Truyen3h.Co

BLUE JEANS

10

authoriya

PADAHAL baru tiga hari aku tidak ke rumah ini, mengunjungi ibu, tapi kenapa rasanya sudah seperti lama sekali ya?

Ternyata benar semakin kita beranjak dewasa dan memiliki akal yang sudah matang kita jadi semakin merindukan orang tua kita. Aku selalu menyempatkan diri ke makam ayah setiap seminggu sekali sepulang dari beribadah, jarang sekali absen. Kulakukan itu karena menurut pastor kalau hal itu bisa membuat ayahku bahagia. Well, meskipun aku tidak tahu bagaimana hal itu bisa membuat ayahku bahagia—karena bahkan ayah sudah tidak ada—tapi aku tetap melakukannya. Dan hal itu menjadi rutinitasku belakangan ini. Mengunjungi Ibu yang sekarang lebih memilih menghabiskan waktu di rumah bersama tanaman anggreknya serta terapi pengobatan tentu saja kulakukan juga. Aku biasanya menyempatkan diri pulang ke rumah kalau tidak pulang malam, atau saat weekend.

Seperti sekarang, pagi-pagi sekali aku sudah berdiri di depan rumah dengan selendang putih di kepala. Kulepas kacamata hitamku dan memasukkannya ke dalam tas, kemudian turun dari mobil ketika driverku membukakan pintu. Biasanya aku pergi bersama Hayang, tapi laki-laki itu habis mabuk semalam, dia tidak bisa mengendalikan dirinya ketika melihat minuman, payah sekali.

Aku mengangkat alis tinggi ketika melihat ada mobil lain di dekat mobilku. Aku sepertinya pernah lihat mobil ini, rasanya tidak asing. Tidak mungkin ada tamu sepagi ini yang berkunjung kepada Ibu kan? Ibuku punya jam kunjungnya sendiri; hanya di antara jam makan siang sebelum jam makan malam.

Hmm... siapa ya?

Entahlah, aku juga pasti akan melihatnya nanti. Kubawa tungkaiku melangkah menaiki undakan tangga menuju teras rumah. Bibi Lee membukakan pintu dan langsung tersenyum senang melihatku, dia memelukku dan aku membiarkannya.

"Nona, aku rindu sekali!"ujarnya seraya mengelus-elus punggungku.

Aku tersenyum, pelukan terlepas. "Siapa yang datang, Bi?"

"Tuan Myungsoo!" pekik Bibi riang. Sebagai informasi saja, Bibi Lee ini sama seperti Ibu yang sangat amat amat mengidolakan Myungsoo. See? Sampai sekarang.

Tapi... "Myungsoo di sini?"

"Ya," Bibi Lee mengangguk semangat. "Nona ke taman belakang saja, ada Nyonya dan Tuan Myungsoo disana sedang menyiram anggrek."

Wow... ibu tidak pernah membiarkanku ikut campur dalam dunia per-anggrekannya. Kalau dia sedang menyiram anggrek saja pasti langsung berhenti ketika melihatku datang. Pokoknya, aku itu LDR-an dengan anggrek Ibu.

"Aku masuk dulu." Kataku pada Bibi Lee.

"Tuan Hayang tidak kemari?"

"Tidak, dia masih tidur." Jawabku.

Bibi Lee ber-ohh ria, lalu aku langsung melangkah menuju halaman belakang lewat pintu di dekat tangga. Sayup-sayup aku mendengarkan suara tawa Ibu dan seorang laki-laki—itu suara Myungsoo—di luar. Suara itu semakin terdengar jelas ketika langkahku sampai ke pintu, aku langsung meraih handle pintu dan menggesernya. Angin sepoi pagi hari nan sejuk langsung menerpa wajah cantikku, aku menatap Myungsoo dan Ibu yang seolah tahu ada aku datang, kini sedang menatapku. Keduanya memberikan senyuman super hangat.

Aku baru tahu kalau tempat pulang tak melulu rumah.

"Hai, Ibu." Sapaku, mencium pipi kanan-kiri Ibu yang terasa semakin kecil, lalu memeluknya setelah kami sudah berada dalam jarak sentuh.

"Di mana Hayang?" tanya ibu seraya menatap ke belakangku mencari-cari.

Aku tidak menduga.

Kulirik Myungsoo yang menampilkan ekspresi biasa saja—aih, dia tidak cemburu gitu?—lalu melangkah duduk di sebelah Myungsoo, dan menjawab pertanyaan ibu. "Dia tidak ikut hari ini."

Ibu mengangguk. Meletakkan gembor plastik (wadah air untuk menyiram tanaman) ke tempatnnya. Senyuman ibu hari ini lebih semringah dibanding biasanya.

"Bagus kalau gitu," Ibu kemudian mengajak kami untuk masuk. Tuh kan apa aku bilang? Ibu tidak akan memerbolehkanku dekat-dekat dengan tanaman anggreknya. "kau pergi dengan Myungsoo saja. Kalian juga bertemu kemarin tidak lama kan?"

Well, dia sudah mengatakan pada ibu. Woah, apa dia bilang juga perihal aku yang hampir menabrak mobilnya? Kalau sampai iya, Myungsoo berarti sudah berubah sekali dan tidak bisa dipercaya!

"Kau cerita kepada Ibuku?" tanyaku pada Myungsoo.

Myungsoo mengangguk. Tapi, Ibuku yang malah menjawab pertanyaanku untuk Myungsoo. "Iya, katanya dia bertemu denganmu dan seorang laki-laki tidak sengaja. Ibu langsung bilang kalau itu adalah teman satu-satumu selain Myungsoo di sini."

Yah... gagal sudah aku mau acting. Ibuku cepu, guys.

Kuanggukan kepala. Kami melangkah, sementara Ibu mengambil duduk, aku langsung bicara lagi. Daripada telat, lebih baik aku pergi ke gereja sekarang. "Ibu, aku harus pergi sekarang."

"Cepat sekali?"

"Gerejanya kan jauh dari rumah," jelasku. Lalu menatap Myungsoo. "Kau mau ikut aku tidak?"

"Tentu saja. Aku juga ingin ke gereja."

Ini rada canggung. Mungkin karena kami sudah lama tidak saling kontak.

Setelah pamit dengan Ibu, dan bicara pada supirku agar dia pulang saja karena aku sudah ada supir baru, aku dan Myungsoo langsung melangkah menuju mobil. Myungsoo membukakan pintu mobil untukku dan menjaga kepalaku agar tidak kejedut. Tubuhku mleyeot-mleyeot sekarang, sialan, sudah lama tidak diperlakukan seperti ini membuat jiwa kesendirianku berteriak.

Meskipun rasanya senang, aku harus stay calm dong. Mataku mengikuti Myungsoo yang memutar ke arah pintu kemudi dan masuk, dia menatapku.

"Kita akan kemana?" tanyanya.

"Gereja."

"Aku juga tahu, maksudku yang di daerah mana?"

Oh.

Aku kemudian menyebutkan nama gereja dan nama jalannya. Myungsoo memasang GPS-nya, lalu kembali menatapku. Aku benar-benar tidak bisa berkedip sekarang, kenapa aku terus-terusan menatapnya coba? Kurasa aku mulai aneh sekarang. Kepalaku bahkan tidak bisa menoleh.

"I miss you." Katanya padaku.

Aku tahu.

"Kalau kau terus-terusan menatapku seperti itu aku tidak yakin bisa berkonsentrasi menyetir, Suzy."

"Tapi aku tidak bisa berhenti menatapmu." Kataku, jujur.

Myungsoo bengong. Dia mungkin mengira aku sedang menggombalinya, padahal aku bicara jujur sekarang. Apa aku salah bantal ya?

Sialan, kenapa jakun Myungsoo jadi membuatku salah fokus begitu. Sejak kapan aku menyukai jakun laki-laki!?

Hey, Suzy! Sadarlah!

"Kau ingin aku melakukan apa?"

"Tidak tahu," aku ingin menggeleng, tapi susah. "Lakukan sesuatu!"

Myungsoo menatapku sebentar, kemudian tubuhnya semakin mendekat. Wangi Myungsoo tiba-tiba merelaksasikan otot-ototku. Aku merasakan tangan Myungsoo menyusup ke tengkukku dan menciumku.

Dia. Menciumku.

Bukan aku.

Napasku tiba-tiba tercekat, aku merasakan pasokan udara disekitarku habis. Dan Myungsoo melepaskan ciumannya.

Aku melotot marah. "KENAPA MENCIUMKU!?"

"Katamu lakukan sesuatu,"

"KAU MALAH MEMBUATKU JADI KESULITAN BERNAPAS SEKARANG! AIH!" teriakku kesal.

Myungsoo tersenyum—untuk pertama kalinya—dan mengusap puncak kepalaku. "Berhenti main-mainnya, aku takut tidak bisa mengendalikan diri. Kita harus segera ibadah."

Ck, aku juga tidak sedang main-main padahal. Tapi...aku menggerakkan kepalaku pelan, lalu membeliakkan mata.

Oh my god! Keramku langsung hilang?!

Fix sih ini, aku sepertinya benar-benar kurang belaian.

Menyedihkan.

***
Maaf ya lama guyss jgn lupa baca vote dan komen biar aku smngt hehehe

[Seharusnya ada GIF atau video di sini. Perbarui aplikasi sekarang untuk melihatnya.]

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co