Epilog
LANGIT Jeju mendadak mendung. Hujan beserta petir tak kunjung berhenti sejak siang menjelang sore tadi. Sementara, ada dua pria di lorong rumah sakit itu nampak terlihat dengan pose yang sama. Kepala mereka menunduk dengan mata terpejam, sedang kedua tangan saling merepal menyangga kepala.
Dibalik pintu itu, sedang ada seseorang yang sangat mereka cintai. Terbujur lemah tak berdaya, sedang berjuang di antara kehidupan dan kematian dimana yang lebih dulu akan menghampirinya.
"Siapa walinya?"
"Sa—"
"Saya!" ucap Jefri cepat. Pria itu langsung berdiri dan menghampiri sang dokter.
Chand menyusul dibelakangnya.
"Bagaimana istri saya, dok?"
"Stok darah yang sama di RS ini kebetulan kosong. Kita membutuhkan donor darah segera karena pasien kehilangan banyak darah. Kondisinya lemah." Jelas dokter.
Dengan gusar Chand langsung melangkah maju. Pria itu menyodorkan dirinya cepat. "Ambil darah saya sebanyak mungkin."
"Tidak!" sela Jefri cepat. Kedua mata elang itu menatap ke arah Chand tajam. "Aku tidak akan membiarkan setetes darahmu mengalir ditubuh istriku."
Chand menahan kesal. "Hei, bukankah yang terpenting itu Rosa selamat?"
"Benar, pak. Kami harus secepatnya mendapatkan darah yang cocok agar segera melakukan tindakan." Sang dokter mengangguk.
Bibir Jefri menipis. Dia memang tidak rela, namun tak ada pilihan lain yang bisa dijadikannya tumpuan. Akhirnya, meskipun berat hati Jefri mengangguk. Tanpa menatap Chand, ia langsung memberikan intruksi kepada dokter untuk segera mengambil beberapa ampul darah Chand.
***
Keluarga itu berantakan. Jelas amat berantakan. Ny. Park hanya bisa menatap tak berdaya setelah segala hal yang sangat dicintainya perlahan menghilang. Ayah mertua dan suaminya sudah ditahan, dan sekarang rumah megah kebanggaan mereka pun disita polisi. Dengan satu koper baju dan syal musim dingin, Ny. Park kemudian mengontak nomor Jefri—karena Risa tak bisa dihubungi—hanya Jefri dan Risa yang bisa diandalkannya sekarang. Ia yakin kedua orang itu mau menampungnya.
Tidak aktif. Diteleponnya lagi. Tidak aktif. Wajah cantik wanita setengah baya itu mulai memucat, ia gusar karena nomor Risa pun tak dapat dihubungi. Saat ia berniat melakukan panggilan lain, ponselnya berdering.
Nomor asing.
"Ya?"
"Bibi!" seruan terdengar menyambut sapaannya.
"Aeri?" tanya Ny. Park ketika sadar suara si penelepon.
Aeri mengangguk diujung sana. "Gawat!"
"Ada apa, Aeri?"
"Risa ditangkap oleh Jefri setelah mencoba melakukan penembakan terhadap Rosa." Suara Aeri berubah panik. "Aku tidak yakin dia akan selamat kali ini. Aku tidak bisa membantu banyak karena nyawaku juga terancam. Jadi aku memberitahu bibi."
"Tunggu, kenapa Jefri menangkap istrinya?"
"Yang dinikahi dan dicintai Jefri selama ini adalah Rosa. Kekacauan ini disebabkan karena kembalinya Rosa, bi. Risa di sekap dan wajahnya tersiram air keras. Lalu, Risa tidak terima pria yang disukainya direbut, karena itu ia berniat mencelakai Rosa."
Rosa... debar jantung Ny. Park langsung berubah cepat. Otaknya langsung kembali mengingat hal-hal yang terjadi sebelum ini.
Senyumannya...
Cara menatapnya...
Gestur tubuhnya yang sedikit risih kala melakukan skinship dengan menantunya...
Segala hal yang terabai oleh mata itu perlahan menguak. Tanda-tanda keanehan yang terjadi itu seolah semakin memperkuat fakta yang baru saja ia terima.
Jadi, wanita yang menemuinya saat itu adalah Risa? Bukan Rosa?
Ny. Park menggeleng. "Tidak, maafkan aku. Aku tidak bisa menolong. Aku sudah miskin, dan satu-satunya tempat yang akan kukunjungi adalah rumah anak dan menantuku."
"Tapi, bi..."
"Maafkan, bibi Aeri. Sampai jumpa." Putus Ny. Park pada sambungan teleponnya.
Wanita setengah baya itu mengangguk pelan. Benar, ia akan tetap pura-pura tidak mengetahui kalau Rosa adalah Risa. Ia akan tetap berbuat baik agar diterima oleh anak dan menantunya maka hidupnya tidak akan masuk ke dalam jurang. Dia bisa tetap kaya dan tampil paripurna.
Akan dibalasnya seluruh keluarganya yang tiba-tiba menghilang dan cuci tangan ketika suami dan ayah mertuanya ditangkap itu. Dasar lintah darat. Lihat saja!
***
Air mata itu jatuh, turun mengalir melalui pipi hingga merembes pada kain yang dijatuhi. Ia adalah pendosa yang sudah banyak menyakiti hati istrinya. Ia adalah pendosa yang tak tahu malu setelah sekian lama tak datang ke gereja, sekarang memanjat doa teruntuk yang dicintainya. Ia adalah pendosa yang berharap semoga doa-doanya masih diterima.
Ya tuhan, tolong selamatkanlah Rosa...
Ya tuhan, tolong selamatkanlah Rosa...
Ya tuhan, tolong selamatkanlah Rosa...
Jefri menarik napas dengan berat, dadanya terasa sesak dan sakit dalam satu waktu. Masih dengan kedua tangan terkepal di depan dada, dibiarkannya napas itu tertahan hingga menyiksa, lalu diembuskannya dengan segera saat tak sanggup lagi menahannya. Jefri menghirup oksigen dengan memburu, doanya telah selesai dan kedua matanya yang terpejam sudah terbuka. Sedikit merah. Dadanya turun-naik dan jantungnya berpacu cepat, namun perasaannya sudah sedikit melega.
Setelah menyelesaikan doa dan merasakan kesesakan di dadanya yang perlahan membaik, Jefri berdiri, mengambil langkah cepat menuju keluar gereja. Kemudian di kontaknya nomor asisten pribadinya dengan cepat dan membawa ponsel itu ke telinga kanan menunggu hingga panggilannya diangkat. Tak berselang lama, terdengar suara sang asisten pribadi dari ujung sambungan, Jefri lantas langsung mengeluarkan pertanyaan dengan nada datar.
"Eksekusi?"
"Dia tidak mau menjawab."
Jefri menipiskan bibir. "Tarik pelatuknya jika dia masih tak mau menjawab."
"Sebenarnya dia menginginkan bertemu dengan anda, dia akan menjawab segala pertanyaan jika anda langsung yang menanyakannya. Kujawab apa?"
Jefri berdecak dalam hati. Dasar ular tak tahu malu!
"Tinggalkan saja dia disana," Perintah Jefri dengan nada dingin kemudian mengakhiri sambungan telepon mereka.
***
Ruangan putih itu dijaga ketat dengan pasukan pengawal yang membentuk barikade berbadan tegap berdiri di depan pintu. Tak ada seorangpun selain Jefri dan Chand dibiarkan masuk. Bahkan untuk dokter, suster, serta perawat yang bertugas sudah diberikan tanggung jawab khusus dengan scan sidik jari sehingga tidak akan ada yang bisa menipu pengawal-pengawal itu.
Di dalam sana, Rosa berbaring lemah di atas brankar dengan selang infus yang terpasang. Peralatan dokter lengkap yang mengukur kestabilan pasien. Sudah delapan jam pasca operasi berlangsung dan kedua mata cantik itu masih terpejam. Belum ada tanda-tanda akan terbuka sama sekali, sementara pria yang sejak tadi tak melepaskan genggaman dan tatapannya pada wajah Rosa itu masih bergeming tanpa suara. Ia membiarkan keheningan menyelimutinya karena mungkin dengan itu dirinya akan tetap waras. Setelah terus-terusan menyalahkan diri karena kalau Rosa tidak menyusulnya mungkin saja sekarang keadaannya tidak di sini. Tidak seperti ini.
"Aku membiarkan darahmu mengalir ditubuh Rosa," suara Jefri tiba-tiba terdengar. Mengeluarkan sedikit bunyi pintu yang ditutup lalu kemudian kembali hening. Chand menoleh ke sumber suara, dan Jefri kembali melanjutkan dengan nada marah, "bukan berarti kau jadi bisa seenaknya memegang tangan istriku."
"Ayolah, bukan saatnya berdebat soal ini. Aku sedang tidak dalam kondisi baik untuk berkelahi." Chand mengembuskan napas. Jefri benar-benar posesif sekali soal Rosa.
"Maka, jauhkan tanganmu itu dari istriku."
Chand mengembuskan napas. "Baiklah, baiklah." ucapnya lalu melepaskan genggaman tangannya. Ia berdiri saat Jefri melangkah mendekat, paham kalau pria itu hendak mengambil kembali kursinya, Chand lantas melangkah menuju sofa tak jauh dari brankar. "Bagaimana?"
"Apa?" tanya Jefri tanpa menoleh. Menjatuhkan bokongnya pada kursi yang semula diduduki oleh Chand, lalu menjatuhkan tatapan cintanya pada Rosa.
"Risa. Apa alasan dia menembak Rosa?"
Well, meskipun sudah menduga, namun mereka harus membuka mulut itu agar bisa menjadi bukti untuk menyekapnya ke dalam penjara. Karena pergerakan Risa yang secepat kilat itulah yang membuatnya lolos dari kamera cctv sehingga tak ada bukti yang bisa digunakan.
"Dia tak menjawab."
"Lalu, tidakkah orang-orangmu memaksanya? Bukankah kalian tukang paksa?" dengus Chand karena tak percaya kalau Jefri dan orang-orangnya tak mendapatkan jawaban dari Risa.
Jefri mengedikkan bahu, "Nanti saja. Aku yakin dia akan berbicara dengan sendirinya jika terpojok."
***
Mata Jefri masih terpejam, kepalanya terbaring di sisi ranjang yang ditiduri Rosa sementara satu tangannya menggenggam erat tangan Rosa yang terdapat selang infus. Hal yang sudah menjadi pemandangan beberapa hari belakangan ini dan menjadi sebuah bahan gosipan hangat di kalangan para perawat. Mulanya, beberapa dari perawat itu merasa penasaran karena tiba-tiba memiliki pasien VIP di rumah sakit mereka yang akhirnya membuat salah satu dari mereka tergelitik dan mulai mencari nama Jefri di internet. Lalu, gosip mulai menyebar di kalangan tenaga medis karena latar belakang Jefri yang kaya raya—dan ternyata pasien yang dijaga oleh beberapa petugas keamanan profesional itu adalah istrinya.
Belum lagi kehadiran Chand yang sulit dibiarkan saja itu membuat situasi semakin gempar. Mereka menduga-duga apakah pasien tembak itu, Jefri, dan juga Chand memiliki cinta segitiga? Karena pasalnya mereka bisa melihat bagaimana ada sebuah kebencian tak kasat mata yang terlihat jika kedua pria tampan itu sedang dalam satu ruang yang sama.
"Dia benar-benar tipeku sekali, lihat saja bagaimana dia tertidur dengan menggenggam tangan istrinya. Konsisten." ucap salah satu perawat dengan wajah seperti orang sedang kasmaran sambil menatap layar monitor di dalam kantor mereka.
"Kurasa di masa lalu wanita itu pernah menyelamatkan dunia," Timpal seorang perawat lainnya sambil menatap layar monitor yang sama. Keningnya berkerut kemudian, "Pria yang sering berada di ruangan itu kira-kira siapa ya?"
"Tidak tahu, suara mereka tidak terdengar dari sini." Perawat pertama mengembuskan napas. Merasa sedih akan fakta yang ada.
"Chand."
Suara lain terdengar bersamaan pintu yang tertutup membuat kedua perawat yang masih sibuk menatap layar monitor di sana menoleh serentak dan menemukan seorang wanita dengan pakaian dokter sedang menatap sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Kalian bisa dituntut karena hobi yang aneh ini. Tahu?"
"Jadi namanya Chand?"
Dokter wanita itu mengangguk. "Dia sepupu Jefri dan sahabatnya pasien. Jadi, berhenti bergosip dan lanjutkan pekerjaan kalian. Paham?"
"Bagaimana kau tahu, Dokter?"
Seorang perawat lainnya mengangguk. "Dokter kan tidak ada disini saat pasien VIP kita datang. Bagaimana kau bisa tahu, Dok?"
Wanita itu tersenyum kecil dan mengedikkan bahu. "Kutukanku menjadi bagian dari mereka berdua."
Sambil melangkah mendekat ke arah monitor yang sejak tadi diperhatikan oleh kedua perawat tersebut, dokter wanita yang memiliki wajah sinis namun cantik itu memasukkan kedua tangannya ke kantong jas putih sambil memerhatikan ke layar tersebut. "Wah, dia bahkan memasang cctv di kamar istrinya?"
"Jefri sangat romantis sekali." ujar salah satu perawat.
"Aku bahkan tidak pernah melihatnya romantis seumur hidupku." Gumam dokter cantik itu. Pandangannya menyipit saat melihat pergerakan Jefri di layar monitor, kemudian kedua matanya membeliak saat menyadari kalau penyebabnya adalah karena wanita yang berada di brankar itu. Bersamaan dengan suara alarm yang ditekan oleh Jefri dan langsung terhubung ke ponsel dokter penanggung jawab dan ruang istirahat dokter dan perawat, wanita yang berprofesi sebagai dokter itu segera bergegas keluar ruangan.
Rosa siuman!
***
"Woah, aku tidak menyangka kalau kau bisa mempergunakan uang-uangmu seperti ini. Kukira kau hanya tahu soal membeli saham saja." ucap Rachel dengan nada sarkas setelah memasuki satu ruangan VIP dengan penjagaan super ketat. Ia tahu persis kalau biaya permalam di kamar ini sangat fantastis, dan setahunya baru orang nomor satu di Negara ini yang pernah menggunakan kamar jenis ini. Artis terkenal pun masih menggunakan kelas dibawah kamar ini. Sorot mata yang seolah mengejek khas dokter muda nan cantik itu kemudian menatap ke arah brankar yang kini menyuguhi pemandangan super menjijikan—bagi Rachel—dan membuatnya ingin memutar bola mata berulang kali. "Aku tidak menyangka kalau kau bisa romantis dengan wanita. Jadi, Rosa kenapa?" ditatapnya wanita cantik diatas brankar dengan baju pasien itu seksama.
Rachel tentu saja tahu ceritanya, bahkan dia tahu kebodohan kakak sepupunya yang dulu salah cara mengambil hati pujaan hati dan berakibat dibenci oleh sang pujaan hatinya itu. Namun, sejujurnya ia sedikit kaget karena akhirnya Jefri bisa bersama Rosa karena setahunya terakhir sebelum ia ditugaskan di Jeju, Jefri masih berhubungan dengan saudara kembar Rosa, Risa. Saat pertunangan dan pernikahan digelar ia memang kaget karena yang menjadi pengantin wanitanya bukan wanita yang pernah sesekali mengobrol dan sedikit agak dibuat-buat jika berbicara—Risa—melainkan orang lain yang begitu mirip dengan Risa—melihat bagaimana gestur pengantin wanita yang nampak canggung dan tidak nyaman di hari besarnya. Tapi, lagi-lagi Rachel tentu saja tak ambil pusing karena itu bukan urusannya.
"Aku benar-benar menyesal mengizinkanmu masuk ke ruangan ini." timpal Jefri dingin. Pandangannya masih lurus menyeka tubuh Rosa dengan lap basah.
Rachel mendengus. "Rosa saja tidak keberatan."
"Kau tahu aku Rosa?" tanya Rosa heran menatap kearah wanita berpakaian dokter yang kini duduk di sofa nyaman dekat brankar.
Rachel mengangguk. "Orang bodoh ini yang terus-terusan memberitahu perbedaan kau dan kembaranmu. Jadi, aku pun langsung paham kalau yang dinikahi Jefri adalah pujaan hatinya sendiri. Pantas saja wajahnya sumringah sekali."
"Hei, kau tidak memiliki pasien? Kenapa terus berada disini!" dengus Jefri.
"Pasienku ada di sini. Aku sudah mengambil alih tugas, jadi kakak ipar tersayangku sudah berada dibawah tanggung jawabku." Ucap Rachel dengan nada bangga. "Omong-omong, dimana Chand?"
***
"Kau yakin tidak ingin menemui Rosa dulu?" tanya bibi Moon, saat melihat Chand sedang membereskan kopernya. "Dia sudah sadar."
Chand menarik napas, menatap bibi Moon sebentar sebelum melanjutkan packing. "Tidak. Aku tidak ingin terus-terusan menyesal."
"Bukan salahmu atas penembakan Rosa di bandara itu, nak."
"Tapi, kalau saja Rosa tidak menyusulku semuanya tidak akan seperti ini..." Chand mengesah.
Sejujurnya ini adalah hal yang mengganggunya. Ia benar-benar merasa bersalah dan teramat takut jika Rosa tak bisa terselamatkan, ia sangat mencintai wanita itu sampai-sampai rela membiarkan hatinya teriris sendiri. Mungkin benar kata orang, bahwa definisi terbesar dari cinta adalah mengikhlaskan.
Chand merasakan tangan bibi Moon yang menepuk salah satu pundaknya memberi semangat. Kepalanya menoleh, dan mengulas senyum pada wanita baya yang sudah dianggapnya seperti ibunya sendiri itu. "Sampaikan salamku untuk Rosa jika bibi hendak bertemu dengannya. Ya?"
"Dia pasti akan menanyakanmu."
"Katakan kalau pekerjaanku di Seoul benar-benar sudah menunggu."
Bibi Moon menghela napas. Bicara panjang lebar dengan Chand tidak akan pernah menemukan titik ujung sesuai kemauannya jika pria itu sudah mengambil keputusan. Jadi, yang dilakukannya hanyalah mengangguk dan mengiakan.
***
"Kubilang biarkan aku masuk!" Ny. Park mengatakan dengan suara keras pada sekuriti yang menghalangi jalannya. Kedua matanya menatap kesal dari balik kacamata hitam, menatap sekuriti yang tidak memberikannya izin naik ke lantai atas dimana putrinya di rawat. "Kau tidak tahu siapa aku?"
"Pak Jefri hanya memberikan daftar nama-nama yang boleh diantar ke lantai tempat istrinya di rawat. Dan nama anda tidak ada dalam daftar ini." ucap sekuriti itu lagi sambil menunjukkan list daftar dari ponselnya. Ini adalah lift khusus menuju ruang VIP yang menggunakan kartu akses selain Jefri, sekuriti lah memegang kartu akses itu. Karena itu, merasa bertanggung jawab penuh dengan tugas yang diembannya, sang sekuriti benar-benar melaksanakan tugasnya dengan baik.
"Aku ibu dari pasien. Aku adalah ibu mertua Jefri. Kau akan celaka kalau menghalangi jalanku naik ke atas untuk bertemu dengan putriku, tahu? kau hanya sekuriti disini." ucap Ny. Park dengan nada marah dan merendahkan.
"Sekali lagi tidak bisa. Maaf."
Ny. Park mengembuskan napas. Berulang kali sejak tadi panggilannya sama sekali tidak diangkat oleh Jefri. Pesan-pesan yang dikirimnya pun tidak dibalas, padahal ia sudah bersusah payah terbang ke Jeju agar hidupnya bisa kembali normal, tetapi sekarang ia malah tidak diperbolehkan bertemu dengan anak dan menantunya. Dasar sekuriti sialan!
Kepala wanita setengah baya itu sedikit menoleh dan menemukan asisten pribadi Jefri yang baru melangkah masuk. Dengan cepat dia melambai agar pria muda itu bisa melihatnya, dan ketika pandangan mereka bertemu Ny. Park segera tersenyum lebar. Menoleh sebentar ke arah sekuriti itu sambil mengatakan, "Tamat riwayatmu!" dengan nada sinis, lalu melenggang mendekati orang kepercayaan Jefri yang sedikit kaget melihatnya.
"Hyun, untung saja ada kau." Ucap Ny. Park sambil menghela napas lega.
Dengan sikap defensif khasnya, Hyun memandang dingin pada wanita setengah baya yang berdiri tak jauh di depannya itu. "Ada apa?"
"Sekuriti itu melarangku masuk menemui Rosa—maksudku Risa."
Hyun menaikkan alis. "Tidak sembarang orang bisa naik ke atas."
Ny. Park memutar bola mata. "Tetapi kau tahu kalau aku bukan sembarang orang, kan?"
Dengan tatapan yang masih sama, Hyun segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi satu nomor. Dalam bunyi ketiga panggilan itu diangkat dan suara Jefri yang langsung terdengar.
Sialan! Aku sejak tadi meneleponnya tak diangkat-angkat! Batin Ny. Park kesal.
"Ya?"
"Mertuamu ada di sini." Hyun menginfokan langsung dengan mata memandang lurus pada wanita setengah baya itu. Ponselnya yang semula ia taruh ditelinga kemudian diarahkannya ke depan Ny. Park sambil menekan tombol loudspeaker. "Apa yang harus kulakukan?"
"Kau perlu bertanya soal itu?"
"Nah aku benar kan," Ny. Park langsung menimpal dengan sikap jumawa. "Ayo, kita harus segera ma—"
"Selain daftar yang kuberikan. Orang lain dilarang masuk." Lanjut Jefri yang langsung memotong suara Ny. Park.
Kedua mata itu membeliak dan dengan cepat Ny. Park segera melepaskan kacamata hitamnya. "Jefri, aku mertuamu."
"Istriku tidak ingin bertemu denganmu."
"Aku ibunya. Aku Ibu kandungnya Rosa!"
"Jadi, anda sudah tahu?"
Ny. Park sedikit gelagapan. Dia berdeham, "Tentu saja, bagaimana bisa aku tidak mengenali anakku sendiri."
Terdengar suara tertawa mengejek diujung sambungan sebelum panggilan telepon itu terputus secara sepihak. Masih dengan tatapan tak percaya, Ny. Park menatap Hyun yang sedang memasukkan ponselnya ke saku jas. "Kau tentu tidak menurutkan? Aku ibu Rosa."
"Jefri adalah bosku, bukan kau. Jadi, kaupikir aku akan menuruti perintah siapa?" ucap Hyun dingin sebelum berlalu meninggalkan Ny. Park yang masih terpaku ditempatnya.
***
"Siapa yang menelepon?" tanya Rosa saat Jefri berjalan kembali mendekat ke brankar tempatnya berbaring. Suara Jefri yang mengecil membuat Rosa tak bisa mendengarkan percakapan pria itu. Tidak seperti biasanya.
"Hyun."
"Kenapa kau harus mengangkatnya jauh? Biasanya tidak." Rosa mengerutkan dahi.
Jefri tersenyum kecil, menyentuh dahi yang berkerut itu dan memijitnya lembut sebelum memberikan kecupan di sana. "Kau tersinggung karena aku meneleponnya jauh?"
"Tidak. Hanya saja sedikit aneh."
"Ada seseorang yang tidak kausukai berusaha untuk naik ke sini," Jelas Jefri dengan suara lembut. Satu tangannya bergerak memainkan helaian rambut Rosa yang menutupi pelipisnya. "dan aku melarangnya." Tambah Jefri.
"Siapa?" suara Rosa berubah datar.
Jefri sedikit meragu. Menimang kembali apakah ia akan mengatakannya pada Rosa, ataukah tidak. Namun, karena ia tidak ada hal yang ingin disembunyikan, akhirnya Jefri memilih untuk mengatakannya.
"Ibumu."
Bisa dilihat bagaimana tubuh Rosa yang menegang di sana. Pandangan wanita itu berubah dingin, napasnya sedikit tercekat namun berusaha untuk dilawannya perasaan itu. Rosa telah menyaksikan kejatuhan dari semua orang yang dibencinya. Namun, perasaannya tak melega sedikitpun. Perasaannya tak membaik sedikitpun. Akhirnya membuat Rosa berpikir, kalau segala kebencian yang ia pupuk itu sama sekali tak akan hilang hanya karena melihat kejatuhan orang-orang itu. Bahwa mungkin, yang terpenting adalah bagaimana dirinya bisa mulai memaafkan diri sendiri dan mulai untuk melupakan. Kebahagiaannya itu penting, seperti kata Chand.
Karena itu, ditatapnya Jefri dengan kondisi lebih baik, lalu berkata. "Aku ingin bertemu dengannya."
"Kau yakin?"
Rosa mengangguk.
"Aku akan menyuruh Hyun untuk menyiapkan tempat."
"Terima kasih." Ucap Rosa sambil mengulas senyuman.
***
Kebisuan yang menyergap dalam beberapa detik dan Rosa membiarkan ketenangan itu sedikit lebih lama sehingga ia bisa memantapkan diri dan mengontrol emosinya. Duduk di atas sofa disebuah ruangan khusus yang nyaman dengan tiang selang infus yang berdiri kokoh disebelahnya, Rosa akhirnya menatap wanita setengah baya yang juga sejak tadi diam tak bersuara.
"Ada apa?"
"Apa kau baik-baik saja, nak?" tanya Ny. Park pada Rosa.
Rosa tersenyum kecut. Pertanyaan itu jelas hanyalah basa-basi semata, namun ia benar-benar tak bisa menyembunyikan perasaan hangat yang menguar saat ditanya seperti itu. Pertanyaan yang dulu sering ia terima sebelum segalanya berubah menjadi neraka.
Mengangguk pelan, Rosa menjawab, "Iya."
"Ibu minta maaf soal sikap ibu selama ini..." Ny. Park melangkah mendekati Rosa, berlutut di depan Rosa sambil memegang kedua tangan Rosa erat. Kepalanya sedikit mendongak agar bisa menatap anaknya itu, "Maafkan ibu, ibu tahu aku tidak bisa menerima maaf darimu. Tapi, ibu benar-benar tidak punya siapa-siapa lagi. Semuanya pergi."
"Mengapa kalian tidak pernah menanyakan kabarku sama sekali selama ini?"
"Itu karena..." Ny. Park tergagap. Membuat Rosa tertawa kering, kemudian langsung melepaskan genggaman tangan Ny. Park.
Rosa berdiri, membawa tiang selang infusnya melangkah ke jendela. Pandangannya tak fokus, menatap pemandangan perkotaan dari jendela besar itu dengan sendu. "Apakah ibu tahu seberapa sering aku menangis, mengeluh, dan mencoba untuk bunuh diri?" ada getar dalam suara itu.
Ny. Park menelan saliva kering.
"Setiap hari aku berdoa pada Tuhan, memohon agar Ayah atau ibu menelepon dan menanyai kabarku. Aku tidak meminta apapun, aku hanya ingin kalian mengingatku. Mengingat kalau ada aku—anak kalian yang juga membutuhkan kalian. Hingga akhirnya aku kelelahan sendiri, hingga akhirnya bentuk kerinduanku itu berubah menjadi kebencian yang terpupuk."
"Rosa..." Ny. Park melangkah, namun langkahnya terhenti saat suara Rosa kembali terdengar.
"Aku...," Rosa menggigit bibir bawahnya, mengusap air mata yang mengalir dipipi menggunakan punggung tangan. Napasnya tersendat, namun susah payah ia tetap melanjutkan. "Aku hanya ingin dicintai oleh kalian..."
"Ibu tahu ibu salah, maaf..."
Tubuh Rosa berbalik, menatap wajah pucat Ny. Park yang tak jauh darinya. "Aku akan menyuruh Jefri untuk melepaskan Risa agar dia bisa tinggal dan menjaga ibu. Aku juga akan memberikan ibu dan Risa sebuah tempat tinggal. Dan aku memaafkan ayah—namun maaf, karena hukum tetap akan berjalan."
"Rosa, nak..." air mata Ny. Park pecah. Berlinang jatuh melewati pipinya seolah ditampar kenyataan ia akhirnya sadar kalau apa yang telah diperbuatnya adalah sebuah dosa besar.
"Aku hanya meminta agar Ibu, Risa, Ayah, Kakek, dan semua anggota keluarga Park menyadari, bahwa menilai orang lain dari fisik adalah hal yang tidak manusiawi."
"Bisakah kita mulai dari awal? Ibu berjanji akan memperlakukanmu lebih baik."
Sebuah senyuman tipis tersungging diwajah Rosa. "Aku sedang dijalan untuk memaafkan dan melupakan. Pelan-pelan, saat aku sudah sepenuhnya sembuh, aku akan menemui kalian dengan apa adanya diriku."
Langkahnya pelan hingga berada di depan Ny. Park. Ada keinginan kecil untuk memeluk wanita yang dipanggilnya sebagai ibu itu, namun rasa sakit tak bisa dihindari. Ia masih luka, dan ia perlu menyembuhkan. Mungkin itu hanya sebuah pelukan, namun Rosa yakin jika hal itu ia lakukan, ia mungkin akan hancur berkeping-keping. Jadi, yang dilakukan Rosa hanyalah menatap ke dalam bola mata ibunya sebentar, kemudian melangkah pergi meninggalkan.
Meletakkan segala dendamnya, meletakkan segala kebencian yang membuat pundaknya berat selama ini. Rosa melangkah keluar dengan perasaan—yang tak disadarinya—sedikit lebih baik dari sebelumnya.
***
SELESAI
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co