Truyen3h.Co

Volcano Erupt

duapuluh tujuh.

authoriya

            Kemanapun ia hendak berlari, tempatnya adalah di sini. Dalam bumi yang berdetak, dalam rengkuhan badai yang mendekap.

Suzy menghela napas dalam, pandangannya lurus menembus coat tebal, sedangkan wangi aroma maskulin yang menguar di sekitarnya membuat perasaan Suzy semakin lebih tenang. Ini aneh, memang. Untuk ukuran seseorang yang menaruh dendam dan kebencian, apa yang ia rasakan jauh di dalam hatinya bertolak belakang. Semenjak hilang ingatan itu, ia jadi menilai Myungsoo dari perspektif yang berbeda.

Pria itu berbeda dengan anak remaja yang membuatnya menangis dulu.

Pria itu hangat dan dingin secara bersamaan. Pria itu baik sekaligus sangat berbahaya. Dan nahasnya, pria dingin dan berbahaya itu—Suzy memilih memercayai dua pilihan itu—adalah pusat badai yang mampu menghempaskan serangannya. Satu-satu penyakit menahun yang terbentuk dari rasa benci dan kebencian.

"Kau sudah lebih baik?" tanya Myungsoo. Dan Suzy langsung merasakan rengkuhan badai yang mendekapnya seketika melepas.

Harusnya ia berteriak, namun pelukan tadi kinerja otaknya melamban. Jadi, yang ia lakukan hanyalah mengangguk. "Ya."

Suzy bisa melihat kedua manik mata yang menatapnya itu meredup. Ini bukan jenis tatapan yang digunakan Myungsoo tiap kali melihatnya, bukan jenis tatapan yang seolah ingin menelanjanginya. Ini adalah tatapan penuh penyesalan!

Jantung Suzy berdetak, pandangannya beralih pada sosok yang masih duduk di tempat pertamanya. Itu Hanbin dan Ben, yang sama-sama sedang menatapnya dengan khawatir. Tatapan yang selalu mereka berikan tiap kali melihat serangannya datang. Dan Suzy sangat berterima kasih karena memiliki dua orang itu dalam hidupnya.

"Aku—"

"Aku mencabut kalimatku tadi." potong Myungsoo cepat. Mata yang semula menatapnya dengan pandangan redup tak biasa itu kemudian hilang, kepala Myungsoo berpaling memandang keluar. Rahangnya mengeras, menandakan jika pembicaraan ini benar-benar menekan egonya tepat di dasar terdalam. "Aku akan menuruti kemauanmu, Suzy."

Ia tidak ingin kehilangan wanita ini. Sangat amat tidak ingin. Tetapi, jika ia terus-terusan memenangkan egonya, bagaimana kalau Suzy terus terkena serangan? Bagaimana kalau ternyata cintanya pada wanita itu malah menyakiti?

Serangan yang terjadi tadi benar-benar tak diduganya. Hampir dalam waktu lama ini Suzy sama sekali tidak pernah terkena serangan, dan kalau boleh jujur Myungsoo bahkan melupakan soal trauma Suzy itu. Sampai tadi. Dan hal itu benar-benar mengusiknya. Ia menginginkan Suzy bahagia bersamanya, namun ia lupa penyebab kesedihan Suzy adalah dirinya.

"Apa?"

"Kau bisa pergi bersama kedua pria itu," Myungsoo menarik napas. Pembicaraan berdarah ini benar-benar menelan habis tenaganya. Kedua matanya terpecam dan menunduk, menyembunyikan setetes bening yang melesat turun. "Aku akan menyuruh Hyun memberikan data soal keluargamu. Dan aku minta maaf," ucapnya. Kepalanya mendongak, sedikit miring untuk menatap satu-satunya wanita di dalam ruangan itu. "aku selalu menyakitimu dari dulu sampai sekarang. Aku sungguh-sungguh minta maaf soal itu."

Apa yang Myungsoo ucapkan benar-benar tak pernah disangkanya. Kedua mulut Suzy seketika rapat, tak bisa bergerak dan hanya bisa diam memandangi. Permintaan maaf itu... sebenarnya sudah tak dibutuhkan karena jauh di dalam hati Suzy ia sudah memaafkan.

"Aku—"

"Kuharap kau bisa hidup bahagia. Aku akan menunggu surat gugatan perceraianmu karena aku tidak akan pernah bisa menggugatmu." Lagi-lagi Myungsoo memotong. Kemudian melangkah menuju pintu. Mengajak orang kepercayaannya yang sejak tadi berdiri di ambang pintu. "Ayo, Hyun."

***

Usaha dalam menyembuhkan patah hati setiap orang berbeda-beda. Ada yang memilih dengan mengasingkan diri sendirian, ada pula yang memilih menyibukkan diri seharian. Bagi Myungsoo, cara yang tepat agar tetap waras adalah menyibukkan dirinya hingga lelah. Setumpuk dokumen, meeting kerja hampir setiap hari, perjalanan bisnis yang juga hampir setiap minggu sengaja dilakukannya agar ia tak bertindak gila dengan menarik Suzy kembali ke dalam pelukannya. Tak masalah jika wanita itu mengumpatinya setiap hari, yang penting ia bisa melihat dan mencium aromanya. Namun, hal gila itu tidak boleh dituruti. Karena jika begitu selain Suzy yang akan menderita, Myungsoo juga tidak yakin kalau ia akan baik-baik saja.

Orang mengatakan kalau puncak dari cinta adalah membiarkan dirinya menderita demi kebahagiaan orang yang dicinta. Dan Myungsoo kini sedang berjalan menuju jurang untuk membenarkan quote tersebut.

"Apa tidak rehat sejenak?" Hyun menawarkan opsi saat memikirkan kalau sejak kejadian waktu itu Bos-nya tidak pernah memberikan jeda untuk istirahat. Ia jelas bukan sedang memikirkan dirinya sendiri, tetapi keadaan Bos-nya saat ini. Hyun tahu, kalau ini adalah usaha mengendalikan diri Myungsoo. Tetapi ia juga tahu kalau manusia memiliki batas tenaganya sendiri. "Pertemuan dengan klien di Jeju bisa kuundur besok atau minggu depan."

"Tidak perlu, kau siapkan saja tiket penerbangan ke sana."

"Tapi, Pak—" Selaan Hyun ditelannya bulat-bulat lagi saat melihat Myungsoo menaikkan satu alis. Pria muda itu menarik napas pelan. "Baiklah. Aku akan menyiapkan tiket dan menyuruh ART menyiapkan pakaianmu."

Myungsoo mengangguk. Pria itu menggulung kemejanya hingga ke siku dan bertanya, "Belum ada surat apapun yang datang darinya?"

"Belum ada sama sekali." Melihat wajah Myungsoo yang berubah sendu, Hyun kembali menyetuskan pertanyaannya. "Apa aku harus menanyakan itu pada Hanbin atau kepada orangnya langsung?"

"Tidak." Myungsoo menggeleng. "Kita tunggu saja." putusnya.

Ini sudah lewat dari tiga minggu sejak kejadian itu, namun Myungsoo sama sekali belum mendapatkan surat apapun tentang gugatan cerai yang akan dilayangkan Suzy padanya. Tentu saja hal itu membuat Myungsoo bingung, namun sebagian besar hatinya terasa sedikit tersiram sebuah harapan. Harapan yang dapat dipastikan tidak akan mungkin terjadi.

***

Usaha dalam menyembuhkan patah hati setiap orang berbeda-beda. Ada yang memilih dengan mengasingkan diri sendirian, ada pula yang memilih menyibukkan diri seharian. Dan Suzy, memilih opsi pertama untuk menetralkan perasaannya. Apa yang terjadi tiga minggu lalu benar-benar mengusiknya. Yang mulanya terlihat menyenangkan, namun terasa berbeda saat sudah dijalani. Setelah hari itu, Suzy mencoba memfokuskan diri pada dendam yang ia miliki, namun otaknya tak mau berkooporatif, hatinya terasa mencekik. Akhirnya ia terbang ke sebuah pulau untuk mengasingkan diri.

Apa yang ia rasakan saat ini adalah hal yang paling membingungkan, dan perasaan ini tak kalah membingungkan.

"Bagaimana bibi Moon?"

Suzy melangkah, kepalanya miring menghimpit ponsel di antara bahu dan cuping. Sementara tangannya terus bergerak memasukkan tepung ke adonannya. "Sudah baikan. Bibi Moon sangat senang aku disini. Kau tahu, semua orang menyukai masakanku."

Hanbin terkekeh diujung sambungan. "Aku benar-benar iri pada mereka yang bisa dengan mudah memakan masakanmu. Kau yakin aku tidak perlu kesana?"

"Tidak. Kau urus saja pekerjaanmu di Sydney."

Hanbin mengangguk. Ia mengerti kalau wanita itu sedang membutuhkan waktunya sendiri, karena itu alih-alih memaksa ia malah mengiakan. "Jaga dirimu disana. Dan hubungi aku jika sudah siap."

"Apa?" Suzy mengernyit.

"Well, kau belum mengirimkan surat gugatan perceraianmu padanya."

Gerakan tangan Suzy berhenti. Tubuhnya tiba-tiba menegang dan tanpa sadar menahan napasnya. Satu-satunya alasan dirinya belum mengajukan gugatan perceraian adalah...

Entahlah. Sulit dipahami dan sulit dimengerti. Suzy masih ingin mengetahui apa yang sebenarnya ia inginkan.

"Mm, tentu saja. Kau kapan ke Seoul?"

"Setelah selesai urusanku disini. Mungkin dua atau tiga hari lagi."

Suzy mengangguk. "Baiklah..."

***

Lama betul ya:"

maafkeuuun gengss

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co