Truyen3h.Co

Volcano Erupt

tigapuluh tiga.

authoriya




--------------------------


Mata Myungsoo masih terpejam, kepalanya terbaring di sisi ranjang yang ditiduri Suzy sementara satu tangannya menggenggam erat tangan Suzy yang terdapat selang infus. Hal yang sudah menjadi pemandangan beberapa hari belakangan ini dan menjadi sebuah bahan gosipan hangat di kalangan para perawat. Mulanya, beberapa dari perawat itu merasa penasaran karena tiba-tiba memiliki pasien VIP di rumah sakit mereka yang akhirnya membuat salah satu dari mereka tergelitik dan mulai mencari nama Myungsoo di internet. Lalu, gosip mulai menyebar di kalangan tenaga medis karena latar belakang Myungsoo yang kaya raya—dan ternyata pasien yang dijaga oleh beberapa petugas keamanan profesional itu adalah istrinya.

Belum lagi kehadiran Hanbin yang sulit dibiarkan saja itu membuat situasi semakin gempar. Mereka menduga-duga apakah pasien tembak itu, Myungsoo, dan juga Hanbin memiliki cinta segitiga? Karena pasalnya mereka bisa melihat bagaimana ada sebuah kebencian tak kasat mata yang terlihat jika kedua pria tampan itu sedang dalam satu ruang yang sama.

"Dia benar-benar tipeku sekali, lihat saja bagaimana dia tertidur dengan menggenggam tangan istrinya. Konsisten." Ucap salah satu perawat dengan wajah seperti orang sedang kasmaran sambil menatap layar monitor di dalam kantor mereka.

"Kurasa di masa lalu, wanita itu pernah menyelamatkan dunia," Timpal seorang perawat lainnya sambil menatap layar monitor yang sama. Keningnya berkerut kemudian, "Pria yang sering berada di ruangan itu kira-kira siapa ya?"

"Tidak tahu, suara mereka tidak terdengar dari sini." Perawat pertama mengembuskan napas. Merasa sedih akan fakta yang ada.

"Hanbin."

Suara lain terdengar bersamaan pintu yang tertutup membuat kedua perawat yang masih sibuk menatap layar monitor di sana menoleh serentak dan menemukan seorang wanita dengan pakaian dokter sedang menatap sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Kalian bisa dituntut karena hobi yang aneh ini. Tahu?"

"Jadi namanya Hanbin?"

Dokter wanita itu mengangguk. "Dia sepupu Myungsoo dan sahabatnya pasien. Jadi, berhenti bergosip dan lanjutkan pekerjaan kalian. Paham?"

"Bagaimana kau tahu, Dokter?"

Seorang perawat lainnya mengangguk. "Dokter Kim tidak ada disini saat pasien VIP kita datang. Bagaimana kau bisa tahu, Dok?"

Wanita yang dipanggil dokter Kim itu tersenyum kecil dan mengedikkan bahu. "Kutukanku menjadi bagian dari mereka berdua."

Sambil melangkah mendekat ke arah monitor yang sejak tadi diperhatikan oleh kedua perawat tersebut, dokter wanita yang memiliki wajah sinis namun cantik itu memasukkan kedua tangannya ke kantong jas putih sambil memerhatikan ke layar tersebut. "Wah, dia bahkan memasang cctv di kamar istrinya?"

"Myungsoo sangat romantis sekali." Ujar salah satu perawat.

"Aku bahkan tidak pernah melihatnya romantis seumur hidupku." Gumam dokter cantik itu. Pandangannya menyipit saat melihat pergerakan Myungsoo di layar monitor, kemudian kedua matanya membeliak saat menyadari kalau penyebabnya adalah karena wanita yang berada di brankar itu. Bersamaan dengan suara alarm yang ditekan oleh Myungsoo dan langsung terhubung ke ponsel dokter penanggung jawab dan ruang istirahat dokter dan perawat, wanita yang berprofesi sebagai dokter itu segera bergegas keluar ruangan.

Suzy siuman!

***

"Woah, aku tidak menyangka kalau kau bisa mempergunakan uang-uangmu seperti ini. Kukira kau hanya tahu soal membeli saham saja." ucap Kim Jiwon dengan nada sarkas setelah memasuki satu ruangan VIP dengan penjagaan super ketat. Ia tahu persis kalau biaya permalam di kamar ini sangat fantastis, dan setahunya baru orang nomor satu di negaranya yang pernah menggunakan kamar jenis ini. Artis terkenal pun masih menggunakan kelas dibawah kamar ini. Sorot mata yang seolah mengejek khas dokter muda nan cantik itu kemudian menatap ke arah brankar yang kini menyuguhi pemandangan super menjijikan—bagi Kim Jiwon—dan membuatnya ingin memutar bola mata berulang kali. "Aku tidak menyangka kalau kau bisa romantis dengan wanita. Jadi, Suzy kenapa?" ditatapnya wanita cantik diatas brankar dengan baju pasien itu seksama.

Jiwon tentu saja tahu ceritanya, bahkan dia tahu kebodohan kakak sepupunya yang dulu salah cara mengambil hati pujaan hati dan berakibat dibenci oleh sang pujaan hatinya itu. Namun, sejujurnya ia sedikit kaget karena akhirnya Myungsoo bisa bersama Suzy karena setahunya terakhir sebelum ia ditugaskan di Jeju Myungsoo masih berhubungan dengan saudara kembar Suzy, Lucy. Saat pertunangan dan pernikahan digelar ia memang kaget karena yang menjadi pengantin wanitanya bukan wanita yang pernah sesekali mengobrol dan sedikit agak dibuat-buat jika berbicara—Lucy—melainkan orang lain yang begitu mirip dengan Lucy—melihat bagaimana gestur pengantin wanita yang nampak canggung dan tidak nyaman di hari besarnya. Tapi, lagi-lagi Jiwon tentu saja tak ambil pusing karena itu bukan urusannya.

"Aku benar-benar menyesal mengizinkanmu masuk ke ruangan ini." timpal Myungsoo dingin. Pandangannya masih lurus menyeka tubuh Suzy dengan lap basah.

Jiwon mendengus. "Suzy saja tidak keberatan."

"Kau tahu aku Suzy?" tanya Suzy heran menatap kearah wanita berpakaian dokter yang kini duduk di sofa nyaman dekat brankar.

Jiwon mengangguk. "Orang bodoh ini yang terus-terusan memberitahu perbedaan kau dan kembaranmu. Jadi, aku pun langsung paham kalau yang dinikahi Myungsoo adalah pujaan hatinya sendiri. Pantas saja wajahnya sumringah sekali."

"Yya, kau tidak memiliki pasien? Kenapa terus berada disini." dengus Myungsoo.

"Pasienku ada di sini. Aku sudah mengambil alih tugas, jadi kakak ipar tersayangku sudah berada dibawah tanggung jawabku." Ucap Jiwon dengan nada bangga. "Omong-omong, dimana Hanbin?"

***

"Kau yakin tidak ingin menemui Suzy dulu?" tanya bibi Moon, saat melihat Hanbin sedang membereskan kopernya. "Dia sudah sadar."

Hanbin menarik napas, menatap bibi Moon sebentar sebelum melanjutkan packing. "Tidak. Aku tidak ingin terus-terusan menyesal."

"Bukan salahmu atas penembakan Suzy di bandara itu, nak."

"Tapi, kalau saja Suzy tidak menyusulku semuanya tidak akan seperti ini..." Hanbin mengesah.

Sejujurnya ini adalah hal yang mengganggunya. Ia benar-benar merasa bersalah dan teramat takut jika Suzy tak bisa terselamatkan, ia sangat mencintai wanita itu sampai-sampai rela membiarkan hatinya teriris sendiri. Mungkin benar kata orang, bahwa definisi terbesar dari cinta adalah mengikhlaskan.

Hanbin merasakan tangan bibi Moon yang menepuk salah satu pundaknya memberi semangat. Kepalanya menoleh, dan mengulas senyum pada wanita baya yang sudah dianggapnya seperti ibunya sendiri itu. "Sampaikan salamku untuk Suzy jika bibi hendak bertemu dengannya. Ya?"

"Dia pasti akan menanyakanmu."

"Katakan kalau pekerjaanku di Seoul benar-benar sudah menunggu."

Bibi Moon menghela napas. Bicara panjang lebar dengan Hanbin tidak akan pernah menemukan titik ujung sesuai kemauannya jika pria itu sudah mengambil keputusan. Jadi, yang dilakukannya hanyalah mengangguk dan mengiakan.

***

"Kubilang biarkan aku masuk!" Nyonya Bae mengatakan dengan suara keras pada sekuriti yang menghalangi jalannya. Kedua matanya menatap kesal dari balik kacamata hitam, menatap sekuriti yang tidak memberikannya izin naik ke lantai atas dimana putrinya di rawat. "Kau tidak tahu siapa aku?"

"Tuan Myungsoo hanya memberikan daftar nama-nama yang boleh diantar ke lantai tempat istrinya di rawat. Dan nama anda tidak ada dalam daftar ini." ucap sekuriti itu lagi sambil menunjukkan list daftar dari ponselnya. Ini adalah lift khusus menuju ruang VIP yang menggunakan kartu akses selain Myungsoo, sekuriti lah memegang kartu akses itu. Karena itu, merasa bertanggung jawab penuh dengan tugas yang diembannya, sang sekuriti benar-benar melaksanakan tugasnya dengan baik.

"Aku ibu dari pasien. Aku adalah ibu mertua Myungsoo. Kau akan celaka kalau menghalangi jalanku naik ke atas untuk bertemu dengan putriku, tahu? kau hanya sekuriti disini." ucap nyonya Bae dengan nada marah dan merendahkan.

"Sekali lagi tidak bisa. Maaf."

Nyonya Bae mengembuskan napas. Berulang kali sejak tadi panggilannya sama sekali tidak diangkat oleh Myungsoo. Pesan-pesan yang dikirimnya pun tidak dibalas, padahal ia sudah bersusah payah terbang ke Jeju agar hidupnya bisa kembali normal, tetapi sekarang ia malah tidak diperbolehkan bertemu dengan anak dan menantunya. Dasar sekuriti sialan!

Kepala wanita setengah baya itu sedikit menoleh dan menemukan asisten pribadi Myungsoo yang baru melangkah masuk. Dengan cepat dia melambai agar pria muda itu bisa melihatnya, dan ketika pandangan mereka bertemu nyonya Bae segera tersenyum lebar. Menoleh sebentar ke arah sekuriti itu sambil mengatakan, "Tamat riwayatmu!" dengan nada sinis, lalu melenggang mendekati orang kepercayaan Myungsoo yang sedikit kaget melihatnya.

"Hyun, untung saja ada kau." Ucap nyonya Bae sambil menghela napas lega.

Dengan sikap defensif khasnya, Hyun memandang dingin pada wanita setengah baya yang berdiri tak jauh di depannya itu. "Ada apa?"

"Sekuriti itu melarangku masuk menemui Suzy—maksudku Lucy."

Hyun menaikkan alis. "Tidak sembarang orang bisa naik ke atas."

Nyonya Bae memutar bola mata. "Tetapi kau tahu kalau aku bukan sembarang orang, kan?"

Dengan tatapan yang masih sama, Hyun segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi satu nomor. Dalam bunyi ketiga panggilan itu diangkat dan suara Myungsoo yang langsung terdengar.

Sialan! Aku sejak tadi meneleponnya tak diangkat-angkat! Batin nyonya Bae kesal.

"Ya?"

"Mertuamu ada di sini." Hyun menginfokan langsung dengan mata memandang lurus pada wanita setengah baya itu. Ponselnya yang semula ia taruh ditelinga kemudian diarahkannya ke depan nyonya Bae sambil menekan tombol loudspeaker. "Apa yang harus kulakukan?"

"Kau perlu bertanya soal itu?"

"Nah aku benar kan," nyonya Bae langsung menimpal dengan sikap jumawa. "Ayo, kita harus segera ma—"

"Selain daftar yang kuberikan. Orang lain dilarang masuk." Lanjut Myungsoo yang langsung memotong suara nyonya Bae.

Kedua mata itu membeliak dan dengan cepat nyonya Bae segera melepaskan kacamata hitamnya. "Myungsoo, aku mertuamu."

"Istriku tidak ingin bertemu denganmu."

"Aku ibunya. Aku Ibu kandungnya Suzy!"

"Jadi, kau sudah tahu?"

Nyonya Bae sedikit gelagapan. Dia berdeham, "Tentu saja, bagaimana bisa aku tidak mengenali anakku sendiri."

Terdengar suara tertawa mengejek diujung sambungan sebelum panggilan telepon itu terputus secara sepihak. Masih dengan tatapan tak percaya, nyonya Bae menatap Hyun yang sedang memasukkan ponselnya ke saku jas. "Kau tentu tidak menurutkan? Aku ibu Suzy."

"Myungsoo adalah bosku, bukan kau. Jadi, kaupikir aku akan menuruti perintah siapa?" ucap Hyun dingin sebelum berlalu meninggalkan nyonya Bae yang masih terpaku ditempatnya.

***

"Siapa yang menelpon?" tanya Suzy saat Myungsoo berjalan kembali mendekat ke brankar tempatnya berbaring. Suara Myungsoo yang mengecil membuat Suzy tak bisa mendengarkan percakapan pria itu. Tidak seperti biasanya.

"Hyun."

"Kenapa kau harus mengangkatnya jauh? Biasanya tidak." Suzy mengerutkan dahi.

Myungsoo tersenyum kecil, menyentuh dahi yang berkerut itu dan memijitnya lembut sebelum memberikan kecupan di sana. "Kau tersinggung karena aku menelponnya jauh?"

"Tidak. Hanya saja sedikit aneh."

"Ada seseorang yang tidak kausukai berusaha untuk naik ke sini," Jelas Myungsoo dengan suara lembut. Satu tangannya bergerak memainkan helaian rambut Suzy yang menutupi pelipisnya. "dan aku melarangnya." Tambah Myungsoo.

"Siapa?" suara Suzy berubah datar.

"Seseorang yang kau benci. Tidak usah kita bahas, oke?"

Suzy mengangguk dan Myungsoo kembali mendaratkan kecupan di dahi sang istri.

"Aigoo, dilarang bermesraan disini. tahu?" dengus Jiwon. "Aku benar-benar seperti obat nyamuk sejak tadi."

"Aku akan memanggilmu kalau membutuhkan sesuatu. Pergi sana." ucap Myungsoo datar.

"Hei, kau tidak boleh seperti itu pada sepupumu." Tegur Suzy.

"Dia memang begitu," ucap Jiwon. "Hanya kau yang bisa mendapatkan perhatian manusia dingin tak berperasaan ini, kakak ipar. Hanya kau."

***



besok epilog y hehe happy satniteee. stay safe temen2 semuanya...

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co