Truyen3h.Co

Volcano Erupt

tigapuluh.

authoriya

Myungsoo mengernyitkan dahi. Dua jam lebih meeting yang dilaksanakan untuk proyek terbaru terasa menyiksa. Tubuhnya jelas sudah lelah, ia tahu itu. Dan, keberadaan Suzy di rumah bibi Moon semalam seolah menyiksanya. Adik kecilnya itu tidak bisa di diamkan semalaman saat tahu kalau 'rumah' yang dirindukannya ada tepat di depan pintu kamar yang ia huni. Alhasil, Myungsoo tidak tidur semalaman, kedua matanya nyalang terjaga agar ia tidak berbuat hal aneh—masuk ke kamar Suzy dan meminta di kasihani—tadi malam.

"Menurutmu apakah ide yang bagus membangun furniture di sini? Maksudku, ini Jeju. Bukan Seoul." komentar rekan bisnis Myungsoo membuat pria itu menarik napas dan mencoba berkonsentrasi. Kepalanya benar-benar pusing sekarang, namun ia harus menyelesaikan meeting penting ini.

"Dengan perkembangan jaman yang begitu pesat, belum lagi banyak turis mancanegara yang mulai berdatangan ke sini. Kupikir proyek kita akan berhasil." Jawab Myungsoo penuh percaya diri. "Furniture yang kita jual juga yang 'sangat Jeju' sekali. Berbeda dengan store yang lain."

"Lalu, kita tetap memasukan kafetariat di store yang akan kita bangun ini? maksudku, sangat banyak restoran di sini dengan persaingan harga jual yang gila-gilaan."

"Tentu saja, Park." Myungsoo mengangguk. "Target market kita adalah furniture-nya, bukan makanan. Jadi, seperti di store lain, kita tetap menjual makanan yang enak dan murah. Keuntungan dari penjualan furniture akan menutupi biaya makanan itu sendiri."

Beberapa orang yang ada di sana mengangguk. Setelah pembicaraan cukup menguras pikiran itu selesai—bersama investor baru yang langsung setuju—Myungsoo tersenyum lebar. Dirogohnya ponsel dari balik saku jas saat merasakan benda itu bergetar. Myungsoo mengernyit saat menemukan nama Hyun di sana.

"Ya, Hyun?" sapa Myungsoo saat telah mengangkat panggilan itu.

"Bos ada masalah!"

"Apa?"

"Dua tawanan kita kabur! H dan T dibius, dan kuduga mereka membawa pistol milik kedua pegawai kita!"

Tubuh Myungsoo menegang. "Sudah kau suruh tim IT melacak keberadaan mereka?"

"Ya. Masih dalam pencarian." Jawab Hyun. "Kupikir Lucy akan ke rumah nya, tapi saat orang suruhan kita kutugaskan ke sana, wanita itu tidak ada. Jadi, bos harus segera pulang secepatnya ke Seoul."

"Tidak bisa." Myungsoo mendesah.

"Ada apa?"

"Suzy di Jeju. Di tempat bibi Moon." Myungsoo menginfokan. Dan jika Lucy dalam daftar pencarian begitu, dia tidak mungkin meninggalkan Suzy sendirian di sini. Oke, mungkin Lucy tidak akan kepikiran untuk ke Jeju karena wanita itu tak akan tahu keberadaan Suzy. Namun, sebelum ia menyuruh orang untuk menjaga Suzy di sini agar tetap aman, Myungsoo tidak akan meninggalkan wanita itu. Tidak akan pernah.

***

Suzy tersenyum puas ketika selesai memberikan sentuhan akhir pada bubur seafood-nya. Setelah menyiapkannya di atas meja, ia bergegas melepas apron dan menggantungnya di tempat penggantungan. Matanya melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukan pukul tujuh malam. Lalu mengernyit. "Kenapa dia belum pulang?" gumam Suzy pelan.

Ia mendesah, lalu melangkah ke ruang tengah. Rumah bibi Moon tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Namun, rasanya begitu hangat. Tidak seperti rumahnya dulu. Suzy tersenyum ironis, fakta bahwa kekayaan bahkan tak bisa membuatnya seperti manusia ternyata bukan bualan. Dan lihatlah sekarang, keluarganya sedang berada di ambang kejatuhan—dan jahatnya hati Suzy begitu lega mengetahui hal itu.

Mata Suzy mengamati beberapa figura yang berdiri di samping televisi, lalu mendekat dengan minat. Senyumnya terukir saat melihat potret bahagia sepasang keluarga. Meskipun sangat berbeda, Suzy bisa tahu kalau yang ada dalam foto itu adalah bibi Moon dan keluarga kecilnya.

Sungguh bahagia...

Pandangannya kembali mengedar pada figura di sampingnya. Kali ini nampak dua orang anak laki-laki sambil memegang mainan. Berbalut jaket tebal, salah satu anak laki-laki tersebut sedang tersenyum ke arah kamera sambil dipeluk oleh bibi Moon, sementara satu anak lainnya nampak berpose sambil memegang pistol mainannya. Suzy mengambil figura itu dan memandang dengan seksama. Satu anak di dalam foto ini jelas saja adalah Hanbin karena ia pernah diperlihatkan foto masa kecil Hanbin saat sekolah di Sydney waktu itu. Namun, satu anak lainnya—yang sedang dipeluk oleh bibi Moon—meskipun asing tapi terasa sangat familiar. Suzy memejamkan mata dengan kening mengernyit, ia sedang mencoba mengingat sesuatu. Ia yakin kalau pernah bertemu dengan anak yang dipeluk bibi Moon itu dulu. Tapi dima—!

"Ah benar!" Suzy membuka mata, "Dia anak kecil yang dulu menangis ditaman bermain lingkungan rumah lama ku! oh my god!"

"Senang kau mengingatnya..." ada senyuman dalam suara yang berbunyi di belakangnya.

Suzy kaget, dan otomatis meloncat kebelakang. Kepalanya menoleh dan mendapati wajah pucat Myungsoo yang sedang tersenyum.

"Kau—"

"Aku adalah bocah cengeng yang dulu kau tolong." Potong Myungsoo.

Suzy hendak melayangkan pertanyaan akan bagaimana pria itu bisa masuk ke dalam rumah, namun tertahan saat melihat wajah pucat dan lesu Myungsoo. Wanita itu mendekat, mengulurkan tangan ke dahi Myungsoo dengan tatapan khawatir. "Kau pucat sekali? Kau sakit? Oh tuhan, suhu tubuhmu panas sekali!"

"Kurasa aku kelelahan."

Suzy menipiskan bibir. "Ayo, aku akan mengantarmu ke kamar..." tanpa menunggu jawaban Myungsoo, Suzy lantas merangkul tangan Myungsoo dan memapahnya menuju lantai atas. Ke kamar pria itu.

Myungsoo tersenyum kecil saat melihat bagaimana Suzy yang membaringkannya ke atas ranjang dan melepaskan jas-nya. Bagaimana Suzy yang kemudian keluar kamar itu dan kembali masuk dengan nampan berisi bubur seafood hangat kesukaannya. Sebuah perlakuan kecil yang berefek besar pada diri pria itu.

"Kau harus makan ini, lalu aku akan mengompresmu," ucap Suzy sambil menyodorkan sesendok bubur kepada Myungsoo. "Aaaa..."

Tanpa komentar Myungsoo mengikuti dan melahap habis bubur itu. Kedua matanya yang sejak tadi memandang Suzy tanpa teralihkan itu semakin meredup. Ia merindukan wanita di depannya ini teramat sangat... dan sekarang ia ingin memeluk wanita itu hingga pagi.

"Bibi Moon tadi menelepon kalau ia terjebak hujan salju di restoran. Dan mungkin akan menginap," ucap Suzy, wanita itu baru menyadari kalau Myungsoo sejak tadi menatapnya terus menerus. Dan hal itu menimbulkan efek tidak baik untuk jantungnya. "Aku akan menaruh mangkuk kotor ini ke bawah dahulu." lanjutnya. Tangannya hendak mengambil nampan di atas meja kecil samping ranjang, namun berhenti di udara saat merasakan tangan lain yang menahannya.

Sejenak yang terasa abadi itu menimbulkan efek hangat yang mengucur. Dengan degup jantung yang tak bisa berkooporatif, Suzy menoleh. Menemukan manik mata hitam yang menguncinya.

"Jangan pergi..."

"Aku hanya ingin menaruh mangkuk ini dan mengambil air kompresan untukmu—"

"Tidak usah," Myungsoo menggeleng. "Aku hanya membutuhkan satu hal."

"Apa?"

"Bisakah aku mendapatkan pelukanmu?" suara Myungsoo sehalus angin yang mungkin tak akan bisa di dengar orang lain saat mengucapkan kalimat itu. Namun, Suzy mendengarnya dengan jelas. Teramat jelas.

Dengan degup jantung yang semakin menggila, wanita itu masih terdiam menatap tanpa menjawab.

Myungsoo menghela napas, dan tersenyum ironis. "Maaf, aku terlalu lancang dan—" suara Myungsoo tertelan saat bumi yang dirindukannya menenggelamkan ia ke dalam pelukan.

"Suzy..."

"Diam dan nikmati saja pelukanku. Aku sepertinya sudah mulai tidak waras sekarang." ujar Suzy sambil memejamkan mata, kedua tangannya yang melingkari Myungsoo semakin mengerat, sedangkan kepalanya tenggelam di antara pundak dan lekuk leher Myungsoo. "I thought i just like you. A lot."

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co