Truyen3h.Co

Volcano Erupt

tiga.

authoriya

Lucy nampak sedih melihat bagaimana ayah dan ibu yang selalu menomorsatukan Suzy, saudara kembarnya, hanya karena dia yang memiliki imun lemah. Ayah dan ibu yang lebih menyuruh Lucy berdiam dirumah bersama pengasuh, melarang Lucy untuk mengikuti segala kegiatan karena jika Lucy sampai drop maka hal itu bisa membuat malu keluarga besar.

Lucy tidak akan pernah melupakan bagaimana ayah dan ibu yang tersenyum bangga, menikmati segala atensi yang diberikan oleh semua orang yang menyelamati mereka karena Suzy memenangkan lomba modelling tingkat Asia. Ayah dan ibu, serta seluruh keluarga besar nampak tersenyum lebar ketika pemberitaan-pemberitaan di televisi sibuk membahas saudara kembarnya itu. Dan sekali lagi, Lucy tidak bisa mengikuti jejak Suzy.

Kekesalan Lucy nampak semakin terpupuk ketika Suzy dengan sok perhatian turut mengenalkan Lucy kepada teman-teman sesama model perempuan itu. Lucy yang merasa iri karena di-umur yang masih menginjak 14 tahun dan Suzy sudah memiliki banyak teman dan dipuja hampir seluruh orang, membuat Lucy nekat melakukan hal yang membahayakan.

Waktu itu, tepatnya di minggu sore ketika Lucy dan Suzy sedang berada di rumah hanya ditemani dengan ART saja, Lucy meminta Suzy untuk memasakinya ayam goreng. Dan ketika Lucy sedang membawa sisa minyak goreng panas ke wastafel, perempuan itu tiba-tiba tersandung sehingga menumpahkan sedikit minyak goreng sampai mengenai pipi kiri Suzy. Ayah dan ibu sontak panik, mereka langsung membawa Suzy ke rumah sakit segera. Namun karena lukanya cukup besar hingga membekas, membuat Suzy menangis hingga ia tidak ingin keluar dari kamar selama semingguan. Kemudian keadaan berubah total, ayah dan ibu serta keluarga besar mereka yang menganggap luka itu adalah sebuah aib bagi gen sempurna mereka.

Lalu, tak membutuhkan waktu lama Lucy mengambil semua atensi. Semua orang. Menggantikan Suzy dari karir modelingnya, ikut balet dan juara kelas. Sedangkan Suzy, harus menelan pil pahit dengan keburukrupaannya.

Dua tahun kemudian, Suzy dan Lucy masuk ke sekolah yang sama. Dengan perbandingan yang terus menjadi bayangan mereka.

Lucy yang cantik, Suzy si itik buruk rupa.
Lucy yang jago modeling, Suzy si kuper.
Lucy yang pintar, Suzy yang jenius. Tetapi, nyatanya hidup di dunia ini fisiklah yang utama karena sepintar apapun juga, Suzy tidak akan pernah bisa 'diterima' .

Bagi Suzy, kehidupan sekolahnya adalah neraka. Dia tidak menyukai orang-orang disini, dia juga tidak menyukai sanak keluarganya. Mereka adalah orang-orang yang hanya menilai orang lain dari penampilan. Menganggap mereka sebagai pajangan. Dan hidupnya semakin kacau ketika Myungsoo--teman di TK Lucy dan Suzy dan merupakan sahabat Lucy--menjadi murid baru di sekolah mereka. Lelaki dengan lengkung mata tajam itu tiba-tiba datang, mengambil surat cinta yang dibuatnya semalaman untuk diberikan kepada orang yang Suzy sukai dihari valentine.

"Woah, surat cinta!" ucap Myungsoo, meraih dengan paksa surat dengan amplop berwarna merah muda itu. Sedikit menaikkan tangannya ke atas ketika Suzy mencoba mengambil amplop itu. Seringaian nakal semakin tercetak di wajah Myungsoo, namun dahi itu perlahan mengernyit ketika melihat gambar hati pada pembuka amplop. Myungsoo menatap Suzy, "Kau menyukai seseorang?"

"Kembalikan." Suzy mencoba menggapai milikknya, namun usahanya langsung dipatahkan oleh Myungsoo dengan mudah.

"Siapa?"

"Bukan urusanmu!" semprotnya.

Mendengar nada ketus Suzy, Myungsoo kemudian membuka amplop itu dan mulai membaca isinya. Sambil mematahkan setiap tindakan Suzy untuk mengambil kembali amplopnua, Myungsoo menaikkan alisnya tinggi-tinggi.

"Kau suka Eunwoo?" tanya Myungsoo setelah selesai membaca surat itu.

Sambil menahan kesal, Suzy langsung mengambil surat cintanya itu dan menatap Myungsoo dengan pandangan jengkel serta mata memerah. Tangannya tanpa sadar meremas kertas yang ia pegang itu hingga lecak. Tak menjawab pertanyaan Myungsoo, Suzy memilih pergi dari sana. Namun, baru juga ia balik badan, Jimin dengan kamera ponsel ditangannya sudah merekam kedua orang itu sejak tadi.

Jimin terkekeh, "Woah, jadi bayangannya Lucy suka dengan kekasihnya Lucy?! Daebak!"

"Apa...?" Suzy membeliakkan mata.

"Eunwoo menembak Lucy di lapangan basket baru saja."

Tak perlu waktu lama untuk menjadi viral, karena hari itu juga Suzy langsung mendapatkan tatapan sinis dan hujatan--meskipun jelas Lucy sudah menolak Eunwoo dengan alasan saudaranya telah menyukai lelaki charming itu.

Segala hal yang terjadi bersumber dari Myungsoo. Kalau saja lelaki itu tidak menjadi menyebalkan dengan membaca milik orang lain, maka tidak akan ada yang tahu perihal isi surat cinta itu.

Dan sejak hari itu, Suzy menambah satu daftar orang yang ia benci; Myungsoo.

***

"Jadi, setelah pertunangan ini. Ada baiknya kita langsung membicarakan hari baik untuk melangsungkan pernikahan anak-anak kita." kekeh pria setengah baya dengan jas hitam bernama Kim Seungmo. Ayahanda Myungsoo.

"Benar, benar. Lucy sangat cantik dan memesona sampai-sampai Myungsoo tidak bisa melepaskan pandangannya dari Lucy barang sedetikpun." timpal perempuan bersanggul dengan kalung diamond super besar. Bibi Suzy dan Lucy, Hwang Nara.

"Tentu saja. Gen keluarga Bae memang tidak bisa diragukan lagi. Hohoho." Seungmo tertawa renyah. Membuat semua yang sedang mengitari meja makan itu ikut tertawa.

"Myungsoo, apa kau memiliki permintaan lain untuk acara pernikahan kalian?" suara ayah terdengar. Tangannya menepuk pelan bahu sang puteri. "Anakku, kau juga memiliki permintaan khusus?"

"Benar, acara pernikahan ini harus mewah dan elegan. Semua mata akan tertuju pada keluarga kita." timpal Hwang Nara, yang di amini oleh Ny. Kim dan ibunda Suzy dan Lucy.

Raut wajah dingin Suzy berubah seketika, senyuman ramah menyapa disana. Ditatapnya sang ayah tepat di manik mata sebelum tatapannya berpindah kepada pria yang duduk di seberangnya, "Aku ikut Myungsoo dan keluarga saja bagaimana bagusnya."

Myungsoo tersenyum. "Entahlah, karena aku juga baru pertama kali soal ini, sepertinya aku akan membiarkan ibu, ibu mertua dan juga bibi Nara untuk menghandle semuanya."

"Call!" bibi Nara langsung bersorak setuju.

Semua kolega dan kerabat yang ada disana kemudian larut dalam euforia kebahagiaan.

Suzy tersenyun sinis memandang jus anggur miliknya yang masih terisi penuh. Tangannya kemudian terulur mengambil tangkai gelas kaca itu, menggoyangkan airnya pelan sebelum menyesapnya. Cairan dingin itu mampu merilekskan syarafnya sementara. Ini benar-benar tidak masuk akan, kenapa seluruh keluarganya sama sekali tidak mengingat bahwa mereka memiliki anak lain di negeri orang sana? Bahkan, mereka tidak merasa harus mendatangkan anak itu kesini untuk ikut menyungseskan acara pertunangan yang penuh kebahagiaan ini?

Karenanya, dengan menyetel tampang inosen ia menoleh menatap ayah dan ibunya bergantian. "Apa kita tidak sebaiknya mengundang Suzy juga? Biar bagaimanapun di--"

"Puteriku hanya satu." Shijin berdeham. Menyela omongan puterinya dengan lantang.

Suzy mengatupkan bibir, "Ayah, dia bahkan--"

"Kau kenapa, Lu?" ibu mengusap lengan Suzy pelan. Menatap puterinya dengan pandangan khawatir. "Biasanya kau tidak ingin membahas orang itu. Kita sudah sepakat soal ini kan?"

Kesesakkan di dada Suzy semakin membuatnya tercekat. Napasnya berubah menjadi pendek-pendek, kala traumatisnya datang lagi. Suzy memang selalu seperti itu jika dia terlalu berpikir keras yang membuat dadanya sesak. Tangannya gemetar, namun Suzy berusaha menahannya. Dia tidak bisa terkena serangan disini, tidak bisa. Segalanya akan hancur, rencananya akan hancur.

Beruntung, ponselnya di atas meja berdering, tanpa nama muncul disana. Suzy memaksa bibirnya untuk tersenyum, "Maaf, aku harus mengangkat telepon sebentar." katanya langsung berjalan menjauh secepat mungkin dari sana.

Suzy berlari lakang putang menuju toilet kosong di koridor belakang dan segera mengunci dirinya disana. Perempuan itu merosot ke lantai sambil mencari inhaler-nya dari dalam clutch lalu segera mendekatnya ke wajah. Napasnya memburu, dadanya turun naik dengan cepat. Ketika serangannya telah selesai, Suzy kemudian meringkukkan dirinya dan menangis tanpa suara dengan menutup mulutnya menggunakan telapak tangan.

Diliriknya ponsel yang tergeletak tak berdaya di ubin toilet ketika sebuah pesan masuk disana. Dari nomor yang sama dengan yang menelepon tadi.

Buka pintunya, aku di depan.

Suzy bangkit, menghapus air matanya dengan punggung tangan, kemudian membuka pintu toilet itu. Pandangannya langsung melahap pria bertubuh tinggi dengan tuksedo abu-abu yang sekarang sudah menarik tubuhnya meluruh ke tubuh pria itu. Membuat Suzy kembali membasahi pipinya yang bahkan belum mengering dari sisa air mata tadi.

"Hanbin-ah..."

"Sssst," Hanbin mengusap puncak kepala Suzy dengan lembut. "Kau baik-baik saja sekarang. Kau baik-baik saja." bisik pria itu.

Sementara disudut yang tak terlihat, seseorang tengah berdiri dibawah kegelapan dengan satu tangan menggenggam jas yang ia lepas tadi, hendak ia berikan kepada wanitanya yang kini berada dalam pelukan pria lain itu, namun gagal karena langkah kaki keburu menginterupsinya.

***

Kok hanbin ada di koreaaaa? Jawaban di chap. 4 ntar. Ada pertanyaan lainnya?

Ahya, good news! Bahwa ini gak jadi 3 part (tapi gak akan lebih dr 10). Dah jangan protes lagi ye pipel.

Selamat hari minggu. God bless us!

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co