Truyen3h.Co

Volcano Erupt

dua.

authoriya

Suzy memandangi pantulan dirinya lewat cermin yang berdiri vertikal di samping lemari pakaian. Dia masih hanya mengenakan pakaian dalam, sedangkan gaun satin nude berpotongan dada rendah dengan tali kepang di bagian punggung sedang tergantung luruh di pegantungan, menunggu si pemilik palsu untuk memakainya.

Sebuah senyuman sinis terukir di wajah cantik itu. Seperti yang di duga, pakaian ini adalah ciri khas Lucy, saudaranya. Jika ia lebih memilih mengenakan pakaian yang tertutup dan tebal, maka Lucy akan dengan senang hati menonjolkan bagian-bagian tubuh yang menurut saudaranya itu bagus.

Memang dasar Lucy yang di gilai oleh setiap orang, karena itu perempuan itu selalu percaya diri mengenakan pakaian terbuka seperti itu. Suzy mengambil napas, diliriknya sekali lagi gaun satin itu nanar hingga tanpa sadar kesepuluh jemarinya mengepal. Sungguh ia tidak ingin mengenakan gaun bermodel seperti itu, tetapi sekarang ia sedang dalam masa penyamaran sebagai Lucy, jadi untuk menuntaskan misi balas dendamnya yang harus ia lakukan adalah dengan mengenakan segala macam atribut ke-Lucy-an.

"Lu, sayang, kau masih lama?" sapaan ramah dari luar pintu membuat Suzy terkesiap.

Dipandangnya secara sinis ke pintu yang di ketuk sekali itu, yang kini menampilkan sebuah siluet perempuan. Itu ibu Lucy. Dan, ibunya juga.

Tetapi perempuan setengah baya itu bahkan tidak pernah menganggapnya ada dan selalu mengatakan pada khalayak ramai kalau anak mereka hanya satu.

"Aku akan mengakhiri ini secepatnya." desis Suzy pelan sebelum ia berdeham dan menormalkan suara, lalu dengan sedikit berseru--namun masih dalam intonasi yang lembut--ia membalas, "Ayah dan Ibu sudah siap?"

"Ya. Dan Myungsoo sudah menunggumu dibawah, Lu."

Suzy tersenyum miring. "Katakan padanya untuk menunggu sedikit lebih lama, bu. Dan hati-hati dijalan." karena kalian harus selalu selamat sampai aku mengeksekusi kalian satu per satu dengan kejatuhan perusahaan dan anak kesayangan kalian itu... Imbuhnya dalam relung hati.

"Tentu saja, sayang. Ibu dan ayah duluan ya?" terdengar kekehan ibu dari balik pintu.

"Ya." seru Suzy dengan suara riang, namun berbanding terbalik dengan ekspresi wajahnya yang sedingin es.

Tanpa menunggu lama lagi, Suzy segera menyambar gaun satin itu dan memakainya. Setelah memerhatikan penampilannya sekali lagi di depan cermin, Suzy segera berjalan mengambil tas-nya yang ia letakkan di atas meja. Sesaat ia termenung, matanya tertuju pada lipstik dengan warna hangat kesayangannya. Kemudian, menatap ke arah meja rias yang terdapat berbagai macam dan warna lipstik disana. Tidak ada satupun lipstik yang memiliki warna yang sama seperti yang ia miliki. Namun, dia tidak mungkin mengenakan lipstik milik Lucy. Cukuplah ia bernegosiasi dengan mengenakan gaun ini, dan dia tidak akan membiarkan ego-nya mengalah lagi. Karena itu, dipakainya lipstik miliknya sendiri lalu meraih satu ponsel yang sama dengan milik saudaranya dan memasukkannya ke dalam tas. Kemudian, ia segera mengambil langkah keluar kamar.

Kinerja jantung Suzy semakin terpompa cepat ketika ia melihat lelaki yang sedang duduk pada sofa di ruang tengah dengan kepala menunduk menatap ponsel. Tanpa sadar wajahnya berubah dingin dan kesepuluh jemarinya mengepal.

Rasa bencinya terhadap seluruh orang-orang yang berkontribusi membuat masa lalu-nya seperti sampah semakin mengental. Suzy mengatupkan rahang, kobaran api terpancar di kedua manik matanya, namun segera berubah dengan raut wajah sumringah kala lelaki itu mendongak dan menoleh ke arahnya.

Aku sudah mirip dengan Lucy, dia tidak akan mengenaliku... Gumam Suzy terus di dalam hati.

Myungsoo berdiri, terpaku selama beberapa detik menatap sosok yang berdiri di depannya. Perempuan yang sama dengan perempuan yang mencuri hatinya sejak dulu.

"Kau cantik sekali," bisik Myungsoo langsung menarik Suzy ke dalam pelukan. "Aku merindukanmu..." bisiknya sambil mencium bahu Suzy yang telanjang dengan lembut.

Tubuh Suzy menegang. Kedua matanya hampir copot saat keintiman yang diterimanya begitu mendadak ini. Satu-satunya hal yang tidak pernah dibayangkan Suzy selama ini, membuatnya tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya.

Setelah beberapa saat membiarkan Myungsoo memeluknya, Suzy akhirnya bisa menemukan kembali suaranya yang hilang.

"Aku bahkan sudah mengirimimu foto setiap hari." gumam Suzy sambil membalas pelukan itu. Tangan Suzy bergerak mengusap punggung berlapis tuksedo hitam itu tanpa perasaan. Kemudian, ia menguraikan pelukan mereka.

Suzy tidak tahu apakah Lucy selalu lebih dulu menguraikan pelukan mereka atau malah Myungsoo yang lebih dulu. Tetapi, rasanya ia tidak ingin berlama-lama melakukan kontak fisik dengan lelaki di depannya ini, karena Suzy takut pertahanan dirinya hilang dan membuat rencananya gagal total.

Melalui ponsel Lucy yang diberikan orang suruhannya, Suzy kemudian mempelajari isi ponsel itu. Bagaimana dan siapa saja orang-orang yang dekat dengan Lucy, dan dari sana juga Suzy tahu kalau hampir setiap hari Lucy dan Myungsoo bertukar pesan. Batinnya terkekeh sinis, tidak heran karena sejak dulu Myungsoo begitu baik dengan Lucy dan ia sudah paham kalau cepat atau lambat kedua orang itu akan bertemu di pelaminan.

"Tetapi melihatmu secara langsung adalah hal yang paling membuatku bahagia." ditariknya kembali Suzy hingga menumbur tubuhnya. Pandangan penuh cinta kembali Myungsoo tampilkan, kemudian satu tangannya bergerak memegang dagu perempuan dalam pelukannya seiring dengan kepalanya yang mulai menunduk.

Namun, kedua alis Myungsoo langsung terangkat ketika Suzy mendorong tubuhnya mundur. Lelaki itu menatap heran kepada perempuan yang sebentar lagi menjadi tunangannya itu, "Lu?"

"Mereka sudah menelpon," ucap Suzy sambil menggoyangkan ponselnya. Kemudian mencoba menampilkan ekspresi bersalahnya sambil mengusap sebelah pipi Myungsoo pelan. "Aku lebih merindukanmu. Tapi, ini bukan waktu yang tepat. Ayo."

Lalu, ia berjalan lebih dulu keluar rumah. Langkahnya terhenti menunggu Myungsoo membukakan pintu, pandangannya menatap lurus ke depan mobil yang familiar. Sebuah mobil yang sama dengan yang sering dikenakan Hanbin, tidak hanya mereknya, namun juga warnanya.

Baiklah, aku hanya perlu membayangkan Hanbin yang sedang mengendarai mobil ini. Ya. Aku hanya perlu membayangkan itu. Gumam Suzy dalam hati sebelum masuk ke dalam mobil.

***

Suzy terkesiap, menoleh cepat ke arah Myungsoo yang tiba-tiba mengulurkan telapak tangan menyentuh dahinya.

"Kau sakit?" tanya Myungsoo bernada khawatir. "Kau tidak seperti biasanya."

Jantung Suzy langsung memompa cepat, dia panik bukan main. Astaga, apakah dia akan ketahuan?

Tidak, tidak boleh. Dia tidak boleh ketahuan.

Dengan merepalkan kata-kata itu, Suzy langsung merubah posisi. Diambilnya jemari Myungsoo dan meletakkan ke dalam pangkuan sambil menggenggamnya, lalu dia menatap lembut lelaki di sebelahnya. Ia menggeleng, dan memupuk kebohongan. "Aku hanya sedikit lelah karena perjalanan dari Jeju."

"Kau yakin?"

Suzy mengangguk. Kemudian ia melepas sabuk pengamannya, "Ayo."

Tangannya hendak membuka pintu mobil ketika Myungsoo menarik lengannya hingga membuat perempuan itu berbalik dan terhempas ke depan. Suzy meletakkan kedua tangannya di depan dada bidang Myungsoo, kepalanya mendongak dan menemukan sinar mata Myungsoo meredup menatapnya.

"Kita bahkan belum menuntaskan kerinduan kita tadi, Lu." bisik Myungsoo dengan suara parau.

"Kerinduan?"

Dan sebelum Suzy menyadari, Myungsoo sudah melumat habis bibirnya bersama tangan yang bergerak aktif membelai punggung semi telanjangnya. Dengan kedua napas saling memburu; yang satu penuh dengan kobaran gairah bercampur perasaan campur aduk, sedangkan yang lain mati-matian menahan perasaan jijik dan kebencian.

"Gaun ini terlihat berlipat lebih cantik saat sudah dipakai olehmu..."

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co