Truyen3h.Co

Volcano Erupt

tigapuluh dua.

authoriya



Langit Jeju mendadak mendung. Hujan beserta petir tak kunjung berhenti sejak siang menjelang sore. Sementara, ada dua pria di lorong rumah sakit itu nampak terlihat dengan pose yang sama. Kepala mereka menunduk dengan mata terpejam, sedang kedua tangan saling merepal menyangga kepala.

Dibalik pintu itu, sedang ada seseorang yang sangat mereka cintai. Terbujur lemah tak berdaya, sedang berjuang di antara kehidupan dan kematian dimana yang lebih dulu akan menghampirinya.

"Siapa walinya?"

"Sa—"

"Saya!" ucap Myungsoo cepat. Pria itu langsung berdiri dan menghampiri sang dokter.

Hanbin menyusul dibelakangnya.

"Bagaimana istri saya, dok?"

"Stok darah yang sama di RS ini kebetulan kosong. Kita membutuhkan donor darah segera karena pasien kehilangan banyak darah. Kondisinya lemah." Jelas dokter.

Dengan gusar Hanbin langsung melangkah maju. Pria itu menyodorkan dirinya cepat. "Ambil darah saya sebanyak mungkin."

"Tidak!" sela Myungsoo cepat. Kedua mata elang itu menatap ke arah Hanbin tajam. "Aku tidak akan membiarkan setetes darahmu mengalir ditubuh istriku."

Hanbin menahan kesal. "Yya, bukankah yang terpenting itu Suzy selamat?"

"Benar, pak. Kami harus secepatnya mendapatkan darah yang cocok untuk segera melakukan tindakan." Sang dokter mengangguk.

Bibir Myungsoo menipis. Dia memang tidak rela, namun tak ada pilihan lain yang bisa dijadikannya tumpuan. Akhirnya, meskipun berat hati Myungsoo mengangguk. Tanpa menatap Hanbin, ia langsung memberikan intruksi kepada dokter untuk segera mengambil beberapa ampul darah Hanbin.

***

Keluarga itu berantakan. Jelas amat berantakan. Ny. Bae hanya bisa menatap tak berdaya setelah segala hal yang sangat dicintainya perlahan menghilang. Ayah mertua dan suaminya sudah ditahan, dan sekarang rumah megah kebanggaan mereka pun disita polisi. Dengan satu koper baju dan syal musim dingin, Ny. Bae kemudian mengontak nomor Myungsoo—karena Lucy tak bisa dihubungi—hanya Myungsoo dan Lucy yang bisa diandalkannya sekarang. Ia yakin kedua orang itu mau menampungnya.

Tidak aktif. Diteleponnya lagi. Tidak aktif. Wajah cantin wanita setengah baya itu mulai memucat, ia gusar karena nomor Lucy pun tak dapat dihubungi. Saat ia berniat melakukan panggilan lain, ponselnya berdering.

Nomor asing.

"Ya?"

"Bibi!" seruan terdengar menyambut sapaannya.

"Aeri?" tanya Ny. Bae ketika sadar suara si penelepon.

Aeri mengangguk diujung sana. "Gawat!"

"Ada apa, Aeri?"

"Lucy ditangkap oleh Myungsoo setelah mencoba melakukan penembakan terhadap Suzy." Suara Aeri berubah panik. "Aku tidak yakin dia akan selamat kali ini. Aku tidak bisa membantu banyak karena nyawaku juga terancam. Jadi aku memberitahu bibi."

"Tunggu, kenapa Myungsoo menangkap istrinya?"

"Yang dinikahi dan dicintai Myungsoo selama ini adalah Suzy. Kekacauan ini disebabkan karena kembalinya Suzy, bi. Lucy di sekap dan wajahnya tersiram air keras. Lalu, Lucy tidak terima pria yang disukainya direbut, karena itu ia berniat mencelakai Suzy."

Suzy... debar jantung Ny. Bae langsung berubah cepat. Otaknya langsung kembali mengingat hal-hal yang terjadi sebelum ini.

Senyumannya...

Cara menatapnya...

Gestur tubuhnya yang sedikit risih kala melakukan skinship dengan menantunya...

Segala hal yang tersembunyi itu perlahan menguak. Tanda-tanda keanehan yang terjadi itu seolah semakin memperkuat fakta yang baru saja ia terima.

Jadi, wanita jelek yang menemuinya saat itu adalah Lucy? Bukan Suzy?

Ny. Bae menggeleng. "Tidak, maafkan aku. Aku tidak bisa menolong. Aku sudah miskin, dan satu-satunya tempat yang akan kukunjungi adalah rumah anak dan menantuku."

"Tapi, bi..."

"Maafkan, bibi Aeri. Sampai jumpa." Putus Ny. Bae pada sambungan teleponnya.

Wanita setengah baya itu mengangguk pelan. Benar, ia akan tetap pura-pura tidak mengetahui kalau Suzy adalah Lucy. Ia akan tetap berbuat baik agar diterima oleh anak dan menantunya maka hidupnya tidak akan masuk ke dalam jurang. Dia bisa tetap kaya dan tampil paripurna.

Akan dibalasnya seluruh keluarganya yang tiba-tiba menghilang dan cuci tangan ketika suami dan ayah mertuanya ditangkap itu. Dasar lintah darat. Lihat saja!

***

Air mata itu jatuh, turun mengalir melalui pipi hingga merembes pada kain yang dijatuhi. Ia adalah pendosa yang sudah banyak menyakiti hati istrinya. Ia adalah pendosa yang tak tahu malu setelah sekian lama tak datang ke gereja, sekarang memanjat doa teruntuk yang dicintainya. Ia adalah pendosa yang berharap semoga doa-doanya masih diterima.

Ya tuhan, tolong selamatkanlah Suzy...

Ya tuhan, tolong selamatkanlah Suzy...

Ya tuhan, tolong selamatkanlah Suzy...

Myungsoo menarik napas dengan berat, dadanya terasa sesak dan sakit dalam satu waktu. Masih dengan kedua tangan terkepal di depan dada, dibiarkannya napas itu tertahan hingga menyiksa, lalu diembuskannya dengan segera saat tak sanggup lagi menahannya. Myungsoo menghirup oksigen dengan memburu, doanya telah selesai dan kedua matanya yang terpejam sudah terbuka. Sedikit merah. Dadanya turun-naik dan jantungnya berpacu cepat, namun perasaannya sudah sedikit melega.

Setelah menyelesaikan doa dan merasakan kesesakan di dadanya yang perlahan membaik, Myungsoo berdiri, mengambil langkah cepat menuju keluar gereja. Kemudian di kontaknya nomor asisten pribadinya dengan cepat dan membawa ponsel itu ke telinga kanan menunggu hingga panggilannya diangkat. Tak berselang lama, terdengar suara sang asisten pribadi dari ujung sambungan, Myungsoo lantas langsung mengeluarkan pertanyaan dengan nada datar.

"Eksekusi?"

"Dia tidak mau menjawab."

Myungsoo menipiskan bibir. "Tarik pelatuknya jika dia masih tak mau menjawab."

"Sebenarnya dia menginginkan bertemu dengan anda, dia akan menjawab segala pertanyaan jika anda langsung yang menanyakannya. Kujawab apa?"

Myungsoo berdecak dalam hati. Dasar jalang tak tahu malu!

"Kill her." Perintah Myungsoo dengan nada dingin kemudian mengakhiri sambungan telepon mereka.

***

Ruangan putih itu dijaga ketat dengan pasukan pengawal yang membentuk barikade berbadan tegap berdiri di depan pintu. Tak ada seorangpun selain Myungsoo dan Hanbin dibiarkan masuk. Bahkan untuk dokter, suster, serta perawat yang bertugas sudah diberikan tanggung jawab khusus dengan scan sidik jari sehingga tidak akan ada yang bisa menipu pengawal-pengawal itu.

Di dalam sana, Suzy berbaring lemah di atas brankar dengan selang infus yang terpasang. Peralatan dokter lengkap yang mengukur kestabilan pasien. Sudah delapan jam pasca operasi berlangsung dan kedua mata cantik itu masih terpejam. Belum ada tanda-tanda akan terbuka sama sekali, sementara pria yang sejak tadi tak melepaskan genggaman dan tatapannya pada wajah Suzy itu masih bergeming tanpa  suara. Ia membiarkan keheningan menyelimutinya karena mungkin dengan itu dirinya akan tetap waras. Setelah terus-terusan menyalahkan diri karena kalau Suzy tidak menyusulnya mungkin saja sekarang keadaannya tidak di sini. Tidak seperti ini.

"Aku membiarkan darahmu mengalir ditubuh Suzy," suara Myungsoo tiba-tiba terdengar. Mengeluarkan sedikit bunyi pintu yang ditutup lalu kemudian kembali hening. Hanbin menoleh ke sumber suara, dan Myungsoo kembali melanjutkan dengan nada marah, "bukan berarti kau jadi bisa semaunya memegang tangan istriku."

"Ayolah, ini bukan saatnya berdebat soal ini. Aku sedang tidak dalam kondisi baik untuk berkelahi." Hanbin mengembuskan napas. Myungsoo benar-benar posesif sekali soal Suzy.

"Maka, jauhkan tanganmu itu dari istriku."

Hanbin mengembus. "Baiklah, baiklah." Ucapnya lalu melepaskan genggaman tangannya. Ia berdiri saat Myungsoo melangkah mendekat, paham kalau pria itu hendak mengambil kembali kursinya, Hanbin lantas melangkah menuju sofa tak jauh dari brankar. "Bagaimana?"

"Apa?" tanya Myungsoo tanpa menoleh. Menjatuhkan bokongnya pada kursi yang semula diduduki oleh Hanbin, lalu menjatuhkan tatapan cintanya pada Suzy.

"Lucy? Apa alasan dia menembak Suzy?"

Well, meskipun sudah menduga, namun mereka harus membuka mulut itu agar bisa menjadi bukti untuk menyekapnya ke dalam penjara. Karena pergerakan Lucy yang secepat kilat itulah yang membuatnya lolos dari kamera cctv sehingga tak ada bukti yang bisa digunakan.

"Dia tak menjawab."

"Lalu, tidakkah orang-orangmu memaksanya? Bukankah kalian tukang paksa?" dengus Hanbin karena tak percaya kalau Myungsoo dan orang-orangnya tak mendapatkan jawaban dari Lucy.

Myungsoo mengedikkan bahu, "Sudah mati."

Hanbin membeku. "A-apa?"

"Aku membunuhnya. Lucy."

Kepala Myungsoo miring dengan tatapan tajam dan suaranya yang terkesan santai lantas membuat bulu kuduk Hanbin berdiri. Sinting!

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co