yang menyentakkan kesadaran itu kembali. Jefri meraih jemari tangan kanan Rosa pelan, menggenggamnya seperti sedang memegang porselen nan mahal dan langka. "Dia adalah orang yang ingin merebutmu dariku."

"Maksudmu? Apa dia orang yang kusukai itu?"

"Bukan!" Jawab Jefri cepat. Dia sama sekali tidak menyukai ketika Rosa mengatakan bahwa Chand adalah orang yang disukai istrinya. Karena pada kenyataannya adalah tidak. Tidak untuk segala alasan.

Embusan angin menerpa bulu halus di leher belakang Jefri yang telanjang, membuatnya sedikit menggigil, dan ia kembali mengeratkan genggaman tangannya ketika merasakan aliran kehangatan dari tangan Rosa kepadanya. Jefri kembali bicara, "Ada satu hal yang tidak bisa kuceritakan padamu. Tetapi percayalah, bahwa dia adalah orang jahat."

Meskipun ragu dan kepalanya masih dipenuhi tanda tanya besar, namun Rosa tetap mengangguk. Wanita itu mengukir senyuman kecil seraya melingkarkan tangannya pada tubuh Jefri; memeluknya.

"Aku akan mengatakan padamu jika bertemu dengannya."

"Janji?"

Rosa mengangguk. "Mm..."

Ada kelegaan dari dalam hati Jefri yang keluar ketika mendengar ucapan Rosa barusan. Setidaknya, dia telah meminimalisir pertemuan mendadak Chand dengan istrinya, karena jelas, setelah ultimatum yang diberikannya ia yakin bahwa jikalau takdir tidak memihak dan pertemuan itu terjadi, setidaknya Rosa akan segera lari dan menolak untuk mendekat pada sepupunya itu.

Keduanya beranjak masuk ketika angin terasa semakin menusuk tulang. Jefri melingkarkan lengannya pada pinggang Rosa, sementara wanita itu melakukan hal yang sama di pinggang Jefri dengan senyuman yang merekah-rekah di wajahnya. Pemandangan itu jelas menggelitik perasaan iri pada siapa saja yang melihat, dan kembali menjadi buah bibir di antara pelayan-pelayan dalam villa besar itu.

Rosa memberucutkan bibir dengan dahi menekuk dalam ketika melihat Jefri yang masih saja asik dengan laptop di atas meja, mengerjakan atau memeriksa apapun menggunakan laptop itu sementara ia diangguri sejak satu jam ke belakang.

Sengaja Rosa menghela napas keras-keras supaya Jefri mengalihkan perhatian, namun pria itu hanya melirik Rosa dan tersenyum meminta maaf sambil mengatakan, "Sebentar lagi pekerjaanku selesai. Ada yang harus kuperiksa untuk rapat esok."

Dan, kembali mengulang kalimat sakti itu tiap tiga puluh menit sekali.

Sebal, Rosa mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan menemukan televisi menggantung pada dinding di kamar hunian mereka. Kemarin, mereka sampai ke sini sudah malam dan ia sama sekali tidak tahu menahu karena ketika bangun tadi pagi, ia sudah menemukan dirinya di atas ranjang dengan suasana yang berbeda. Sementara pagi tadi Rosa langsung buru-buru pergi mandi karena Jefri yang menggodanya dan langsung turun ke bawah untuk sarapan.

Lama Rosa memerhatikan benda eletronik itu. Ia butuh hiburan karena matanya mulai mengantuk, tetapi jika ia menyetel televisi itu sekarang mungkin saja hal itu bisa mengganggu Jefri yang sedang bekerja. Karenanya, Rosa menyandarkan punggungnya pada sofa yang ia duduki dengan kerutan pada kening yang masih sama.

"Kalau kau ingin menonton tivi, tidak apa-apa. Nyalakan saja, sayang." Gumam Jefri.

Kepala Rosa spontan menoleh. Kemudian, bahunya kembali merosot ketika melihat Jefri yang masih fokus pada layar di depannya dengan jemari yang sesekali menari pada keyboard laptop itu. Ia lantas menggeleng, "Tidak, aku tidak ingin menonton."

Saat itulah Jefri benar-benar memusatkan pandangannya pada Rosa. Pria itu menjauhkan tangannya dari laptop sambil menatap redup wanita di sebelahnya. Ia sangat menyukai Rosa yang penurut dan tidak banyak menuntut, namun kenapa sekarang ia merindukan Rosa yang mendebatnya—meskipun kondisinya saat itu Rosa sedang menyamar sebagai Risa—dan sikap enggan wanita itu tiap kali ia mengajaknya pergi ke suatu tempat ya?

Mungkin karena itulah ia semakin mencintai wanita ini. Karena kebencian dan penolakan Rosa itulah sehingga membuat Jefri semakin ingin menaklukannya.

"Aku senang jika kau mendebatku. Sungguh, aku tidak akan keberatan soal itu," Jefri mengusapkan ibu jarinya di pipi Rosa. "Aku senang jika kau menyuarakan pendapatmu alih-alih diam dan menjadi penurut."

"Bukankah seorang istri memang harus menjadi penurut?"

Jefri tersenyum kecil. Ia mengunci manik mata indah di depannya dengan lembut. "Begitu memang cara kerja sebuah pernikahan. Tetapi, tidak masalah jika kau mendebatku, mengatakan keinginanmu. Aku ingin kau menjadi dirimu sendiri, dengan hati yang selalu berjalan kepadaku."

Pandangan Jefri semakin meredup, pria itu menundukkan kepalanya untuk menempelkan bibir mereka hingga getaran kimiawi di antara mereka semakin bereaksi. Menumpulkan pikiran, melumpuhkan persendian.

Melepaskan segala keputusasaan dan gairah dengan sebuah ciuman panas, Jefri menarik Rosa semakin mendekat kemudian menggendong Rosa menuju ke ranjang. Dilupakannya semua pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi penuhnya untuk sekarang, karena jelas apa yang telah terhidang di depannya adalah satu-satunya hal yang lebih penting dan menarik. Jefri menjatuhkan tubuh itu ke atas ranjang dengan pelan. Deru napasnya parau dan berat, pandangan mereka sama-sama kabur menatap satu sama lain dengan keinginan untuk memiliki yang sama besarnya.

"Hanya kau yang bisa membuatku seperti ini, Rosa." Ujar Jefri serak sambil menyisingkan helaian rambut yang menutupi wajah sang istri.

Kemudian, mereka kembali terlibat dalam pertempuran yang menyenangkan, penuh keringat dan suara yang khas. Dan baru berhenti saat keduanya benar-benar merasa lelah, hingga kantuk membawa mereka tertidur pulas menyusuri alam mimpi yang menenangkan jiwa.

Menunggu hingga sang fajar datang dan suara kicauan burung membangunkan keduanya dari mimpi indah itu.

***

Rosa terbangun dengan kehangatan dan perasaan aman yang menyelimuti. Seraya berjuang untuk menembus selubung awan tidur yang melingkupi, samar pandangannya mendapati kulit putih bersih Jefri yang melingkari tubuhnya. Memeluknya.

Wajah Rosa sontak memerah ketika menyadari bahwa ia telah menghabiskan sepanjang malam dengan Jefri. Tidak hanya tidur, tetapi lebih dari itu.

Rosa tahu ini pasti bukan yang pertama untuknya—karena ia dan Jefri sudah menjadi sepasang suami istri dan jelas tidak ada rasa sakit saat mereka sampai pada tujuan—tetapi tetap saja membayangkan itu kembali rasanya benar-benar membuat malu. Apalagi, sekarang Rosa bisa merasakan kalau di balik selimut yang menutupi tubuh mereka tidak ada sehelai benangpun yang menghalangi. Ia menelan saliva gugup, berusaha melepaskan pelukan Jefri agar dirinya bisa ke kamar mandi sehingga pada saat pria itu terbangun nanti, dirinya sudah dibalut oleh pakaian dan tidak dalam keadaan seperti ini.

Namun, sepertinya keinginan Rosa harus pupus ketika Jefri malah semakin mengeratkan pelukannya, meringkuk dan menduselkan kepalanya di antara lekukan leher dan bahu Rosa.

"Kau sudah bangun?" suara serak Jefri terdengar masih dengan kedua mata terpejam.

"Mm," gumam Rosa dengan wajah memerah dan tubuhnya yang kaku tak bergerak. Rosa menggigit bibir bawahnya pelan, dengan ragu ia kembali bersuara. "Aku... ingin ke kamar mandi."

"Ini masih terlalu pagi, channie," Jefri semakin menelusupkan kepalanya, mencari kehangatan. "Ayo kita tidur lagi, semalam kau pasti sangat lelah."

Ya ampun, apakah mulut Jefri memang seperti ini? pikir Rosa. Kemudian, ia kembali mencoba peruntungan. Lagipula, mana mungkin dia bisa tidur kembali disaat kepalanya mulai di selubungi gambaran-gambaran tentang kejadian malam tadi. Astaga!

"Jefri, ini sudah jam lima pagi. Dan aku harus mandi, aku ingin membuat sarapan untukmu." Ucap Rosa.

Dan sepertinya kalimat itu berpengaruh besar karena pria itu langsung menjauhkan kepalanya. Dengan pandangan yang masih setengah buram karena belum sadar sepenuhnya, Jefri mengurai pelukan mereka.

"Aku sebenarnya tidak masalah memakan makanan buatan pelayan-pelayan itu, tetapi kau serius ingin membuatkan sarapan pagi untukku?"

Rosa mengangguk. Senyumnya terbit, namun pupus beberapa detik kemudian. "Apa aku bisa memasak?"

Dia benar-benar tidak mengingatnya. Rasanya tidak lucu jika ternyata ia tidak pandai memasak, dan sok percaya diri dia mengatakan ingin membuat sarapan pagi. Sesaat ia kembali menyesali ucapannya. Ia sama sekali tidak berpikir panjang tadi, dan kalau dapur villa ini menjadi hancur karena ternyata ia tidak mampu mengolah bahan mentah menjadi sebuah makanan lezat—maka ia harus menguburkan wajahnya di bantal untuk beberapa waktu ke depan.

"Kenapa tidak kau coba saja?"

"Aku tidak mungkin mencobanya kalau ternyata aku tidak pandai memasak." Rosa mendengus.

"Kau akan tahu bahwa kau bisa atau tidak memasak hanya dengan mencobanya, Rosa." Tukas Jefri santai.

Jefri benar. Tetapi, Rosa tetap bergeming. Lalu menggeleng, "Tidak. Aku tidak jadi memasak. Dapur villa ini akan hancur kalau ternyata skill-ku kosong."

"Aku bisa membenarkan dapur ini hanya dengan sekali panggil."

Rosa berdecak, melirik pria yang berbaring di sebelahnya ini dengan kesal. Bisa-bisanya disaat ia sedang serius, pria ini malah menjawabnya dengan bercanda. "Kau menjengkelkan!"

Jefri tertawa. Kemudian menarik Rosa ke dalam pelukannya dan memberikan kecupan hangat di dahi wanita itu. "Aku senang melihat raut wajahmu yang satu ini."

"Apa?"

Tatapan hangat Jefri kembali terpancar. "Masakanmu sangat lezat. Dan semua yang kaubuat adalah menu favoritku."

"Kau tidak berbohong?"

Jefri mengangkat alis. "Aku sangat sensitif soal makanan, dan aku jujur soal apa yang kukatakan padamu. Kau adalah chef favoritku."

Mendengar penuturan Jefri membuat Rosa tersenyum kecil. "Kalau begitu aku akan membuatkan sarapan untukmu." Ucapnya seraya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Rosa melingkarkan selimut itu, membawanya masuk sampai ke dalam toilet.

***

Jefri menatap dengan raut wajah tak suka ketika melihat Hyun, dan seluruh pegawainya juga para pelayan di villa yang sedang duduk di atas meja makan panjang—terpisah dengan ia dan Rosa—dengan wajah bahagia menyantap makanan yang tersaji di atas meja.

Tiga belas menu olahan rumah dengan resep yang Rosa cari dari internet tersuguh nampak menggiurkan untuk di santap. Jefri mengalihkan pandangan, menatap perempuan yang duduk di seberangnya yang kini sedang mengambilkan semangkuk nasi untuknya dengan senyuman bahagia. Bukan senyuman itu yang membuatnya kesal, tetapi fakta karena ternyata tidak hanya ia yang menikmati masakan wanita itulah yang membuatnya kesal.

"Kau mengatakan kalau kau akan memasakkan sarapan untukku." Jefri mendengus, dan mulai menyantap sarapannya.

"Aku memang memasakkan sarapan untukmu." Jawab Rosa. Wanita dengan bandana lilit biru dongker dengan garis-garis hitam vertikal itu meraih segelas air tawar, menegak isinya, sebelum ia ikut menyantap sarapannya. "Apakah enak?"

"Enak. Kau tidak mengatakan kalau kau akan memasakkan mereka juga." Jefri mengambil kimchi dan melahapnya.

"Memangnya salah? Lagipula mereka pegawaimu, dan akan bekerja pagi sama sepertimu."

Itu benar. Tetapi, fakta kalau masakan Rosa ikut dinikmati oleh orang lain adalah hal yang tidak menyenangkan.

"Staf dapur akan membuatkan sarapan untuk mereka. lagipula, mereka tidak makan di sini, Rosa. Mereka sudah memiliki dapur sendiri di rumah tinggal sebelah villa ini."

"Jadi aku tidak boleh memasak untuk mereka juga?" raut wajah Rosa berubah muram. Dengan sedih, ia meletakkan sumpit yang ia pegang ke atas serbet di dekat mangkuk nasinya. "Kau bilang aku bisa melakukan apapun yang kuinginkan. Tetapi baru sekali ini, dan ternyata aku membuatmu kesal..."

"Tidak, bukan begitu," Jefri mengurut pangkal hidungnya. Nampak bingung menjelaskan perihal kecemburuan yang merasukinya. Akhirnya, ia mengalah. "Maaf, aku bukannya tidak senang. Aku senang kau memasakkan makanan untuk pegawaiku juga. Sudah, ayo kita kembali makan ya?"

Rosa tersenyum dan mengangguk. "Aku akan sering-sering membuat sarapan kalau begitu. Aku senang karena pegawaimu sangat menikmati masakanku. Rasanya, ini kali pertama melihat orang lain menyukai apa yang kuperbuat. Sungguh menghangatkan."

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co