Truyen3h.Co

Volcano Erupt

duapuluh sembilan.

authoriya

Ini adalah hal tercanggung yang pernah dirasakan Suzy seumur hidupnya. Makan malam ini terasa berat sekaligus mendebarkan. Sebisa mungkin ia menahan diri untuk tidak melirik pria dalam jarak sentuh itu, untuk tidak mengamati wajahnya yang terlihat letih itu, dan untuk tidak bertanya kabar. Jika ia tidak menahan diri, entah apa yang mungkin akan dipikirkan Myungsoo.

Dia. Membenci. Pria. Itu.

Ya.

"Kenapa istrimu tidak diajak?"

Uhuk! Suzy yang baru memasukkan sesumpit nasi ke dalam mulutnya langsung terbatuk ketika mendengar pertanyaan bibi Moon yang ditujukan pada Myungsoo. Wanita itu bergerak memukul dadanya pelan, sementara langsung menerima sodoran air yang diberikan Myungsoo padanya.

"Kau tak apa?"

Suzy mengangguk sedikit kikuk. "U-uh, terima kasih."

"Kau selalu tersedak tiap kali sedang makan. Kau harus lebih berhati-hati." Ujar Myungsoo dengan nada khawatir.

Baik keduanya sama sekali tidak menyadari bahwa sepasang mata yang turut menyaksikan itu terlihat heran. Mata tua bibi Moon tahu, bahwa di antara keduanya itu telah terjadi sesuatu. Gestur tubuh, cara menatap satu sama lain, dan kedekatan emosional yang tak bisa ditutupi semuanya telah diperjelas melalui tindakan dan ucapan Myungsoo barusan. Jika dugaannya benar, maka apa yang akan lepas itu mungkin masih bisa diperbaiki. Tetapi bibi Moon memilih untuk pura-pura tidak mengerti, ia tidak memiliki hak apapun untuk ikut campur dalam masalah orang lain.

"Hati-hati, nak."

Suzy mengangguk. "Maafkan aku tidak sopan. Padahal kita sedang makan malam."

"Tidak masalah, akupun sering terbatuk karena sebuah nasi." Kekeh bibi Moon mencairkan suasana.

Kemudian selanjutnya, ketiganya larut dalam makan malam mereka kembali. Setengah jam kemudian setelah makan malam selesai, Suzy yang baru datang dengan sepiring kudapan tiba-tiba hatinya terasa menghangat saat melihat tawa lebar Myungsoo yang sedang terlibat pembicaraan santai dengan bibi Moon. Tawa itu adalah tawa yang jarang dilihat Suzy dulu, namun Myungsoo selalu memberikannya ketika mereka sedang berduaan.

Langkah Suzy berhenti. Ia menggeleng perlahan.

Tidak... kenapa aku terus saja membayangkan kebersamaan kami. Astaga!

Dan nahasnya, Myungsoo terlihat baik-baik saja tanpa dirinya. Suzy mengesah, tiba-tiba dadanya terasa sesak dipukul oleh kenyataan yang baru saja diterimanya.

"Kau sejak tadi mondar-mandir. Harusnya kau biarkan saja aku yang menyiapkan kudapan ini." bibi Moon berdiri ketika mendapati Suzy dalam jarak sentuh. Wanita baya itu mengambil alih nampan yang dipegang Suzy sambil menghela napas. "Ayo, pokoknya kau harus duduk dan tidak boleh mengerjakan apapun lagi."

Suzy mengiakan. Matanya melirik ke arah Myungsoo, namun langsung mengalihkan pandangan saat mendapati sepasang manik mata itu menatapnya tanpa berkedip. Dengan tatapan yang mampu membuatnya salah sangka, tentu saja. Suzy mengambil tempat pada kursi yang berhadapan dengan kursi yang di duduki Myungsoo. Dan masih bungkam.

"Ini Suzy yang membuatnya," bibi Moon meletakkan kudapan di atas meja, dan menatap Myungsoo sambil tersenyum. "cobalah. Kau pasti menyukainya."

Myungsoo tersenyum dan mengambil satu. Rasanya masih sama... pikiran Myungsoo langsung terlempar ke masalalu tanpa ampun. Tidak bisa dipungkiri, dia benar-benar merindukan wanita di hadapannya ini. Wanita yang berada dalam jarak sentuhnya, namun sama sekali tak bisa ia dekap. Wanitanya. Masih.

"Bagaimana?" tanya bibi Moon.

"Enak sekali." Puji Myungsoo tulus.

Bibi Moon tersenyum. "Semua pelangganku sangat menyukai masakan dan kudapan yang dibuat Suzy."

"Kau kerja di restoran bibi?" tanya Myungsoo keheranan.

Tak menyangka mendapatkan pertanyaan itu, Suzy kebingungan sesaat. Namun, langsung mengangguk saat sadar. "M-mm, aku ingin membantu bibi Moon karena dia tak memiliki pegawai." Jawab Suzy menatap Myungsoo sebentar sebelum pandangannya beralih ke bibi Moon. "Bibi, kau selalu saja berlebihan. Jelas sekali makanan buatanmu adalah yang terbaik."

Bibi Moon terkekeh. Sambil beranjak berdiri, wanita baya itu berkata, "Aku berkata sebenarnya, nak. Ahya, aku lelah sekali. Sepertinya karena semakin tua aku jadi mudah mengantuk setelah makan. Kau menginap di sini kan?" tanyanya pada Myungsoo.

Myungsoo menggeleng. "Tidak. Aku akan tidur di hot—"

"Oh tentu saja kau menginap di sini." Potong bibi Moon cepat. Lantas menatap Suzy, "Nak, tolong antarkan anak nakal ini ke kamarnya yang berada di depan kamarmu. Oke?"

"Oh?"

"Aku tidur dulu. Sampai bertemu besok pagi!" setelah melambai sambil tersenyum, bibi Moon memutar langkah menuju kamarnya di dekat tangga ke lantai dua.

***

"Di mana Myungsoo!?" Lucy berteriak saat pintu di depannya terbuka. Ia masih di sekap bersama Aeri—ditempat yang lebih baik daripada penyekapan pertamanya waktu itu—tetapi jelas penjagaan di sini semakin diperketat.

Hyun mendesah, menggunakan isyarat ia menyuruh dua orang yang ikut bersamanya itu untuk meletakkan nampan saji ke atas meja. "Dengar, aku tidak akan membawa kalian ke rumah sakit jika kalian berdua jatuh sakit."

"Pertemukan aku dengan Myungsoo!" teriak Lucy tak memerdulikan.

"Aku juga," ucap Aeri. "Setidaknya dia harus tahu kalau aku hanya ikut-ikutan di sini. Semua ide gila itu berasal dari Lu, bukan aku. Aku hanya mengikuti ucapannya!" lanjut Aeri menggebu. Wanita itu sudah tidak tahan di sekap di dalam sini. Harusnya ia menolak saat Lucy meminta bantuannya kalau tahu akhirnya akan seperti ini. Sungguh sial sekali berteman dengan Lucy!

Hyun berdecak, menatap kedua wanita itu dengan sinis. "Bos sedang tidak ada di Seoul. Seharusnya kalian berdua senang, karena jika dia mengunjungi kalian kesini, berarti kalian dalam masalah besar."

Tanpa mengatakan apalagi pamit, Hyun segera melangkah keluar ruangan itu.

"Ini semua salahmu!" bentak Aeri kepada Lucy. Wajahnya kusut dan ia lapar sekali. Aeri langsung melangkah mendekat ke arah nampan yang dibawakan tadi, seketika air liurnya menetes saat melihat menu makanan yang tersaji.

"Aeri, kukatakan jangan memakan itu!" bentak Lucy keras. Satu tangannya terulur menahan lengan Aeri yang hendak mengambil sumpit. "Kita harus sakit agar bisa sampai ke rumah sakit. Lalu, kita bisa kabur!" tambahnya, mengulang rencana mereka berdua.

Aeri mendesis, lalu menepis kasar tangan Lucy. "Kalau di bawa ke rumah sakit. Kalau aku berakhir dikubur mati, kau mau tanggung jawab?"

Lucy terdiam. Kedua tangannya mengepal dan bergumam sehalus angin. "Lihat saja, akan kubunuh Suzy ketika melihatnya nanti!"

***

Bibi Moon tersenyum kecil saat memerhatikan Suzy yang sejak tadi menatap ke arah tangga lantai dua. Asam garam kehidupan telah diarunginya, wanita baya itu tahu dengan pasti bahwa si cantik di depannya ini sedang menunggu siapa. Sambil membereskan alat menyelamnya, ia berkata. "Myungsoo sudah pergi sejak pagi tadi."

"Oh?" Suzy menoleh terkejut. Lalu, buru-buru membenarkan mimik wajahnya. "Aku tidak menunggunya."

"Aku hanya memberi informasi," wanita baya itu tersenyum maklum sambil mengancing pakaian menyelamnya. "Tadinya aku ingin membangunkanmu, nak. Tapi kata anak nakal itu jangan, karena kau perlu istirahat yang cukup." Imbuhnya.

Suzy merenung. Lalu tersenyum, "Cuaca semakin dingin kenapa bibi selalu pergi menyelam?"

"Jika sudah masuk ke dalam laut, tubuhku menjadi hangat." Bibi Moon tersenyum. "Kau nanti dirumah saja tak usah membantuku di restoran."

"Kenapa begitu?" Suzy mengernyitkan dahi. Ia bisa mati kebosanan jika harus berada di dalam rumah saja. Belum lagi, bagaimana kalau Myungsoo pulang lebih awal. Pasti akan terasa canggung bukan main. Oh tidak!

"Anak nakal itu minta dibuatkan bubur seafood, tadi dia sedikit tidak enak badan. Mungkin kelelahan." Ujar bibi Moon. "Dan aku lupa resep sup seafood itu bagaimana, aku sudah tidak terbiasa memasak sup." Tambahnya cepat saat melihat Suzy hendak mengeluarkan protes.

Suzy menggigit bibir bagian dalamnya, lalu mendesah. "Baiklah, kalau begitu aku akan ikut bibi sambil mencari seafood segar."

Bibi Moon tersenyum. "Ayo."

***

long holiday di mulaiiii wkwkkw. Happy satnight, tim LDR beda perasaan! :p

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co