duapuluh enam.
happy reading~
---
Ini sudah hampir sepekan, dan suara waktu itu masih mengganggu Suzy. Benar-benar mengganggu Suzy.
Suzy sudah mencoba untuk tidak berpikiran macam-macam, namun panggilan terakhir Myungsoo serta lift yang terkunci—tiba-tiba ia tidak memiliki akses turun ke lantai bawah padahal sudah menggunakan kartu kunci—menandakan kalau hal buruk sudah terjadi. Entah bagaimana Myungsoo bisa mengetahui penyamarannya (lagi) dan juga ntah sejak kapan hal itu terbongkar.
Tangannya gemetar sambil memegang kartu lift dalam genggaman. Kedua mata seindah bulan sabit itu menatap lurus ke luar pintu kamar yang ia biarkan terbuka. Lalu mendesah. Setelah duduk lumayan lama, Suzy tiba-tiba berdiri, tegang, dan langsung melangkah ke arah jendela kamar. Dengan posisi sedikit mengintip, Suzy menatap ke bawah dan menemukan Hyun turun dari mobil. Semula ia mengira jika Myungsoo ada di sana, tetapi saat tak menemukan orang lain yang turun dari mobil hitam itu, Suzy tahu mungkin Hyun diutus untuk menjemputnya. Wanita itu menyandarkan diri di dinding samping jendela dan memejamkan mata. Tarikan napasnya sarat akan kesedihan, kepiluan, dan keputus-asaan.
Dia tentu saja tak lagi takut jika harus berhadapan dengan Myungsoo—karena hanya dengan bertemu pria itu Suzy bisa tahu keadaan Hanbin dan Ben—dan sungguh sebenarnya ia sedang menunggu waktu ini terjadi. Pasca telepon Hanbin yang diangkat oleh Myungsoo pria itu tak kembali ke rumah. ART di sini mengatakan kalau Myungsoo sedang ada perjalanan bisnis, dan memerintahkan beberapa pengawal untuk membuat barikade sebagai benteng penjagaan. Semua pegawai di sini sangat terkesan karena Myungsoo begitu menjaga Suzy, tetapi hanya Suzy yang tahu kalau pengawal-pengawal itu tidak hanya bertugas menjaganya, namun 'menjaganya' .
Suzy kembali berdiri dengan angkuh saat suara lift terdengar berdenting. Akan dihadapinya Myungsoo dan pengawal-pengawalnya itu dengan berani, ia tidak akan menunjukkan ketakutannya. Dia tidak akan terlihat lemah di depan mereka! tidak akan!
"Anda tidak makan lagi?" suara Hyun terdengar, langkahnya berderap mendekat sampai ke depan pintu kamar. Batas tak kasat mata yang diciptakan oleh pegawai-pegawai Myungsoo, mereka tidak ada yang berani masuk ke dalam kamar itu kecuali untuk bersih-bersih. Bagi mereka, kamar itu adalah tempat pribadi bos-nya, dan sangat tidak sopan jika masuk ke dalam sana. Meskipun tidak ada pula yang melarangnya.
"Di mana Myungsoo?" tanya Suzy tajam, ia bahkan tak menggubris pertanyaan yang dilontarkan Hyun padanya. Kedua mata Suzy nyalang menatap Hyun. Wanita itu lantas melangkah keluar kamar dan mengambil tempat di sofa.
"Anda harus memakan ini, atau tuan Myungsoo tidak akan menemui anda." Jawab Hyun. Mendengar hal itu lantas membuat Suzy naik pitam. Kedua matanya nyalang, namun yang ditatap tak meladeni dan malah meletakkan nampan berisi makanan itu di atas meja ke hadapannya. "Setelah memastikan kalau anda sudah makan dan bersiap, aku akan mengantarkan ada ke tempat tuan Myungsoo." Hyun membungkuk singkat, kemudian melangkah menuju lift. Sebelum ia masuk ke dalam pintu lift yang sudah terbuka itu, Hyun berbalik. "Kartu akses anda sudah dapat digunakan. Maaf karena membuat anda terkurung di lantai atas selama beberapa hari ini, nyonya."
Suzy mengikuti kepergian Hyun dengan sorot mata tajam. Ada rasa ingin memberontak, namun saat mengetahui hal itu akan sia-sia dan memicu pertengkaran lainnya—bukan tidak mungkin sahabat dan orang kepercayaannya akan disangkut-pautkan juga—akhirnya Suzy hanya bisa membawa pandangannya pada cctv. Ia tahu kalau ia sedang dipantau di sana, karena itu dengan berkacak pinggang, Suzy menantang siapapun yang sedang memerhatikannya melalui cctv itu.
Ada senyuman kelu diwajah datar itu ketika memandangi layar komputer di depannya. Kedua matanya yang nyalang berubah sendu penuh kasih menatap yang dicintainya itu. Ia sangat merindukan wanita itu, istrinya. Tetapi ia harus menahannya. Sementara.
Dan sekarang waktu telah tiba. Dengan mengutus Hyun ke sana untuk menjemput Suzy, Myungsoo akan segera bisa memeluk tubuh yang segalanya terasa pas pada dirinya itu. Namun wajahnya berubah muram saat ingat bahwa si empunya tubuh itu tak akan mungkin membiarkannya memeluknya. Tidak dengan sukarela, kecuali dengan sebuah ancaman dan paksaan. Tapi yang namanya juga hidup hanya ada soal memilih atau dipilih.
Jadi, meskipun ia tak dipilih, namun Myungsoo akan tetap memilih Suzy. Satu-satu wanitanya.
Myungsoo menatap arloji ditangan, kemudian bangkit dari kursinya. Kedua tungkainya melangkah pasti keluar dari ruangan menuju lantai bawah. Ini adalah bangunan baru yang disewanya. Dengan pemandangan khas pedesaan yang menyejukkan, orang-orang tidak akan tahu kalau ada sebuah penyekapan di dalam bangunan serupa rumah tinggal itu.
"Orang kita sudah mengurus Lucy dan temannya." Seorang pria dengan pakaian hitam dan tablet ditangan menghampiri Myungsoo. Badannya tegap khas pengawal terlatih.
Myungsoo mengangguk. "Mereka akan bertemu aku besok."
"Baik, akan kusampaikan."
"Hanbin dan Ben sudah makan?" tanya Myungsoo pada pria tadi. si pria mengangguk. "Wajah mereka harus dibersihkan dan didandani. Aku tidak ingin Suzy menuduhku macam-macam nanti."
Pria itu mengangguk. "Akan kusuruh J dan X membersihkannya."
***
Suzy membiarkan sepanjang perjalanan mereka dalam keheningan. Ia sama sekali tidak berniat untuk menyulutkan pembicaraan apapun pada seseorang di balik kemudi itu. Kedua matanya menatap lurus ke depan, tetapi jelas fokus Suzy tidak pada jalan raya itu. Bahkan, ketika mobil sudah berbelok ke jalanan berbatu dengan pohon nan rindang yang mengelilingi, ia masih belum menyadari. Hawa yang semakin dingin dan mesin mobil yang mati lah yang akhirnya menyadarkan Suzy. Wanita itu kembali fokus, menatap ke luar jendela sambil mengernyit. "Ini tempatnya?"
Hyun mengangguk. Melepas safety belt-nya kemudian ia bergegas turun untuk membuka pintu bagian penumpang dan memersilakan Suzy untuk turun, "Tuan Myungsoo ada di dalam. Aku akan mengantarkan anda kepadanya."
Rumah itu tak setua kelihatannya. Itu yang ada di pikiran Suzy saat langkahnya mulai memasuki bagian dalam rumah. Di sana, ia langsung menemukan beberapa orang dengan pakaian serba hitam nampak lalu-lalang. Nyalinya sedikit menciut saat melihat tato dipunggung tangan yang serupa dimiliki hampir setiap orang-orang itu.
Apakah mereka orang-orang Myungsoo? kenapa ia tidak pernah melihatnya saat di villa?
Suzy masih sibuk dengan pemikirannya sendiri saat langkah mereka berhenti tepat di depan sebuah pintu. Hyun mengetuk pintu itu bersamaan dengan dua orang yang keluar dari dalam sana, rambutnya berwarna merah muda dengan gaya nyentrik yang khas. Mereka menyapa Hyun dengan wajah berbinar, "Hai, tampan. Bos ada di atas."
"Apa yang kalian lakukan di dalam sini, X, J?"
"Mendandani pria-pria tampan itu. Perintah bos." Jawab pria dengan jaket bertuliskan simbol huruf X. Pria itu menoleh sedikit terkejut dan menyipit. "Ini?"
Anggukan Hyun menjadi jawaban.
"Cantik sekali." Seru pria lain dengan jaket bertuliskan huruf J. Pria itu menarik Suzy ke dalam pelukan dengan refleks. "Akhirnya aku bisa melihatmu secara nyata bukan hanya di televisi saja. Kau jauh lebih cantik aslinya."
"J, yang sopan. Bos akan memakimu kalau ia tahu kau menyentuh miliknya secara sembarangan." Tegur X.
Pelukan mendadak itu membuat Suzy tak berkutik. Kedua orang itu begitu aneh, pikir Suzy. Seumur hidupnya ia bahkan tak pernah mendapatkan pujian seperti itu. Well, kecuali dari Myungsoo. pada saat ia menyamar sebagai Lucy. Dan tentu saja dari Hanbin juga.
Omong-omong soal Hanbin... suzy langsung menoleh ke arah Hyun. "Dimana Hanbin dan Ben?"
"Pria-pria tampan itu ada di dalam." X menginfokan.
Tanpa menunggu aba-aba atau perintah, Suzy langsung bergegas masuk ke dalam sana.
Kedua mata seperti bulan sabit itu langsung menemukan orang yang ia cari-cari. Dengan cahaya temaram yang melingkupi, nyatanya Suzy masih bisa mengenali keberadaan Hanbin di sana. Suzy melangkah cepat, berlari dan langsung memeluk Hanbin yang diikat disebuah kursi dengan erat. "Kupikir aku tidak akan pernah bisa bertemu denganmu lagi, Hanbin-ah..."
Tanpa menyadari ada mata dan hati yang dilingkupi perasaan cemburu saat melihat pelukan itu...
Myungsoo yang sejak tadi memilih duduk di sofa, berharap jika keberadaannya akan dilihat, tapi senyum getir tercetak kala melihat apa yang kini tersaji di hadapannya. Bagaimana bisa ia melupakan fakta kalau wanita itu membencinya?
Setelah mengatur emosinya, Myungsoo berdiri dari tempatnya duduk. "Aku cemburu sekali saat melihat istriku malah memeluk lelaki lain."
Dan detik itu juga Suzy menyadari kalau Myungsoo ada di ruangan itu juga. Tubuhnya menegang, melepas pelukannya pada Hanbin dan menoleh. Dalam jarak sentuh itu, Suzy bisa mencium aroma parfum Myungsoo, aroma yang tanpa sadar ia rindukan.
"Apa yang kau lakukan pada Hanbin dan Ben!?" tanyanya ketus.
Ekspresi Myungsoo tampak biasa, bahkan ada senyuman tercetak di wajahnya. Dan Suzy baru menyadari kalau Myungsoo membiarkan rambut halus sedikit tumbuh di sekitaran dagunya. Padahal Myungsoo pernah bercerita—saat Suzy hilang ingatan—kalau pria itu tidak menyukai ketika rambut halus mulai tumbuh di area dagu dan dibawah hidung, karena itu Myungsoo tidak pernah telat mencukur. Tiba-tiba kilas balik ketika ia membantu Myungsoo mencukur kumis dan jambangnya itu menyerbu ingatan Suzy, membuat pikirannya seketika blank. Kedua tangan Suzy membentuk kepalan. Ia benci situasi ini. Ia benci ingatannya.
"Kau nampak lebih kurus dari terakhir kali aku melihatmu..." ucap Myungsoo dengan suara sendu. Alih-alih menjawab pertanyaannya. "Apa aku harus memecat koki dan para pembantu itu? mereka tidak menyiapkan makanan kesukaanmu ya?"
Padahal aku tidak nafsu makan karena ulahmu! Runtuk Suzy dalam hati.
"Kau tidak perlu membawa-bawa Hanbin dan Ben dalam urusan ini. Mereka tidak ada masalah denganmu." Suzy mendesah. "Seperti yang kau tahu kalau ingatanku sudah kembali. Dan aku akan melanjutkan niat awalku untuk menghancurkan keluargaku."
"Aku sudah melakukannya untukmu." Jawab Myungsoo dengan santai. Kedua tangannya terlipat di depan dada, sekilas memandangi kedua orang tak berdaya di kursi itu. Dan kembali menatap Suzy, "mereka adalah senjataku agar kau bisa kutahan disisiku."
"Apa?"
"Aku tidak memiliki pilihan lain. Kau membenciku, and i just like you. A lot."
"Kau menyukai Lucy." Bantah Suzy.
"Kau terus menipu pikiranmu. Kau bahkan sudah tahu kalau aku menyukaimu, bukan wanita itu." Myungsoo tersenyum tipis sambil memegang sudut bibirnya yang terluka. "Kau tahu? ini adalah ulah sahabatmu itu. Dia tak terima karena aku menyukaimu, menurutnya aku tidak pantas bersamamu. Tapi menurutku, aku pantas bersamamu. Makanya aku akan menahanmu dengan caraku." Lanjutnya.
Suara geraman serta gelengan dari arah lain membuat kedua yang sedang terlibat pembicaraan itu menoleh. Hanbin, yang mulutnya ditutup dengan perekat menggeleng keras. Ia mencoba mengeluarkan suara, namun tak bisa. Tanpa memerdulikan Myungsoo, Suzy langsung mendekat dan membuka perekat itu dari mulut Hanbin dan Ben.
"Kau jahat sekali." Umpatnya pada Myungsoo.
"Sahabatmu itu begitu berisik. Ia sibuk mengutukku saat kuberitahu kau telah hamil anak kita." Jawab Myungsoo pendek.
"Pernah hamil." Koreksi Suzy.
"Dan akan kupastikan kau akan hamil anak kita lagi."
"Dalam mimpimu!"
"Mau kubuktikan?" Myungsoo menantang. "Sudah kukatakan aku tidak akan melepasmu. Kau harus tetap berada disisiku."
"Kau pikir aku mau!?" Suzy berseru berang.
"Sayangnya aku tidak memberikan pilihan untuk itu," Myungsoo mengangkat bahu sebentar. Pandangan matanya tetap santai dan serius sekaligus. "Kau harus tetap bersamaku, dan aku akan membantumu membalaskan dendam pada keluargamu. Atau kau lebih memilih kehilangan sahabat dan orang kepercayaanmu di depan matamu?"
"Apa?"
"TIDAK! JANGAN DENGARKAN DIA SUZY. KAU HARUS PERGI DAN LAKUKAN APAPUN." Teriak Hanbin di tempatnya.
"Benar, kau harus melanjutkan rencana kita meskipun sendirian. Kau sudah menunggu ini untuk waktu yang lama, bos!" ucap Ben.
Kepala Suzy menoleh, menatap bingung. Lalu menggeleng pelan. "Jangan pernah berani-berani menyentuh orang yang kusayangi!" napasnya tercekat, ia merasakan pasokan udaranya melemah. Astaga, apakah serangannya akan datang lagi?
"Jadi, kau setuju?"
"Jangan sentuh Hanbin dan Ben. Aku hanya memiliki mereka berdua!"
"Tidak Suzy, kau tidak harus menuruti ucapannya!" seru Hanbin.
Pikiran Suzy sudah kosong. Napas Suzy semakin tercekat. Wajahnya pucat pasi. Inhealer jelas tak dibawanya, karena belakangan ia memang tak membutuhkan itu. Lagipula, Myungsoo selalu memeluknya jika ia dalam kondisi terkena serangan. Dan pada saat itulah Myungsoo baru menyadari kalau wanita didepannya ini sedang terkena serangannya. Dengan cepat, Myungsoo melangkah mendekat kemudian menarik Suzy ke dalam pelukannya. Erat, direngkuhnya wanita itu.
"Apa egoku terlalu menyakitimu?" bisik Myungsoo sambil mengusap puncak kepala Suzy.
***
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co